novel

Tragedi Buah Apel

Oleh  Nana Gih

Cuaca siang itu tidak terlalu panas. Langit biru diselingi kabut tebal berwarna kapas dan menggumpal. Di bawahnya bumi tersiur angina sepoi yang dating dari lautan yang mengelilinginya. Ini adalah sebuah pulau kecil yang jauh dari deru kemajuan kota. Tapi kehidupan di sini memiliki daya tarik tersendiri, sehingga ada saja orang luar yang dating demi mencicipi kenikmatan di pulau ini. Terutama panorama pantainya, ikan laut yang menggiurkan tatkala dipanggang dengan rempah seadanya.

Hal itu pulalah yang menjadi magnet bagi empat orang muda-mudi yang tengah bersenda gurau riang di bawah sebatang pohon beringin yang cukup rindang, untuk menghabiskan waktu di pulau ini.  Kelakar-kelakar yang disertai suara tawa terlihat lebih santai dengan adanya belahan-belahan buah semangka di hadapan mereka. Tiga perempuan, dan satu laki-laki.

Yah, pulau ini juga menyediakan aneka buah dan sayur segar yang bisa dijumpai setiap hari di pasar dekat pelabuhan. Kendati berpenduduk sedikit dan luas wilayah yang didominasi oleh tebing curam menghadap laut, tapi pasar yang merupakan satu-satunya itu buka setiap hari. Tidak seperti wilayah lain dengan jumlah penduduk yang sama, pasar biasanya hanya akan dibuka seminggu sekali. Di sini, transaksi terjadi setiap hari meskipun hanya berlangsung dari pagi hingga tengah hari saja.

“Kenapa pemerintah kita mengabaikan pulau ini, yah? Padahal, mmhh….cukup indah juga.”

Komentar itu datang dari gadis berambut panjang dalam rombongan kecil itu. Ucapannya langsung disambut temannya yang lain. Salah seorang dari mereka, yang menggantung topi ala koboinya di leher, bicara.

“Pulau inikan dalam administrasi negara udah dianggap nggak ada….” responnya santai, sambil terus asyik melahap potongan besar semangka yang ada di tangannya.

“Oh, karena tenggelam waktu itu, yah? Tapi buktinya, ada kok daratannya. Indah lagi. Cuma agak sepi,” timpal si rambut panjang.

“Bukan sepi, Oilina,” ralat  gadis terakhir, melibatkan diri dalam percakapan. “Orang-orang di sini kan, yah, kalo nggak imigran gelap, ya pelarian. Jadi, mana ada yang namanya interaksi sosial secara intensif kayak di kota tempat kita. Apalagi kata nenekku, waktu zaman pemberangusan pemberontak dulu, kebanyakan eks tahanan politiknya di buang kemari. Tapi entah dimana mereka ditempatkan,” tambah cewek itu, sembari mengibas rambut ikalnya, mencoba menghalau gerah.

“Ikut tenggelam kaliii… he..he….” sambar si cewek berambut panjang.

Tak lama mereka bercakap-cakap, salah satu cewek yang dipanggil Oi, melangkah menyeberangi jalan aspal tak jauh dari tempat mereka nongkrong.

Ketiga temannya itu memperhatikan Oilina sampai ia berhenti di sebuah batang pepaya yang tampangnya agak aneh dari pohon pepaya kebanyakan. Batangnya berwarna coklat gelap dan berdaun hijau lebih gelap dari biasanya. Gadis itu mulai memanjat pohon pepaya itu perlahan. Tingginya mencapai 4 meter.

Ketiga temannya mulai datang menyusul ketika sebuah pepaya berhasil dipetiknya. Melihat temannya telah menunggu di bawah, iapun menjatuhkan dua buah pepaya terbesar dan berwarna paling mencolok. Warna kulitnya kuning tua, mirip isi buah nangka yang sudah matang. Buah itu berhasil mendarat dengan aman di tangan gadis berambut panjang.

“Gila, makan siangnya buah melulu, nih. Emang vegetarian?”

“Dasar kau, May. Tinggal makan aja susah,” kata si rambut panjang sembari meletakkan papaya itu di tanah.

Cewek yang dipanggil Maya cuek. Diliriknya Oi yang segera turun begitu pepaya hasil petikannya sudah aman di bumi. Ia tidak perlu perintah untuk segera mengekskusi buah berwarna mencolok itu. Sejak melihatnya tadi di seberang jalan, sudah terbayangkan kesegaran isinya. Ia lahap potongan pertama dari cutter yang diambil dari tas pinggangnya, sisanya ia tinggalkan untuk teman-temannya.

Dugaannya tepat. Ia mendapat rasa seperti yang dikiranya. Gigitan demi gigitan rakus pada buah bertekstur lembut itu memuncratkan air pepaya ke kerah T-Shirt yang dikenakanya. Tapi ia tidak perduli, ia terus melahap papaya bagiannya sambil memperhatikan keadaan sekitar mereka. Benar-benar senyap.

Sejak hampir tiga jam mereka di sekitar sini, berjalan dan memanen buah yang bukan hasil tanam mereka untuk dijadikan makan siang, hanya mereka sajalah manusia yang terlihat. Sungguh berbeda dengan situasi pagi tadi ketika mereka tiba di pelabuhan. Mereka pun baru berjalan sejauh dari 15 kilo meter dari pelabuhan, tapi kondisi di ini benar-benar sepi.   Jalan di dekat mereka yang lumayan raya itu saja tak kunjung dilindas oleh satupun kendaraan. Oilina lama memandangi sekitar.

“Kamu yakin, May, pohon-pohon ini nggak ada yang punya?” tanya Oilina tanpa melihat Maya. Matanya masih sibuk mengitari sekeliling mereka.

Gadis berambut panjang bernama Maya itu cuma mengangguk. Ia masih sibuk membershkan sisa buah dari mulutnya.

“Soalnya sepanjang kita jalan tadi, kawasan ini kayak sebuah kebun pekarangan. Bersih, nggak ada daun busuk yang berserakan, buahnya nggak ada yang berjatuhan sembarang. Kayak dirawat gitu,” sambung Oi heran.

“Ada cleaning service-nya kali,” ucap cewek berambut ikal, asal.

“Emang hotel,” balas Maya sewot.

Percakapan dengan Oilina kembali terhenti. Perhatian gadis bertubuh atletis itu tersita ke arah timur. Di sana tanahnya agak cekung sementara di sisi yang lain beberapa daerah justru tinggi di sana, sehingga membentuk lembah. Pemandangan ini sebenarnya sudah ia lihat sejak naik ke atas pohon papaya setinggi 4 meter tadi. Namun pandangannya baru benar-benar fokus saat ini. Gadis itu samar-samar melihat sesuatu yang lain di sana, di bawah cekungan itu. Oilina lalu bangkit dan melangkah ke arah matanya tertumbuk untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Sementara itu kedua temannya itu masih asyik ngobrol dan bercanda dengan satu-satunya cowok dalam kelompok mereka. Usianya tampak lebih muda dari mereka.

Pergerakan Oilina baru disadari teman-temannya setelah lima puluh meter berjalan.  Cowok itu yang menyadari bahwa Oi sudah kembali meninggalkan mereka. Ia pun menyusul dengan setengah berlari. Tanpa komando, temannya yang lain juga mengikuti.

Sementara itu, Oilina terus bergerak maju dan kini ia menuruni cekungan itu. Rimbunan pepohonan dan semak belukar dilewatinya. Mereka pun tanpa sadar semakin menjauh dari jalan raya, jalur yang mereka ikuti sejak memutuskan untuk menyusuri pulau ini tanpa pemandu. Mengikuti jalan raya adalah tindakan yang paling aman menurut mereka.

Oilina berhenti. Ia menemukan sesuatu. Sesuatu yang kini jauh lebih jelas bentuknya ketimbang melihatnya dari atas sana. Sebuah bangunan beratap rumbia tanpa dinding. Luasnya sekira 50 meter persegi di bawah cekungan sana, di antara rimbunan semak. Ini adalah satu-satunya bangunan yang ada di sepanjang jalan yang dilalui mereka selama tiga jam terakhir.

Diliriknya cowok yang baru saja tiba di sampingnya. Suara tapak kaki dan nafas tersengal membuat Oilina yakin sudah ada orang lain bersamanya.

“Kamu lihat papan pengumuman itu,” Oilina menunjuk ke sebuah papan pengumuman yang ada di depan bangunan itu. Jaraknya sekitar sepuluh meter dari posisi mereka berdiri saat ini. Cowok itu mengangguk.

“Dilarang masuk tanpa ijin pemilik,” Oilina membaca tulisan yang tertera di papan tersebut.

Ia lalu melihat ke sekeliling, tanpa menunggu komentar cowok itu atas temuannya. Oi malah tersenyum tanpa sebab yang jelas. Ia mulai berjalan lebih mendekat ke arah bangunan.  Dilewatinya papan pengumuman itu acuh dan berjalan masuk melompati pagar bambu setinggi pinggang orang dewasa. Cowok itu tadi sempat mencegah dengan menarik lengan Oi ketika sama-sama berdiri di depan pagar. Tapi gadis itu tidak perduli. Ia terus berjalan mendekati bangunan tunggal itu yang walaupun tak berdinding namun nampak penuh dengan karung-karung seperti layaknya lumbung.

Oi meraba satu karung di depannya. Ia ingin tahu apa kiranya isi dari tumpukan karung-karung ini.

“Wangi parfum,” ungkapnya pelan.

Ia berjalan lagi ke sisi lain bangunan dengan mimik penuh selidik. Sejenak pandangannya tertuju pada sesuatu di depan kakinya.

“Apel,” gumamnya pelan.

Ia pun membungkuk untuk meraih sebuah apel yang tergeletak dekat kakinya.  Oilina mengambil cutter dari tas pinggangnya. Disayatnya buah apel yang cukup besar itu berbentuk persegi empat. Tanpa ragu potongan apel itu dimakannya. Tak lama, seutas senyum menggaris di bibirnya. Buah apel itu ditimang dengan senang.

“Jadi karung-karung ini berisi apel semua,” gumamnya.

Oilina mengangguk-angguk, lalu berbalik. Ia kembali pada teman-temannya yang sudah berkumpul di depan papan pengumuman tadi. Mereka tidak senekat Oilina untuk masuk ke dalam bangunan seperti lumbung itu tanpa ijin. Apalagi ada papan pengumuman yang melarang masuk. Mereka tidak mau dibilang pemuda yang tidak bisa membaca. Menunggu adalah hal yang paling bijaksana menurut mereka.

“Hei, liat nih apa yang kutemukan,” Oi memperlihatkan buah apel temuannya, begitu tiba di dekat teman-temannya di depan pintu pagar bambu.

“Apel?” kata Maya seolah tak percaya.  “Dari mana?” sambungnya lagi.

Oi tidak segera menjawab. Ditatapnya satu per satu wajah-wajah di depannya dengan senyuman penuh makna.

“Apel… Besar, enak, dan….buanyaak. Ha..ha…banyak banget…!” Oi tertawa penuh kegirangan. Ia melempar apel di tangannya ke tanah kemudian menarik tangan dua cewek di depannya untuk segera memasuki pagar.

“Ayo Maya, Kimi, follow me!!” ajak Oilina.

“Eh, tunggu dulu..” sergah Maya.

Oilina menghentikan langkahnya.

“Kita nggak boleh masuk apalagi ngambil apel-apel itu,” tukasnya ragu.

“Kamu bilang nggak ada yang punya,” ujar Kimi protes, karena sudah tergiur dengan apel.

“Woi, itu tadi. Sekarang.. Kalian liat sendiri kan papannya? Kalo kita masuk, itu berarti kita maling, pencuri,” terang Maya dengan nada tegas.

“Kalo mau khotbah, entar aja ya, Non. Kita cuma minta dikit aja, kok. Lihat tuh bejibun.”  Oi menunjuk tumpukan karung-karung di dalam bangunan tak jauh dari mereka berdiri.

“Aku nggak pernah makan apel jenis ini. Lagian bukan kita-kita namanya kalo nggak berani nerima tantangan. May…chicken-chicken…!!”

Oilina berputar meniru gaya seekor ayam yang lagi petok-petok menandakan penakut. Kimi tersenyum. Diapun ikut berputar meniru gaya Oi tadi. Maya akhirnya menyerah. Dua sahabatnya itu memang paling bisa meledek orang. Iapun mengangguk tanda mengalah. Oilina merangkul Maya dan Kimi. Lalu secara bersama mereka melewati pagar bambu itu bak pencuri ulung, yakni melompati.

“Eh, adikmu tuh, Oi,” tegur Kimi, mengingatkan tentang sesosok yang terlupa.

Oi dan Maya berbalik mendapati cowok yang kira-kira berusia lima belasan tahun itu tetap berdiri di depan pagar, tak bergeming.

“Apalagi sih ini,” Oi bersungut.

Didekatinya cowok itu dengan langkah yang dihentak.

“Kamu mau jadi Satpam di situ?” tukas Oi setengah membentak.

Cowok itu melengos tak menjawab.

“Apa sih yang kamu bisa. Jaga di sini juga percuma, kamu nggak bisa teriak,” sergah Oi kesal.

Cowok itu menunduk. Mulutnya terkatup rapat menahan emosi.

Melihat perubahan wajah cowok itu, Oi tertunduk seperti sadar. Diraihnya kepala cowok itu dan diletakkan di pundaknya. Oi lupa adiknya itu sensitif bila disinggung soal suara. Ia khilaf melihat kepengecutan adiknya itu.

“Ayo dong, Ozz. Jangan buang waktu. Kan ada aku,” Oi menatap dalam-dalam mata adiknya yang tuna wicara itu.

Seperti terhipnotis, akhirnya Ozz mengikuti langkah kakaknya. Sementara itu Kimi dan Maya sudah asyik lebih dulu makan apel. Mereka tadi meninggalkan adegan drama melankoli kakak-beradik di pagar bambu, dan lebih memilih untuk turun ke timbunan karung-karung berisi apel. Mereka terlalu asyik untuk turut campur. Beberapa karung sudah dibukai sama mereka. Memilih yang paling besar dan memasukkannya ke dalam ransel mereka masing-masing.

Maya sampai mengeluarkan jaket dan dua buah pakaiannya supaya dapat menampung lebih banyak apel hasil jarahan mereka. Awalnya hanya ingin mengambil sedikit dan bermaksud segera pergi sebelum pemiliknya datang. Akan tetapi karena keasyikan dan terlihat sepi-sepi saja, merekapun santai dan menikmati sepuasnya apel-apel itu. Bersenda gurau sambil mencicipi buah apel yang benar-benar jenis sempurna.

“Ini apel Fuji hasil seleksi dari silangan jenis Red Delicious dan Ralls Janet yang dilakukan di Jepang,” kata Kimi menerangkan tentang apel super lezat yang dimakan mereka.

“Di Jepang, apel Fuji ini berwarna merah cerah, tapi di Indonesia kulitnya berubah jadi merah hijau kecoklatan. Daging buahnya putih kekuningan, renyah, dan berair banyak. Persis seperti yang kita makan ini. Rasanya manis agak asam, cukup mnyegarkan,” sambung Kimi panjang lebar.

Kimi memang layak tahu tentang buah yang mereka temukan itu. Ia kuliah di jurusan Pertanian saat ini, sedangkan Oi jurusan Tekhnik Sipil dan Kimi jurusan Sastra Indonesia. Namun mereka masih dalam satu universitas. Mereka bersahabat sejak dibangku SMU.

“Heran, kita tidak melihat ada perkebunan apel dekat-dekat sini, Oi,” ujar Maya.

“Iya, aku juga sudah keliling bangunan ini tadi, tapi yang kelihatan cuma perbukitan dan pohon-pohon pinus serta semak belukar,” sambung Kimi.

Naluri penjelajah Oi terusik. Seperti biasa, Oi bangkit dari posisi duduknya, lalu berkeliling sendirian di sekitar bangunan itu. Sementara Kimi, Maya, dan Ozz sibuk mengepaki jarahan mereka. Ketiganya tetap duduk santai di lantai tanah di samping salah satu sisi lumbung, bercerita dan terus menyantap apel. Oi kini berada di sisi lain tempat teman-temannya berada. Ia terlihat kembali membuka satu karung yang ada di depannya.karung-karung itu cukup mudah dibuka karena hanya diikat dengan tali plastik. Cukup sekali sayatan, maka tali pengikatnya lepas seketika.

Oi ingin memilih apel seperti yang dimakannya barusan. Berwarna kuning pekat kemerahan dan besarnya hampir dua kali lipat ukuran apel fuji biasa. Soal rasa tidak perlu ditanya, istimewa sekali. Airnya yang banyak dan rasanya yang manis membuatnya ketagihan.

Entah apa yang ada di pikirannya. Buah-buah apel itu dibiarkan saja jatuh berserakan di tanah supaya lebih gampang dipilih. Seperti hendak menambang emas, Oilina begitu berhasrat. Apel itu terasa manis sekali. Ia ingin membawanya pulang, dan berusaha agar bisa merasakan kenikmatan rasanya sejauh yang bisa disediakannya.

Sesekali suara tawa Kimi dan Maya masih sayup-sayup terdengar dari sampingnya. Kedua temannya itu pasti sedang menggoda Ozz. Adiknya yang lugu itu kerap menjadi bahan candaan mereka sepanjang perjalanan ini. Tapi ia tidak mau ambil pusing, suara tawa mereka cukup membuatnya yakin keadaan cukup kondusif walau tanpa dirinya di sana.

Oilina berjalan lebih jauh lagi. Walau lumbung apel ini tidak begitu besar tetapi karena penuh sesak, tawa Maya dan Kimi semakin terdengar bagai semilir angin saja. Sementara itu, Oi sibuk mencari apel pilihannya. Tanpa ia sadari, ranselnya telah kelebihan muatan. Sepanjang jejak kakinya tadi terlihat apel-apel dari karung yang terbuka berserakan. Ia sedikit menyayangkan perbuatannya itu, tapi tidak ada waktu untuk memberesinya. Terlalu banyak yang berserakan. Ia memilih untuk kembali kepada teman-temannya untuk segera kabur sebelum pemiliknya dating dan melihat perbuatan mereka.

Ketika ia hendak bergegas, mendadak didengarnya derap langkah kaki manusia dari kejauhan. Seperti derap langkah sepasukan tentara yang sedang berlari santai. Oilina tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Derap langkah kaki itu berasal dari arah rimbunan pohon di belakang lumbung. Oi segera merapatkan tubuhnya ke tumpukan karung. Entah mengapa ia merasa takurt sekali, padahal itu mungkin saja sepasukan tentara yang sedang berlatih. Ia pernah mendengar bahwa di tempat sepi dan jauh dari penduduk seperti pulau ini memang sering dijadikan tempat latihan pasukan tentara. Tapi, apakah pulau ini juga termasuk salah satunya. Jawaban pelega tadi dibantah oleh pertanyaan barunya.

Oi tetap tidak bisa mentolerir jantungnya. Bagaimana jika karung-karung berisi apel ini adalah milik mereka? Oi melihat serakan apel yang jatuh di lantai tanah. Rasa bersalah mendorong rasa paniknya lebih membuncah lagi. Derap langkah itu semakin tajam terdengar. Untung saja orang-orang pemilik derap kaki tadi ternyata berjalan melewati sisi seberang lumbung dari posisi Oi berpijak, kalau tidak ia bisa terlihat.

Begitu suara-suara itu hilang dan suasana kembali senyap, Oi mulai mengendap-endap untuk kembali menemui teman-temannya. Keinginan untuk kabur sudah bulat di kepalanya, dan dia harus memacu teman-teman serta adiknya untuk mengambil langkah seribu. Dia tidak mau mengambil resiko. Ia menyadari bahwa ulah mereka sudah sangat kelewatan. Namun alangkah terkejutnya ia begitu tiba di depan lumbung tempat ia tadi meninggalkan Kimi, Ozz, dan Maya. Tiga tubuh mereka tergeletak bersimbah darah.

Begitu banyaknya luka sehingga darah mengucur tergenang. Tubuh mereka tercabik-cabik. Maya, Kimi, dan Ozz adiknya tidak bergerak lagi. Bahkan apel-apel yang telah melewati kerongkongan mereka tadi ikut terburai karena perut mereka terkoyak. Oi terduduk lemas. Badannya seperti tak bertulang. Ia tidak tahan melihat kengerian ini.

Suaranya tidak bisa keluar sanking terkejut. Nafasnya sesak, dan matanya bahkan enggan membuka. Hanya air mata yang deras mengucur untuk mengungkapkan rasa yang bergejolak dalam dirinya. Peluh yang menetes dari pori-pori tubuhnya bercampur dengan air mata. Apa ini?

“Ozz…” desah Oilina dengan suara bergetar.

Dirabanya rambut yang basah itu.

“Maya, Kimi…. Bangun, woi! Kita pulang..”

Oilina akhirnya meraung-raung tak percaya. Ia tidak pernah membayangkan ada pembunuhan keji seperti ini terjadi dalam hidupnya. Apalagi, beberapa saat yang lalu, mereka masih bercengkrama dengan santai. Kini, sosok-sosok yang tertawa bersamanya tadi seperti sapi yang masuk rumah potong. Mereka tergeletak bersimbah darah. Badan Oilina tak henti bergetar. Ia tidak habis pikir. Apa yang telah terjadi? Siapa yang melakukan ini?

“Aarghhh…!! Gak mungkin. Bangun semua..!!” teriak Oilina histeris.

Ketakutannya mulai timbul, kalau-kalau ia juga akan berakhir seperti Kimi, Maya, dan Ozz. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Syaraf-syarafnya seperti putus, tidak berkorelasi dengan otak dan hatinya. Sehingga tubuhnya susah untuk digerakkan.

Di tengah kekalutannya itulah terdengar kembali derap langkah kaki pasukan tadi dari belakang lumbung. Oilina tersadar. Yakin bahwa orang-orang pemilik derap kaki itulah pelaku semua ini, maka Oi cepat-cepat berlari ke arah mereka dating tadi. Meskipun ia belum tahu, sepasukan pemilik derap langkah kaki akan muncul dari arah mana, namun yang jelas ia tidak ingin melihat mereka.

Begitu tiba di jalan besar, Oi melihat ke kiri dan kanan untuk mencari tahu apakah ada kendaraan yang lewat untuk bisa ditumpangi. Ia ingin segera pergi dari tempat itu. Setidak-tidaknya ia bisa sampai ke pemukiman penduduk atau pasar terdekat. Ia hanya butuh keramaian saat ini.

Namun, sembari berlari dan menunggu, tak satupun kendaraan yang lewat. Keadaannya persis seperti beberapa jam lalu saat  tiba di di tempat itu. Di tengah suara semilir angin panas melambaikan pepohonan di lembah, derap langkah kaki itu semakin tajam terdengar. Suara itu mulai mendekat ke arahnya. Oi lalu mempercepat langkah. Ia kerahkan kemampuan sprintnya untuk lolos. Jangan sampai ia bertemu dengan pemilik derap langkah kaki itu. Jangan sampai ia bernasib sama dengan adik dan teman-temannya. Jangan sampai…

Tapi langkah kaki Oi tetap saja tidak bisa menyamai kecepatan orang-orang itu. Tak berapa lama, dari belakangnya sudah terlihat segerombolan orang-orang berkulit hitam bertutup kepala kain putih. Mereka hanya bercelana panjang yang juga berwana putih tanpa pakaian, tengah berlari ke arahnya. Sekilas, derap langkah serentak itu terlihat pelan. Namun sekencang apapun Oilina berlari mereka terus semakin dan semakin mendekat.

Tubuh orang-orang itu kurus, namun tampak tangguh dan kuat. Khas tubuh petani, yang meskipun hanya dibalut kulit kurus namun otot mereka tetap bisa terlihat menggurat. Oilina sesekali melihat ke belakangnya untuk mengetahui sejauh apa ia bisa menghindar dari kejaran orang-orang itu. Ia pun bisa melihat seperti apa mereka yang tengah mengejarnya, mereka yang telah menghabisi adik dan teman-temannya dengan sadis tadi. Satu hal yang paling mengerikan terlihat adalah mereka masing-masing membawa senjata tajam. Sabit, garukan, pedang, dan cangkul. Mereka menentengnya layaknya sebuah senapan di tangan seorang prajurit yang mau berperang. Astaga, dengan benda-benda itulah Kimi, Maya, dan Ozz diakhiri hidupnya. Orang-orang itu, semuanya lelaki, seperti hantu.

Rasa takut yang mendera jiwa membuat Oilina tak lelah berlari. Hanya yang ia bingungkan, gerombolan itu berlari bagai di atas angin. Pelan, ringan, namun cepat. Oi mulai kehabisan tenaga. Tapi ia tidak hilang akal. Tanpa pikir panjang, ia mengarahkan langkahnya ke pepohonan di samping jalan. Ia ingin bersembunyi untuk sekedar mengatur nafas yang sudah tinggal satu-satu. Berharap pasukan hitam putih itu kehilangan jejaknya.

Setelah cukup jauh memasuki rerimbunan pohon, Oi mulai mengurangi kecepatan larinya. Ia sempat melihat ke belakang. Tampaknya gerombolan itu tidak terlihat lagi. Suara derap kaki yang membuatnya panik juga sudah tidak terdengar. Hatinya sedikit lega, namun ia tidak mau gegabah. Gerombolan itu pasti masih ada di dekatnya. Tapi Oi memang sudah tidak kuat.

Ia pun berjalan sempoyongan, masih dengan nafas satu-satu, hingga tak sadar kalau kakinya tersandung akar pohon yang menyembul keluar dari permukaan tanah. Ia pun terjatuh. Oi tidak segera bangkit. Kaki kirinya terkilir. Rasa nyeri yang dihasilkan membuat Oilina mengerang tertahan. Tubuhnya sakit semua, dia tak segera bangkit. Ia sengaja membiarkan tubuhnya tergeletak di tanah dan menikmati terhentinya kegiatan kejar-kejaran ini sejenak. Namun ia tetap was-was. Sebelum ia menemukan pemukiman atau keramaian, ia tidak akan berdiam diri. Tapi saat ini ia ingin berhenti sesaat, kakinya sakit sekali juga jantungnya.

Tak berapa lama, akhirnya Oi merangkak ke sebatang pohon di dekatnya. Akar dari batang pohon inilah yang membuatnya tersandung tadi. Ia memutuskan untuk duduk di situ. Sambil mengurut kakinya yang sedikit cedera, ditatapnya langit biru di atas di balik bayang-bayang dedaunan pohon yang menghalangi pandangannya. Sinar mentari yang hangat membias, sesekali menerpa wajahnya yang terhalang daun yang digoyang angina di atas sana. Pikirannya tersita kembali kepada kejadian di lumbung.

Siapa yang menyangka bahwa saat ini ia sedang dikejar maut. Maut yang tidak pernah ia bayangkan akan datang menghampirinya, teman-teman dan adiknya. Maksud hati datang ke pulau ini pagi tadi hanya untuk berkunjung ke kediaman nenek Maya. Menikmati sejenak suasana pulau terpencil dengan pantainya yang sangat mengagumkan.

Orangtuanya membawa Maya ke pulau ini 7 tahun lalu, saat kakeknya yang bekerja sebagai nelayan wafat. Ia ingat keindahan pulau ini beserta keorisinalitasnya. Sayang, hari ini neneknya sedang pergi ke pulau seberang ke rumah salah satu kerabatnya. Tidak ada alat komunikasi yang bisa menghubungkan nenek-cucu itu untuk memberitahu niat masing-masing. Begitu tiba tadi pagi di kediaman sang nenek, tetangganya berkata bahwa nenek lusa baru kembali. Maka, dari pada datang sejauh ini sia-sia merekapun akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan keliling pulau ini ala long journey adventurer. Mengitari pulau dengan menapaki jalan besar sejauh mereka mau, lalu kembali lagi dengan jalur yang sama. Jalur jalan raya.

Perjalanan ini tadinya adalah bagian dari acara bebas usai melakukan study tour ke kota Siboga Boga, sebuah kota bersejarah di kawasan pantai barat pulau Sinatra. Wisata sejarah yang difasilitasi pihak kampus di kota itu adalah hal menarik yang harus diikuti oleh mahasiswa yang suka traveling. Rencananya rombongan kampus baru akan pulang besok pagi. Mereka sudah 2 hari mengikuti sejumlah rute situs sejarah zaman masuknya agama Islam ke Pulau Sinatra ratusan tahun lalu, kemudian ke benteng dan kota tua tempat warga setempat berperang dengan penjajah asing puluhan tahun lalu.

Ketika panitia mengumumkan adanya acara bebas sebelum pulang ke kota mereka, Maya puny aide untuk menghabiskan sisa waktu mereka dengan percuma, belanja atau berfoto-foto di resort atau restoran tempat mereka menginap. Ia mengajak kedua temannya dan adik Oi yang turut serta, ke pulau kecil di seberang sana. Menemui sang nenek yang sudah lama tak ditemuinya, dan melihat panorama pantai perawan yang sangat indah dan jauh dari pembangunan yang menyemakkan. Benar-benar masih alami dan indah, promosi Maya kala itu. Mereka pun setuju dan tidak perlu banyak bertanya-tanya tentang akomodasi dan jadwal penyeberangan, karena Maya ternyata sudah menyiapkan semuanya sejak awal berangkat study tour. Tinggal melihat situasi dan kondisi.

Mereka pun kemudian naik kapal motor cepat selama 2 jam menuju  pelabuhan kecil di Pulau Sepatu. Tapi tidak ada pasir putih di sana. Karena tidak ada pantainya. Bahkan sebagian rumah pendudukpun berada di atas air laut. Rasa penasaran yang menggebu untuk melihat pantai perawan musnah begitu ditemukan bahwa pantainya telah menghilang. Menurut nakhkoda kapal, pantainya sejak dua tahun terakhir terkena abrasi. Air laut meninggi dan menutup bibir pantai hingga 5 meter. Wow, inilah dampak pemanasan global, piker Oilina.

Rencananya pukul empat sore nanti, kapal bermotor akan ada yang kembali ke Siboga Boga. Hari ini waktunya pekan di Siboga Boga, jadi jalur transportasi laut menuju kota itu dari sejumlah pulau kecil di sekitarnya akan tersedia hingga sore hari. Satu tujuan Oilina kali ini, yah ke pelabuhan.

Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul satu lebih empat puluh menit. Ia memang masih punya waktu dua jam lebih. Namun, ia tidak tahu arah pasti menuju pelabuhan.

“Tapi sudahlah, aku susuri saja dulu. Pulau kecil ini akan mudah ditemui ujung daratannya,” ujar Oi setengah bergumam kepada dirinya.

Pokoknya, jangan sampai ia membuang-buang waktu.

Baru saja Oi hendak bangkit, mendadak muncul seorang lelaki kurus tinggi berambut panjang, dan langsung menyerangnya. Lelaki itu datang dari arah belakang. Sebuah kapak dan balok besar menghunus di kedua tangannya. Matanya menyiratkan kemarahan yang menakutkan. Tajam dan lekat ke arah Oi. Kedua benda itu bertubi-tubi dihujamkan ke tubuh gadis itu. Oi tidak tinggal diam. Berhubung tenaganya sudah sedikit pulih, iapun mampu menghindar dari serangan yang membabi buta tersebut.

Hampir saja kepalanya putus terkena sabetan kapak si lelaki. Ia berkelibat cepat ke kanan menghindari. Rasa nyeri di kakinya mengganggu gerakannya. Akan tetapi dari pada mati, ia mencoba menahan. Oi berlari dengan cepat karena dari segi kekuatan ia pasti kalah. Apalagi dengan cedera serius di kakinya.

Tentu saja lelaki hitam itu tidak tinggal diam. Ia berlari lebih cepat dari Oi. Orang itu benar-benar tidak ingin bermain-main dulu dengan Oi. Kapak dan balok itu terus menyerang ke arahnya. Satu sayatan kapak bersarang di lengan kiri Oi. Akibatnya bagian tubuhnya yang kiri sulit diajak bertarung. Darah segar segera berhambur dari luka itu.

Melihat ia terluka lelaki itu menerjang Oi dengan kedua senjatanya, siap untuk segera menghabisi nyawa lawannya. Oi melompat ke samping. Diambilnya sebatang kayu lembab yang tergeletak di atas tanah dekat tempatnya berdiri. Nafasnya tersengal-sengal. Sinyal ketakutan yang sempat redup kini menyala lagi sebab maut sudah di depan hidungnya. Apapun yang bisa digunakan untuk menghalau, akan dipakai, termasuk kayu lapuk yang kini ada di tangannya.

Dengan kayu itu ia mulai bertarung. Tentu saja, kayunya bukan tandingan balok kokoh dan kapak tajam yang siap menghujam. Oi lalu merogoh saku celananya. Kini sebuah cutter sepanjang telapak tangannya menyertai pertarungannya. Oilina sedikit bersemangat.

Kini senjata mereka sama-sama dua. Tapi, no more game. Si hitam jelek itu semakin cepat menyerang. Sampai-sampai tangan kiri Oi yang terluka berhasil dipukul keras baloknya. Cutter itu terpental. Oilina mengerang kesakitan. Tulang tangannya seakan remuk. Tentu saja orang itu bukan tandingannya.

Benar-benar edan. Lelaki itu kini hendak menghujamkan kapaknya ke arah dada Oi. Segera ditangkisnya kapak itu dengan kayu di tangan kanannya, lalu ia menghindar secepatnya. Ia melompat lagi sejauh yang ia mampu. Kemudian diambilnya sebuah batu sebesar dua kepal tangannya yang teronggok di dekatnya mendarat. Dilemparkannya saja ke arah lelaki itu, dan kena karena jaraknya sangat dekat dan lelaki itu tidak sempat lagi menghindar. Darah segar keluar dari kepalanya. Mereka kini impas, sama-sama berdarah.

Lelaki itu sedikit terhuyung. Oi segera meraih cutter yang terpental tadi. Sedikit mencari karena hampir semua permukaannya tertutup daun kering. Melihat ada kesempatan, ia tusukan saja ke perut lelaki itu, dan menyoyaknya dengan semua tenaga yang ada. Erangan terdengar keras dari mulutnya. Namun, sejurus kemudian kapaknya pun ikut melayang ke arah tubuh Oi. Beruntung gadis itu cepat menghindar. Oi pun lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan lawannya di belakang.

Sekilas melihat ke belakang, Oi kini menyaksikan seorang lelaki dengan seluruh kemurkaan dan kekuatan dirinya sedang menggenggam erat kapak dengan kedua tangannya mengejar. Bertubi-tubi ia kembali menghujamkan ke arah Oilina. Namun karena kondisi lelaki itu sedikit terhuyung, kapaknya terlihat tidak fokus. Oi berkeliat ke belakang dengan sedikit tertatih lalu kembali menusuk tengkuk pria itu sekuat tenaganya, kini dengan  berkali-kali dengan cepat.

Darah segar kembali mengalir membasahi tubuh lelaki itu. Ia segera berbalik dan menatap Oilina tajam. Lelaki itu berdiri sempoyongan. Kali ini tidak ada erangan dari mulutnya. Hanya suara endusan nafas yang penuh amarah yang terdengar. Oi berjalan mundur. Melihat lawannya mulai tak berdaya, ia segera kembali memacu kakinya untuk segera pergi jauh. Ia tidak mau mengambil resiko terlalu lama di sana. Karena bisa saja kawanan orang itu akan segera datang. Selain itu ia tidak sanggup melihat orang itu mati di depannya karena berkali-kali ditusuknya dengan cutter yang hingga kini masih ada di genggamannya.

“Pencuri…” desah lelaki itu sambil terus menatap tajam Oilina.

Ia masih berusaha untuk berjalan mengejar Oilina. Ketika Oi melihat lagi ke belakang, lelaki itu sudah roboh di tanah.

“Kalian bunuh adik dan teman-temanku,” tukasnya geram.

Oi kembali menatap ke depan. Setengah berlari, disusurinya hutan yang penuh semak belukar ini. Diliriknya jam tangan yang ada di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih lima puluh menit. Ia tidak menyadari bahwa ia sempat berkeliling-keliling tersesat. Namun Oilina tetap memacu kakinya, apalagi akhirnya sayup-sayup terdengar suara mesin kendaraan.

Dari balik pepohonan di depannya tampak pucuk-pucuk atap rumah dan jalan aspal di atas tanah yang agak meninggi dekat tebing. Ini dekat lokasi pasar, tutur Oilina lega. Ia masih ingat tekstur tempatnya, sebab hampir sejam mereka ada di sana untuk membeli makanan untuk dibawa jalan.

Semakin didekatinya, orang-orang dan kendaraan sudah lebih jelas terlihat. Berlalu lalang, lumayan ramai. Toko-toko dan plank merek produk terlihat di sana sini. Ia seperti orang yang menemukan terang setelah sekian lama terjebak dalam kegelapan. Dan lebih senang lagi, karena terlihat olehnya laut berada di balik bangunan toko. Pastilah pelabuhan berada di dekat-dekat sini.

Terlihat juga rumah-rumah panggung di atas laut di ujung sana. Di salah satu rumah panggung itulah nenek Maya tinggal. Secepatnya Oilina berlari mencari arah menuju pelabuhan. Seorang warga yang ditanyai bilang pelabuhan ada sekitar lima ratus meter ke arah timur jalan ini. Ia harus segera tiba di sana. Waktu sudah begitu mepet.

Namun langkahnya mendadak terhenti sejenak. Di tengah bunyi-bunyian mesin kendaraan Oi mendengar derap langkah kaki itu lagi. Ia yakin sekali derap langkah kaki itu bukan milik warga yang lalu lalang di pasar ini. Itu milik pasukan lelaki hitam berjubah putih itu. Suaranya begitu menyita kesadaran Oilina, sehingga meskipun masih dalam volume yang amat rendahpun ia bisa menangkapnya. Trauma itu membuatnya was was.

Perasaan takut itu kembali mengancamnya. Kali ini lebih dahsyat lagi. Bila sampai di kota pun pasukan itu bisa berkeliaran, berarti tipis kemungkinan Oilina bisa keluar dari pulau ini hidup-hidup. Konon lagi meminta bantuan. Mustahil.

“Oh my God, tolonglah aku,” Oilina menangis.

Airmatanya tidak terbendung. Ia tak habis pikir. Ia coba berlari saja ke kawasan rumah-rumah panggung yang ada di ujung jalan, ke arah yang dirasa akan menjauhkannya dari sumber suara. Tapi justru menjauhkannya dari arah pelabuhan. Ketika ia kehilangan suara derap langkah kaki itu dan kembali ke arah pelabuhan, semua sudah terlambat. Pukul empat lebih lima belas menit, pelabuhan itu telah kosong. Yang ada hanya beberapa kapal nelayan yang sedang bersandar. Harapan Oi putus. Kapal yang sama baru akan kembali dua hari lagi.

Badannya yang letih semakin lemas. Oilina berjongkok di tepi dermaga. Ia menatap hamparan air laut di depannya. Dia pasrah saja melihat kapal motor yang membawanya tadi pagi ke pulau ini merangkak menjauhi pulau. Disapunya air laut dengan tangannya. Kenapa jadi begini? Hati Oi terasa nyeri.

“Tidak, aku tidak mau mati. Aku nggak boleh mati,” ucap Oi, mencoba membangkitkan gairah dan semangat hidupnya lagi.

“Baik, aku akan bersembunyi,” katanya yakin.

Tapi dimana? Ia mengarahkan pandangan ke sejumlah arah di belakangnya.

Di saat-saat genting seperti ini, ia memang harus bisa berpikir cepat. Oi bangkit dari duduknya. Dilihatnya tebing di atas sana. Berderet rumah penduduk mengitarinya. Di tengah rumah-rumah di atas tebing itu ada seonggok pepohonan bambu kuning yang lumayan lebat. Oi bermaksud ke sana.

Begitu ia mulai menapaki jalan beton ke arah tebing, seseorang memanggil namanya. Suara itu datang dari seorang lelaki berbaret biru. Dia adalah salah satu petugas kemanan di pelabuhan ini. Lelaki itu juga yang menyambut mereka di sini pagi tadi.

“Agum..?” ujar Oi pelan, begitu dilihatnya siapa pria yang kini datang mendekat.

Tatapan dan senyumannya pagi tadi begitu spesial terhadap Oi, seperti juga yang saat ini menghambur ke arahnya. Kedua temannya, Maya dan Kimi saja sampai cemburu dibuatnya. Agum menyambut mereka dengan keramahan seorang pemuda setempat yang senang di kunjungi cewek-cewek cantik dari tempat yang jauh. Kata Agum pagi tadi, seandainya ia tidak sedang bertugas, pastilah ia rela mendampingi tamu-tamunya ini keliling pulau.

Betapa terobati perasaan Oi saat ini. Setidaknya ia bisa berinteraksi dengan seseorang yang diharap bisa menolongnya keluar dari bahaya yang selama beberapa jam ini mengejarnya terus. Belum beberapa langkah cowok itu hendak mendekati Oi, seorang pria lain memanggilnya. Jadi Agum dan Oi belum sempat bersitatap karena jarak yang belum sempat dipotong. Kedua lelaki itu terlihat bercakap-cakap sebentar. Yang membuat Oi urung niat untuk datang mendekat kepada Agum adalah, saat pria itu terlihat dengan tajam menatap ke arahnya. Ia melihat itu sebagai sebuah tanda yang tidak baik.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Oi kemudian berlari sekencang yang ia bisa, dan tak pernah melihat ke belakang lagi. Tentu saja ia bisa mengartikan makna tatapan sinis itu. Satu tujuannya yang pasti, bersembunyi di dalam rimbunan hutan bambu di atas tebing sana. Saat ini, siapapun yang patut dicurigai adalah musuh. Ancaman yang harus dijauhi. Keinginan untuk menjaga nyawa masih di badan tetap menjaga motivasi Oi untuk menyelamatkan diri dari apapun di pulau ini. Termasuk Agum.

Tidak disangka, jarak ke tebing itu cukup jauh. Apalagi jalannya mendaki. Kaki kiri Oi yang terkilir siang tadi masih menyisakan nyeri. Itu membuatnya tidak mampu berjalan dengan maksimal. Belum lagi luka di lengan kirinya. Rasa-rasanya Oi ingin menjatuhkan diri saja ke laut di bawahnya. Ia sudah tidak tahan lagi. Benar-benar sakit. Dalam hati ia terus mengutuki pulau musang berbulu domba ini.

Saat tiba di ujung tebing hari sudah hampir gelap. Pintu-pintu rumah penduduk telah tertutup rapat. Hanya beberapa orang saja yang masih lalu lalang di jalan-jalan kecil di sekitar tebing.

Apakah mereka ini bisa dimintai tolong, pikir Oi dalam hati.

“Heh, dari cara melihatnya saja aku sudah tahu bagaimana reaksi mereka nanti,” kata Oi berasumsi. Bercak darah dan kondisi wajah yang awut-awutan membuatnya minder untuk bertatap muka dengan warga yang ia temui di jalan. Jadi ia memutuskan untuk terus berjalan sendiri saja tanpa perduli tatapan orang-orang yang ditemuinya sepanjang jalan. Oi akhirnya tiba di rumah terakhir sebelum mencapai hutan bambu di puncak tebing.

Saat ini hatinya sedang mempertimbangkan untuk meminta makanan dan minuman dari si pemilik rumah. Ia benar-benar butuh semua itu. Sejak siang ia belum makan. Hanya buah yang masuk ke dalam perutnya, tanpa minum. Padahal energinya habis terkuras untuk beraksi bak Angelina Jollie di Thumb Rider saat menghadapi ancaman sepasukan lelaki berkulit hitam dan berpakaian putih.

Ia pun memutuskan untuk mendatangi rumah papan beratap seng. Rumah paling terpencil karena letaknya agak menjauh dari rumah-rumah lain dan dikelilingi pekarangan yang ditumbuhi tanaman bunga. Setelah diketuk beberapa kali, pintu pun terbuka. Muncul seorang wanita keturunan Tionghoa. Umurnya kira-kira empat puluhan tahun. Oi sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan keturunan, sebab setahunya warga Melayu yang menjadi mayoritas penduduk. Tapi begitu pun ia sudah terlanjur mengetuk dan pintu sudah dibukakan. Dengan suara agak memelas, Oi meminta keinginannya.

“Seteguk air juga nggak apa-apa,” ujarnya lagi, setelah melihat wanita itu tetap bergeming saja di depan pintu.

Ia hanya menatap Oilina dari ujung rambut ke ujung kaki. Tampak bercak darah di baju Oilina, dan matanya berhenti di luka yang ada di lengan Oi. Luka itu sudah mengering. Suasana hening itu menjadi tersentak, tatkala seorang bocah perempuan menjerit-jerit histeris dengan tiba-tiba.

“Ma..! Ma..!” teriak anak itu ketakutan.

Secepatnya sang ibu tersebut datang menghampiri anaknya itu. Oi juga melongok ke dalam ruang tamu yang tidak terlalu luas. Di salah satu sudut yang ditunjuk si anak, terlihat seekor ular sendok yang bisanya cukup mematikan, berdiri dengan lantangnya ke arah tubuh si bocah.

“Jangan bergerak,” tukas Oi mengingatkan, spontan. I

Ibu bocah pun panik. Terlebih-lebih anaknya. Peringatan Oi untuk tetap berdiam diri di tempatnya, diabaikan. Bocah itu lari menghambur ke pelukan ibunya. Dengan gerakan reflek, Oi lalu mengambil bantal yang teronggok di atas tikar yang digelar di ruang tamu untuk melindungi tubuh anak itu dari pagutan ular sendok. Iapun mendorong si anak ke tempat yang lebih menjauh dari posisi ular tersebut.

Bantal itu bolong, tiga pagutan. Oi kemudian mencoba meraih kepala ular itu lalu menusuk kepalanya dengan cutter yang masih dibawanya di saku celana. Ular itu mati.

Bisa ditebak apa kelanjutan kisah ini. Oi is a hero, tanpa Tanya-tanya dari mana asal ular sendok itu bisa masuk ke dalam rumah. Pandangan si ibu berubah terhadapnya. Oi telah menyelamatkan putrinya. Makan dan minum sekadarnya bisa di dapat akhirnya. Tidak ada percakapan yang berarti ketika Oi menyantap makanan yang ada di hadapannya. Wanita itu hanya menatap Oi makan dengan kelahapan tanpa malu, sembari ia menggendong bocah yang lolos dari maut itu.

Wanita Tionghoa itu ternyata tidak begitu fasih berbahasa Indonesia. Ia baru tiba di sini empat bulan lalu. Sebelumnya ia tinggal di Taiwan. Oi jadi paham kini mengapa wanita itu tampak lebih pendiam. Karena percakapan mereka tidak begitu akan berhasil satu sama lain. Perbedaan bahasan begitu mencolok. Tapi sepertinya perempuan itu bisa memahami sedikit bahasa Indonesia, meskipun terkadang sorot alis matanya turun naik karena kurang paham.

Oi akhirnya mulai berbicara mengenai perkebunan apel dan menceritakan tentang kematian tiga orang. Yakni teman dan adiknya di salah satu lumbung di daerah hutan belukar di tengah pulau. Ia juga menceritakan asal luka di lengannya itu. Anehnya, wanita yang tergolong pendatang baru itu tampak tidak terkejut sama sekali. Dia bahkan mengaku sudah tahu tentang hal kekejian seputar perkebunan apel di pulau ini. Berarti ….

“Maaf, kami tak bisa lindungi lu,” katanya dengan logat Tiongkok kental.

“Papanya lagi di Siboga Boga, kerja. Kami perlu aman di sini,” ujarnya sedikit ketus.

Oilina mengerti. Ia juga tidak bermaksud untuk berada lama di rumah ini. Ia hanya meminta sedikit makan dan minum. Oi sudah terlalu lama berada di dalam rumah ini dibandingkan dengan yang ia kira saat hendak mengetuk pintu rumah. Ia pun lalu buru-buru permisi. Namun ia paham satu hal, bahwa kekejian pemilik kebun apel yang mereka datangi tadi siang memang sudah menjadi rahasia umum penduduk sini.

“Seharusnya lu tidak usah masuk lumbung apel itu. Itu berarti kematian.”

Begitu ucapan akhir wanita tadi membalas salam Oi sebelum ia menutup pintu rumahnya. Oi tidak begitu ambil pusing ucapan wanita itu. Sudah terlanjur, pikirnya. Yang penting saat ini ia harus bertahan hidup sampai dua hari mendatang sebelum kapal motor kembali dari Siboga Boga. Ia pun mulai melangkahkan kaki ke arah hutan bambu mengikuti jalan setapak yang masih terlihat oleh cahaya bintang di atas kepalanya.

Oi tiba di hutan bambu ketika jam sudah menunjuk pukul 11 malam. Ia membalut tubuhnya dengan kain sarung milik wanita pemilik rumah tadi. Diberikan secara cuma-cuma untuk melindungi diri dari dinginnya suhu di hutan ini nantinya. Oi duduk di atas sebuah batu besar. Ia tetap siaga dengan segala bunyi-bunyian yang muncul dari sekitarnya. Kebanyakan ia mendengar suara angin menggoyang pucuk pepohonan, atau suara binatang malam yang keluar sarang untuk mencari makan.

Tidak sia-sia ia ikut organisasi pecinta alam. Jadi tinggal di hutan dengan bekal seadanya bukan lagi masalah besar. Yang paling ia waspadai adalah munculnya ular dari rerimbunan bambu di tempat ini. Ular sendok bisa muncul sewaktu-waktu dan membalas dendam karena kerabatnya telah dibuat Oi mampus. Matanya tidak berhenti kelayapan melihat sekitarnya. Termasuk ke atas langit gelap yang diterangi bintang-bintang.

Lama di tempat sunyi seperti ini membuat pikirannya menyatu. Seluruh konsentrasinya beralih ke kejadian siang tadi. Masih jelas tergambar di mata Oi, wajah penuh luka dan darah milik Ozz, Kimi, dan juga Maya. Lumbung apel sialan itu. Mereka hanya ingin jalan-jalan di tempat ini. Tapi ternyata…. Heh, Oilina tertawa getir.

Bulir-bulir airmatanya berjatuhan lagi. Kekalutan pikiran membuatnya terus terjaga. Ia sangat menyesal telah menjerumuskan kedua sahabat dan adiknya itu ke dalam jurang kematian. Dan kini, tinggal dia seorang yang masih hidup. Apakah Oi masih pantas mempertahankan nafasnya?

Andai saja waktu bisa berputar kembali, ia tidak akan pernah mau mendatangi pulau ini hanya untuk mengantar nyawa. Biar apapun yang menjadi daya tariknya. Apa yang akan dilakukannya jika berhasil keluar dari pulau ini. Bagaimana ia menjelaskan kepada keluarganya, keluarga Maya dan Kimi, bahwa anaknya tewas dibantai sepasukan petani apel di Pulau Sepatu. Hati Oi hancur. Pantaskah ia hidup?

Sejenak konsentrasi Oi buyar terhadap kemelut batinnya. Meskipun sedari tadi ia dikejutkan oleh suara-suara yang gemerecak di sekitarnya, namun sayup-sayup ia bisa mendengar suara orang dari jarak yang masih berada di luar jangkauan penglihatannya. Lagipula malam begitu pekat. Saat ini indra pendengaranlah yang menjadi kompas bagi dirinya untuk melewati malam.

Oi memasang telinganya dengan tajam, mencoba mengetahui lebih lanjut apa gerangan suara yang seperti datang dari manusia memanggil dalam kegelapan. Apa maksud dan siapa kira-kira warga yang datang ke hutan bambu malam-malam begini. Semakin lama, suara orang itu semakin terdengar jelas. Suaranya tunggal. Lelaki. Dan.. Astaga, suara itu memanggil-manggil namanya.

Oilina langsung bersembunyi di balik bambu yang cukup lebat. Sesuatu terlihat bergerak-gerak dari arah jalannya tadi datang, yakni dari arah pemukiman. Setelah disimak secara seksama, Oi tahu siapa gerangan orang lain yang mengenalnya di pulau ini. Itu Agum, petugas pelabuhan itu. Tidak salah lagi.

Ada apa dia mencariku? Bagaimana dia tahu aku di sini?

Tanya-tanya itu muncul begitu saja dari otaknya. Apakah Agam datang sendirian? Ia celingak-celinguk untuk melihat lebih jauh lagi tentang kedatangan Agam. Rasa curiga Oi menurun tatkala dipastikan olehnya bahwa Agum datang sendirian. Lelaki berusia sekira dua puluhan tahun itu kini tampak lebih santai dengan pakaian bebas dan tanpa baret biru seperti yang dilihatnya pada pertemuan sebelumnya.

Perasaan lemahnya berangsur-angsur mulai merebut benteng pertahanan yang dibangunnya dengan kokoh. Ia ingin minta bantuan Agum untuk melindunginya selama menunggu kapal motor untuk berangkat ke Sibolga. Ia berharap kedatangan Agum adalah untuk berlaku seperti super hero yang menuntaskan rasa ketakutannya selama dia berada di sini. Ia benar-benar butuh bantuan.

“Kenapa mencariku?” pungkas Oi akhirnya, sembari keluar dari tempat persembunyiannya perlahan.

Saat itu sosok Agum sudah benar-benar berada dalam jangkauan matanya. Melihat kemunculan Oi yang mendadak, Agum sedikit terkejut. “Kamu…” ujarnya sedikit gagap.

Tapi, lelaki itu akhirnya tersenyum begitu melihat wajah orang yang dicarinya kini ada di depannya. “Kenapa kamu tiba-tiba pergi tadi. Aku khawatir ada apa-apa denganmu.”

Agum berjalan mendekat ke arah Oi. Tidak lupa senyuman manis Agum terus tersungging mengikuti. Bukannya mendapat jawaban, ia malah dicecar pertanyaan.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, kenapa mencariku?” kata Oi sedikit ketus.

Gadis itu masih menunjukkan kecurigaan mengingat tatapan tajam teman yang ditemui Agum di pelabuhan sore tadi. Oi juga masih heran, apakah lelaki yang ada di hadapannya saat ini sebaik itu mencarinya hingga jauh begini?

“Di sini banyak ular, dingin juga. Kamu nggak takut kenapa-kenapa?”

Oi tersenyum tipis mendengar kekhawatiran Agum. Takut? Ia sudah membunuh orang dan bertarung dengan maut demi menyelamatkan selembar nyawanya. Dan kini ia harus takut karena ular dan hawa dingin? No way!

“Aku sudah sakit, Gum. Sakit, di sini… di sini…” Oi menunjuk otak dan hatinya.

Kesakitan terparah memang ada di dalam hatinya. Perasaan kehilangan dan ketakutan yang amat sangat menimbulkan nyeri luar biasa dalam benaknya. Tetesan air mata sudah tidak dapat terbendung lagi. Saat ini ia sangat butuh tempat untuk mengadu. Oi hampir gila memikul semua beban ini.

Melihat itu Agum pun mencoba menenangkan Oilina. Ia meraih kedua tangan Oi, lalu meraih tubuhnya untuk dipeluk. Tubuh gadis itu dirasanya bergetar karena isak. Pelukannya semakin erat. Oi benar-benar tumpah saat itu. Ibarat meneguk segelas air di tengah kehausan yang teramat sangat. Ia tidak menyangka bahwa sikap siaganya harus rehat sejenak di dalam dada seorang lelaki yang memberinya perhatian, di tengah hutan bambu.

Momen hangat itu tidak berlangsung lama. Oi segera melepaskan pelukan erat Agum, meskipun lelaki itu terkesan enggan melepas. Tangis Oi pun segera disudahinya. Lagi-lagi ada sesuatu yang mengganggu radar pendengarannya. Meskipun sangat samara, tapi ia menangkap sesuatu yang akrab di telinganya saat tiba di pulau ini. Derap langkah kaki manusia. Pasukan pembunuh itu datang lagi.

Di tengah hutan dan malam pekat seperti ini? Ketenangan Oi kembali terusik. Air di gelas itu seakan dirampas darinya, padahal ia belum puas minum. Suara derap langkah kaki itu semakin mendekat ke arah mereka berdiri. Sunyinya malam menambah gema kedatangan sepasukan manusia pembunuh di puncak tebing ini.

Oilina tersentak begitu menyadari apa yang tersimpul di kepalanya. Ditatapnya Agum lekat. Ia tidak percaya telah berhasil diperdaya. Sebelum Agum berkata-kata, Oi sudah bersiap untuk berlari menyelamatkan diri sejauh mungkin. Gadis itu berlari ke arah pemukiman penduduk karena derap langkah kaki itu datangnya dari arah yang berlawanan.

“Tunggu, Oi. Kamu mau kemana?” cegah Agum sambil tetap berusaha memegang tangan Oi.

Namun sekuat apapun Agum mencoba mencegah Oilina pergi, tetap tak berhasil. Gadis itu lebih kuat keinginan hidupnya dari apapun juga saat ini. Agum hanya berhasil meraih kain sarung Oi yang sengaja dilepas Oi untuk melegakan ruang geraknya. Sebentar saja Oi sudah melesat hilang dalam kegelapan malam di hutan bambu.

**

Suara klakson kapal barang berbunyi kuat. Sejumlah burung laut yang bertengger di pucuk pohon di pinggir pelabuhan terbang terbirit-birit ke arah tebing. Sesaat setelah berlabuh, barang-barang yang sudah dikemas sedemikian rupa dan ditumpuk di pinggir dermaga, segera dimasukkan ke dalam kapal.

Di sisi lain, barang-barang yang tadinya ada di dalam kapal kini dibongkar untuk diturunkan ke daratan. Tak jauh dari posisi kapal berlabuh, berdiri sebuah bangunan dengan fondasi beton di atas permukaan air laut. Itu adalah kantor administrasi pelabuhan.

“Berapa ton apelnya, Bos?”

Seorang lelaki setengah tua masuk ke dalam kantor itu sambil berkipas-kipas dengan topinya. Udara sore di tepi laut seperti ini memang masih menyisakan gaharnya terik matahari. “Tiga,” jawabnya singkat.

Lelaki yang dipanggil ‘bos’ tadi tak lain adalah Agum. Ia adalah satu-satunya petugas berseragam di pelabuhan kecil yang hanya disinggahi kapal motor dari luar pulau, tiga kali dalam seminggu tersebut.

Agum menatap jendela kaca yang ada di sampingnya. Beberapa karung berwarna coklat muda telah diangkuti masuk ke dalam kapal bermotor yang bersandar. Mereka pun lalu saling bertukar kertas untuk menyelesaikan urusan tetek bengek transaksi. Agum menandatangani sebuah kwitansi berisi nominal harga retribusi apel yang harus dibayarkan lelaki setengah tua itu. Setelah ia memperoleh kertas penyetoran, barulah lelaki itu pergi.

Tak lama, Agum juga bangkit dari tempat duduknya. Baret biru yang diletak di atas meja disambar untuk segera dikenakan. Tak lupa ia mengunci kantornya itu dari luar. Ia harus mengecek ke dalam dek-dek kapal kecil penumpang dan barang yang akan berangkat.

Setengah jam kemudian Agum kembali ke kantornya. Tapi alangkah terkejutnya dia mendapati seseorang telah berada di ruangan itu. Sebab ia ingat pintu kantornya telah dikunci sebelum ia pergi. Tapi buktinya, tiba-tiba saja kantornya kemasukan seseorang. Seorang gadis yang dia kenal.

Tubuhnya kotor dan acak-acakan. Matanya terlihat sayu seperti orang yang sudah tidak tidur selama beberapa hari. Bahkan bercak darahpun masih jelas terlihat meskipun sudah berubah warna coklat tua. Harus diakui bahwa dua hari yang lalu, gadis itu terlihat jauh lebih cantik.

“Aku di atas sana bersembunyi,” katanya memecah sunyi, sembari menunjuk loteng ruangan berukuran 6×5 meter yang sebagian tertutup asbes.

Agum tidak bicara apa-apa. Ia hanya mengikuti arah pembicaraan gadis itu dengan sorot matanya. Sesaat mereka berdua hanya saling memandang. Ketika Agum akhirnya hendak bicara, suaranya terpotong ucapan gadis itu.

“Aku masuk dari jendela belakang, dekat kamar mandi. Aku aman di situ.”

Lagi-lagi respon Agum hanya berupa sorotan mata ke arah jendela yang dimaksud gadis yang tak lain adalah Oilina.

“Kamu pasti mati-matian cari aku, padahal aku di dekat kamu, Agum.”

Oilina tertawa lepas, namun lemah karena sudah kehabisan tenaga.

“Kamu salah satu dari mereka. Pembunuh..!” lanjut Oi lagi, kini dengan suara nyaring.

Tawa Oi berubah menjadi serapah amarah. Namun respon Agum hanya berupa senyuman tipis. Dibukanya baret birunya itu kemudian ia melangkah dan bersandar pada meja kerjanya.

“Dengar, Oilina. Kamu tidak tahu banyak tentang kami. Kami dulu hampir mati di sini. Pemerintah negeri ini tutup mata terhadap keberadaan kami. Saat pulau ini tenggelam dan terkena hempasan tsunami beberapa tahun lalu, adakah pertolongan datang sampai ke sini? Tidak ada. Kami harus berjuang sendiri mempertahankan hidup. Karena apa? Karena kami adalah kumpulan orang-orang terbuang.”

“Apa hubungannya dengan pembunuhan yang kalian lakukan?”

Nada bicara Oi berubah menjadi bentakan tertahan.

“Kami hanya mengambil apel,”  sergahnya.

Agum tidak segera menjawab. Ditatapnya kapal motor yang kini sedang dibekali berkarung-karung apel jenis sempurna yang sempat dipuja Oi dan teman-temannya.

“Jawab!” bentak Oi kalap.  “Samakah harga apel itu dengan tiga nyawa, atau mungkin lebih, dan masih akan bertambah lagi di masa yang akan datang? Hello?” Oi semakin kalap.

Ingin saja dirinya berubah menjadi Arnold Schwezeneger dan membombardir pelabuhan ini, lumbung apel itu, dan juga perkebunan itu, sekaligus orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tapi apa daya, ia tidak punya kekuatan apa-apa.

Kemudian muncul seseorang di pintu yang masih terbuka. Tapi ia tidak sampai masuk untuk menyampaikan sesuatu yang tentu saja ditujukan kepada Agum. “Bos, kapal sudah siap berangkat,” lapor orang itu kepada Agum.

Oilina tidak memperdulikan kehadiran orang itu. Ia masih menatap Agum lekat, menunggu jawaban.

“Ya, kau boleh pergi,” perintah Agum sambil memperhatikan kapal motor yang sudah mulai mengemasi diri untuk segera pergi.

Pandangan Oi beralih ke arah kapal bermotor yang sudah ditunggunya selama dua hari ini. Jangkar terlihat mulai diangkat naik.

“Oilina,” panggil Agum pelan. Gadis itu tetap diam. Matanya masih tertuju keluar jendela.

“Oilina…” ulang Agum lagi.

Gadis itu masih diam. Agum meremas baretnya.

“Pergilah, Oilina. Jangan diam saja. Sebentar lagi kapal itu akan berangkat.”

Agum meminta Oi untuk segera pergi dengan kapal itu. Tapi sayang sekali, Agum hanya berbicara dalam hati. Sehingga Oilina tidak mendengar permintaan itu. Ia justru membiarkan gadis itu terpaku dalam tatapannya yang terlihat kosong.

“Tooott…..tooott….” Klakson kapal itu berbunyi lagi.

Seiring bunyinya, kapal itupun mulai beranjak meninggalkan pelabuhan. Oi diam tak bergerak. Ia masih terus menatap lekat kapal itu bergerak menjauh dengan suara klakson yang terus dibunyikan.

Ketika bunyi klakson tak terdengar lagi, kini yang tinggal suara derap langkah kaki beberapa orang dengan serempak. Dekat dan semakin mendekat. Suara itu seperti menuju ke ruangan kantor ini.

Oilina membalikan wajahnya ke arah Agum. Lelaki itu masih dalam posisinya berdiri di sisi meja. Mereka sama membisu.

“Ingatkan para pendatang agar tidak mengganggu apel-apel kalian,” ujar Oi pelan.

Oi kemudian berjalan menuju pintu. Ia berhenti persis di muka pintu yang masih membuka lebar itu.

“Kami datang berempat, jadi kami juga harus perginya berempat,” ujar Oi pasrah.

Derap langkah kaki itu semakin tajam terdengar di telinga Oi. Tapi kini ia tidak takut lagi. Ia memutuskan untuk tidak lari menghindar lagi. Pertimbangan sesaat sebelum akhirnya menunjukkan diri di hadapan Agum sudah cukup baginya untuk membuat keputusan terakhir.

Suara getaran derap langkah kaki itu begitu mengguncang. Tak lama muncullah orang-orang bercelana panjang putih yang dikenalnya. Tapi baru kali ini ia melihat dengan jarak yang cukup dekat. Namun ia tidak sempat melihat ke arah bola mata orang bercelana putih itu. Bola matanya langsung berhadapan dengan tajamnya mata kapak dan parang yang ada di hadapannya. Oi langsung menutup mata. Pukulan didada menyisakan rasa perih, juga di kepalanya, perutnya, lehernya, kakinya, semua. Tapi sakitnya hanya sebentar saja. Setelah itu ia tidak merasakan apa-apa lagi (#)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s