cerpen

Cerita Dari Jalanan

Oleh Nana Gih

Berawal dari sebuah penindasan. Tragedi tragis yang menewaskan dua warga setempat dan penahanan seorang aktivis mahasiswa.

“Tanah ini suci. Jangan kau kotori, nanti durhaka kalian!!” Suara itu lantang keluar dari mulut seorang lelaki tua di antara kerumunan orang-orang di jalan.

Kulitnya gosong dibakar matahari. Matanya menyipit karena silau. Pelipis dan lehernya berpeluh, menetes di antara guratan-guratan urat yang menonjolakan bara emosi.

Tajamnya panas matahari tak menyurutkan suara nuraninya yang keluar melalui rongga mulut yang gigi-giginya tak lagi utuh.

Mendengar kata-kata Pak Tua, serempak kerumunan itu mendukung dengan tepuk tangan dan sorakan. Suasana jalan itu benar-benar hingar-bingar. Ribuan orang memadati pintu masuk gerbang gedung pejabat daerah setempat untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Sudah tiga jam mereka berada di sana. Yah, tiga jam untuk hari itu, untuk hari-hari sebelumnya, sudah tak terhitung. Semangat mereka masih membara, seperti saat pertama kali mereka menyerukan penolakan. Akan tetapi sikap mereka tidak se-ekstrim dulu. Sebab, mereka tidak ingin ada korban jiwa lagi.

Tanah. Ini tentang masalah tanah. Penduduk daerah Kolong tidak sepakat di atas tanah mereka dibangun sebuah pabrik kertas. Keuntungannya tidak sebanding dengan dampak yang akan diakibatkan oleh berdirinya pabrik itu.

Penolakan warga malah dijawab dengan popor senjata dan intimidasi aparat pemerintah. Bahkan pejabat-pejabat daerah itu tidak lebih dari sekedar Humas atau juru bicara pemilik pabrik di media-media massa ketimbang sebagai pengayom. Karena itu mereka ngotot ingn bertemu bupati.

Dampak yang paling ditakutkan oleh penduduk adalah terhadap lingkungan. Baik tentang hutannya, maupun masalah limbah yang akan dihasilkannya.

Terbayang juga di masa depan, pegunungan hijau yang mengelilingi daerah mereka itu, yang sarat akan embun pemberi kesejukan dan burung-burung hutan berkicau akan berganti menjadi lahan-lahan kosong karena pepohonan habis ditebangi. Kemudian rumah-rumah kayu yang ramah akan berganti menjadi gedung-gedung beton dan bisingnnya mesin motor kendaraan yang lalu lalang setiap waktu. Daerah Kolong akan menjadi kota industri dengan segala karakter yang mengikutinya, tempat hiburan dan intrik.

Duma menggantung kameranya lagi di lehernya. Beberapa jepret foto diambil dari bagian depan dan samping kerumunan. Ia kembali ke dalam barisan, bersama perempuan-perempuan lain dalam unjuk rasa itu.

“Aku pikir bupati tidak akan menemui kita hari ini,” kata seorang gadis sebayanya, sambil terus berkipas-kipas dengan sehelai handus kecil. Duma tidak berkomentar. Sejenak dia mengamati kamera yang menggantung di dadanya.

“Kita lihat saja nanti, Rom.”

**

Malam itu kegiatan aksi kembali diadakan. Kali ini jumlah massa yang ikut aksi sedikit berkurang. Pemuda-pemuda daerah itu tidak semuanya hadir. Yang paling banyak muncul masih ibu-ibu yang berumur sekitar tiga puluh sampai enam puluh tahun. Beberapa gadis belia juga terlihat di antara mereka.

Seperti biasa secara bergantian, orang-orang berbicara di depan penduduk yang telah berkumpul di tengah kota untuk menyerukan penolakan. Warga yang hadir menyambut ucapan sang agitator dengan bersorak. Juga bernyanyi serentak dan lantang.

Tak lama kemudian datang beberapa truk dari arah pusat kota kabupaten. Truk-truk itu bukan truk pengangkut barang komoditi tani warga, tetapi itu adalah mobil pengangkut aparat.

Tentu saja para aparat itu sudah mengetahui bahwa hari ini ada aksi. Intel-intel yang berseliweran di tiap desa memantau tanpa henti aktifitas warga.

“Sembunyikan wajahmu,” seru Roma cepat. Dia sengaja mendorong kepala Duma yang ada di sampingnya ke bagian belakang tubuhnya. Duma lekas menuruti. Terlihat aparat berhamburan dari truk-truk pengangkut lengkap dengan senjata dan topi masing-masing.

Duma bukanlah penduduk Kolong. Kalau terbukti bukan penduduk situ, yang ikut unjuk rasa akan ditangkap. Dituduh sebagai provokator. Omong kosong kalau Duma tidak takut. Ia bahkan takut sekali. Aparat itu bertambah saja jumlahnya setiap hari di kala mengunjungi mereka saat aksi pada malam hari. Atau jumlah mereka yang kian menyusut.

Puluhan aparat berteriak-teriak dan memaki massa penduduk. Sesekali tembakan diletuskan ke udara. Malam itu benar-benar seperti neraka. Yah, seperti malam-malam sebelumnya. Namun aksi warga itu terus berlanjut. Lagu-lagu rohani dikumandangkan. Juga lagu-lagu perjuangan, untuk mengimbangi suara-suara intimidasi yang dilakukan aparat. Malam cukup gelap. Lampu jalan terdekat dengan kerumunan berkisar seratus lima puluh meter.

Malam pun semakin berat. Ibarat mendapat lebih kekuatan, aparat semakin kuat aumannya. Mereka semakin menakutkan. Mereka mengacung-acungkan senapan ke wajah-wajah letih namun kokoh di hadapannya. Tertawa-tawa dan mengatai bahwa penduduk telah bersikap bodoh. Bodoh karena mau diprovokasi pihak-pihak luar untuk berdemonstrasi setiap hari, setiap malam.

“Padahal kalian akan aman-aman saja bila kalian mau bekerja sama dengan pemerintah untuk mengelola potensi alam Kolong ini. Tak ada kekerasan, tak korban, kita bisa tidur nyenyak kembali seperti dulu,” ujar salah satu aparat dengan disertai senyuman tipis ke arah warga.

“Tak akan ada saudara kalian yang te…was..” lanjutnya sedikit mengejek.

“Itu gara-gara kau mau jadi anjing-anjing penjaga pengusaha itu, bangsat!!! Terkutuklah kau,” umpat seseorang.

Suara spontan itu benar-benar lantang dan keras. Tiba-tiba saja datangnya lalu hilang seketika. Tentu saja kata-kata itu yang paling berani semenjak kejadian penembakan seorang warga sebulan lalu. Anjing, hewan yang dimaknai sebagai makhluk rakus dan geladak, di samping sifat setia kepada tuan yang memberinya makan. Tentu saja merupakan sebutan yang kasar.

Mendengar itu, bagai kebakaran jenggot, salah seorang aparat yang paling dekat dengan kerumunan mendatangi arah suara tadi. Suara itu milik seorang perempuan. Agak berat dan bergetar. Si lelaki aparat yang sedari tadi mengoceh dengan senyuman tipis kini berubah menyeringai. Matanya menatap tajam ibu-ibu yang berdiri di depannya dengan wajah marah. Matanya seperti mau keluar. Ia nampak geram sekali.

Lalu dengan berapi-api, ia pukulkan popor senjatanya pada sosok-sosok perempuan di depannya itu. Membabi buta. Suasana menjadi semakin mengerikan. Jeritan kesakitan dan tangis meledak-ledak di antara perempuan-peremuan malang itu.

“Kalian makin melunjak! Kalian pikir aku tak berani memukul perempuan. Rasakan sekarang,” teriaknya keras.

Lelaki itu akhirnya menyudahi perbuatannya. Empat perempuan jatuh tersungkur. Beberapa di antaranya masih menangis karena masih bisa merasakan sakit yang amat sangat akibat luka di wajah mereka. Sisanya pingsan.

Saat penduduk yang ada di sana hendak mencegah atau mungkin membalas perlakuan seorang aparat tadi, serempak aparat lain yang tadinya terdiam kini ikut bergerak menahan amukan massa. Sampai lima kali tembakan ke udara, massa baru bisa didiamkan.

Massa disuruh berjongkok di tempat masing-masing. Pukulan dan tenangan kera menemani teriakan dan makian mereka yang emunya senjata. Penduduk benar-benar dibuat tidak berdaya menghadapi pasukan bersenjata itu. Mereka telah menggila.

Sisa tangis masih terdengar. Rintihanun sesekali muncul di antara massa yang ditera kegelapan batin itu. Warga akhirnya dibubarkan paksa, disuruh pulang ke rumah masing-masing.

Pukul satu dini hari, jalan itu sudah sepi kembali. Hanya beberapa aparat yang masih berjaga-jaga di sana.

**

Seorang perawat datang mendekati. Ia membawa segelas air putih.

“Minum obat dulu, yah,” ucapnya lalu menyerahkan beberapa butir obat dan segelas air. Duma mengikuti saja apa kata perawat itu. Kemudian ia membaringkan tubuhnya.

Duma menjadi korban kekerasan di daerah Kolong, basis massa yang dibelanya semenjak kuliah.

Beberapa pita suaranya rusak akibat benturan gagang senjata yang dihujam dengan kemarahan yang membabi buta. Ia juga harus kehilangan pendengaran telinga kirinya, juga akibat benturan senjata. Duma termasuk korban yang paling parah pada malam pemukulan itu. Satu perempuan tua tewas, karena tengkorak kepalanya yang renta remuk.

Dengan tulisan, ia ceritakan semua apa yang terjadi malam itu. Tapi wajah pemukulnya ia tidak ingat. Malam itu begitu gelap dan kejadiannya begitu cepat. Yang dia ingat terakhir, ia jatuh terkapar dan Roma yang membantunya berdiri.

Roma sempat menghindar dari amukan laki-laki aparat itu, tapi Duma, dia tidak menyangka laki-laki itu akan datang ke arahnya.

Ini sudah menjadi dendam pribadi terhadap yang namanya kesewenang-wenangan. Dia akan terus melawan, dan kasus Kolong adalah awalnya. (#)

Cemara, 26 November 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s