cerpen

CERITA INOJ

Oleh  Nana Gih

 

Pagi yang sunyi. Tidak ada gemerecak suara-suara yang bisa didengar sebagai pertanda sebuah rumah yang berpenghuni. Rumah besar ini lengang, senyap, dingin, dan berkesan seperti rumah hantu. Di sinilah aku tinggal, makan dan tidur setiap harinya.

Malam tadi aku tertidur pulas. Pulas sekali, hingga tak terasa kekosongan hati yang menderu. Rasa dingin yang menyusup ke tulang-tulang memaksaku untuk segera terjaga. Tapi aku malas. Badan dan mata terlalu berat untuk bangkit dan membuka. Seperti menunggu sesuatu yang mengelupas.

“Inoj…!Mama pergi dulu, yah?!” Teriakan mama terdengar dari bawah sana. Aku tetap diam, walau aku adalah satu-satunya Inoj yang harus menjawab. Mama balik lagi karena belum mendapat jawaban. Suara hak sepatu mama semakin tajam terdengar.

“Ya..!” Suaraku spontan, membuat mama urung niat ke kamarku. Tak lama pintu garasi terbuka, dan semenit kemudian mobil merah mamapun berangkat.

Aku membuka mata sembari mendesah pelan. Pasti deh, tebakku yakin. Pasti aku akan menemukan lagi barang titipan di bawah sana. Uang, pesan-pesan manis yang munafik. Aku mendesis muak. Selalu begitu. Aku hampir lupa bagaimana rasanya bercakap-cakap dengan mama.

Huh, liburan panjang ini akan semakin menjemukkan dada dan pikiran. Libur atau tidak, sama sekali tidak ada perubahan sedikitpun. Paling-paling akan keluyuran lagi. Yah…seperti kemarin-kemarin.

Pikiranku terpotong sejenak saat deringan HP-ku memaksa untuk beralih pikir. “Ya,” ujarku malas, menjawab telepon.

“Inoj yah?” kata si penelpon. Aku diam saja karena sudah tahu suara siapa di seberang sana.

“Eh, Cing, aku punya berita buruk buatmu. Ih, gak kapok-kapoknya tuh anak. Itu si Venny, aku liat semalam jalan ama Richie. Gila gak, tuh!”

Aku terdiam sebentar membayangkan hal gila itu, sementara si penelpon itu terus bicara melaporkan apa yang disaksikannya kemarin.

“Sudah-sudah. Biar aja. Ntar si Venny bakal tahu sendiri kalo dia itu keliru jalan ama Richie,”

“Tapi, Noj..”

“Udah deh. Kasus ini finish. Lain kali kamu gak usah bilang-bilang ke aku kalo punya berita buruk. Ngelapor ke orang lain aja, oke? Udah ya, aku tutup,”

Tanpa menghiraukan panggilan dari si penelpon, aku tutup telepon itu segera. Bisa panjang nanti ceritanya. Huh, pagi-pagi sudah dengar berita buruk, umpatku kesal. Hari ini pasti sial melulu. Dasar..!

* *

Akhirnya kutemukan juga anting-anting kesayanganku. Sebuah anting-anting perak yang kubeli di pasar malam tiga tahun lalu. Aku sangat menyukai benda yang satu ini. Sanking takut hilang, aku menyimpannya di tempat rahasia yang aku sendiri hampir lupa.

Jaket merah kotak-kotak dipadukan dengan jins belel berwarna biru. Itulah gaya kesukaanku yang membuat aku merasa bebas menikmati nafas. Banyak orang bertanya pada dunia, benarkah pakaian bisa mencerminkan karakter seseorang? Pakaian bisa membawa mood, atau menentukan status orang? Mungkin saja. Buktinya kalau aku lagi ingin senang, baju dan aksesorisnya harus istimewa. Seperti sekarang ini. Aku butuh pakaian yang istimewa untuk menghibur gundah akibat berita buruk tadi pagi. Andai seragam sekolah bisa bebas, aku pasti bisa lebih menikmati berjam-jam suntuk di sekolah dengan cara yang lebih menyenangkan. Benarkah?

Dengan rambut menutupi jidad, biasanya aku akan pergi jalan-jalan keliling kota naik bus untuk menghabiskan waktu. Melihat beribu-ribu sosok dan cerita manusia dengan sekitarnya. Hampir setiap hari.

“Bi, nanti Molly dimandikan, yah. Terus, air jangan sampai masuk ke telinganya, nanti dia tidak bisa tidur,” pesanku pada Abi, perempuan muda dari kampung halaman mama yang tinggal menetap dan merawat kami selama ini.

“Memangnya, adek mau kemana?” tanyanya kemudian sambil meraih Molly dari tanganku.

“Pergi. Keberatan?” ujarku dingin. Abi cepat-cepat menggeleng dengan senyum dipaksanya.

Aku membalikkan badan dan berjalan ke pintu depan. Terdengar anjing kecil itu menggonggong minta ikut. Aku menatapnya sebentar lalu berbalik dan berjalan ke luar.

Di luar pagar rumah, kulihat langit redup. Senyum mengembang dalam hati. Cocok sekali. Suasana mendung memang selalu menyenangkan.

“Noj, mau kemana?” Seorang cowok dengan mobil pick up modifikasinya yang ceper, berhenti tepat di sampingku.

“Nggak ke UG’S? Biasa ngumpul ama kita-kita,” sambungnya lagi karena melihat aku yang tetap diam menatapnya dingin, tak berminat.

“Nggak, ah…” jawabku singkat, akhirnya. Cowok itu mengangguk kecewa dan pergi.

“Duluan yah..” ujarnya tanpa menoleh. Aku tidak membalas salam perpisahan itu. Lalu akupun berjalan ke luar kompleks, ke arah jalan besar yang akan membawaku ke another adventure.

* *

Bus ini padat sekali. Sumpek dengan segala jenis parfum, aroma, bau-bauan atau entah apalagi namanya. Dengan badan yang kecil, aku mencoba bertahan dengan mengandalkan palang besi yang menjadi tempat pegangan beberapa tangan dari sebagian penumpang.

Fenomena overload bus memang sudah biasa di daerah ini. Sang kernet selalu bilang kalau bus masih lempang, padahal tumpukan orang sudah sesak nafas di dalam. Aku pun terpaksa rela berjejal dengan belasan penumpang lainnya di dalam. Namun, sengsaraku tidak berlangsung lama. Di persimpangan, 20 menit kemudian, beberapa penumpang turun. Melihat ada kursi kosong di depanku, akupun langsung bergerak cepat ke situ mengalahkan lelaki di sebelahku yang juga mengincar kursi kosong karena kelelahan. Dari sudut mataku terlihat lelaki itu memasang wajah mengutuk. Dia kalah cepat. Tapi cueklah dunia. Siapa cepat dia dapat, celotehku dalam hati.

Masalah internal bus ini cepat beralih ke arah pikiranku yang yang menerawang. Kata orang sih, sedang melamun. Yah, gimana enggak. Aku lebih suka berbicara dalam benakku ketimbang bercakap-cakap dengan orang. Kebiasaan sih dari kecil. Berbicara dengan diri sendiri tidak ada efek samping yang dapat menyebabkan erosi benak. Aku bisa berkata apa saja yang aku mau dan mendengar tuturan orang seperti yang aku inginkan. Bertengkar, bermanja-manjaan, berdiskusi, semua dialog aku yang menentukan.

Aku sadar betul ini tidak normal. Tapi aku tidak punya pilihan yang lebih baik. Lagipula, apalah arti normal, dibandingkan semua orang yang ada di sekitarku yang hanya menghantar energi negatif kepadaku.

Yang karena mama-lah yang selalu pulang malam. Bahkan menurut isu yang beredar di lingkungan rumahku, mama adalah pacar gelap bosnya di kantor. Tapi entahlah, aku sendiri belum pernah melihat pria bangsat itu. Aku hanya melengos dan melengos terus tanpa mau melihat sesuatu yang bisa membuatku bertambah membenci dunia.

Dan kini Richie, pacarku, atau lebih tepatnya mantan pacarku. Venny si otak udang itu yang menyebabkan Richie kembali memutuskanku seminggu lalu.

“Kita udah nggak cocok lagi. Semua yang kita lakukan pasti bertentangan, dan akhirnya membawa kita ke pertengkaran,” paparnya meyakinkan.

Itu adalah ucapan awal Richie. Dia memang pandai berkata-kata. Itu sebabnya aku suka dia. Richie juga makhluk termanis yang pernah aku jumpai di dunia. Dia bisa membuatku senang dan candu terhadap dirinya.

“Mungkin salahku yang suka memaksa, tapi mungkin juga karena kamu yang terlalu keras hati, kurang mau menerima pendapat orang lain,” Richie mengungkap masalah-masalah yang lalu, percik api pertengkaran kami.

Ia bicara penuh wibawa dengan body language-nya yang meyakinkan. Sementara itu aku menatapnya tanpa kedip. Richie akhirnya berbalik badan. Mungkin untuk menghindariku atau mungkin untuk menyimpan semua keluhan-keluhannya yang telah dipersiapkannya dari rumah untuk mengiringi upacara putusnya aku dan dia. Sejenak kami hanya membisu. Tapi aku terus memandang ke arahnya.

“Pronounciation kamu makin bagus dari sebelum-sebelumnya. Tapi sayang, kata-katanya selalu berbunyi begitu,” Nada bicaraku sengaja sedikit mengejek.

Richie berbalik mendapati wajahku tidak sedingin tadi.

“Kita putus Richie. Putus untuk yang terakhir kalinya,” Dahi Richie agak mengkerut.

“Aku berjanji tidak akan pernah menerimamu lagi,” kataku pelan.

“Kamu membenciku?” tanya Richie.

“Ya, sedikit. Karena kamu itu stupid, konyol, idiot…..”

“Hentikan, Inoj,” potong Richie. “Kenapa kamu begitu?”

“Aku sudah bilang berulang kali, kalau kamu itu boleh pacari semua cewek sejagat raya ini kecuali si otak udang Venny. Kamu tahu sendiri kan kalau dia itulah yang menyebabkan kita sering putus,” kataku berapi-api.

“Tapi… dia udah berubah sekarang. Kamu akan liat…”

Aku segera mengangkat kedua tanganku sambil melengos. “Cukup!” kataku kemudian setelah Richie terdiam.

“Kita putus, oke?” Aku berujar pelan lalu pergi menjauh.

Richie tidak bereaksi. Ia tahu harus bagaimana kalau aku lagi marah. Dan aku memang lagi marah besar. Emosiku meledak-ledak. Aku benci sekali. Kenapa harus Venny lagi sih…

Rasa kesalku bahkan masih terasa sampai sekarang ini. Padahal kejadiannya sudah seminggu yang lalu. Kualihkan pikiranku pada objek yang membentang di luar jendela, sebab aku merasa konyol manyun-manyun sendiri. Sementara itu di luar, hujan turun dengan derasnya.

Aku mempererat jaket yang melekat di badanku untuk mencoba menghangatkan suasana lamunan yang akan kumasuki. Tapi sayangnya aku tidak mengenakan kaus kaki, jadi bisa ditebak kalau kaki kecilku pucat menggigil.

Tanpa sengaja aku melihat ke samping kiri untuk referensi tatapan. Astaga…, ternyata yang ada di sebelahku duduk adalah lelaki kurus kerempeng dengan tato tebal di kedua lengannya. Apaan sih, desisku heran. Apa yang ingin ditonjolkannya yah?

Bus ini berhenti lagi. Aku sama sekali tidak tahu sedang berada di mana saat ini. Tapi di situlah letak kenikmatannya. Menjadi Indiana Jones kadang terbersit di otakku. Begitu menikmatinya. Aku merasa tidak sendirian namun mereka tidak menggangguku dengan masalah-masalah mereka. Justru pikiranku melayang membahas tentang cerita orang-orang ini. Dan sepertinya, aku berbakat menjadi Antropolog atau Sosiolog.

Keadaan tambah padat saja. Maklum, bus ini sepertinya kini memasuki kawasan pasar, hujan lagi. Jadi para penumpang rela berhimpit-himpitan di dalam bus ini. Hari menjelang sore, orang-orang ingin segera tiba di rumah ketimbang hujan-hujanan di luar.

Well….well… lagi-lagi aku melihat pemandangan ini. Seorang ibu tidak menyadari kalau dompet tebalnya telah berpindah tangan. Anehnya lagi, tidak seorangpun yang bertindak. Padahal kejadiannya sangat jelas dan kasat mata. Termasuk diriku. Pencopet itu baru saja naik ke dalam bus, dan di saat bus ini akan berangkat, dia sudah turun lagi. Kerjanya cepat. Kemungkinan tertangkap kecil. Tapi mungkin saja dia pakai ajian ‘abrakadabra… siniduitmukutakeover..’. Mungkin begitu bunyinya. Tapi yang jelas kasihan sekali ibu itu.

Segera aku melengos menyudahi komentar atas cerita yang satu ini. Mungkin ada cerita lain yang tidak boleh dilewatkan pada momen selanjutnya. Bus ini melaju dengan pelan. Mungkin ingin menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi di saat seperti ini. Hujan lebat membuat jalanan licin. Mana over load lagi.

Seperti yang terjadi di depan sana. Sebuah mobil sedan terbalik dan jatuh ke parit di sisi jalan. Mobil patroli jalan raya dan dua buah ambulan parkir di tepi jalan, membuat lalu lintas sedikit terhambat.

Aku melongok keluar, mencoba melihat para korban kecelakaan itu. Darah segar menghiasi seorang gadis seusiaku. Ia sedang ditandu menuju mobil ambulan. Aku menelan ludah sembari memejamkan mata, tak sanggup melihat lebih jauh lagi. Membayangkan bus ini juga mengalami hal yang sama seperti sedan malang itu. Tiba-tiba aku merasa takut sekali. Darah..

Setelah bus ini bergerak menjauh, kualihkan lagi pandangan keluar jendela. Hujan mulai reda. Saat ini aku berada di jalan sepi yang di kedua sisinya terdapat perkebunan karet. Indah sekali, sejuk dan hijau. Daun-daun berseri habis disirami. Damai banget ngeliatnya. Rasa bosanku terbang entah kemana. Seakan-akan aku lagi tertidur pulas tanpa beban. Saat-saat seperti inilah yang aku nantikan, klimaks kesenangan yang kucari dengan perjalanan ini.

Di tengah momen indah itu, mendadak tubuhku bergetar karena sebuah hentakan. Akupun tersadar dari lamunan. Keadaan di dalam bus ini juga sama ricuhnya dengan detakan jantungku. Orang-orang terlihat panik. Penumpang yang berdiri ringsek dan memaki. Aku pangling, kebingungan. Apa yang terjadi, tanyaku linglung. Belum lagi merasakan jalannya bus ini yang mulai kacau, seperti terseok-seok.

“Tenanglah, jangan panik. Cuma ban pecah,” seru lelaki di sampingku, menentramkan.

Dan tak lama keadaan mulai tenang sembari supir menepikan busnya. Sayang, ternyata bayangan bahaya belum menjauh. Sesaat setelah bus ini benar-benar berhenti, mendadak sebuah truk yang melaju dengan kencang menghantam dari belakang untuk menghindari mobil truk kayu yang sama besar melaju dari arah depan. Dan akibatnya, bus yang penuh dengan orang-orang lelah ini terpelanting dengan tiga jungkalan ke samping, ke arah deretan pohon karet yang letaknya agak rendah dari jalan raya.

Entah apa yang dirasakan penumpang-penumpang lain pada saat ini. Namun yang jelas, kemungkinan besar malaikat maut akan mencabut banyak nyawa.

Insiden yang memakan waktu beberapa detik itu membuatku berpikir cepat tentang apa yang akan dihadapi. Teriakan-teriakan yang memilukan, hantaman-hantaman yang membuat aku hampir melepaskan pegangan erat di salah satu palang palang besi di dekatku, terasa lama dan menyakitkan.

Dadaku perih, dan terasa…. basah. Pandanganku berubah nanar, menampilkan gambar-gambar tak jelas. Lama kelamaan muncul satu sosok yang kukenal, Kirby. Itu Kirby, adikku. Ia meninggalkan kami tujuh tahun lalu. Betapa aku sangat merindukannya. Apakah aku akan menyusulnya?

Dulu aku memang ingin, bahkan ingin sekali. Apalagi papa juga pergi entah kemana. Tapi sekarang tidak. Aku terlanjur mencintai dunia dan masih ingin menjelajahinya. Wajah Kirby kian menghilang. Mataku kini jadi berkunang-kunang, badanku mati rasa. Aku masih mendengar rintihan-rintihan perih tertahan dan erangan-erangan lemah di dalam bus. Hidungku tidak berhenti mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Aku haus sekali.

Tak lama, terdengar suara kerumunan kecil dan suara sirene mobil polisi. Namun, semakin lama semakin kecil suaranya. Pandanganku pun mulai redup. Dan entah kenapa, tubuhku terasa dingin. Angin perkebunan berhembus dari jendela bus yang kini tanpa kaca lagi, pecah berantakan dan sebagian menghambur ke wajahku. Dingin, dan semakin dingin. Sampai akhirnya aku tidak merasakan apa-apa lagi. Mama…… (#)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s