cerpen

Sarat Jelaga

Oleh Diana Saragih

Tidak ada yang lebih penting saat ini selain mendapat stetmen dari Sophia Kanaan. Kali ini pengacara cantik itu harus mau kuwawancarai. Dia harus menjawab mengapa mendadak ia tarik diri menjadi kuasa hukum Sandy, bocah lelaki yang menjadi korban sodomi pamannya sendiri.

Kulihat mobil sedan merah miliknya di parkir di depan law firm atas nama ayahnya, Hazel Djati Associates. Aku memutuskan untuk tidak menemuinya di dalam gedung atau menelponnya agar mau bertemu denganku di ruangannya. Biar dia kucegat di sini, di tempat parkir. Aku tidak saja akan mendapat wawancara eksklusif tapi juga sekaligus memenuhi rasa penasaranku karena bertemu langsung dengannya. Lagipula wartawan lain mengaku kesulitan bertemu dia. Aku putus kontak dengannya.

Ini masih seputar kasus Sandy yang terbilang besar. Hampir semua media massa di kota ini mengekspos berita tersebut habis-habisan. Sebab, ini tidak saja menyangkut kasus asusila terhadap anak oleh sanak saudaranya sendiri, tapi juga menyangkut siapa tokoh yang terlibat.

Danson Wijaya, paman bejat Sandy adalah seorang pengusaha kaya raya. Hampir seperlima proyek properti  di kota ini dipegang oleh perusahaannya. Sandy sendiri adalah keponakannya yang selama dua tahun terakhir tinggal di kediaman keluarga Danson. Ayah Sandy, abang ipar Danson tinggal di Beijing bersama 6 anaknya yang lain.

Cerita kasus ini menjadi tambah menarik setelah Sophia Kanaan tiba-tiba undur diri mendampingi bocah itu selama proses hukum. Ini aneh. Pasalnya, sejak kasus ini mencuat ke publik, Sophia langsung mengambil peran di sisi Sandy. Mulai dari mengurus kesehatan fisik dan jiwa Sandy, sampai proses penyidikan di kepolisian. Tapi dua hari lalu, terdengar kabar bahwa Sophia tarik diri dari kasus ini. Alasannya, dia mau mengambil S-2 di Melbourne dalam waktu dekat. Ia lalu mengalihkan penanganan Sandy kepada pengacara junior di law firm ayahnya bernama Adi Candra.

Ini ironi atau tidak. Adi Candra adalah seorang gay. Meskipun  ini bukan informasi publik, yang membuatku ragu atas masa depan kasus ini tapi aku layak bertanya, why? Aku kenal Sophia Kanaan selama 5 tahun ini. Dedikasinya atas kasus Sandy adalah salah satu bentuk kepeduliannya atas kasus-kasus hukum orang lemah. Sandy telah mendapat perlakuan hukum yang adil karena dorongan Sophia kepada pihak aparat hukum. Mengingat yang dihadapi adalah seorang Danson Wijaya. Lelaki beranak tiga itu punya banyak kenalan orang penting di kota ini. Sementara Sandy, ayahnya bahkan tidak lagi mau bertemu atau bicara dengannya sejak Danson melalui pengacaranya bilang bahwa kasus ini hanya fitnah. Bahwa Sandy bersekongkol dengan ayahnya yang kabarnya punya hutang banyak di Beijing untuk mendapat uang banyak dengan cara cepat.

Kulihat jam tanganku. Sudah hampir melewati pukul 4 sore. Berarti sudah 6 jam aku di sini. Aku tidak sanggup lagi minum terus di warung ini sambil mengintai kalau-kalau Sophia keluar gedung. Aku pengen kencing. Bukan saja karena kantong kemihku sudah penuh, tapi juga karena kejaran dateline kantor. Maklum reporter media harian. Aku belum ada meliput berita apapun seharian ini. Berharap wawancara eksklusif dengan Sophia bisa menutupi dosaku kepada kantor karena mengabaikan proyeksi lain.

Aku buru-buru bangkit dari warung kopi kecil di depan kantor Sophia. Mata si pemilik warung terlihat lega. Ku tahu dia hendak bertanya kepadaku soal keberadaan di warungnya sejak pagi tadi. Tapi aku cuek. Aku tidak punya tanggung jawab untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Ini urusanku. Tapi aku yakin dia pasti mau tahu kenapa Sophia Kanaan  sampai melepaskan Sandy di saat kasusnya sudah akan dilimpahkan ke pengadilan. Sama seperti aku juga. Tapi pemilik warung bungkam. Biarlah.

Sebelum aku menyeret kaki menjauhi warung, kulihat sosok Satpam kantor Sophia sedang berjalan menuju warung ini. Senyum ramah kepada si pemilik warung sangat khas senyum wong cilik. Hangat dan akrab. Beda dengan senyumnya sewaktu aku datang ke kantor Sophia dua bulan lalu. Ketus dan formal. Mungkin Satpam itu lupa padaku, makanya ia mengabaikan pandanganku.

“Kopi satu, yang biasa,” kata si Satpam, sebelum meletakkan pantatnya di bangku warung. Komando kepada si pemilik warung langsung dilaksanakan.

“Siapa yang jaga pos? Nanti dimarahi bos ninggalin kerjaan,”

“Wong di kantor gak ada bos. Semua pada keluar. Paling jagain mobil mbak Sophia,” ujar si Satpam lagi sembari mengunyah roti manis yang tersedia di hadapannya.

“Kenapa dijaga?” tanya si pemilik warung, berbasa-basi.

“Lha, dianya keluar negeri bareng anaknya,”

“Nah, terus kenapa mobilnya diletak di sini?”

Si Satpam terkekeh sejenak. Ia menyeruput kopi panasnya sebelum bicara.

“Untuk mengecoh wartawan,” tukasnya sambil melanjutkan kekehnya.

Busyet! Makiku dalam hati sambil bergegas pergi. Tak kuhiraukan lagi kelanjutan pembicaraan yang menyebalkan itu. Betapa sia-sianya waktuku hari ini. Aku hanya dapat telur busuk.

***

Danson Wijaya duduk di kursi pesakitan. Wajahnya yang tenang tak akan memberi kesempatan bagi benak siapapun untuk menyebutnya seorang penjahat kelamin. Tidak juga oleh majelis hakim yang duduk di hadapannya. Sidang perdana kasus Sandy digelar hari ini. Bocah itu tidak hadir di ruang sidang. Hanya Adi Candra dan seorang pengacara lain yang hadir. Sidang tertutup itu terlihat sepi hanya di batas pintu. Sejumlah wartawan elektronik tetap mencoba mencari celah untuk mengambil visual ke dalam ruang sidang.

Bisa dikatakan kehebohan yang muncul di persidangan ini tak kalah dari sidang perceraian artis yang mengundang puluhan wartawan infotainment. Aku yang mencoba lebih awal hadir ternyata keduluan dengan repoter lain. Peralatan tempurku harus sedia. Tape record dan Faqih di garda depan

Wawancara dengan Danson usai sidang adalah momen yang paling penting saat ini. Dan sangat penting juga bagiku untuk melihat langsung dari dekat sosok Danson Wijaya. Mencoba melihat ke dalam bola matanya, menelisik saat-saat ia mencoba menyetubuhi Sandy. Bocah yang selama ini tinggal dan tumbuh bersama anak-anaknya.

Danson dijerat pasal perbuatan cabul kepada anak di bawah umur. Ancaman hukumnya adalah penjara selama 7 tahun. Jeratan hukum ini jelas masih kurang. Seharusnya ia diberi pasall  tambahan hukum perlindungan anak.

Aroma kejanggalan mulai terasa. Ditambah Danson menunjuk seorang pengacara hebat dari ibukota, Tanur Jaya. Aku benci berasumsi, tapi senyum para majelis hakim yang kulihat dari celah jendela ruangan selama persidangan terlihat bersayap. Bukan senyum yang biasa,  klaimku dalam hati.

Pikiranku beralih kepada seseorang. Hpku langsung bekerja. Kutuju nomor seseorang. Sophia Kanaan. Namun seperti beberapa waktu lalu, nomor itu tidak aktif lagi. Apa yang ada yang dibenakmu, Sophia? Aku hanya ingin tahu, apakah kerja kerasnya membawa kasus ini menjadi perhatian publik dan aparat hukum hanya ajang cari popularitas saja? Sebab ancaman bunuh yang sempat berhembus di media tak ia hiraukan saat itu. Atau Sophia benar-benar sudah mati dibunuh tapi kematiannya ditutupi.

Tapi itu tak mungkin. Berita pengunduran dirinya diperoleh media dari mulutnya sendiri saat melakukan konfrensi pers di kantornya. Dimana dia sekarang?

Kucoba telusuri lagi jejaknya ke rekan-rekan advokad lain yang kukenal. Jawaban monoton yang kudapat. Tidak tahu atau katanya dia ke Australia. Terakhir aku coba mendekati Adi Candra di luar ruang sidang. Tepatnya di sebuah café tempat dirinya suka mencari penghiburan.

Malam telah  larut. Aku bersama Faqih, fotografer kantor, mencoba mencari tempat kosong di tengah ramainya pengunjung kafe. Alunan musik soul dan redupnya suasana sangat kontras dengan keriuhan yang muncul dari gelak canda orang-orang yang sedang menghabiskan waktu di tempat ini. Sambil kugandeng Faqih aku mengiringinya mencari sosok Adi Candra di antara para tamu yang datang.

Setelah lelah menyisir tempat ini dengan mataku, akupun memilih duduk dekat pintu masuk. Aku mencari tempat yang paling berpeluang untuk melihat orang banyak di kafe ini. Sebab kafe ini didesain dengan banyak liku dan ruang sekat. Lobi adalah ruang terluas yang pasti akan dilewati pengunjung yang datang maupun yang akan pergi. Makanya kami duduk di situ.

Tak lama usai minuman pesanan kami datang, Adi Candra muncul dari pintu masuk. Ia datang sendiri. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.  Dengan setelan santai seperti saat ini, pria setampan dia tidak bisa ditaklukan wanita manapun di dunia ini. Pembawaannya yang tenang dan lembut seharusnya bisa dinikmati oleh setiap wanita. Tapi Tuhan berkehendak lain. Adi Candra tidak diciptakan untuk wanita.

Lelaki itu berjalan lempang terus ke dalam kafe. Tak mau kehilangan jejak, akupun bangkit untuk mengikutinya. Namun sebelum aku meninggalkan tempat duduk tanganku ditarik Faqih.

“Look who’s coming,” kata Faqih sambil menunjuk arah pintu masuk dengan dagunya. Akupun berpaling ke arah yang dia tuju. Mataku langsung menangkap sosok perempuan cantik yang kudamba ingin bertemu selama ini. Itu Sophia Kanaan.

“Akhirnya singa betina itu muncul ke permukaan,” gumamku, setengah bersorak.

“Jangan bilang kalau mereka berdua janjian di sini.”

Benakku tertawa girang. Akhirnya….

Tanpa menunggu reaksi Faqih lebih lanjut, aku langsung menyusul Sophia berjalan ke ruang dalam kafe. Faqih mengekori dari belakang. Dari arah yang dituju, Sophia terlihat memang hendak bertemu dengan Adi Candra. Situasi ini menjadi bertambah menarik. Apa kira-kira yang akan mereka bicarakan? Proses hukum kasus Sandy kah, atau ada hal lain?

Berhubung aku baru pertama sekali  ke ruangan ini, aku jadi sedikit kikuk menembus lebih dalam ke badan kafe. Ternyata kafe hanya wajah depannya saja. Ketika kita melangkah lebih menjorok ke dalam gedung, kita bertemu dengan sebuah ruangan lainnya yang didesain seperti pub.

Suasananya lebih tenang dan elegan. Pengunjung juga tidak seramai di dalam kafe di luar sana. Mata yang gagu sedikit menarik perhatian bartender yang langsung  berpapasan pandang denganku. Faqih tertinggal 5 detik di belakang.

Sempat muncul di pikiran, jangan-jangan hanya anggota yang boleh masuk sini. Tapi aku menunggu saja pemberitahuan itu dari penjaga yang nantinya akan mendekat. Faqih lalu mengusul agar kami duduk di meja sudut dekat panggung kecil yang ada di dalam pub. Ia lalu menunjuk ke arah 3 meja di samping meja yang menjadi usulannya. Mataku menangkap sosok Sophia di sana. Tentu saja bersama Adi Candra dan dua lelaki lain yang tak kukenal.

“Kalau kita duduk sejauh itu, gimana bisa tahu apa yang mereka bicarakan?” sergahku pada Faqih.

Ia tak segera menjawab. Faqih tentu tidak keberatan dengan jarak untuk mencuri foto kedua pengacara Sandy itu. Dengan kamera telenya, ia bisa mengambil gambar bagus bahkan dari jarak 100 meter. Nah, aku? Rasa keberatankupun terlihat melalui sorot mata. Faqihpun urung ngotot. Ia persilahkan aku memutuskan segera kami akan duduk dimana.

Rasa sabarku kalah dengan hasrat untuk segera menerkam informasi yang sudah terbuka di depan mata. Kuabaikan logika investigasi jurnalis yang biasa kugunakan selama ini. Animal instinct bermain. Tapi Faqih yang kuharap hanya menjadi pelengkap penderita dalam kucing-kucingan ini ternyata punya rasa inisiatif yang tinggi. Tapi itu justru membuatku kesal. Saat aku hendak ke meja Sophia, lagi-lagi dia mencegahku.

“Kupikir sebaiknya kau temui saja dia saat di toilet,” usulnya pelan.

Benakku membantah. Tahu apa seorang fotografer dalam strategi menembus narasumber. Bagaimana jika Sophia sampai pulang tidak juga ke toilet? Toh aku harus mengejarnya.

“Why I should wait?” kataku, sambil sedikit menggertak gigi.

Faqih tidak segera menjawab. Dia hanya menatap mataku tegas. Aku segera menghempas pegangan tangannya. Faqih mengalah. Dia mungkin punya alasan sendiri mengusulkan tawarannya. Tapi tidak berlaku bagiku tanpa argumen yang jelas. Niatkupun untuk menghampiri Sophia tak menemukan hambatan lagi. Mataku segera kulempar ke arah meja Sophia, sebelum mengambil ancang-ancang untuk menghambur ke arahnya.

Tapi darahku mendadak berdesir. Sophia tak kutemukan lagi duduk bersama teman-temannya. Sekelebat makian terciprat dalam benakku.

“Shit!!”

Dagu Faqih bergerak ke arah vertikal.

“Toilet,” katanya singkat. Mataku bergerak ke arah salah satu sudut ruangan ini seperti yang ditunjuk Faqih. Terlihat oleh mataku Sophia tengah berjalan pelan ke arah salah satu sudut di ujung ruangan. Benakku sedikit berubah iklim. Faqih mungkin benar, itu toilet. Kakipun segera berkelebat.

Begitu masuk toilet, Sophia terlihat sedang membenahi maskaranya. Dia kaget ketika dilihatnya diriku dari pantulan cermin  muncul di pintu masuk.

“Apa kabar, Mbak?” sapaku, mencoba untuk bersikap santai.

Sophia tersenyum tipis sembari kembali pada kegiatannya tadi, membenahi maskara.

“Baik, Anne,” jawabnya singkat kemudian.

“Kayaknya Mbak Sophia udah ganti nomor HP sekarang. Gak bisa dikontak lagi. Ada agenda bertapa dimana nih?”

Sophia tertawa kecil. “Yah, biasalah. Menghindari orang-orang seperti kamu ini.”

Giliran aku yang tertawa. Orang seperti aku, nyamuk-nyamuk kata mereka. Okelah, cukup basa-basinya. Sophia sudah tahu apa yang kumau. Dan ia tidak sedang berusaha menghindariku. Aku biarkan saja dia pergi ke kamar kecil. Tapi waktu yang sempit tak kusia-siakan begitu saja.

“Aku gak percaya seorang Sophia Kanaan meninggalkan kasus yang begitu fantastis demi belajar ke Australia?” kataku, masih dengan nada yang ditekan.

Aku berharap ada jawaban dari dalam. Tapi nihil.

“Ada konspirasi apa sebenarnya dalam kasus Sandy ini? Popularitas atau..uang?”

labrakku tanpa pikir panjang. Kepalang tanggung, benakku. Aku akan ambil resiko jika disomasi Sophia nantinya karena bicara sembarangan, ketimbang tak ada percakapan.

Sophia lalu keluar dari kamar kecil dan menatapku tajam. Dadaku mulai berdetak cepat.

“Tak ada konspirasi,” tukasnya singkat, sembari membetulkan pakaiannya.

“Ini bukan sekedar jawaban diplomatis kan? Karena aku tidak akan mencatat jawaban semacam itu,” kataku sedikit angkuh.

“Lantas, maumu apa?” tantang Sophia.

“Jawaban yang pantas untuk dimuat di koran kami,” balasku tak kalah sengit.

“Aku sudah menjawab puluhan pertanyaan pada konfrensi pers tempo hari. Kamu juga ada di sana kan? Dan dengar, tidak ada konspirasi. Kasus Sandy tetap aku pantau. Jangan remehkan Adi Candra, Anne. Dia hebat, percayalah,” terang Sophia.

Tatapan matanya tepat menatap ke arah mataku. Tegar dan tangguh. Sorot mata yang tak jarang membuat lawan hukumnya keok.

“Percaya kepada seorang pengacara bagi wartawan sulit, Mbak. Apalagi jika kondisinya sudah seperti ini,” kataku, sedikit pongah untuk mendongkrak nyaliku yang mulai mencair karena laser mata Sophia.

“Sinis, Anne. Tapi aku tidak akan terpancing. You believe or not, it’s not my business,” ujarnya akhirnya menyudahi teror matanya.

Sebuah SMS masuk ke telepon genggamnya. Perempuan itu membuka dan melihat isinya. Sedetik kemudian ia bergegas pergi tanpa kata-kata, hanya sorotan sekilas. Aku pun mengekori dari belakang. Sedikit panik, karena aku belum mendapat apa-apa.

Meja tempat Adi dan Sophia tadi sudah terlihat kosong. Sophia langsung keluar ruangan dengan lebih tergesa. Sialan, mereka mau kabur. Yakinku, tadi di dalam kamar kecil Sophia diam-diam mengontak Adi untuk pergi dari tempat ini. Shit!

“Apa yang kalian sembunyikan? Jika benar tak ada yang rahasia, kenapa kalian main kucing-kucingan seperti ini?” cecarku, sembari berjalan seiring langkah Sophia menuju pintu keluar kafe.  Sophia tetap bungkam. Dia bahkan terlihat menikmati dirinya dikejar bak putri Diana oleh paparazzi sebelum meninggalnya.  Aku benci senyumnya itu.

Begitu tiba di halaman kafe, pemandangan sadispun terlihat. Adi Candra sedang dikerubungi belasan wartawan yang siap melahapnya bulat-bulat dengan pertanyaan. Wajahnya dijejali tape recorder dan blitz kamera. Lelaki itu terlihat kalut. Ada apa?

Kulirik Sophia. Senyum manisnya tadi hilang tak berbekas. Aku tahu dia sedang diperhadapkan dengan dua keputusan sulit. Menghampiri Adi lalu menarik lelaki itu untuk segera kabur, atau langsung ke mobilnya dan menyelamatkan diri sendiri.

Sejenak gelisah, Sophia memilih keputusan kedua. Ia menyelamatkan diri sendiri. Aku tak mau ditinggal begitu saja. Kalaupun aku harus menyelinap ke dalam mobilnya, kutanggung akibatnya. Tokh selama ini aku sering naik mobilnya selama kasus Sandy masih ditanganinya.

Tidak disangka, gerakan cepat Sophia menarik perhatian wartawan yang sedang menelanjangi Adi dengan pertanyaan bertubi. Sekarang giliran Sophia yang mendapat sorotan. Sebelum Sophia sempat membuka pintu mobilnya, ujung mikropon sudah di depan bibirnya.

Aku memutuskan untuk mengambil jarak dari kerumunan itu.  Kudengar pertanyaan yang begitu menyentak dan bertubi. Entah kenapa aku tidak mau bersaing dalam usaha itu. Karena pertanyaan mereka sangat kuat. Bahwa Adi Candra adalah mantan pacar gelap Danson Wijaya. Bahwa Sophia hanya mencari sensasi dan popularitas saja dalam kasus Sandy. Perempuan itu terlihat gelagapan. Muncul rasa ibaku padanya.

Akupun lalu tarik diri dari kerumunan. Pikiranku melayang hingga seseorang menyentuh pundakku. Faqih.

“Lihat foto ini,” katanya pamer. Kamera digital di tangan Faqih condong ke arahku. Tampak sebuah foto mesra antara Adi dan seorang teman prianya di dalam puba tadi.

“What do you think?” ungkapnya dengan senyum sumringah.

Aku mengembalikan kamera itu dengan senyum tipis. Jelas foto itu adalah prestasi bagi seorang fotografer. Makanya Faqih bangga menunjukkan kepadaku. Tapi aku teringat sorot mata dan wajah Sophia serta Adi tadi. Sorot mata terancam.

“I don’t wanna talk about itu now. Can’t we just go home?” pintaku malas.

Faqih terlihat bingung. Tapi akhirnya cowok jangkung itu merangkulku. Mengajakku berjalan ke arah parkir sepeda motornya di ujung halaman.

Malam ini aku butuh berpikir keras. Sendiri, di rumah. Sedang di ambang keputusan, apakah ikut konspirasi-konspirasi yang terbentang di depan mata, atau berpijak sendiri. Yang jelas, kasus Sandy semakin bertambah menarik saja setiap hari. (#)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s