novel

Harum Sophia

Bagian 1
Tetua dulu bilang, kalau ada pemuda bersama orangtuanya datang ke rumah seorang gadis untuk meminang, pamali untuk ditolak. Bisa-bisa si gadis bakal tidak laku sampai tua. Hal itulah yang diamini Nyak sebagai orantua untuk meyakinkan anak gadisnya agar menerima maksud kedatangan Irul bersama orangtuanya sore itu. Hantaran berupa makanan juga sejumlah uang mengiringi kedatangan Irul dan orangtuanya. Mereka ingin meminang Sophia. Meskipun tanpa aba-aba.
Jangankan Baba dan Nyak yang terkejut dengan kehadiran yang mendadak itu, Sophia sendiri kaget. Pasalnya, Irul sama sekali belum memberitahu maksudnya itu sebelumnya. Terakhir bertemu Irul malam minggu lalu, Sophia sama seklai tidak menangkap gelagat Irul akan segera meminangnya. Lagipula selama ini, status pacaran mereka terbilang tidak begitu serius. Setidaknya bagi Sophia. Irul yang memang sudah mengejarnya sejak SMA akhirnya berhasil mengajak kencan gadis itu sejak 5 tahun lalu. Itupun karena Sophia menelan pil pahit karena lelaki yang diincarnya yang tak lain adalah abang kandung Irul, Arif, memilih kawin dengan gadis yang dijodohkan oleh ibunya. Lelaki pendiam yang ramah itu lebih menarik simpatik Sophia. Apalagi Arif saat itu tampak lebih matang karena ia sudah bekerja di sebuah pabrik pengolahan minyak di Jakarta.
Irul sering mengajak Arif untuk main ke rumah Sophia menemaninya. Status kedekatan Sophia dengan Irul hanyalah tameng belaka, untuk bisa terus dekat dan bertemu dengan Arif. Gadis berkulit kuning langsat itu tidak tahu sampai kapan akan menjalani skenario ini. Waktu itu ia hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk menyatakan kebenaran kepada kedua lelaki satu darah itu. Dan ternyata, waktu yang tepat itu tidak akan pernah ada. Arif pergi ke pelukan perempuan pilihan ibunya tanpa sedikitpun tahu isi hati Sophia. Kini Arif sudah memiliki dua anak. Tinggalah Sophia yang terus dibanyangi harapannya untuk bisa hidup dengan Arif. Irul yang selalu setia mengejar cintanya harus memiliki banyak enerji untuk bisa bertahan dengan sikap ambigu Sophia. Hingga pada hari ini, lelaki kurus namun pantang menyerah itu secara sepihak datang melamarnya.
Sophia marah dengan aksi Irul yang terlalu memaksa menurutnya. Sophia marah kenapa Irul bertindak sendiri. Kenapa pendapatnya tidak ditanya. Penolakan batin itu disampaikannya kepada Nyak ketika perempuan tua itu buru-buru masuk ke kamarnya untuk memanggil supaya ia segera keluar menemui keluarga Irul. Sophia berontak. Ia belum mau kawin.
“Phia bukannya gak mau kawin sama Irul, Nyak. Phia cuma belum siap,” elaknya saat Nyak mencoba membujuk Sophia lagi agar mau menemui keluarga Irul di ruang tamu.
“Gimana belon siap? Lu ama Irul udah beteman sejak kecil. Pacaran udah hampir sepuluh tahun, dari SMA dulu. Nah sekarang umur lu hampir 30 tahun. Lu mau jadi perawan tua?”
Nyak sedikit menahan nada suaranya agar tidak terdengar sampai keluar kamar. Soalnya posisi kamar Sophia dengan ruang tamu hanya dibatasi sebuah tembok batu. Wajah Nyak memerah menahan marah. Ancaman rasa malu yang amat sangat terhadap keluarga Irul seperti menohok, kalau anak gadisnya sampai tidak mau dibujuk.
Sophia terdiam. Hati dan kepalanya seperti berkecamuk dasyat. Ia sama sekali tidak menyangka kalau hari ini ia harus mengeluarkan sebuah keputusan seumur hidup. Ia bingung sekali, marah, dan tertekan.
Wajah Nyak tidak sanggup dipandangnya. Perempuan tua itu mulai terisak. “Tolong, Nak. Jaga muka Baba ama Nyak. Apa nanti kata orang-orang kampung,” keluh Nyak setengah meratap.
Sophiapun tidak sanggup membendung air matanya. Keluarga Irul memang tergolong punya nama di kampung mereka. Bapak dan ibunya haji, dan memiliki tanah yang luas di kawasan itu. Baba dan Nyak tentu tidak mau mempunyai ketegangan dengan keluarga Irul hanya gara-gara kekerasan hati anaknya.
Namun Sophia memang tidak bisa terima diperlakukan begini. Seperti kebanyakan orang, Sophia ingin hanya menikah sekali dalam seumur hidupnya. Oleh karenanya, keputusan menikah itu bukanlah dari kehendak orang-orang di luar dirinya, tapi kehendaknya sendiri. Termasuk memilih lelaki yang ingin dinikahinya.
Selama ini ia tidak pernah berpikir akan menikahi Irul dengan cara seperti ini, tanpa sepengetahuannya. Persetujuannya pun karena desakan. Sophia merasa dizalimi. Batinnya meronta, mengapa di zaman bebas dan canggih seperti ini ia masih harus merasakan derita Siti Nurbaya? Mengapa Nyak dan Baba begitu kolot? Mereka juga bukan tinggal di pedasaan. Mereka tinggal di ibukota, meskipun di daerah pinggiran. Tapi ini zaman sudah berubah. Zaman demokrasi, seperti yang sering dikatakan di televisi. Banyak perempuan sudah bebas menentukan jalan hidupnya sendiri, tidak seperti di zmana Kartini. Mengapa dia harus menjadi korban lagi?
“Ah, Nyak… Kenapa kagak mau ngerti, sih. Phia belon siap nikah,” ratapnya sambil menutup wajahnya dengan kain sarung.
Sophia seperti tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Nyak masih tersedu. Sejenak mereka terdiam dalam isak.
Pintu kamar membuka. Dari balik pintu muncul Baba. Ia bingung melihat kedua perempuannya sedang bertangis-tangisan.
“Nong…!Phia..! Kenapa lu pada?” tanya Baba dengan sedikit raut cemas bercampur heran. Hampir bersamaan Sophia dan Nyak mengarahkan pandang ke pintu namun tidak segera menjawab
. “Keluarga Pak Jalal sudah menunggu terlalu lama. Ayo keluar temui mereka. Jangan bikin malu,” pesan Baba sebelum ia bergegas melangkahkan kakinya keluar kamar.
Sophia mencoba menghentikan tangisnya. Kedatangan Baba sedikit membuat hatinya berhenti meronta. Kalimat terakhir membuatnya bergidik. Sampai seperti itukah taruhannya bila ia menolak, membuat orantuanya malu?
“Nyak cuma bilang sekali lagi aja. Kalau masih mau liat Nyak ama Baba seperti sekarang, cepat beberes dan keluar temui Irul ama keluarganya di ruang tamu. Nyak dah abis kata-kata, dah.” Nyak pun bangkit sambil menyeka airmata dengan kain bagian bawah bajunya.
Setelah merasa cukup tenang, ia pun keluar dari kamar.
Sophia termangu sendirian. Matanya sembab dengan tatapan kosong. Kepalanya tiba-tiba berhenti berpikir, begitupun hatinya. Entah kemana jiwanya. Ia hanya merasa kosong. Kata-kata orangtuanya seakan berputar-putar di kepalanya. Pintu kamar kembali terbuka. Zannah, kakak tertuanya, muncul dari balik pintu. Sophia bisa merasakan kehadirannya, tapi ia tetap diam tak bergeming. Melirik pun enggan.
Zannah tanpa bicara kemudian mendekati Sophia. Tanpa basa-basi perempuan berambut sebahu itupun mulai membaluri wajah Sophia dengan bedak yang dibawanya. Kesannya sembarangan dan terburu-buru. Terang Sophia tersentak. Ia pandangi wajah Zannah. Apa yang sedang dilakukan Zannah, tanyanya melalui tatapan. Zannah tidak terusik. Ia terus melakukan aksinya hendak mendadani adiknya dengan cepat. Sehabis menghantarkan minuman untuk keluarga Irul tadi, Nyak berpesan untuk mengeluarkan Sophia dengan tampang lagak, tidak cemong karena diguyur air mata. Dan Zannah melakukan apa yang disuruh Nyak meski dengan kesan memaksa.
Hasilnya, walau mata Sophia masih terlihat sembab namun berkat polesan bedak dan lipstik di bibirnya, membuat wajah adiknya itu terlihat lebih cerah. Sophia kemudian dikeluarkan dari kamar oleh Zannah layaknya zombie. Ia harus ditatah keluar kamar, dan sengaja didudukkan dekat Nyak. Wajah Sophia tertunduk. Kesan muram pasti terlihat di sana andai saja Zannah tidak mensiasati dengan mengenakan selendang berwana hijau daun sebagai tudung pada kepala Sophia.
Di sana tampak Irul dan kedua orangtuanya. Irul mengenakan baju koko berwarna kuning gading dengan celana satin hitam, senada dengan pakian bapak dan ibunya yang memakai baju muslim lengkap. Bedanya, Irul tidak memakai peci. Karena wajah besarnya, mungkin tak satupun ukuran peci yang cocok dikenakannya. Wajah mereka berseri-seri melihat Sophia akhirnya muncul. Begitu pula dengan Nyak dan Baba.
Pembicaraan pun dilanjutkan kembali, tentang rencana akad nikah dan pesta perkawinan anak-anak mereka. Hingga akhir pembicaraan, tak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sophia. Hanya anggukan atau gelengan kepala yang ia perbuat untuk merespon pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Buat apa berkata-kata, pikirnya, toh pendapatnya tidak digubris, tidak punya arti sama sekali. Ia pun pasrah saja. Matanya menatap tajam ke arah dua keranjang berukuran sedang tempat hantaran keluarga Irul. Apa mau dikata, desahnya lirih.

Bagian 2
Meriahnya pesta perkawinan di keluarga Baba Ohim pekan lalu seperti sirna tanpa bekas di telan isak tangis sanak keluarganya. Baba yang baru menikahkan puttri keempatnya Sophia di rumahnya, hari ini ia terpaksa harus mengubur menantunya Jaja. Kali ini tidak ada acara istiadat keluarga Betawi khusus untuk Jaja. Hanya pembacaan ayat-ayat suci dan pemandian jenajah seperti kebanyakan ritual pemakaman muslim. Bendera kuning berkibar menggantikan janur kuning yang mulai layu di tiang yang dipacak di dekat pohon tambutan di depan rumah Baba.
Jaja adalah suami Zannah, anak tertuanya. Jaja memang sudah sakit-sakitan selama setahun terakhir. Ia menderita diabetes di usianya yang hampir mencapai empat puluh tahun. Dalam enam bulan terakhir ini, Jaja yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan sudah tidak bisa bekerja lagi karena penyakit diabetesnya semakin parah. Kakinya nyaris lumpuh. Komplikasi pada ginjal dan levernya akibat terlalu banyak mengkonsumsi obat, membuatnya meregang nyawa pukul enam pagi tadi.
Kerabat dan tetangga memenuhi rumah kecil Zannah. Ketiga anaknya Baing, Uti, dan Dalang terlihat duduk lesu berurai air mata di samping jenasah bapaknya. Sedangkan si bungsu, Devi yang masih berumur satu tahun tampak tenang di pangkuan Zannah. Ia memang terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi. Sesekali Devi menangis rewel karena kepanasan ditambah harus melihat banyak orang yang tidak dikenalnya hilir mudik di ruang sempit rumahnya sembari sesekali mengelus-elus pipinya. Ia merasa terganggu. Nyak mengambil alih untuk menggendong Devi. Bocah itu meronta terus agar tetap didekap ibunya, Namun Nyak mencoba untuk menenangkan cucunya itu. Zannah sedang sibuk, sibuk dengan tangisannya.
Raut wajah keluarga yang ditinggalkan masih muram durja. Zannah sangat terpukul. Walau ia sudah sangat kesusahan merawat suaminya selama ini, namun ditingalkan seperti ini tetap menyakitinya. Ia ditinggal dengan beban ganda. Empat anaknya masih kecil-kecil. Satu-satunya tumpuan untuk sumber pemasukan keluarga selama ini hanya dari Jaja.
Harta yang telah dikumpulkan sebagian besar sudah habis untuk mengobati sakitnya. Baing tahun ini bakal masuk SMA, Dalang masuk SMP. Mereka butuh banyak uang. Rontaan Zannah semakin menjadi-jadi meski hanya ia luapkan dalam hati saja. Kerabat juga tidak ada yang bisa diandalkan untuk minta bantuan. Penghasilan mereka rata-rata pas-pasan. Zannah hanya bisa mengucap subbhanallah berulang kali untuk mengingatkan bahwa jalan pasti terbuka baginya.
Orang-orang yang datang melayat terlihat enggan duduk berlama-lama di dalam rumah. Bukan karena mendapat muka masam Devi, melainkan karena aroma busuk dari luka menganga di kaki Jaja yang menyebar ke seluruh ruangan. Angin kencang dari kipas angin yang terpasang sedikit bisa menghempas aroma itu, tapi tidak bisa menghilangkan baunya.
Tujuh jam kemudian, jasad Jaja dimakamkan. Namun hingga larut malam, pelayat masih terus berdatangan. Teman-teman Jaja sesama buruh bangunan baru bisa datang menjelang malam karena mereka terpaksa bekerja lembur. Proyek pembangunan yang mereka kerjakan di kota harus selesai dalam waktu dekat. Saat mereka datang, baik Zannah maupun anak-anaknya sudah istirahat di kamar. Akhirnya Baba dan anggota keluarga lain yang menyatroni mereka. Teman-teman Jaja meninggalkan sejumlah uang yang berhasil dikumpulkan dari sumbangan sesama buruh bangunan yang kenal dengan Jaja. Berharap uang itu bisa sedikit memberi keringanan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Dan begitulah selanjutnya sumber pemasukan keluarga Zannah. Mereka hidup dari belas kasihan kerabat dan tetangganya. Ia memutuskan untuk tidak mencari pekerjaan agar bisa merawat anak-anaknya dengan baik. Terlebih karena Devi yang lahir dengan kondisi yang lemah dan kurang gizi. Selama masih mengandung dan masa-masa awal kelahiran Devi, Zannah terlalu capek mengurus suami dan anak-anaknya. Alhasil, dirinya sendiri terabaikan. Dan ini berdampak juga kepada pertumbuhan Devi.
Zannah kemudian berangsur-angsur bisa mengendorkan tali pinggang dalam memikirkan nasib ekonomi keluarganya. Pasalnya, rumah kecil kontrakan yang selama ini ditinggalinya adalah milik Baba. Jadi dia tidak perlu khawatir tentang biaya rumah. Seorang haji dari kelurahan sebelah yang dulu pembangunan rumahnya dilakukan oleh Jaja almarhum suaminya, bersedia membiayai sekolah Baing dan Uti. Kebetulan keduanya bersekolah di SMP Negeri yang sama.
Begitu juga dengan Dalang, biaya sekolahnya ditanggung oleh keluarga Safrul, pemilik warung sate yang terletak 5 rumah dari kediaman Zannah. Sementara untuk makan sehari-hari, diperoleh dari pemberian sejumlah dermawan yang menyumbang untuk anak yatim lewat mesjid-mesjid di kampung itu. Keluarga Zannah masuk daftar.
Sesekali Zannah dan anak-anaknya juga makan di rumah Nyak yang hanya berjarak 5 meter di belakang rumah mereka. Meskipun terkadang makanan yang disediakan Nyak hanya berupa sayur asem dengan sambal saja. Mereka toh bisa sama-sama makan sampai kenyang. Nyak tidak bisa membantu ekonomi anak dan cucunya sepeninggal mantunya, Jaja. Sebab, ia sendiri bersama suami tidak punya penghasilan tetap.
Nyak membuka sebuah warung sayuran di depan rumahnya. Namun warung itu tidak buka setiap hari. Kadang-kadang saja kalau ia punya uang untuk modal belanja barang dagangan ke pasar induk, barulah ia membuka warungnya. Begitu pun sebaliknya. Nyak bahkan pernah tidak membuka warungnya selama sebulan penuh, karena tidak punya uang untuk diputar.
Kondisi Baba juga tidak berbeda. Ia berjualan arang kayu buatannya sendiri ke beberapa warung sate atau ke pasar. Namun, karena orderan sering sepi dan biaya operasional terlalu tinggi, Baba tidak membuat arang setiap waktu. Hanya bila ada orderan saja barulah ia bekerja.
Lapak pembakaran kayunya terletak di tanah lapang di depan rumah Zannah. Tepatnya di depan deretan rumah 3 pintu yang kini ditinggali oleh 3 orang anak dan keluarga mereka. Yang paling ujung berbatasan langsung dengan rumah Baba Hasan, saudara tertua Baba Ohim, ditempati oleh Dalih putra ketiganya bersama anak dan istrinya. Sementara yang di tengah ditempati oleh Nyai, anak bungsunya bersama keluarga. Dan yang di deret terakhir dekat rumah Nyak, tinggallah Zannah beserta anak-anaknya.
Antara lapak pembakaran dengan rumah hanya dibatasi pagar bambu setinggi 2 meter. Fungsinya untuk menghalau panas dari pembakaran kayu yang bisa langsung mengenai kediaman mereka. Apalagi Baba biasa membakar kayu untuk arang pada siang hari. Meski fungsinya tidak efektif, namun pagar itu sedikit mampu menghalau panas dan asap yang dihasilkan dari setiap kali pembakaran.
Lapak bekas pembakaran seluas 36 meter persegi beserta bonggol-bonggol kayu bertumpuk di sisi lapak. Sudah dua bulan ini Baba tidak punya orderan. Setiap hari ia hanya mondar-mandir di sekitar lapangan atau memindah-mindahkan tumpukan kayu. Siang hari, ia pulang ke rumah untuk makan siang.
Biasanya kalau tidak ada pemasukan begini, menu yang akan dia temui adalah tumis daun singkong yang dipetik dari tanah lapang dekat lapak pembakaran arang, serta sambal, tanpa lauk. Itupun kadang, menu tersebut harus dibaginya dengan cucu dan anak-anaknya yang datang untuk minta makanan. Karena di rumah mereka tidak masak. Termasuk keluarga Zannah.
“Mak..! Kenapa kagak masak sih?” keluh Uti ketika ia datang menemui Zannah yang sedang memberi makan Devi dengan nasi campur kecap di dapur Nyak.
Uti baru saja pulang dari sekolah dan merasa lapar. Tapi ia kecewa karena tidak menemukan apa-apa di meja makan rumahnya.
“Gak sempat tadi. Mamak bawa Devi ke Posyandu. Dia mencret-mencret lagi, makan sini aja,” kata Zannah pelan.
Wajah Uti semakin berlipat. “Ya, udah. Nih, sayur masih masih ada, sambelnya juga. Enak kok,” kata Baba meyakinkan.
Ia memutuskan untuk menyudahi makan siangnya sesaat setelah mendengar cucunya merajuk karena Mamaknya tidak masak di rumah. Padahal awalnya ia berniat menambah porsi nasinya. Uti lalu datang mendekati meja makan. Dilihatnya sayur dan sambel tinggal sedikit. Cuma cukup untuk 5 suap nasi. Namun karena Uti tidak punya pilihan lain dan sudah merasa sangat lapar, lima suap nasipun ia palar. Makan siang dengan kedongkolan memang sangat tidak mengenakkan hati. Tapi masih lebih baik ketimbang kelaparan plus merasa dongkol.
Baba bangkit dari kursi makan untuk pindah duduk ke ruang tamu. Pohon rambutan rindang yang tumbuh di depan rumahnya menyebabkan efek alami untuk menghempang hawa panas matahari. Rumah beratap genteng meski tanpa asbes yang dibangunnya 30 tahun lalu terasa lebih sejuk ketimbang di luar rumah. Apalagi di lapak pembakaran. Berbeda jauh.
Baba duduk di kursi tamu. Ia membakar sebatang kretek kemudian menghisapnya dalam-dalam. Setelah dua hisapan, terbersit di kepalanya untuk melihat kambing-kambingnya yang tertambat di tanah kosong di depan rumahnya. Baba memutuskan untuk pindah posisi duduk ke pintu depan. Ia duduk di lantai. Kini kambing-kambingnya bisa jelas terlihat. Jumlahnya enam ekor. Empat ekor kambing dewasa dan dua anakan. Beberapa waktu lalu, Baba menjual dua ekor kambing dewasanya untuk menambah biaya pesta kawin Sophia. Meskipun mahar Sophia cukup untuk sekali pesta dengan iringan keyboard, namun Baba tetap menambah anggaran pesta menjadi lebih wah. Maklum, Sophia adalah anak terakhir yang dikawinkannya. Nyai, anak bungsunya sudah lebih dulu menikah tahun lalu dan kini sudah memiliki satu anak. Sisa penjualan kambing disimpan untuk kebutuhan sehari-hari.
Harta pemberian ayahnya dulu berupa tanah seluas 10 hektar di kampungnya kini tinggal 4 hektar saja. Sepetak demi sepetak tanah dijual untuk membiayai keluarganya. Maklum saja, sebelum membuka usaha pembakaran arang, Baba hanya penjual buah keliling. Penghasilan Baba dari dulu tidak pernah cukup. Alhasil, jika ada keperluan mendadak ia pun terpaksa menjual tanah warisan orangtuanya.
Penjualan tanah pertama dilakukannya 10 tahun lalu saat putra keduanya Firman yang tinggal di samping rumahnya, minta ditambahi modal usaha, yakni untuk pembelian sebuah mobil pick up 1300 cc. Puluhan juta rupiah hasil penjualan tanah mengalir begitu saja ke tangan Firman. Kemudian tanah kembali dijual untuk biaya kawin putranya yang lain, Dalih. Dimana saat itu Dalih belum punya pekerjaan tetap, namun terpaksa dinikahkan karena pacarnya keburu hamil empat bulan.
Tanah pun terpaksa dijual kembali saat Baba memutuskan untuk membangun rumah kontrakan di tanah lapang dekat lapak pembakaran kayu. Meskipun pada akhirnya, rumah yang juga dibangun dengan hasil kerja tangan Nyak sebagai kuli bangunannya, hanya menjadi tempat tinggal bagi anak-anaknya setelah menikah. Gratis. Padahal awalnya, rumah tiga pintu itu dibangun untuk menjadi sumber pengahasilan Nyak dan Baba setelah penjualan arang tidak berjalan mulus. Tanah yang dijual untuk biaya pembangunannya juga lebih luas dari penjualan sebelumnya, yakni sekitar 4 hektar. Tanah itu tidak lain adalah tanah kosong yang ada di depan rumahnya. Tempat enam ekor kambingnya diletak.
Tanah itu sudah dipagar keliling dengan beton dan besi oleh pemiliknya. Tanah itu dibiarkan kosong sejak dibeli dua tahun lalu. Kata pemiliknya yang tinggal di luar kota, tanah itu belum ada ide untuk dibangun apa. Jadi untuk sementara ini dibiarkan kosong begitu. Babapun minta ijin sang pemilik baru agar membolehkan kambing-kambingnya dipelihara di dalam tanah kosong itu. Setidaknya untuk memakani rerumputan yang tumbuh liar di dalamnya. Pemiliknya pun memberi ijin, bahkan senang karena ada yang menjagai tanahnya.
Rokok di tangan Baba sudah memendek. Hisapan terakhir begitu nikmat. Lelaki berkulit hitam legam itupun menghisapnya dalam sebelum akhirnya dibuang ke halaman. Kepulan asapnya menggumpal-gumpal ke atas lalu hilang dihembus angin yang datang dari halaman.
Baba melongok ke arah isi bungkus rokoknya. Tinggal dua batang lagi, batinnya menghitung. Cukuplah untuk sore dan sehabis makan malam Babapun bangkit sambil mengantongi bungkus rokok dan korek di saku bajunya. Lelaki kecil yang dipenuhi guratan urat di sekujur tangan dan kakinya itu lalu melangkah menuju lapangan arangnya. Ia belum tahu mau melakukan apa di sana. Belum ada orderan. Tapi ia terus saja melangkah.

Bagian 3
Sophia nampak tercenung di depan kaca riasnya. Ia seperti tidak punya pekerjaan lain selain duduk memandangi wajahnya di cermin kamar. Hari sudah menjelang sore. Sebentar lagi Irul pasti muncul dari balik pintu di sampingnya sambil berlagak mencarinya, seperti suami yang kecarian istrinya karena hampir seharian ditinggal pergi bekerja. Padahal Irul hanya hendak mengecek apakah istrinya bertandang ke rumah tetangga atau ke rumah orangtuanya yang memang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Hanya berjarak 4 gang.
Siang tadi sekira empat jam lalu Sophia bertemu Irul untuk makan siang. Setelah itu lelaki itu kembali pergi entah kemana. Heran juga melihat suaminya itu suka keluyuran tak tentu arah .Irul seperti tidak pernah merasa betah berada di rumah, menemaninya layaknya pengantin baru. Hal itu terjadi hampir setiap hari selama usia pernikahan mereka.
Hingga empat bulan menikah, Irul belum juga bekerja. Sehari-hari, mertuanya yang belanja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sophia pun tidak banyak berbuat untuk memasak, karena ibu mertuanya tampak tidak begitu suka dibantu. Apa yang coba dilakukannya untuk memasak selalu ada saja yang salah. Ujung-ujungnya kesalahan tersebut dibahas di meja makan.
“Nasinya kurang tanak, yah? Sophia tadi yang masak. Mak tadi dah bilang jangan terlalu cepat kompornya dimatiin, dikecilin aja apinya tapi kagak didenger, ” kata ibu sambil terlihat enggan memakan makanan di atas piringnya. Atau, “Gulainya kayak kurang bumbu, yah, Sophia sih, kurang nambahin kunyit ama kemirinya,” Dan sebagainya.
Sophia serba salah. Kalau ibu tidak dibantu ia nanti dikata mantu pemalas, kerjanya cuma ongkang-ongkang kaki saja. Giliran dibantu, Sophia malah tampak seperti pecundang. Soal menata rumah juga demikian. Ibu mertua mewanti-wantinya agar tidak sembarangan memindah-mindahkan barang di dalam rumah. Karena kata ibu, semua barang sudah memiliki fungsinya masing-masing di rumah itu. Makanya kalau dipindah sembarangan , orang rumah bisa repot. Sophia pun manut. Sanking banyaknya batasan di rumah ini, Sophia menjadi lebih nyaman meringkuk di depan cermin di kamarnya. Teritori hidupnya hanya seluas 4×6 meter luas kamar tidurnya bersama Irul. Sungguh penjara yang cukup empuk.
Sesekali ia rindu bekerja di toko elektronik tempatnya dulu. Biarpun capek dan bosan, tapi setidaknya ia bisa menggerakkan kedua kakinya panjang-panjang. Bertemu dengan orang-orang dan teman-temannya. Ia menyesal berhenti bekerja. Sebab, mungkin saja Nyak memaksanya menikah karena ia menjadi pengangguran.
Kalau kemarin ia masih punya kesenangan tinggal di rumah mertua lantaran masih bisa bertemu dengan Arif-meskipun bersama istri dan anaknya-namun sekarang tidak bisa lagi. Arif sekeluarga sudah pindah ke kecamatan lain. Mereka menyewa sebuah rumah dekat pabrik tempat Arif bekerja. Maka, hilanglah hiburannya. Arif pergi untuk kedua kalinya dalam hidup Sophia.
Sejak resmi menjadi istri Irul, Sophia memang sudah membulatkan hati bahwa Arif hanya tinggal kenangan. Namun kadang dalam benaknya ia masih berandai-andai kalau Irul adalah Arif. Pikirnya, Irul adalah masa depannya. Mungkin lelaki itulah yang menjadi jodohnya. Konsekuensi pun coba ia terima, termasuk dicela mertua atau hidup bagai terkurung di rumah seperti saat ini.
Sophia cuma mau agar Irul segera mendapatkan pekerjaan. Biar mereka tidak terus-menerus bergantung kepada orangtuanya. Namun apabila hal ini dibicarakan dengan suaminya, Irul malah marah-marah.
“Udah, lu diem aja. Tinggal ongkang-ongkang kaki doang kok malah protes,” tukasnya datar, mungkin untuk menyembunyikan rasa malunya karena terus berdiam di ketek ibunya.
Kalau sudah begitu, Sophia memilih tutup mulut. Ia sudah kenal watak temperamen lelaki yang dikawininya itu, selain juga suka memaksakan kehendak. Mengalah adalah jalan aman buatnya. Sophia juga merasa malu harus ribut-ribut di rumah mertua. Suara Irul suka mencak-mencak kalau sudah mulai membanggakan tanah luas dan harta orangtuanya. Lagipula, Irul akan diam sendiri kalau tidak diladeni bicara.
Yang waras ngalah, batin Sophia mencari pembenaran. Lama-kelamaan, sepertinya sikap diam dan mengalah bukan jalan yang benar dalam setiap perdebatan atau perselisihan. Kesabaran manusia juga ada batasnya. Sophia menjadi frustasi melihat tabiat Irul. Ia yang dipusingkan dengan perasaaan terpenjara selama menikah, kini Irul bertambah menjadi-jadi sifat otoriternya. Pria itu terus membanggakan harta orangtuanya.
Irul adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Arif yang tertua sudah memiliki penghasilan mapan dan sudah tinggal dengan keluarganya sendiri di lain tempat, sementara Marisah, adiknya, bakal dibawa suaminya jika menikah nanti. Maka bisa dipastikan kalau tanah luas beserta rumah orangtuanya bakal jatuh ke tangan mereka.
“Ngapain capek-capek lu mikirin kerja, kerja, dan kerja! Apa uang bulanan lu kagak cukup gue kasih? Mau nambah buat orangtua lu?” cecar Irul suatu malam saat Sophia kembali menyarankan Irul untuk segera mendapatkan pekerjaan. Mendengar orangtuanya dibawa-bawa dalam masalah ini, Sophia berang.
“Eh, jangan bawa-bawa orangtua gue lu,” sambar Sophia geram meski dengan nada pelan. “Lu yang dulu maksa buat ngawinin gue,” sambungnya lagi.
“Jadi lu nyesel kawin ama gue? Iya..?!” Mata Irul melotot geram.
“Bukan itu masalahnya. Lu seharusnya berubah dong, gimana layaknya jadi kepala keluarga,” tukas Sophia kini dengan nada meninggi.
Mata mereka kini beradu dalam emosi.
“Alah.., banyak bacot lu!” kilah Irul semakin berang merasa ditantang. Martabatnya terusik karena dituding bukan sebagai kepala keluarga yang baik.
Ia kemudian menyambar peralatan kosmetik Sophia yang terletak di atas meja dekat dengan posisinya berdiri. Beberapa botol dan kemasan yang berhasil diraihnya berisi bedak dan lotion jatuh berserakan di atas lantai kamar. Suara gaduh terdengar secara beruntun. Sophia tersentak. Kemarahan Irul sudah kelewat batas. Rasa dongkol dan takut melihat laku suaminya membuat airmatanya mengalir deras. Sophia berusaha menutupi suara tangis dengan menutup mulutnya rapat-rapat.
Malam itu seluruh keluarga sudah masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat. Hingga beberapa waktu, tidak seorangpun dari keluarga Irul yang terbangun dengan suara ribut itu. Mereka seperti sudah tenggelam dalam lelap. Seakan acuh dengan bara yang membakar seluruh isi kamar dua anak manusia yang tergesek kata yang salah.
“Puas lu buat gue marah, hah?!!” Irul buru-buru keluar kamar masih dengan sisa amarahnya. Pintu kamar turut menjadi sasaran amuknya.
Sophia duduk tergugu di atas tempat tidur. Dadanya perih sekali menahan rasa yang menusuk-nusuk hati, seperti anak panah yang melesat ke segala penjuru. Ia memang sudah menduga hal-hal semacam ini pasti terjadi cepat atau lambat. Namun rasanya tetap menyakitkan. Selama ini ia tidak pernah mendapat perlakuan keras atau kasar dari siapapun. Bahkan keluarganya tak. Berani sekali Irul menyakitinya.
Sophia tidak tahu harus bagaimana. Bisa apa dia kini? Ingin sekali hati segera berlari ke rumah Nyak dan menumpahkan segala unek-unek batinnya. Namun begitu sadar tentang keberadaannya, ia urung niat. Usia pernikahannya baru satu bulan. Bila sampai Sophia pulang dengan berurai air mata begitu ia tidak saja akan dicap istri yang lemah tapi juga hanya akan merepotkan orangtuanya saja.
Lagipula, Sophia ingat betul bahwa orangtuanya sangat mendorong terjadinya pernikahan ini. Pikirnya, toh ia hanya akan tersudut kembali dengan pemikiran kolot Nyak dan Baba. Lelah menangis dan bergulat dengan pikirannya sendiri, Sophia akhirnya tertidur.
Keesokannya harinya, ketika bangun pagi, Sophia menyadari matanya membengkak. Ia terlalu banyak menangis semalam. Kepalanya pun terasa berat. Begitu memutuskan untuk bangkit, ia menemukan Irul sudah tertidur di sampingnya. Bau menyengat alkohol mulai terasa di hidungnya. Lelaki itu mabuk. Sophia menatapnya lirih. Suaminya tidur dengan posisi terlentang. Setengah bagian kaki kirinya menggantung karena tidak sempat mendarat di ranjang. Mulutnya terbuka. Tampaknya Irul mabuk berat.
Entah jam berapa Irul pulang ke rumah semalam. Sophia berusaha untuk tidak perduli. Ia lalu keluar kamar langsung menuju kamar mandi yang ada di belakang rumah. Begitu masuk dapur, ia berpapasan dengan ibu mertuanya. Perempuan gemuk itu sedang memasak makanan. Sophia bingung. Ia merasa tidak enak kalau tidak menyapa ibu mertuanya. Namun ia lebih tidak nyaman kalau sampai mata bengkaknya sampai ketahuan.
Sophia pun memilih mengabaikan alasan yang pertama. Ia langsung masuk kamar mandi dan mengunci pintunya cepat. Sengaja mengabiskan waktu yang lama di sana, berharap ibu mertuanya tidak lagi berada di dapur saat ia keluar. Tapi dugaannya meleset. Ibu mertua malah seperti sengaja menunggu Sophia keluar dari kamar mandi. Jadi, begitu ia keluar mata yang masih sembab -meski sudah dikucek-kucek dengan air berulang kali- langsung bertumbukan dengan sosok ibu yang sedang berdiri menyandar di pintu kulkas. Sophia kikuk. Apalagi ibu langsung bertanya.
“Phia, kamu diapain ama Irul semalem?” Nada suara ibu begitu datar namun penuh selidik. Sophia bingung mau menjawab apa. Satu sisi dirinya terlalu malu mengadukan cerita sedih yang terjadi semalam. Berbohong juga sia-sia, mata bengkaknya adalah bukti. Tapi di sisi lain, bercerita panjang lebar akan menjadi momok baru bagi dirinya dan Irul. Bisa-bisa pertemuan keluarga akan terjadi dan hanya akan memperlebar masalah.
“Gak ada kok, Mak. Kami cuma bertengkar kecil,” Sophia berusaha untuk tersenyum.
Ibu mengangguk-angguk pelan. Ia tampak hanya basa-basi saja tadi bertanya. Wajahnya tidak seserius tadi. Didekatinya Sophia. “Kita sarapan dulu, yah. Mak dah masak nasi goreng tuh. Yuk..,” Ibu memegang pundak Sophia untuk dituntunnya ke meja makan.
“Bapak dah pergi kerja, Marisah dah berangkat sekolah. Kita makan berdua aja,” kata Ibu sambil menyendoki nasi goreng ke piring Sophia.
“Irul, Mak?” tanya Sophia ragu, teringat akan suaminya yang masih tidur di kamar.
“Udah, ntar dia makan barengan ama makan siang,” terang Ibu santai. Sophiapun memilih untuk tidak banyak bertanya. Ia menyimpulkan sendiri kata-kata Ibu mertuanya. Bahwa Irul bakal tidur sampai siang hari.
Dalam hatinya, ternyata tabiat mabuk-mabukan ini sudah menjadi sifat lain Irul yang belum diketahuinya. Mungkin ibu yang membukakan pintu untuk Irul semalam. Lagipula, Ibu seperti hendak mencoba mendinginkan suasana dengan bersikap ramah kepadanya. Berbeda sekali dengan hari-hari sebelumnya. Usaha Ibu berhasil. Batin Sophia memang sedikit terbantu dalam menetralisir kekeceweaannya akibat pertengkaran semalam. Meski ia lalu menyadari bahwa ia akan menghadapi hal-hal seperti itu selama sisa hidupnya bersama Irul.

Bagian 4
Berbahagialah orang-orang yang menikah dengan lelaki yang dicintainya. Walau seandainya mereka hidup dengan ekonomi yang pas-pasan atau pria yang dikawininya ternyata berengsek, namun setidaknya ia memiliki sesuatu yang bisa dijadikan jangkar untuk tetap berlabuh. Ia memiliki sesuatu untuk dipertahankan.
Cinta. Pikiran Sophia menerawang jauh. Akhir-akhir ini ia memang lebih sering berpikir filosofis dan banyak berefleksi tentang kehidupannya. Ia punya banyak waktu untuk merenung sendirian. Awalnya Sophia sedang memikirkan rencana masa depan. Ia berniat untuk mencari uang sendiri. Sebab, Irul sudah tidak bisa diharap lagi.
Yah, bekerja di PT (perusahaan terbatas) atau mungkin berdagang kecil-kecilan. Ia bisa menggunakan uang yang didapat dari hadiah perkawinan mereka kemarin sebagai modal. Prospeknya cukup baik menurutnya. Di radius setengah kilometer dari tempat tinggal mereka tidak ada warung kelontong yang menjual bahan-bahan makanan keluarga. Tidak usah dulu menjual sayuran atau buah, cukup bahan makanan yang kering-kering dulu seperti beras, gula, bubuk teh dan kopi, juga rokok. Bisa juga ditambah makanan anak-anak dan minuman botol. Dagangan kemudian ditaruh di meja papan besar yang bisa dipindah-pindahkan. Ia bisa meletakkan dagangannya di depan rumah.
Sophia mulai menghitung-hitung modal, penjualan, dan laba yang bisa diraupnya. Pengalaman bekerja di toko elektronik sedikit banyak memberi pengetahuan baginya untuk memulai usaha. Lalu ia pun berpikir ke arah tantangan. Apa nanti kata Irul tentang rencananya ini. Apakah Irul akan mendukungnya jika ia berjualan di rumah?
Semangat Sophia mulai mengendur setelah memikirkan sosok Irul. Sisa pertengkaran kemarin masih terasa di hatinya. Kata-kata kasar suaminya membuat dirinya merasa lemas. Sophiapun mulai menyesali diri. Kenapa saat dipinang ia hanya memikirkan masa kini dan menyerah pada kehendak orang lain, bukan memikirkan dampak jangka panjang? Mengapa tidak bersikukuh dengan nuraninya? Mengapa, mengapa, dan mengapa? Huh…ia merasa geregetan sendiri.
Samar-samar suara Irul terdengar dari balik pintu kamar. Sophia kembali menghela nafas susah. Irul pasti datang hanya untuk makan siang doang. Dengan langkah gontai Sophia berjalan menuju pintu kamar. Ia harus menyambut suaminya.
“Makan, say. Dah laper, nih,” ucap Irul lembut sambil tersenyum ke arah Sophia.
Lelaki itu sudah duduk rapi di meja makan. Istrinya membalas dengan senyum tipis. Ia mengambil duduk di sebelah Irul. Piring, gelas, sendok, dan air cuci tangan sudah tersedia di meja makan. Sophia sengaja menyiapkannya usai membantu ibu mertuanya memasak. Sebenarnya ia hanya mencari-cari kesibukan tadi sementara ibu mertuanya memasak di dapur. Jadi ia terlihat punya andil di dapur.
Tumis kacang panjang dan sambal tahu campur cumi, langsung dilahap Irul tanpa ampun. Orang lain mungkin bakal tergugah selera makannya jika sudah melihat cara Irul bersantap. Sementara Sophia, ia tidak begitu berselera untuk makan. Apalagi melihat cara Irul makan, seleranya semakin turun. Irul tampak seperti hewan. Tidak ada aturan.
Ia juga sebenarnya belum lapar. Tapi, menemani makan suami adalah pelajaran dari ibu mertua yang harus dijalankan. “Kebiasaan suami-istri di sini, kalau makan harus bersama,” kata ibu melegitimasi kultur itu untuk diteruskan ke dirinya. Bahwa Sophia harus selalu mendampingi Irul, termasuk pada waktu makan dan menonton teve sekalipun. Katanya, biar terlihat mesra dan semakin disayang suami. Intinya harus perhatian sama suami. Entah dari mana teori itu berasal, pikir Sophia, saat pertama kali mendengar nasihat itu. Apalagi hal yang sama juga sempat didengarnya dari Nyak. Meski tidak sepakat, namun entah kenapa juga Sophia menurut. Mungkin untuk menghindari ketegangan.
Di rumah ini Sophia memutuskan untuk mencari aman saja. Karena tidak ada gunanya berdebat di kubu orang. Cuma bikin sakit hati. Sophia bahkan harus rela menonton acara gulat di televisi bersama Irul saat anggota keluarga lain sudah masuk kamar untuk istirahat. Suaminya begitu suka nonton acara kekerasan itu. Kalau Sophia lebih mending pergi ke pasar induk bersama Nyak untuk melihat beragam dagangan segar dan karakter ribuan orang yang datang untuk bertransaksi ketimbang menonton gulat. Biar capek, biar bau, biar sesak, tapi hatinya senang. Daripada di sini, batin Sophia terus ngedumel.
Lagipula, kata mendampingi ini lebih tepat jika diganti dengan kata melayani. Ketika makan bersama, penting sekali bagi Irul jika hendak menambah makanan ke piringnya harus dari tangan Sophia. Meskipun misalnya letak makanan lebih dekat dari tangan Irul. Usai makan, serbet dan buah-kalau ada- sudah harus tersedia, tinggal konsumsi. Meja makan harus diberesi dengan tangan Sophia juga. Suami harus dilayani saat makan. Ini adalah bagian dari pelajaran yang diterimanya selama menikah. Aturannya, harus.
Nah kalau nonton, Irul sesekali minta untuk dipijat. Dan kalau sudah minta dipijat, pelayanan akan berlanjut ke ranjang. Akan tetapi di atas tempat tidur, gantian Irul yang akan bekerja. Ia menciumi tubuh Sophia. Yah, hanya menciumi tubuh istrinya. Menjilatinya sampai kelelahan sendiri. Karena, kata Irul, gaya bercinta Sophia aneh. Hal ini terungkap waktu malam pertama mereka. Saat itu Irul mengeluhkan nasibnya sebagai sorang lelaki. Katanya, ia seperti bercinta dengan mayat.
Hal ini mulai terasa ketika suasana mesra mulai mencapai puncak. Mendadak Sophia memejamkan mata dan tubuhnya kaku. Tidak ada ekspresi sama sekali. Mungkin Sophia menderita figrid, simpulnya saat itu meski kini ia ragu. Pasalnya Sophia begitu berbeda ketika bercumbu di depan televisi. Kulit halus dan kehangatannya membuat Irul begitu terbuai. Apalagi setelah mencium dan menjilati tubuh Sophia, mereka begitu terbakar birahi. Sophia sangat menggairahkannya. Akan tetapi tiba-tiba, seperti mobil yang kehabisan bensin, Sophia mendadak padam. Tubuhnya menjadi kaku. Kalau sudah begini, Irul hanya akan mengalami sakit yang amat sangat. Ia ikut-ikutan padam.
Ketika ditanya mengapa Sophia mendadak berubah seperti itu, Irul hanya mendapat jawaban kalau Sophia juga tidak tahu mengapa bisa begitu. Ia tiba-tiba merasa darahnya seperti berhenti mengalir, terutama ketika penis Irul mulai menyentuh vaginanya. Ada kekuatan alam sadarnya bak air bah yang datang menghempas bara dalam dirinya. Sehingga ia merasa tubuhnya tiba-tiba tidak bisa bergerak. “Gue juga tidak tahu kenapa bisa begitu,” tutur Sophia lemah karena merasa bersalah. Irul melengos. Ia hanya bisa memukul-mukul kepalanya kesal.
“Apa lu pernah diperkosa?” tanya Irul suatu malam saat mereka berdua memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan intim mereka. Bukannya menjawab, Sophia malah marah-marah. Ia tersinggung sekali ditanya demikian. Seumur hidup, Sophia belum pernah disentuh laki-laki manapun kecuali Irul, suaminya.
“Gue masih perwan waktu kawin ama elu, bajingan!” maki Sophia sembari melempar Irul dengan bantal guling. Lelaki itu terdiam. Tentu saja istrinya masih perwan sewaktu menikah dengannya. Bercak darah di seprai usai malam pertama mereka membuktikan hal itu. Lantas, ada apa dengan Sophia?
Bercinta dengan istrinya ibarat makan buah durian. Saat dipilih, baunya begitu menggoda, warnanya juga membuat air liur menetes. Tapi begitu dimakan, rasanya hambar. Sophia begitu cantik dan mempesona banyak lelaki. Hanya kegigihan Irul sejak betahun-tahun lalulah yang membuat Sophia berhasil diraihnya. Sejak SMA dulu, Irul seperti kumbang yang kecanduan sari Sophia. Semerbaknya bak bunga di musim semi. Rambut ikalnya, bibir dan aroma tubuhnya, harum. Padahal ternyata, Sophia mengaku tidak pernah memakai parfum atau wewangian apapun. Lotionnya juga murahan, hanya berfungsi untuk melembabkan kulitnya.
Aroma tubuhnya tidak pernah luntur bahkan saat mandi sekalipun, karena aroma itu berasal dari bawah kulitnya. Begitu khas seperti wangi bunga, tapi Irul tidak tahu bunga apa. Orang lain pun mengakui hal yang sama. Aroma tubuh Sophia indah dan membius. Itu sebabnya Irul mati-matian berusaha untuk mendapatkan Sophia sekuat tenaganya. Ia telah terpikat, dan tidak mau yang lain. Irul ingin menikmati harum Sophia sepanjang waktu. Namun di balik itu, Sophia memiliki kekurangan. Kekurangan yang membuat mereka berdua tidak pernah merasa orgasme.
Itu sebabnya, Irul hanya melakukan ritual fore play. Ia terima saja bius tubuh Sophia. Ibarat anjing yang bertahan dengan hanya menjilati tulang sapi yang berhasil dibawanya dengan susah payah ke bawah meja. Sebab, giginya tidak cukup mampu menggigit atau menelan tulang jumbo itu. Irul hanya bisa menikmati harum tubuh Sophia.

Bagian 5
Irul tidak mengijinkannya untuk berdagang di rumah. “Apalagi yang kurang, sih?” kata Irul begitu diberitahu Sophia tentang niatnya. Mereka baru saja selesai makan malam, ketika Sophia mencoba meminta dukungan Irul untuk usaha buka warungnya. Sophia tidak segera menjawab pertanyaan yang menguji emosi tersebut. .
“Lu kayak kurang kerjaan, yah?” Sophia mendelik. “Kok?” gumamnya kesal.
“Iya, kayak kurang kerjaan!” kata Irul mengulang dengan mimik petak.
“Heh, gue emang kagak ada kerjaan di sini. Bosan bengong-bengong setiap hari. Nungguin lu pulang, makan-tidur, terus minta duit kayak pengemis…”
Sophia berhenti bicara melihat Irul tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya memerah. Mungkin karena merasa tersindir atau merasa Sophia terlalu lancang bicara kepadanya. “Lu pake otak kalau ngomong…” ujarnya sinis dengan nada ditahan. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Sophia. Perempuan itu menelan ludah getir. Dalam hatinya ia berteriak bahwa justru karena ia pakai otak maka ia berniat melakukan sesuatu hal yang positif.
“Lu kalo mau kaya, jangan kawin ama gue, sono ama pengusaha, toke…” sambungnya sembari pergi dari ruang makan dengan langkah dihentak. Irul memang selalu pergi jika sudah berada di tengah perdebatan dengan Sophia. Mungkin ia tidak tega melihat air muka Sophia yang membiru terkena bentakannya atau ia ingin menghindari konflik yang lebih tegang lagi. Ibu yang berpapasan dengannya pun diacuhkan begitu saja.
Sophia menyangga wajah dengan kedua tangannya di atas meja. Hatinya panas. Ia terlalu bosan menjadi orang tolol begini. Kenapa Irul tidak mau mengerti, keluhnya.
“Phia..” Panggilan ibu di samping membuat pikirannya tersita sejenak. Sophia menjawab panggilan itu dengan helaan nafas tanpa memandang ke arah mertuanya. Pastilah Ibu sudah mendengar percakapan ia dan Irul tadi. Ibu dan Marisah, adiknya tadi sedang menonton televisi di ruang depan sementara mereka berdua makan di dapur.
“Sabar yah, Nak,” ucap Ibu pelan. Pundak kiri Sophia disentuhnya. Sophia pun mengangguk seolah mengerti. Dalam benaknya, Sophia menilai bahwa ibunya sendiri tahu betapa arogan dan kerasnya hati Irul. Namun mereka tidak bisa berbuat banyak, seperti dirinya. Sekali lagi Sophia seperti dihantam tembok. Irul adalah tembok itu.
Rasa sesalnya kepada Irul pun bertambah besar saat dua minggu kemudian Mpok Asti-tetangga mereka- kini membuka warung di rumahnya. Mpok Asti adalah istri Jamil teman sepermainan Irul sewaktu kecil. Jamil bekerja sebagai supir angkutan kota dan mengontrak salah satu dari lima rumah dempet yang dikontrakkan ayah Irul. Jaraknya tidak begitu jauh, hanya sekira lima puluh meter dari rumah Irul. Anak Jamil sudah dua orang. Yang paling besar Reza berusia 4 tahun, sedangkan yang bungsu masih 9 bulan.
Dalam hitungan hari, jumlah pembelinya lumayan banyak. Satu bulan kemudian, Mpok Asti menambah barang dagangannya. Dari hanya berdagang bahan makanan kering kini ia juga menjual ikan dan sayuran serta minyak tanah. Ibu-ibu di sekitar situ hampir seluruhnya belanja makanan di sana. Karena selain warung sayuran lain lebih jauh letaknya, pedagang sayur keliling juga datang terlalu siang. Harga dagangan Mpok Asti juga standar. Penghasilan perempuan bertubuh mungil itu pasti sudah melebihi suaminya sekarang. Soalnya menurut keterangan ibu mertuanya, sebentar lagi Mpok Asti akan mengambil kredit motor. Motor itu nantinya digunakan untuk alat transportasi ke pasar induk buat belanja.
“Habis beli motor, mereka beli rumah, terus beli mobil pick up…Huh…!!” Sophia tidak bisa menahan rasa dongkol di hatinya. Andai Irul bisa lebih dewasa waktu itu, saat ini pasti dialah yang berada di posisi Mpok Asti. Dan benar saja apa yang diduga Sophia. Beberapa bulan kemudian, Mpok Asti suah mengganti rumah kontrakan ke tempat yang lebih besar lagi. Mereka kini tinggal di rumah toko kecil dekat perempatan. Lokasinya lebih strategis lagi untuk buka usaha. Jamil kemudian berhenti narik angkot. Ia kini membantu istrinya berjualan di toko mereka.
Sophia hanya bisa gigit jari dan menyesali diri lagi. Namun kegundahannya itu tidak lama. Titik cerah niat baiknya untuk mengubah nasib seperti mendapat peluang. Irul membawa berita bagus untuknya. “Mak nyuruh kita tinggal di rumah kontrakan saja,” kata Irul. Mendengar itu Sophia tidak berkata-kata. Terang ia senang Irul memberitahu berita itu. Sudah lama ia ingin agar mereka berdua bisa hidup terpisah dari mertuanya. Sudah saatnya mereka hidup mandiri. Irul pun masih belum memiliki pekerjaan.
“Gimana?” tanya Irul menagih jawab. Sophiapun mengangguk. “Iya, kita pindah,”
Dalam benaknya, kepindahan mereka setidaknya bisa mengubah hidupnya yang monoton. Ia sudah lama menantikan saat ini. Dan meski terlambat, Sophia berniat mewujudkan rencananya untuk berdagang di rumah kontrakan milik ayah Irul. Apalagi rumah yang akan mereka tempati adalah bekas tempat tinggal Mpok Asti dulu. Ia bisa membuka kembali warungnya, namun kini atas namanya. Tekadnya kali ini, Irul tidak boleh menghalanginya lagi. Kalaupun Irul nanti merasa malu karena dilihat tetangga bahwa istrinya yang mencari nafkah, itu urusan suaminya sendiri. Pokoknya warung itu harus buka. Uang buat modal masih utuh disimpannya.
Niatnya itu ia konsultasikan juga kepada ibu. Maksudnya untuk mencari dukungan. Dan ternyata ibu mertuanya setuju. “Kamu butuh modal berapa? Dua juta cukup dong yah. Dagang kecil-kecilan aja dulu,” saran ibu antusias.
Sophia tersenyum senang. Semangatnya bertambah. Uang simpanannya ditambah modal pinjaman dari ibu bakal memperkuat dagangannya. “Makasih, Mak,” tutur Sophia tulus sembari mencium tangan ibu.
“Ya, udah. Bawa rantangnya gih ke dapur. Bentar lagi suamimu pulang,” Sophia mengangguk dan meraih rantang berisi subsidi makanan yang masih dihantarkan ibunya setiap hari. Ia pun berjalan menuju dapur. Pasca kepindahan mereka ke rumah kontrakan, ibu masih setia untuk menyiapkan makanan untuk mereka. Alasannya karena peralatan masak Sophia belum mapan. Ibu bersikeras untuk terus membawakan makanan buat mereka. Lagipula, tidak ada yang merasa keberatan.
Tak lama, Irul muncul di pintu depan. Sebatang rokok dengan asap mengepul menghiasi bibir hitamnya. “Phia, bawa ke sini makanannya ama piring, ya. Suamimu dah dateng,”
Ibu berteriak seolah Sophia berada jauh darinya. Irul yang lunglai kemudian duduk di atas tikar sambil bertingkah ingin segera dilayani. Ia terus mengarahkan pandang ke dapur seolah sudah tidak sabar untuk menunggu.
Sophia pun akhirnya datang dengan tergopoh-gopoh. Ia membawa dua piring berisi lauk dan sayur di tangan kanan, dan sepanci nasi di tangan satunya. Sophia harus bolak-balik ke dapur untuk mempersiapkan makan siang mereka.
Ibu tidak ikut makan. Ia sudah lebih dahulu bersantap di rumah. Perempuan bersongkok itu hanya duduk dan memandangi keduanya makan. Di saat seperti ini Sophia harus ekstra hati-hati. Jangan ada kesalahan dalam melayani suami, jika tidak mau dinasihati panjang lebar. Beruntung saat ini ibu sedang mempunyai topik pembicaraan sehingga tidak lagi terlalu memperhatikan cara makan mereka. Ibu memberitahu Irul tentang rencana Sophia membuka warung menggantikan Mpok Asti. Modalnya juga akan ditambahkan ibu.
Di luar dugaan Sophia, suaminya malah tidak bergeming. Irul tampak tenang. Padahal Sophia sudah bersiap dengan segala reaksi yang akan dikeluarkan suaminya. Mungkin Irul enggan bereaksi keras di depan ibunya. Hingga mereka selesai makan, Irul belum berkomentar apapun.
Ketika didesak ibu agar memberi tanggapan, barulah ia membuka mulut. “Mmhh..Irul udah pernah denger rencana ini sebelumnya dari Sophia. Keras kepala juga nih anak,” tukas Irul sambil menunjuk Sophia dengan muncungnya. Sophia melengos.
“Jadi?” kata Ibu. Irul melirik ibunya sejenak. Ia seperti menyimpan maksud yang enggan dikeluarkannya dengan segera. Sebuah helaan nafas berat memacunya untuk berkata-kata lagi kemudian.
“Mak mau nambah modalnya Sophia?” ulang Irul. Ibu mengangguk pelan. “Engh, gini…Irul minggu depan mau ke Serang. Ada temen ngajak buat usaha tambak udang di sono,” Irul menghentikan beritanya sejenak. Matanya berputar ke arah ibu dan Sophia untuk melihat reaksi wajah mereka.
“Jadi, gue akan buka usaha tambak di sono bareng temen gue. Dan ini butuh modal..” Irul kembali memotong pembicaraannya sendiri. Kalimat terakhir terdengar serius, yakni soal modal. Wajah Sophia pun mulai tampak gelisah.
“Usaha tambak udang gimana? Temen lu siapa?” tanya Ibu bertubi-tubi.
Irul kemudian menjelaskan secara detail. Bahwa ada seorang cukong tambak di Serang yang ingin menjual salah satu tambak udangnya. Berikut bibit udangnya. Irul dan seorang temannya di SMA dulu berniat membelinya dengan modal dan kerja secara patungan. Ia butuh uang depalan juta rupiah tunai. Tambak baru akan panen dalam 6 bulan ini. Keuntungannya bisa mencapai 170 persen dari modal.
“Ozy tuh udah pengalaman tentang tambak udang. Soalnya dia sarjana peternakan, dan dulu kerja sama cukong itu dua tahun. Untungnya gede, Mak,” ujar Irul meyakinkan. Ibu pun terlihat manggut-manggut.
Tubuh Sophia melemas. Otot-otot bisepnya serasa anjlok. Irul akan menyabotase pinjamannya dari Ibu. Pikirannya menjadi bercabang. Satu sisi ia senang Irul memiliki niat baik untuk punya penghasilan sendiri. Namun di sisi lain, ia seperti punya firasat lain akan rencana Irul. Uang delapan juta akan diperoleh darimana? Tiba-tiba terbersit di otaknya kalau modal untuk usaha warung yang selama ini disimpannya akan ikut dibawa Irul.
“Ya, kamu bilang aja ama bapak. Mak yakin pasti bapakmu mau bantu,” kata Ibu mendukung sembari menepuk-nepuk pundak Irul.
Sophia melihat ke arah Ibu. Perempuan itu sama sekali tidak mengungkit-ungkit tentang warungnya lagi. Sophia menjadi semakin yakin dengan firasatnya. Tidak tahan akan gejolak emosi di hatinya, Sophia lalu berpura-pura mengangkati piring kotor bekas makanan mereka ke dapur. Di sana Sophia menumpahkan rasa di hatinya. Terlebih ketika samar-samar ia mendengar suara Irul menyebut uang simpanan Sophia. Hatinya bertambah kecut. Apa yang harus dilakukannya kini?
Sepeninggal ibu dari rumah mereka, pertengkaran pun tidak terelakkan. Sophia dengan kegeramannya menolak menyerahkan uang simpanannya kepada Irul untuk diakumulasi menambah modal usaha tambaknya.
“Ya, biarlah gue buka warung juga di sini. Untungnya bisa kita petik harian. Kalau tambak lu kan baru enam bulan lagi terima untung,” sergah Sophia.
“Apalah warung kecil dibandingkan usaha tambak yang sudah jelas prospeknya. Lu kagak usah ngeyel dah dibilangin,” seru Irul tak mau kalah.
Sophia kehabisan kata-kata. Ia terdiam namun tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan menyerahkan uang simpanannya. Ia ingin membuka warung.
“Kenapa harus pakai uang simpananku sih? Bapak kan belon tahu bisa ngasih penuh delapan juta atau kagak,”
“Uang simpanan lu? Eh, uang yang lu pegang tuh sebagian besar berasal dari hadiah pernikahan kita. Jadi itu uang kita bersama . Ayo sini, mana duitnya. Berapaan, dua juta, tiga juta… Ayo..!” Irul menadahkan tangannya seperti orang yang menagih hutang ke arah Sophia.
“Pokoknya kagak!” Sophia melengos.
Irul menarik tangannya kembali. Di dekatinya Sophia yang duduk di atas ranjang. “Lu jangan buat runyam rumah tangga kita. Lu harus dukung gue. Toh ini buat lu juga,” Irul memandang lekat mata Sophia.
“Kok gue yang lu salahin. Yang buat runyam siapa?” balas Sophia sambil balik menatap Irul. “Lagian, kenapa kagak dari dulu lu inisiatif buka usaha apa, kek. Giliran gue mau buka warung lu ikut-ikutan…”
“Eh, kesempatannya baru dateng sekarang. Ngerti kagak lu!” bentak Irul. “Pokoknya, lu kagak usah buka warung dulu. Ntar modal tambaknya dah balik, baru suka-suka lu. Mau buka butik, kek, terserah. Sekarang lu dukung gue. Makin banyak modal, makin besar untung yang bakal didapet. Ngerti lu!”
Irul mengayunkan langkahnya ke luar dari kamar. Ia tidak mau lagi mendengar bantahan dari mulut Sophia. Seolah ucapannya adalah titah. Sophia mengekori tubuh Irul dengan sudut matanya.
Ia tidak ingin mencari tahu suaminya mau kemana. Sophia sudah tidak perduli. Air mata yang sudah ditahannya sejak tadi akhirnya tumpah. Di kepalanya langsung terbayang wajah ibu dan bapak mertuanya, wajah Nyak juga Baba. Kalau ia berkeras menolak kata-kata Irul, maka ia bakal diklaim tidak mendukung suami dan dipandang seperti bandit. Sophia tidak mau dianggap demikian. Tapi, ia juga punya keinginan besar untuk memajukan rumah tangganya, meningkatkan kualitas hidup yang akan mereka jalani. Tapi kenapa tidak ada yang mendukungnya? Irul tidak mendukungnya, kenapa dirinya harus mendukung Irul? Ini tidak adil, pikirnya.
Bapak juga ternyata sangat mendukung Irul. Ia bahkan memberi modal lebih dari yang diminta Irul. Mungkin bapak mau menanam saham juga. Ozy, teman yang bakal bekerja bersamanya pun turut dipertemukan kepada bapak untuk memberi penjelasan mendetail perihal tambak udang yang bakal mereka kelola. Gaung warung yang akan dibuka Sophia sama sekali tidak pernah diungkit-ungkit lagi. Irul yang sudah memegang uang simpanan Sophia ternyata tidak juga mengembalikannya meski modal yang dibutuhkan sudah berlipat di tangannya.
“Uang ini buat nambah-nambahin di tambak,” jelas Irul memberi alasan.
Ia berangkat lusa ke Serang dan baru kembali bulan depan. Sophia hanya diberinya uang saku untuk sebulan. Untuk membeli pembalut wanita atau peralatan kosmetik jika kehabisan katanya.
“Tamak banget sih lu?” cecar Sophia begitu menerima uang itu.
“Diem lu. Dah syukur gue kasih segitu,” bentak Irul.
Percakapan mereka terakhir, atau lebih tepat disebut pertengkaran, membuat Sophia bertekad untuk berhenti menangis. Ia capek menjadi orang kalah terus. Orang yang selalu disalahkan. Sepeninggal Irul ke Serang, Sophia pergi mengunjungi Nyak. Tidak perduli ibu mertuanya mau bilang apa.
Selama ini Sophia sama sekali belum menemui Nyak di rumah kecuali sewaktu almarhum suami Zannah meninggal beberapa bulan lalu. Selebihnya tak.Alasannya hanya satu, Sophia masih merasa marah kepada Nyak dan Baba karena telah memaksanya kawin. Namun di saat galau begini, Sophia seperti tidak punya tempat lain untuk mengadu nasib selain di rumah sendiri. Tempat dimana ia seperti dirangkul untuk menenangkan gundah di hati. Dalam ingatan Sophia, satu-satunya tempat ternyaman dalam hidupnya adalah di pangkuan Nyak. Karena Sophia adalah anak kesayangan Nyak. Anak yang paling cantik dan dimanja.
“Ncop…” panggil Nyak dengan menyebut nama kecilnya, begitu melihat Sophia di mulut pintu dapur rumahnya. Sophia tersenyum tipis. Ia memang sengaja datang dari pintu belakang karena yakin Nyak pasti sedang berada di dapur pada pagi menjelang siang begini. Seperti biasa, memasak dengan tungku. Sophia lalu tersenyum sambil berjalan mendekati Nyak. Ia mencium tangan ibunya tanda salam. “Nyak masak apa?” tanya Sophia sambil melongok ke arah dandang hitam di atas tungku yang masih membara apinya.
“Masak air. Duh, air sumur menipis. Musim kering, sih,” keluh Nyak.
Sophia melangkah ke dalam rumah. Nyak pun mengikuti dari belakang. Sebuah tikar pandan digelar di atas lantai berdebu. Sontak debu-debu itu beterbangan karena dihempas tikar. Sophia menutup hidung dengan tangan untuk menghindari debu masuk ke hidungnya. Matanya menatap liar ke sekeliling ruangan dapur, merasa seolah ia tidak pernah tinggal di sana. Udara pengap. Dapur dengan dinding kayu yang berwarna kehitaman itu memang tidak satupun terdapat jendela atau fentilasi. Udara bisa hilir mudik hanya melalui pintu. Peralatan dapur tampak berserak di sana-sini.
Tas tangan Sophia terlebih dahulu diletak di atas tikar. Sandal dilepas di tepi tikar, barulah ia duduk di depan Nyak yang sudah tidak sabar ingin mendengar kabar perkawinan Sophia.
“Gimana, udah ada tanda-tanda si jabang bayi? Kok kagak pernah sih nengokin Nyak ama Baba sih?” Nyak nyerocos seperti biasa.
Bibir lancipnya terlihat naik turun. Sophia memperhatikan wajah Nyak namun tidak segera menjawab. Sebuah helaan nafas keluar begitu saja dari hidungnya. “Kenapa?” tanya Nyak sedikit lebih lembut setelah melihat raut wajah Sophia yang nampak ketat.
“Irul, Nyak. Pergi Ke Serang buat ngerjain tambak udang. Bulan depan baru balik,” Sophia memainkan jemarinya di atas tikar. Nyak malah tersenyum mendengar penuturan anak tersayangnya.
“Oh, sepi ditinggal suami kerja? Kirain… Eh, emangnya tambak udang siapa yang dikerjain Irul?” “Yah punya Irul. Patungan ama temennya,”
“Oh…” kata Nyak masih dengan senyumnya.
Sophia kembali menghela nafas berat. Nyak jadi curiga. Kalau sudah menghela nafas berat hingga lebih dari sekali dalam waktu yang berdekatan, berarti ada sesuatu yang salah. “Kenape sih, muke lu petak bergelombang kayak genteng gitu?” selidik Nyak.
“Ini, Sophia bosan Nyak. Kagak punya kerjaan di rumah,” Wajahnya ditekuk, rona yang mengundang iba. Nyak mulai diam dan membiarkan Sophia bicara. Ia pun mulai bercerita tentang lika-liku perjalanan pernikahannya selama ini. Mulai dari sikap temperamental suaminya, intervensi mertuanya dalam kehidupan rumah tangganya, sampai soal niat buka warung yang ditentang dan modalnya telah disabotase Irul. Berharap Sophia bisa mendengar nasihat atau dukungan Nyak yang bisa mengurangi bebannya. Tapi ujung-ujungnya, Nyak cuma bilang, “Sabar, Ncop. Yang namanya berumah tangga pasti berliku-liku,”
Sophia jadi malas mengadu. Nyak tidak memberi pengaruh positif apapun kecuali hanya sebagai ember tempat mencurah isi hati. Sophia kemudian mencoba sebuah niat. Yakni meminjam modal dari Nyak agar tetap bisa membuka warung. Namun seperti yang telah diduganya, Nyak menggeleng tanda tidak mampu membantu. Ah, Nyak memang tidak bisa diharap kalau soal materi. Warung sayurnya saja terlihat tutup tadi. Modalnya pasti sedang kering.
Sesekali Nyak kembali ke tungkunya. Setelah masak air, Nyak menanak nasi. Sebuah dandang berbeda yang lebih besar diangkatnya ke atas tungku menggantikan dandang yang tadi berisi air mendidih. Sementara, sekilas mata Sophia melirik ke arah meja makan. Semangkuk kecil sayur sawi yang dimasak tumis serta sepiring telor dadar teronggok di balik tudung saji yang dibukanya.
Sophia memang belum makan siang tadi. Perutnya pun sudah lumayan terasa lapar. Sudah lewat tengah hari. Tapi melihat menu di atas meja makan itu, ia tidak berniat memenuhi hasrat laparnya. Apalagi lalat tampak hilir mudik dengan bebasnya di ruangan itu. Selera makannya jadi menurun lalu menutup tudung saji itu.
“Lu mau makan? Nasinya belon mateng,” kata Nyak setelah melihat Sophia memandangi isi tudung saji Nyak di atas meja. Sophia menjawab dengan gelengan kepala lemah.
“Ntar di rumah aja,” jawabnya singkat. Nyak jadi merasa tidak enak hati karena membiarkan putri tercantiknya kelaparan di rumahnya. Ia sedikit menyesal karena hingga lewat tengah hari, makan siang belum selesai dimasak. Rasa hatinya semakin diperberat karena menyadari Sophia masih marah karena dipaksa kawin waktu itu. Meski rasa yang terakhir itu coba dihempangnya dengan berlagak tidak terjadi apa-apa. Walau ia sendiri merasa menyesal karena ternyata lelaki yang disodorkan itu hanya membuat anaknya bersedih.
Nyak juga tidak bisa membantu anaknya untuk memodali usaha warung yang ingin sekali dibukanya di rumah. Karena ia sendiri tidak punya uang. Sudah sebulan ini Baba tidak memberinya uang belanja. Dua hari yang lalu Nyak terpaksa mengutang kepada Tante Betty, tetangga yang menyewa rumah kontrakannya yang terletak di sebelah kanan rumahnya. Itupun harus dibayar bulan depan berikut bunganya.
“Nyak ambilin nasi bentar ke rumah Zannah. Dia udah siap masak kali. Tunggu sini,” Nyak buru-buru bangkit dan melangkah ke arah pintu dapur sambil membetulkan lilitan sarung di pinggangnya.
“Kagak usah, Nyak. Ntar gue makan di rumah aja,” tukas Sophia dengan nada serius. Melihat wajah Sophia, Nyakpun urung niat. Ia kemudian duduk kembali. Sophia tampak benar-benar tidak hendak makan di rumahnya. Topik pembicaraanpun lalu dialihkan ke yang lain.
“Kalo lu ngotot pengen buka warung modalnya lu pinjam aja dulu,” Sophia melihat ke arah Nyak lekat. “Sama siapa, Nyak?” tanyanya penasaran.
“Yah, sama Tante Betty. Kali aja ada. Pake bunga sih, tapi lebih kecil ketimbang dari Mak Ucok atau Nyak Sati,” Nyak membeber beberapa nama rentenir di sekitar lingkungan rumah mereka. Sophia mengenal ketiga rentenir itu, tapi ia belum pernah meminjam duit dari mereka.
“Kalo lu mau, biar Nyak omongin ama Tante. Lu perlu berapaan?” Sophia menatap Nyak ragu. Ia belum pernah melakukan transaksi pinjam-meminjam dengan rentenir. Memang sih, ketiga nama rentenir itu tidak bertingkah seperti layaknya lintah darat yang kerjanya hanya mencekik leher dengan bunga tinggi. Ia hanya merasa risih.
Meski begitu, usul Nyak layak dicoba, pikirnya. Ia pun menyebut nominal uang yang dianggap cukup untuk modal membuka warung. Lalu merekapun mendatangi rumah Tante Betty. kebetulan orangnya ada di rumah. Sayangnya, Sophia sedang kurang beruntung. Perempuan yang belum memiliki anak di usia lima tahun pernikahannya tersebut, baru dihutangi Firman bulan lalu. Istri keduanya melahirkan anak ketiganya harus dengan cara dioperasi. Soalnya istrinya mengalami pendarahan hebat.
“Bapak Ipul minjam tujuh juta buat lahiran kemarin. Uang saya gak ada lagi, Nyak. Bapak Ipul cuma bayar bunganya aja minggu lalu,” jelas Tante Betty. Nyak tahu tentang hal itu. Karena ia sendiri yang mengantar menantunya itu ke rumah sakit waktu itu. Tapi ia tidak menduga kalau saat ini tidak ada lagi uang tersisa buat Sophia.
Mendengar itu Sophia terdiam. Bukannya sedih karena tidak ada uang baginya, tapi karena ia kembali terbayang kepada kondisi kakak iparnya itu. Ia pun sempat menengoknya di rumah sakit. Anaknya perempuan, sehat dan montok kayak ibunya. Tapi bayi itu pasti tidak tahu kalau ibunya hampir meregang nyawa karena melahirkannya. Sophia mendengar cerita pendarahan itu dari Nyak. Ia pun sempat berpikir untuk tidak memiliki anak karena ketakutan derita yang dialami Mamak Ipul, panggilan akrab istri Firman.
“Mungkin Mak Ucok bisa minjamin,” saran Tante Betty memecah kesunyian. Suara kencang khas suku Batak itu membuat Sophia sedikit kaget. Ia seperti disadarkan untuk kembali fokus kepada soal pinjam-meminjam uang tadi. Sophia keburu hilang mood. Niatnya untuk meminjam uang mulai surut.
“Gak deh, Tan,” ujarnya sambil menggeleng. “Kenapa? Biar ditemenin ke sana. Yuk..” Tante mencoba meringankan usaha Sophia dengan menawarkan rekomendasinya kepada Mak Ucok. Tapi Sophia tetap menolak.
Ia pun memutuskan untuk menyudahi dulu usaha mencari pinjaman buat modal usaha. Lagipula perutnya sudah kelaparan minta diisi. Pikirannya pun sudah tidak konek lagi. Sophia minta diri untuk segera pulang kepada Tante Betty maupun Nyak. Begitu keluar dari rumah Nyak, Sophia bukannya melangkahkan kaki ke rumah kontrakannya dengan harus membelok ke kanan. Ia justru belok ke kiri menuju rumah makan Padang tidak jauh dari simpang gang rumah Nyak. Di sana Sophia memenuhi hasrat makan siangnya dengan lahap.

Bagian 6
Nyak duduk termangu di depan tungku masak. Api menyala-nyala membakar potongan kayu kering yang baru saja dimasukkannya ke dalam celah perapian. Sudah hampir setengah jam kukusan hitam berisi nasi itu ditanaknya. Sebentar lagi nasinya sudah bisa diangkat dari tungku. Sudah matang. Baba, suaminya, sudah duduk di kursi makan. wajahnya sudah tidak sabar ingin segera menyudahi rasa laparnya siang itu. Sesekali Baba mencomot seujung kuku telur dadar yang ada di depannya. Kemudian sebatang sayur sawi. Baru ia minum.
“Dah, nong? Lama banget sih?” ujar Baba tidak sabar.
“Ntar, sabar nape..” Nyak berteriak dari arah belakang. Baba menggaruk-garuk kepala plontosnya. Diliriknya lagi lauk dan sayur tumis di hadapannya. Efek visual dari mata mempengaruhi saraf di otak. Akibatnya rasa lapar semakin menjadi.
Suasana hening di dapur kemudian terusik, tatkala Anum-istri Dalih anak ketiganya-muncul dari belakang Nyak. Perempuan mungil beranak satu itu tampak gelisah. Napasnya tersengal-sengal. Ia pasti baru saja berlari ketika menuju kemari.
“Nyak, Bang Dalih kumat,” katanya pelan namun penuh kecemasan. Nyak langsung bangkit berdiri lalu mendekati Anum.
“Udah lama?” tanyanya sembari meraih tangan Anum setengah mendesak.
“Barusan,” Anum mengarahkan pandang kepada Baba yang kemudian berjalan mendekatinya juga. Wajah lelaki itu berkerut.
“Sekarang ada dimana?” kata Baba. “Di rumah, ama Aldi. Biasa, Ba, Abang ngoceh terus,” Nyak melirik ke arah Baba. Lirikan itu tentu saja merupakan sebuah tanda.
Dalih memang punya penyakit saaraf yang bisa kambuh sewaktu-waktu. Kalau sudah begitu anaknya harus segera diberi obat penenang yang bisa didapat dari optik melalui resep dokter ahli saraf di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Menyangkut obat, satu hal yang pasti, yakni uang. Nyak tahu harus berbuat apa bila Dalih kumat. Tinggal membawanya ke RS Cipto. Nah persoalannya sekarang adalah apakah di antara mereka ada yang memiliki uang?
Anum pasti tidak ada. Sehari-hari makan mereka disubsidi Nyak. Dalih belum punya pekerjaan tetap. Kadang kerja diajak temannya sebagai buruh bangunan dengan cara borongan, atau kadang dia hanya membantu Baba membakar arang bila ada orderan. Namun seperti Baba, Dalih sama sekali tidak mempunyai pemasukan. Istrinya cuma tukang cuci di rumah satu tetangga mereka.
Lirikan Nyak terhadap Baba dijawab dengan sebuah lengosan. Baba bergerak mundur kembali masuk dapur. Ia pun duduk di meja makan tempatnya tadi menunggu makanan.
“Tadi pagi sih belum kumat. Cuma, waktu Anum bangun, abang dah bangun duluan. Tapi matanya terbuka terus kagak kedip-kedip. Ditanyain diem mulu. Sampe pas disuruh mandi, eh malah abang kumat ngoceh terus,” Nyak terdiam sebentar.
“Lu dah masak?” “Udah, Nyak. Sambal tempe ama tumis kangkung,”
“Nah, lu pada dah makan belon?” Anum mengangguk.
“Ya udah, lu liatin aja si Dalih dulu. Ntar, Nyak ke sana,” Anum mengangguk lagi.
“Iya, Nyak. Abang kagak mau diem. Capek banget ngeliatnya,” keluh Anum sembari berjalan menuju rumahnya yang terletak tak jauh dari kediaman Nyak.
“Ya namanya juga lagi kumat,” cetus Nyak lalu kembali ke perapiannya.
“Duh, gimana nih, kagak punya uang. Anak-anak lagi pada susah,” Nyak mengeluarkan potongan-potongan kayu yang masih membara dari lubang tungku. Masakannya sudah matang, apinya pun dimatikan. Kukusan hitam itu diangkutnya masuk ke dalam dapur, dilatakkan di lantai semen dekat kompor.
Baba nampak lesu. Sedari tadi matanya sibuk memperhatikan tingkah laku Nyak di depannya. “Gak ada uang, Nong,” ujar Baba lirih. Lagi kepalanya digaruk. Nyak acuh. Ia mengambil piring dan menyendoki nasi ke dalamnya. Mereka pun makan. Baba sudah kehilangan selera makan. Ia tetap menyuapi nasi ke dalam mulutnya hanya semata-mata agar lutut rentanya tidak bergetar kalau berjalan. Pikirannya menerawang kepada putranya tadi.
Dalih adalah anak yang memiliki andil penyesalan dalam hidupnya. Bagaimana tidak, penyakit saraf yang dideritanya adalah sebuah hasil kekeliruannya di masa lalu.
Sewaktu beranjak dewasa, Dalih merupakan anak yang pantas untuk dibanggakan. Dia tumbuh dengan tubuh tinggi dan atletis. Prestasi di sekolah juga tidak sedikit. Usai tamat SMA, Dalih ingin melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Semua teman dan gurunya sangat mendukung. Namun tidak demikian dengan orangtuanya. Baba menolak untuk membiayai. Alasannya sangat simpel, tidak punya uang.
Nyak yang paham potensi anaknya tidak bisa berbuat banyak. Hanya nasihat yang ia punya, juga penghiburan diri. Dalih yang penurutpun merelakan cita-citanya untuk kuliah menguap begitu saja. Ia memang sangat sadar kalau Baba tidak memiliki cukup uang untuk menyekolahkannya di perguruan tinggi kecuali dengan menjual tanah. Ia pun memutuskan untuk bekerja saja.
Tidak lama bekerja dan menyisihkan sebagian gajinya untuk disimpan, terbersit di kepala Dalih untuk masuk tentara. Tubuhnya yang proporsional dan pengalamannya sebagai tim paskibraka di dekolah membelai niatnya untuk masuk dunia militer. Ia pun memohon kepada Baba agar merelakan sebagian tanahnya untuk membiayai cita-cita yang satu itu. Dengan janji, bila masuk TNI nanti ia akan menggantinya. Kebetulan markas besar (Mabes) TNI di Jakarta berada dekat dengan kampung mereka. Jadi ia bisa pulang kapan saja untuk bertemu orangtua di rumah.
Kali ini Nyak ikut mencoba meyakinkan Baba atas niat Dalih. Baba harus membantu anaknya untuk masuk tentara. Kalau Dalih berhasil, toh keluarga mereka juga yang bakal senang. Namun Baba berkeras hati. Ia menolak membantu Dalih, meski anak laki-lakinya itu memohon dengan sangat. Baba tidak bergeming.
Maka, untuk kedua kalinya Dalih melepas mimpinya ke udara. Ia sudah tidak punya harapan dan genggaman lagi Apa yang lebih buruk dari melepas mimpi dalam hidup? Padahal awalnya Dalih sangat yakin orangtuanya pasti mendukung. Tapi ia salah.
Lantas untuk mengisi waktu, Dalih akhirnya bekerja serabutan di bengkel atau Door Smeer milik uwaknya di ujung jalan kampung. Pekerjaannya yang kemarin sudah keburu ditinggalkan. Hingga saat itu, Dalih masih bisa menerima sikap tertutup Baba. Ia tidak mau bersitegang dengan orangtuanya. Rasa kasihan kepada Nyak dan Baba lebih besar ketimbang untuk dirinya sendiri. Hingga suatu kali, Firman abangnya, meminta Baba membelikan mobil pick up untuk usaha pengangkutannya. Saat itu Firman sudah menikah lagi. Istri pertamanya kabur dengan lelaki yang indekos di rumah kontrakan Nyak. Rumah Firman berada tepat di samping kos-an Nyak. Lelaki itu seorang tentara lajang yang masih mendapat pendidikan di Mabes TNI tak jauh dari kampung itu. Mungkin itu sebabnya Baba tidak bersedia membantu Dalih untuk masuk angkatan. Karena di matanya, tentara sudah dianggapnya bajingan.
Nah, kembali kepada permintaan Firman tadi, Baba jelas menolak. Awalnya. Setelah dipaksa, akhirnya Baba lembek juga. Dua hari kemudian, mobil pick up keluaran terbaru dari merk Jepang ternama sudah parkir di halaman depan. Baba bersedia membantu Firman untuk membayar uang mukanya. Sedangkan pembayaran kredit dilakukan oleh Firman setiap bulannya.
Dalih hanya menatap lirih mobil mahal itu ada di halaman rumah mereka. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Ia berusaha tidak tampak menggeliat di depan keluarganya meskipun dalam hati rasa cemburu membakar. Firman sudah mendapat sepetak tanah dan bangunan rumah untuk tempat tinggal ia dan keluarganya. Dan kini Baba membantunya membeli mobil pick up? Baba tidak adil, protesnya.
Namun gejolak di dalam hati siapa yang tahu. Dalih sendiri tidak menyadari bahwa amarah dan sakit hati yang berusaha dipendamnya ternyata mengendap dan mempengaruhi sel-sel sarafnya. Orang hanya tahu bahwa semenjak itu, Dalih semakin irit bicara.
Dampak buruk kerusakan sarafnya baru ketahuan setelah suatu hari ketika Dalih dimarahi uwak pemilik bengkel, karena membocorkan kanlpot sebuah mobil yang sedang diperbaiki di bengkelnya. Kesalahan itu memicu protes dari sang pemilik mobil. Bukan untung yang diraih, malah mereka terpaksa mengeluarkan sejumlah uang untuk mobil sang ‘pasien’.
Usai dibentak dengan serapah, Dalih langsung disuruh pulang ke rumah. Nyak yang pertama kali menemui Dalih waktu itu sedikit kaget karena menemui Dalih diantarkan Ujang-teman yang juga bekerja di bengkel uwak- dalam keadaan seperti terkena stroke berat. Matanya tidak berkedip dan hanya diam kalau diajak bicara.
“Dalih kenapa, Jang. Kok kayak orang kena sambet gini?” tanya Nyak panik sambil mengusap-usap wajah dan mata Dalih supaya merem.
“Kagak tahu, Nyak. Tadi dianya dimarahin Wak Syarif lantaran ngerusak knalpot mobil orang di bengkel. Tahu-tahu, Dalih jadi kayak gini,” terang Ujang gelisah.
“Kenapa kagak langsung dibawa ke ustad, siapa tahu Dalih kesambet?”
“Tadi Ujang mikirnya kayak gitu, Nyak. Tapi lebih baik kan kasih tahu kemari dulu,”
“Alah..dasar tuh Bang Syarif, giliran anak orang sakit gini mau lepas tanggung jawab. Lu tolongin Nyak gih, panggilin Baba di tanah lapang. Cepetan..” Ujang segera beranjak ke lapangan tempat pembakaran arang untuk menemui Baba.
Lelaki tua itu langsung diberitahu kalau Dalih kesambet dan sekarang ada di rumah. Sontak setelah melihat wajah putranya yang dibaringkan di ruang tamu, Babapun bergegas memanggil orang pintar, yakni Ustad Ramli. Kebetulan lelaki yang dituakan di kampung itu sedang berada di rumah siang itu. Ia baru saja istirahat siang sehabis bersih-bersih di ladang jagung yang ada di samping rumahnya.
Di tangan Ustad, Dalih pun diberi ritual mengusir roh gentayangan. Dibacakan ayat-ayat Al Quran. Namun, bukannya sembuh, Dalih malah semakin parah. Orang-orang ramai yang mulai datang menjenguknya semakin menyesakkan kepalanya. Dalih yang tadinya hanya diam, Kali ini ia berbicara. Kata-kata yang dikeluarkannya seperti orang yang sedang beragumentasi dalam sebuah perdebatan sengit. Mirip politisi di televisi. Lengkap dengan intonasi tegas dan bahasa tubuh layaknya orang berorasi di depan podium. Hanya saja matanya terlihat tidak fokus. Ia tidak berani melihat ke arah orang-orang yang mengerumuninya. Dalih hanya memandang ke bawah.
Melihat itu Ustad Ramli lalu memutuskan untuk menghentikan ucapan ayat-ayat sucinya. Dalih bukan kesambet seperti yang disangka orang-orang tadi, simpulnya. “Sebaiknya Dalih dibawa ke rumah sakit,” sarannya dengan nada bijak. Keringat yang mengucur di dahinya lalu diseka dengan ujung lengan bajunya. Lelaki berjenggot tebal berwarna putih itu pun keluar dari rumah untuk mencari angin segar.
Baba yang tadinya panik karena mengira anaknya kemasukan roh kini menjadi lebih panik lagi. Kalau Ustad Ramli mengatakan bahwa anaknya tidak kesambet dan harus dibawa ke rumah sakit, berarti anaknya terkena sakit jiwa. Ini lebih parah ketimbang dugaan sebelumnya.
Pikirnya, berdebat dengan ustad Ramli akan sia-sia. Babapun meminta Firman untuk mengantar mereka membawa Dalih ke rumah sakit umum Cipto Mangunkusumo. Rumah sakit itu milik pemerintah yang bisa memberi akses berobat gratis bagi keluarga tidak mampu. Kepala RT yang ada di rumahnya saat itu bersedia membantu mengurus surat-menyurat di rumah sakit.
Setibanya di sana, mereka dihunjuk untuk menemui dokter ahli saraf. Dugaan Ustad Ramli benar, Dalih mengalami gangguan kejiwaan. Selama lebih dari dua minggu ia terpaksa diopname. Meski sebenarnya Dalih harus tetap berada di sana setidaknya selama dua bulan pertama agar bisa dirawat secara intens. Namun karena uang Baba tidak mampu mencukupi, maka Dalih hanya bisa berobat jalan. Layanan berobat gratis bagi keluarga miskin ternyata tidak berlaku terhadapnya. Baba dinilai tidak cukup miskin oleh pihak rumah sakit.
Pasca keluar dari rumah sakit, kondisi Dalih mulai membaik. Ia sudah mulai sadar akan kehadiran keluarga di dekatnya. Ia tidak mengoceh lagi. “Asal tidak dibiarkan stres dan berpikir terlalu keras, anak bapak akan baik-baik saja,” pesan dokter sebelum mereka meninggalkan rumah sakit. Kalau tidak, tingkah laku seperti waktu lalu akan terulang lagi. Jiwanya akan berguncang kembali.
Hingga menjelang pernikahannya, Dalih tidak bisa bekerja dengan baik. Ia hanya membantu Baba membuat arang atau mengerjakan pekerjaan yang tidak begitu mmbutuhkan banyak pikiran. Tentu saja tidak ada orang yang bisa mempekerjakan karyawan yang tidak bisa bekerja di bawah tekanan kecuali digaji oleh orang tua sendiri. Untuk ukuran seorang ayah dengan satu anak yang masih balita, Dalih termasuk lelaki yang rapuh. Ia tidak bisa menafkahi keluarga.Dirinya bahkan yang harus dijaga kestabilan jiwanya.
Anum yang terpaksa menikah karena terlanjur hamil tidak bisa berbuat apa-apa kalau suaminya sudah kumat. Kemarin malam ia tidak bisa menahan emosinya tatkala bertengkar dengan Dalih. Pemicu perselisihan tak lain adalah soal uang. Aldi-putra mereka- sudah tidak lagi diberi susu formula karena tidak ada uang untuk membeli.
Anum mengomel di depan suaminya. Bahwa selama ini ia sudah terlalu bersabar menjalani hidup berumah tangga yang kadang kala miris hati mengetahui bahwa tidak ada uang sepeser pun di dalam dompet untuk belanja makanan. “Usaha dong, Bang !” ujarnya setengah mengiba. “Jangan cuma menunggu dan mengharap ada orderan arang. Aldi butuh makan,” sambungnya dengan setengah berbisik di telinga Dalih. Di saat genting emosi seperti ini pun Anum masih bisa menjaga suaranya. Ia tidak mau mengganggu tidur anaknya dan iparnya yang tinggal di sebelah rumah.
Lelaki di hadapannya itu terdiam. Kepalanya tertunduk melihat ke arah bocah berusia sembilan bulan yang tertidur pulas di atas tempat tidur. Anum sudah beranjak dari kamar. Istrinya itu lebih memilih untuk menangis di dapur ketimbang di depannya. Dalihpun memutuskan untuk tidak banyak berkomentar bila masuk dalam kondisi seperti ini. Anum benar. Ia harus berusaha lebih keras lagi. Tapi bagaimana caranya?
Dalih merebahkan tubuhnya di samping Aldi yang diletak di tengah ranjang.
Hari sudah larut malam. Tak lama Anumpun masuk kamar. Dilihatnya Dalih sudah tertidur pulas di samping putranya. Tidak ada yang bisa dilakukan, pikirnya. Gelisah di dada sudah dituntaskan di dapur tadi. Anum tidak berharap banyak akan terjadi perubahan yang besar pada keluarga kecilnya. Ia tadi hanya membuang keluh kepada suami, siapa tahu dengan begitu Dalih bisa termotivasi. Ia pun lalu tidur.
Esok paginya, Anum dikejutkan oleh kondisi tatapan kosong suaminya di atas tempat tidur. Ia sama sekali tidak menyangka kalau hari ini, Dalih akan kumat. Kepalanya bertambah pusing. Tidak ada uang tersisa di dompetnya. Untung saja, menu masakan untuk hari ini sudah dibelinya kemarin. Untuk pengobatan Dalih ke RSCM, Anum memutuskan untuk memberitahu saja kepada Nyak.
Di rumahnya yang berukuran sembilan kali lima meter itu Anum duduk tercenung di depan suaminya. Dalih masih saja mengoceh sendiri di ruang tamu. Aldi yang sibuk bermain di pangkauan ibunya seolah tidak perduli akan apa yang terjadi. Dari kaca jendela depan rumahnya terlihat Nyak datang dengan tergesa. Anum bangkit berdiri menyambut mertuanya.
“Tong, kenapa lu?” Nyak menyebut panggilan kecil anak lelaki Betawi kepada Dalih, meskipun lelaki itu sudah bukan anak kecil lagi. Dihampirinya Dalih, lalu dielus-elus wajahnya lembut.
“…jadi segala sesuatunya harus dipikirkan secara mateng. Menyesal di kemudian hari tiada berguna. Camkan itu baik-baik,…” seru Dalih kepada Nyak ketika disadarinya kehadiran perempuan tua berambut hitam itu di sampingnya.
“Iya..iya…” Nyak mengangguk-angguk seolah menjadi lawan bicara yang aktif.
“Bang Dalih sejak pagi ampe sekarang, kagak berhenti ngomongnya. Saya kasih makan, paling cuma dimakan dua suap. Habis itu ngomong lagi,”
Anum terlihat pasrah. Ia sudah kelelahan menghadapi suaminya. Dalam hati ia merasa sangat kasihan dengan suaminya. Dalih pastilah sangat lelah saat ini. Namun sarafnya, tidak bisa diajak kompromi. Meskipun tubuhnya sudah lemah, nafasnya pun terlihat ngos-ngosan tapi ia terus saja bicara.
“Aldi sampai ketakutan tadi dibentak-bentak abang,” lapor Anum lagi. Nyak tidak berkata-kata. Ia hanya memandangi wajah Dalih lirih. Ia tahu apa yang terjadi dengan Dalih saat ini, dan juga tahu apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi penderitaannya. Tapi ujung-ujungnya, Nyak hanya bisa mengelus dada. Ini cuma persoalan uang. Dan itu yang tidak bisa diperolehnya saat ini. Orang-orang yang bisa dimintai bantuan uang yakni Firman, Nyai, atau Zannah, saat ini sedang tidak berada di rumah. Zannah sendiri belum tahu pergi kemana. Ia pergi bersama Devi sejak pukul 10 pagi tadi. Rumahnya dibiarkan kosong tanpa dikunci. Sedangkan Nyai dan Firman masih kerja.
Nyak masih terlihat mengelus-elus pipi Dalih lembut. Mata Dalih sudah terlihat kuyu. Ia sudah lelah sekali terus mengoceh, tapi tidak bisa berhenti. Anumpun membisu. Mungkin ia sedikit menyesal karena meluapkan emosinya semalam. Seharusnya ia bisa lebih menahan diri.
Nyak bangkit dari tempat duduknya. Tangannya menggandeng tangan Dalih, sehingga lelaki berambut plontos itu pun ikut bangkit berdiri. Nyak kemudian berjalan ke luar rumah menuju satu ruang kosong di belakang rumahnya. Sebuah tikar pandan tergeletak di dalamnya. Dalih dituntun untuk duduk di atas tikar. Setelah duduk, Nyakpun lalu keluar dari ruangan itu. Pintunya ditutup dari luar.
Anum yang datang sambil menggendong Aldi hanya bisa terdiam dalam bingung. Ia tidak tega suaminya dikurung seperti itu. Selama ini Dalih tidak pernah dikurung karena ia tidak berbahaya. Suaminya tidak gila, hanya sedikit tertekan. Dalih juga belum pernah menyakiti orang, kenapa dipasung begitu.
“Udah lu pulang, no. Istirahat, biar Dalih Nyak yang urus. Ntar sorean baru kita bawa ke Cipto. Ye…?”
Nyak menyuruh Anum pulang. Pikir perempuan tua itu, ketimbang melihat Anum dan Dalih yang mengundang iba itu saling menyesali diri, lebih baik keduanya dipisah ruang aja. Biar Dalih dikurung, karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Nanti kalau obatnya sudah diminum, anaknya pasti sembuh. Seperti tempo hari. Jadi biarlah untuk sementara menunggu, Dalih dibiarkan sendiri.

Bagian 7
Cuaca tahun ini memang tidak menentu. Bayangkan saja, sejak bulan April lalu musim kemarau sudah melanda negeri. Banyak petani daerah yang mengalami gagal panen karena salah perkiraan. Lahannya kekeringan. Namun memasuki ujung tahun, hujan mengguyur tak henti. Beberapa rumah di kawasan Cilangkap ini tergenang air. Beruntung rumah kontrakan Sophia merupakan bangunan baru yang memiliki fondasi dan lantai yang tinggi. Jadi, ketika dari jendela rumahnya melihat para tetangga sibuk menguras air dari teras mereka, ia malah duduk tenang sambil membersihkan kuku.
Hujan di luar masih lebat. Suara guntur sesekali terdengar. Hari masih siang namun awan mendung membuatnya nampak seperti sore. Sophia buru-buru menutup telinganya tatkala kilatan petir menggelegar keras. Jantungnya berdegup kencang. Sejak kecil ia memang takut sekali dengan petir. Siapa yang tidak? Ia kemudian bangkit dan melangkah menuju kamar. Pintu dikuncinya. Ia lalu berbaring dan menutup kepalanya dengan bantal. Sebuah selimut ditariknya untuk menutupi tubuh. Sophia menggigil seperti anak kecil.
Suara petir masih terdengar sayup. Sophia teringat masa kecilnya. Saat hujan mengguyur dengan hebatnya dan petir seolah menyambar-nyambar tepat di atas atap rumahnya, ia memilih untuk meringkuk di sudut tempat tidur. Sendirian. Waktu itu Nyak masih sibuk di kebun buah mereka bersama Baba. Saudara-saudaranya masih di sekolah. Badannya ditutupi bantal dan sarung. Bedanya, bantal yang digunakan waktu itu begitu keras dan berat karena sudah lama tidak dijemur. Sophia kecil begitu ketakuan. Matanya tidak berkedip memandang seisi kamar. Ia takut kalau tiba-tiba muncul hantu lumpur. Bentuknya seperti tokoh komik si Hulk perkasa. Hanya saja tubuhnya terbuat dari lumpur yang menetes-netes setiap kali ia berjalan.
Hidung Sophia mencium bau lembab tanah kering yang diguyur air hujan. Mungkin roh tanah kering marah lantaran disiram air hingga becek. Makanya, hantu lumpur akan bangkit dan mencari mangsa anak-anak kecil seperti dirinya untuk dimakan. Tentu saja hal ini hanya phobia anak kecil belaka. Hantu lumpur hanya halusinasi ketakutan Sophia kepada kolaborasi hujan lebat dan petir yang selalu menghadirkan bau tanah lembab yang menyengat. Hingga ia dewasa pun, hidung Sophia paling peka terhadap bau yang satu ini. Meski ketakutannya tidak separah masa kecilnya dulu.
Begitu Sophia membuka mata, ia sadar kalau dirinya tertidur tadi. Suasana hangat dan empuknya kasur membuat matanya meredup dan akhirnya tertidur pulas. Hujan sudah reda. Suara kesibukan tetangganya menguras dan mengeringkan lantai rumah mereka masih terdengar di luar sana. Ia merasa enggan keluar rumah.
Jalanan terlihat becek. Ia tidak mau mengotori kaki dan lantai rumahnya yang selamat dari banjir dengan lumpur. Lagipula Sophia tidak punya tujuan keluar dari rumah. Ia memang tidak masak hari ini seperti hari-hari sebelumnya. Karena meskipun Irul tidak sedang berada di rumah, ibu mertuanya tetap setia mengantarkan makanan untuknya. Ini adalah bentuk perhatian yang berlebihan dari seorang mertua kepada menantunya.
Sebenarnya, anggap saja ini adalah perwujudan kesepakatan yang tidak terucap bersama mertuanya bahwa selama Irul berada di Serang, Sophia harus rela dimonitor sewaktu-waktu oleh ibu mertuanya di rumah kontrakan mereka. Tameng monitoring ini tidak lain adalah dengan mengantarkan makanan ke rumahnya. Ibu hanya ingin memastikan bahwa menantunya itu baik-baik saja di rumah, dan tidak pergi kemana-mana. Sebagai gantinya, ia tidak harus tinggal seatap lagi dengan sang mertua.
Sophia tahu kalau dirinya sangat kelewatan bila sampai membiarkan tetangganya tahu, Nyak dan Babanya tahu, bahwa makannya sehari-hari dimasak dan disediakan oleh mertuanya. Dihantar lagi. Tapi Sophia juga tahu kalau perbuatan ibu mertuanya adalah amanat putranya sendiri, Irul. Jadi seperti biasa, Sophia mengambil jalan aman saja. Dia tidak mau bersitegang dengan ibu mertuanya. Yang utama saat ini adalah ia tidak seatap lagi dengan mertuanya. Ia tidak mau menderita serba salah lagi di sana. Sophia lebih memilih untuk kesepian di rumah. Tidak ada televisi dan radio. Ia juga tidak begitu akrab dengan para tetangga. Ia hanya berdiam di rumah dan tidur sambil menunggu ibu mertuanya datang.
Pada saat-saat hening di rumah, Sophia sering teringat akan masa lalu hidupnya. Waktu yang ada digunakan untuk itu. Membuka ingatannya seperti menonton mozaik-mozaik kisah dirinya dari waktu ke waktu. Lembar masa kecil adalah masa yang paling sering dibukanya. Betapa dirinya sempat menjadi anak yang terpinggirkan.
Dulu sebelum Nyai, adiknya lahir, semua orang menyayanginya. Kata Nyak, dari antara anak-anaknya yang lain, Sophia mempunyai latar belakang yang istimewa. Dia diberi nama oleh seorang ulama pemimpin sebuah pesantren di Jawa Tengah. Saat itu sang ulama yang keturunan Pakistan berkunjung ke kampung mereka untuk memberi ceramah di mesjid dan mengajarkan pendidikan agama Islam ke rumah-rumah warga. Ketika ulama itu datang ke rumah mereka, Nyak baru saja melahirkannya. Sebagai umat yang merasa terhormat telah dikunjungi seorang ulama, Nyak pun meminta nama bagi putrinya. Tercetuslah nama Sophia.
“Sophia merupakan nama seorang filsuf perempuan di Timur Tengah. Semoga anak ini menjadi wanita yang bijaksana,” kata sang ulama menerangkan. Lelaki berjanggut tebal dan berjubah hijau itupun berulangkali mengatakan betapa cantiknya Sophia kala itu. Sebagai cenderamata, sang ulama memberi sebotol kecil minyak gosok yang bisa digunakan juga untuk pengganti minyak telon. Aromanya khas rempah-rempah dari Arab, kata sang ulama lagi.
Bagi Nyak, apapun yang diberikan oleh seseorang yang sangat dipercaya pastilah baik. Nama Sophia tidak ditambah embel-embel apapun.Doa kebijaksanaan cukuplah. Karena itu minyak tersebut dibalur ke kulit lembut Sophia kecil sampai tetes terakhir. Baunya begitu menghangatkan. Para tetangga dan kerabat pun jadi tidak pernah puas untuk menggendong dan menimang Sophia. Ia begitu digandrungi setiap orang yang berada dekat dengannya. Hingga setahun berselang, Nyak melahirkan adiknya, Nyai Lestari. Timangan Nyak tidak lagi dirasakannya. Sophia bahkan lebih sering berada di rumah tetangga ketimbang di rumahnya sendiri. Hingga usia dua tahun, Sophia sering diasuh oleh Bu Lani tetangganya.
Dulu sebelum Bu Lani menikah dengan Pak Arman suaminya, Pak Arman sudah tinggal di rumah kontrakan kecil di samping rumah Nyak, kontrakan yang kini ditinggali oleh Tante Betty. Ia merupakan salah satu staf bagian perbekalan di Mabes TNI yang ada di kawasan itu. Setelah menikah, mereka membeli sepetak tanah Baba dan membangun rumah beton dua lantai di atasnya. Hingga Sophia berusia empat tahun, ia masih sering bermain di rumah Bu Lani. Apalagi perempuan itu baru saja melahirkan anak pertamanya. Gantian, Sophia kini yang menjagai bayinya.
Kadang, Sophia diajak ke Mabes TNI oleh Pak Arman bersama Bu Lani dan bayinya. Mereka berangkat naik mobil truk tentara yang dikemudikan oleh adik sepupu Bu Lani yang juga bekerja di sana. Sophia begitu bersemangat. Belum pernah ia melihat lapangan hijau yang begitu luas sebelumnya. Ada banyak lelaki dewasa tegap yang berukuran empat kali tubuhnya di sana. Mereka besar sekali, pikirnya. Waktu itu Sophia bertanya-tanya dalam hati, apa yang mereka makan hingga memiliki tubuh besar seperti itu?
Sophia juga melihat pesawat tempur, mobil tank, dan puluhan unit truk berwarna hijau lumut. Dan yang paling disukai Sophia kalau bersama Pak Arman dan keluarganya adalah ia bisa makan enak sepuasnya. Kebetulan Pak Arman selama beberapa waktu menanggungjawabi bagian konsumsi prajurit. Jadi bisa ditebak kalau makanan enak berlimpah menjadi menu istimewa Sophia. Hal ini tentu sangat berbeda dengan kondisi yang ditemuinya di rumah. Makanan yang tersedia ala kadarnya. Nyak terlalu sibuk mengurus Nyai, ke kebun, mengerjakan pekerjaan rumah. Sophia seperti ditinggalkan. Kedua abangnya sibuk bermain, Zannah yang tertua sibuk mencari ikan di empang untuk lauk mereka.
Bersama Bu Lani Sophia merasa bahagia. Kapanpun ia mau datang, Bu Lani selalu menyambutnya. Rumah itu sudah seperti rumah kedua baginya. Rumah Bu Lani memang terlalu besar untuk ditinggali hanya bersama suami dan bayinya. Rumah besar itu pun belakangan ditempati juga oleh seorang kerabat dekat Bu Lani yang sering mengantar mereka ke Mabes dengan truk. Sophia lupa siapa nama lelaki itu. Ia hanya biasa memanggilnya dengan sebuatan ‘om’. Wajah Om juga samar-samar diingatnya. Lelaki itu tidak tinggal lama di rumah Bu Lani.
Sophia ingat sekali, kalau dirinya itu takut sekali bila melihat Om. Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Padahal tampang Om tidak buruk atau menakutkan. Banyak prajurit yang pernah ditemuinya di Mabes yang jauh lebih besar dan sangar, namun tidak membuatya bergidik. Untuk Om, sangat berbeda. Sophia tidak mengerti. Padahal seingatnya Om terlihat sayang kepadanya. Ia sering digendong dan diajak jajan ke warung. Diajak bermain dan bercanda bersama Indra, anak Bu Lani.
Sophia ingat kalau dirinya sering merasa kegelian jika wajahnya diciumi Om pakai kumisnya. Ia seperti disentuh ulat bulu. Pokoknya Sophia tidak suka banget dicium Om. Geli! Tawanya merekah mengingat kenangan itu. Untung saja Irul bukan lelaki berkumis, kalau iya, wah bisa berabe.
Dimana Om sekarang yah, Sophia membatin. Ia tidak ingat kapan kali terakhir bertemu Om. Ia bahkan tidak melihat Om pergi dari rumah Bu Lani. Yang dia ingat, Baba secara mendadak melarangnya untuk datang lagi ke rumah itu. Baba juga pernah dilihatnya marah-marah kepada Bu Lani. Apa yang memicu kemarahan Baba, yah? Batin Sophia mulai terusik. Apalagi semenjak itu keluarganya menjadi tidak harmonis lagi dengan keluarga Bu Lani. Batas rumah Bu Lani dengan tanah Baba kemudian dipagar keliling dengan tembok. Sophia juga mulai jarang berkomunikasi dengan tetangga yang selama hampir empat tahun itu mengasuhnya, memberikan kehangatan keluarga baginya.
Terbersit di benaknya untuk mengunjungi Bu Lani kembali. Meski keakraban mereka sudah berlalu selama lebih dari dua puluh tahun, namun Sophia ingin bertemu lagi. Bukan kunjungan sebagai tetangga biasa, melainkan ingin bertemu demi masa lalu yang indah. Sophiapun mencari hari yang tepat untuk datang.
Ketika tiba harinya, ternyata Bu Lani sedang tidak berada di rumah. Aliyah, putri bungsunya yang menemuinya di sana. Belum tahu kapan Bu Lani akan kembali, Sophia pun kemudian pergi ke rumah Nyak. Seperti biasa, rumah besar itu terlihat lengang. Pintu depan terbuka lebar. Di depan rumah Firman yang berdempet dengan rumah Nyak, terlihat Opang -putra kedua Firman- bermain dengan seekor kelinci putih. Sophia menyapa sekadarnya. Ia tersenyum dan memanggil nama keponakannya itu. Anak berusia tiga tahun itu melihat ke arahnya begitu mendengar namanya disebut. Tapi dasar bocah, Opang memandang tanpa ekspresi ke arahnya. Sebentar, kemudian kembali fokus kepada kelincinya. Sophia pun acuh. Ia melangkah masuk ke rumah.
“Assalamualaikum..” Sophia menunggu balasan salamnya sembari terus menelusuri lorong rumahnya menuju dapur.
“Walaikumsallam..” Suara Nyak terdengar lemah dari arah dapur.
“Ncop..” Panggil Nyak begitu wajah mereka bertemu di dapur.
“Ya, Nyak. Lagi apa?” “Gak ada. Duduk no, di sini,” Nyak menggeser sebuah kursi makan ke arah Sophia.
“Kagak masak, Nyak?” seru Sophia basa-basi melihat Nyak nampak tidak sedang melakukan kegiatan memasak seperti yang biasa ia lakukan pada jam-jam seperti ini.
“Apa yang mau dimasak? Belanja kagak ada?” Nyak bicara tanpa menoleh ke arah Sophia. Wajahnya nampak lesu.
Sophia menghela nafas lemah. Ia kemudian duduk mendekat di samping Nyak di kursi makan. “Masak sih sama sekali kagak ada, Nyak?”
“Kagak ada,” Nyak mempertegas ucapannya kembali. Mereka pun terdiam.
Sophia berpikir untuk memberikan sejumlah uang kepada Nyak. Tapi apa cukup? Dan sampai kapan? Sophia menghela nafas lagi. Ia lalu membuka tas dan mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya. Uang itu kemudian diletakkan di atas meja.
“Ini buat belanja,” katanya sambil menggeser uang itu ke arah Nyak.
Perempuan itu melihat wajah Sophia. Tanpa bicara, uang itupun diraihnya. Tidak pernah Sophia melihat Nyak yang bawel sampai susah berkata-kata seperti saat sekarang ini. Mungkin saja sudah beberapa hari ini Nyak tidak masak. Sampai-sampai mulutnya terkatub begitu. Matanya tidak lagi merasa perih terkena asap dari tungku.
“Ya udah sono, belanja. Ntar kelamaan lagi masaknya.”
Nyak mengangguk pelan atas ucapan putrinya, lalu bangkit berdiri. “Nyak tinggal dulu yah. Warung Nyak Sati kali masih sedia sayuran.”
Nyak baru saja akan melangkah ke arah pintu depan rumah hendak berbelanja tatkala Baba muncul di depan mereka di balik tirai. “Nong…..” ujarnya memanggil Nyak.
Di tangannya terlihat kantong plastik warna putih berisi bahan masakan. Seikat kangkung dan dua batang tempe. Baba belanja makanan. “Ini masak,” tukasnya sembari menyodorkan bungkusan plastik itu..
Nyak tampak sedikit kaget. Soalnya, kemarin malam sewaktu ia bicara soal belanja buat hari ini, Baba nampak tidak bergeming. Tadi pagi juga ketika melihat Nyak duduk termangu di kursi makan, Baba tampak acuh. Tidak ada tanda-tanda bahwa Baba hendak menyuruhnya belanja atau masak makanan hari ini. Karena biasanya kalau Nyak tidak masak di rumah, mereka berdua pasti makan ala prasmanan ke rumah anak-anaknya yang tinggal di sekeliling rumah mereka. Tanpa banyak komentar Nyak lalu mengambil kantongan plastik itu. Ia pun mulai mengerjakan masakannya.
“Kapan datang, Phia?” tanya Baba begitu menyadari kehadiran putrinya.
“Barusan, Ba,” jawab Sophia singkat. Baba mengangguk pelan sebagai respon. Kemudian ia balik kanan dan pergi ke arah depan rumah.
“Nyak balikin, nih…..”
“Udah, simpan aja,” potong Sophia sebelum Nyak berkata hendak mengambil atau mengembalikan uang yang tadi diberikan Sophia. Nyak menganggukkan kepala. “Ya, deh..” ujarnya sambil tertawa kecil. Nyak mengambil baskom besar dari atas lemari kayu tua di sudut ruangan dan mulai memetik daun kangkung untuk dimasak.
“Gimana Irul, dah ada kabar dari dia?” Nyak mulai bawel lagi, pikir Sophia. Ia pun menggeleng. “Kagak ada. Irul belon ada nghubungin ke rumah. Minggu depan kali dia balik,”
“Mudah-mudahan berhasil yah tambaknya. Biar kita bisa makan udang sepuasnya. Dibakar cakep banget tuh,” Nyak tertawa renyah. Dalam bayangannya, tambak udang Irul akan menjadi berkah tersendiri bagi mereka. Sudah lama Nyak tidak makan seafood. Udang tambak pastilah lezat, pikirnya.
“Mudah-mudahan, Nyak,” Sophia berusaha ikut tersenyum.
“Gimana kabar Mpok, Mamak Ipul?” tanya Sophia mengenai kondisi istri Firman yang hampir meregang nyawa lantaran melahirkan anak ketiganya.
“Udah mendingan. Cuma yah gitu, kagak bisa kerja berat-berat. Tuh tadi Nyak baru nyuciin baju mereka,” Sophia mendengar tanpa bereaksi. Dalam hati ia merasa miris melihat Nyak di usianya yang senja, kelima anaknya masih saja hidup menempel bagai parasit padanya. Padahal ia sudah cukup kesulitan dengan urusan perut sehari-hari. Apakah keluarga mereka memang ditakdirkan untuk hidup serba kekurangan begini? Sophia cepat membuang jauh kegelisahan dalam hatinya. Karena itu hanya akan menyudutkannya saja.
Kemiskinan bukan takdir, bantahnya kemudian terhadap pertanyaannya sendiri. Karena itu, ia sama sekali tidak ingin hidup seperti Nyak. Menjadi istri pekerja keras namun tidak mampu mendongkrak keuangan keluarga. Anaknya banyak namun ketika dewasa tidak bisa hidup mandiri. Huh, batin Sophia terlalu capek untuk dibebani persoalan keluarganya lagi. Salah Nyak sendiri, kenapa masih punya pikiran kolot, gerutunya.
Sophia tidak terlalu mendengar apa yang diucapkan Nyak. Sebab, sejak tungku apinya mulai mengepulkan asap lagi, bibir Nyak mulai tidak berhenti berkicau. Ada saja yang dibicarakannya, Sophia capek meladeni.
“Nyak, Bu Lani kagak pernah keliatan lagi yah?” Sophia memotong pembicaraan dengan nada basa-basi. Nyak pun langsung menyambar pertanyaan Sophia dan meninggalkan pembicaraannya tadi.
“Ada kok. Lu aja yang jarang kemari. Ada tuh di rumahnya, dateng aja kalo mau,”
“Udah tadi. Tapi kagak ada, lagi pegi,” Nyak ber-oo panjang setelah mendengar keterangan Sophia. “Dienya dateng kok pas kawinan elu. Liatkan?”
Sophia mengangguk. Tentu saja Bu Lani dan Pak Arman datang ke pestanya. Sedangkan saudara yang tinggal di luar kota saja datang, apalagi tetangga di samping rumah yang cuma berjarak satu dua meter. Sophia melihat mereka hadir dan membuat persiapan konsumsi di pesta kawinnya.
“Rumah Bu Lani. Gue mainnya di sana mulu ya, ampe umur empat taon,”
“Iya, lu demennya ke rumah situ. Ampe dikirain orang lu diadopsi ama si Arman karena lama kagak punya anak,”
“He…he.. Kenapa Ncop kagak diadopsi aja yah, Nyak, ama Bu Lani. Kan enak, ya,”
“Hus, elu. Nyak capek-capek ngelahirin elu, malah pengen diambil orang. Durhaka lu,” Wajah Nyak sedikit cemberut. Sophia terkekeh melihat wajah Nyak. Nyak memang paling gampang digoda. Wajahnya paling tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
“Tapi, Nyak, kenapa Ncop dulu dilarang Baba main ke rumah Bu Lani. Padahalkan Ncop enak-enak di sana?” Nyak tidak segera menjawab. Ia pergi ke tungku untuk melihat kondisi api. Sophia menunggu. Ia menangkap keengganan Nyak untuk menjawab pertanyaannya tadi. Sampai Sophia mengulang untuk kedua kalinya pun, Nyak seperti tidak berniat untuk menanggapi.
“Nyak! Ditanyain malah diem,” tukas Sophia kesal, tidak juga digubris. Nyak pun tidak bisa mengelak lagi.
“Nyak kagak tahu. Tanya no, sama Baba,” Nyak kembali menyibukkan diri di tungku. Sophia benar-benar merasa kesal kini. Nyak tahu benar kalau Baba tuh paling susah diajak ngobrol sama anak-anaknya.
Baba juga mungkin sudah lupa. Kejadiannya sudah lama sekali. Keluarganya dengan Bu Lani juga nampak sudah tidak renggang lagi seperti waktu dulu.
“Nyak, Ncop mo pamit,” “Buru-buru banget, Ncop? Makan dulu di sini,”
Nyak bangkit berdiri untuk menyusul Sophia yang sudah melangkah ke pintu depan.
“Kagak usah, Nyak,” Sophia berkata tanpa menoleh kembali. Nyak pun menghentikan langkahnya. Matanya masih memandangi punggung Sophia yang mulai melangkah meninggalkan rumah. Sophia kecewa Nyak tidak bisa memenuhi rasa ingin tahunya. Mana pura-pura panglinglah, pura-pura sibuk. Sebel. Sepanjang jalan Sophia ngedumel. Tak lama, kakinya sudah berdiri di depan pagar rumah Bu Lani. Pekarangan sempit dipagar besi berwarna hitam. Sophia membuka gerbangnya dan masuk. Saat ia menutup gerbang kembali pintu rumah dibuka dari dalam. Muncul sosok perempuan berusia sekira 40 tahunan. Ia mengenakan daster coklat liris putih.
“Phia..!” sapa perempuan itu setengah terkejut.
“Eh, Bu Lani. Pa kabar?” Sophia tersenyum begitu melihat siapa yang datang menghampiri, menyambutnya di pintu masuk.
“Alhamdulilah baek. Aliyah tadi bilang kalo lu kemari, tapi Ibu kagak di rumah. Pergi ke rumah sodara bentar. Masuk yuk,” Bu Lani meraih tangan Sophia dan menuntunnya masuk ke rumah dengan akrab.
“Apa kabar? Gimana penganten baru, udah ada tanda-tanda belon?”
“Yah, gitu deh. Alhamdulilah Phia baek-baek aja. Tapi yang satu itu belon ada tanda-tanda, Bu,” kata Sophia masih dengan senyumnya.
“Kagak pa-pa. Ntar pasti dikasih deh. Ibu dulu juga lama dikasihnya, dua taon,”
Mereka berdua duduk di kursi tamu. Bu Lani banyak bertanya tentang kehidupan baru Sophia. Ia begitu antusias ingin tahu kabarnya. Mungkin karena sudah terlalu lama Sophia tidak hadir di rumah ini. Makanya Bu Lani tampak heboh. Kehangatan sikap Bu Lani masih sama seperti dulu. Sementara Bu Lani berkata ini-itu, Sophia justru lebih banyak memperhatikan seisi rumah. Kontur bangunannya, furniturnya. Aroma ruangannya yang kini lebih segar ketimbang bertahun-tahun lalu. Teknologi sekarang sudah maju, banyak tersedia produk pengharum ruangan sekarang. Tidak banyak yang berubah. Seingat Sophia, belum pernah dilakukan renovasi terhadap rumah ini. Langit-langit rumah masih sama tingginya seperti saat Sophia masih kanak-kanak, jauh diraih. Hanya furnitur di rumah ini sekarang lebih banyak dan modern.
“Phia, mau minum apa? Sampe lupa nawarin tamu. He..he.. Aliyah..Aliyah..”
Bu Lani memanggil putrinya begitu menyadari tamunya sudah terlalu bosan dengan pembicaraannya. Sophia sering terlihat tidak fokus menjawab pertanyaannya. Mungkin Sophia terlalu lama menunggu jeda untuk bisa membicarakan topik lain selain tentang kehidupannya saat ini.
“Apa aja, deh.” jawab Sophia singkat. Tak lama gadis berusia sekitar 15 tahun yang ditemuinya di beranda tadi pun muncul.
“Buatkan sirup dingin buat Mpok ye..” pesan Bu Lani. Gadis itu pun langsung berlalu.
“Jadi sekarang suamimu di Serang? Terus lu betah ditinggal sendiri?”
“Yah gak betah dong, Bu, ditinggal. Tapi yah, terus terang lebih baek tinggal sendiri ketimbang ama mertua,” Mereka berdua tertawa mendengar ucapan jujur Sophia. Bu Lani berpikir bahwa mertua Sophia pasti amat bawel sehingga sampai dihindari begitu oleh Sophia.
Aliyah kemudian muncul dengan segelas sirup dingin rasa strawberi. Begitu disuruh minum, Sophia tidak menunggu lebih lama. Minuman itu ditenggak dengan begitu bernafsu. Ia memang sudah merasa haus. Sirup itu membuat semangatnya meningkat.
Pikirnya, rumah ini memang selalu menyenangkan hatinya. Bahkan pada saat ini pun. Bu Lani seperti tahu apa yang diinginkan Sophia. Lantas, tanpa membuang waktu dengan pembicaraan tentang perkawinannya, Sophia pun mencoba mengarahkan topik kepada cerita di masa lalu. Ia menanyakan kembali pertanyaan yang telah diajukan kepada Nyak tadi. Mengapa dulu Baba melarangnya kembali ke rumah ini? Mengapa keluarga mereka sempat bersitegang?
Wajah Bu Lani berubah drastis. Ia seperti tidak menduga bakal ditanya tentang hal itu. Bu Lani jadi tidak seceria tadi. Alis matanya kini mengkerut, seolah menganggap bahwa pertanyaan Sophia tadi sudah basi atau merasa miris karena telah membuka ketegangan masa silam yang sudah tidak punya makna lagi kini. Lama Bu Lani baru menjawab.
“Lu, beneran kagak tahu?” Bu Lani malah balik bertanya.
“Kagak. Nyak ama Baba kagak pernah ngasih tahu. Lagipula ini cuma peranyaan usang yang tiba-tiba muncul karena sejak dilarang Baba, baru kali ini masuk rumah ini lagi,” Sophia mencoba membuat alasan agar pertanyaan itu terdengar masuk akal untuk diungkapkan saat ini tanpa bermaksud meninggalkan kesan menyelidik yang berlebihan kepada Bu Lani.
Bu Lani nampaknya lebih terbuka ketimbang Nyak. Perempuan itu tidak lantas berpura-pura sibuk atau mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. Sophia sangat berharap ia segera mendapatkan jawaban yang jujur. Sebab, Sophia merasa butuh tahu kenapa waktu itu Baba begitu marah kepada keluarga Bu Lani dan melarangnya untuk datang ke tempat dimana ia merasa disayangi dan diperhatikan. Kebungkaman Nyak tadi semakin memperbesar rasa ingin tahunya.
“Lu benar-benar pengen tahu kenapa?” Sophia mengangguk pasti.
Bu Lani menghela nafas sejenak untuk mendukung usaha penjelasannya. “Baba marah ama Ibu, karena kagak bisa jagain elu dengan benar,” Sophia mengerutkan dahi mendengar penuturan Bu Lani. Karena, apa yang dikatakannya barusan sangat berbeda dengan apa yang dari dulu dirasakannya di sini.
“Kagak bisa dijaga gimana? Sophia dulu senang kok di sini,”
Bu Lani menggelengkan kepalanya seperti yakin membantah perkataan Sophia. Sophia menjadi semakin bingung. Bu Lani lalu menatapnya lekat. Tangannya menjulur ke telapak tangan Sophia.
“Lu nyaris diperkosa, Phia. Di depan hidung Ibu. Di sini, di rumah ini,” kata Bu Lani seperti terbata. Jantung Sophia seperti dipompa dengan kecepatan tenaga kuda. Mulutnya menganga dan matanya melotot. Apa yang baru saja didengarnya seperti hal yang mustahil terjadi. Diperkosa? Kapan? Sophia tidak pernah ingat akan pengalaman yang mengerikan seperti itu. Apalagi di rumah ini. Lantas siapa pula orang yang tega menodai gadis kecil tak berdosa seperti dirinya?
“Sophia kagak pernah tahu cerita itu. Phia kagak ngerti, Bu,”
Bu Lani kembali mengehela nafas. Ia lalu mulai menceritakan kejadian yang mengejutkan dirinya, suaminya, dan orangtua Sophia. Ia memulai ceritanya dari nama si pelaku. Lelaki biadap itu adalah adik sepupu Bu Lani sendiri yang sempat tinggal bersamanya di rumah ini. Ia seorang tentara dan bekerja di bagian yang sama dengan suaminya di Mabes TNI.
“Om?” ucap Sophia tak percaya.
“Kau memanggilnya ‘om’? Yah, dia orangnya, Phia. Dia menindih lu di kamar mandi, di tempat tidur, di sofa, entah dimana lagi. Ibu baru tahu setelah melihat dia melakukannya di kamar tidurnya di lantai dua,” Bu Lani mengusap-usap tangan Sophia yang berkeringat.
“Lu begitu polos dan tidak tahu apa yang sedang dilakukannya sama lu waktu itu.”
Wajah Sophia memerah seperti baru saja disiram air mendidih. Dirinya benar-benar tidak habis pikir akan apa yang baru saja didengarnya. Ia tidak menyangka pernah mengalami hal yang begitu mengerikan di usianya yang masih sangat kecil. Dan lelaki laknat itu, orang yang pernah disangkanya begitu sayang kepadanya ternyata telah menodai tubuh kecilnya.
Sophia tidak sanggup mendengar semua ini. Badannya menjadi lemas. Tulang-tulangnya seperti rontok. Pantas saja Nyak tidak mau berterus terang padanya tadi. Aneh, Sophia sama sekali tidak pernah ingat atau merasakan kalau dirinya pernah dilecehkan. Hanya saja memang Om, lelaki bangsat itu, membuatnya takut. Pada waktu itu ia tidak tahu kenapa, tapi sekarang semua menjadi jelas. Oh, Tuhan, ingin rasanya Sophia tidak mempercayai kebenaran ini. Sungguh di luar akal sehatnya. Rasa takut akan Om dulu seperti muncul kembali di dalam dirinya. Rasa takut yang bercampur amarah.
Hal ini membuat pikirannya bercabang-cabang. Diraihnya gelas berisi sirup lalu diteguknya sampai habis. Bu Lani memperhatikan perubahan sikap Sophia dengan wajah gelisah. Ia tahu Sophia pasti shock mendengar penuturannya. Tapi menurut hematnya, Sophia perlu tahu apa yang pernah menimpa hidupnya di masa lalu. Berharap Sophia sudah cukup dewasa untuk mendengar hal itu. Namun ketika melihat kegelisahan yang terpancar dari wajah dan gelagat Sophia, Bu Lani menjadi ragu apakah yang sudah dilakukannya benar.
Tak satupun kata yang terucap dari mulut Sophia. Bu Lani lalu duduk tepat di sebelahnya. Tangan yang mulai berkerut dimakan usia itu menggenggam erat kedua tangan Sophia yang terus berkeringat cemas.
“Lu kagak pa-pa, Phia? Jangan kuatir, lelaki itu sudah mendapat ganjarannya. Dia udah dimutasi dari Mabes,” ujar Bu Lani pelan untuk mencoba menenangkan Sophia.
Ganjaran? Siapa yang perduli dengan ganjaran setelah apa yang terjadi dengannya, teriak hati Sophia. Seharusnya pelecehan itu yang tidak usah terjadi. Sophia tidak lagi begitu mendengar sisa percakapan mereka. Setelah memberi kepastian bahwa dirinya baik-baik saja, ia pun pamit pulang.
Seluruh cerita masa lalu yang didapatnya hari ini terus membekas di benak Sophia. Ia terus bertanya dalam hati, mengapa ia harus pernah mengalami pelecehan seksual? Membayangkan Om dengan nafsu setannya tega menodai anak sekecil itu yang belum tahu apa-apa. Sophia merasa kotor, ia merasa dicampakkan ke dalam kubangan hewan. Mendadak rasa ketakutan yang amat sangat muncul dalam dirinya. Bagaimana kalau orang-orang tahu? Irul, mertuanya?
Langit seolah berwarna kelam di matanya. Pengalaman itu seperti menerornya setiap saat. Ia lalu pergi ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan air berulang kali. Setiap senti kulit dan lekuk tubuhnya digosok sampai dirasa cukup untuk membuang noda yang selama bertahun-tahun menempel di kulitnya. Berendam di bak mandi selama lebih dari sejam, sampai kulitnya mengkerut. Namun bisa membuat dirinya merasa sedikit tenang.
Di depan ibu mertuanya yang masih terus mengantarkan makanan untuknya, Sophia mencoba bersikap senormal mungkin. Ia bahkan jadi terlihat lebih ramah dan penurut. Ia tidak mau mertuanya tahu latar belakang hidupnya. Pemerkosaan itu adalah aibnya, tidak boleh diketahui orang banyak.
Sophia bingung apakah dia bisa bersikap normal seperti biasa saat Irul nanti kembali. Bagaimana kalau ketahuan, lantas Irul meninggalkannya karena sudah terkotori? Lagipula selama ini hubungan intim mereka tidak pernah beres. Ini mungkin penyebabnya. Di tambah lagi memikul sebuah beban kebenaran baru yang begitu menyakitkan kepala.
Sophia pusing tujuh keliling. Perasaannya bertambah tidak karuan ketika ibu mertuanya mengabarkan bahwa Irul belum bisa pulang seperti waktu yang dijanjikannya. Ada masalah dengan tambak mereka. Hujan deras yang datang tanpa henti membuat air tambaknya meluap. Sebagian besar benih ikut tersapu keluar tambak. Karena itu Irul bersama Ozy harus bekerja lebih keras untuk membuat tanggul agar air tidak lagi meluap. Dan itu butuh waktu, tenaga, dan dana yang cukup besar.
Timbul rasa iba pada diri Sophia. Suaminya pasti sedang merasa susah hati saat ini. Ia merindukan Irul. Tinggal sendiri dalam suasana yang kalut membuatnya merasa butuh berada dekat seseorang. Irul. Ia ingin ditemani saat ini. Ia tidak lagi merasa nyaman hidup dalam ketakutan sendirian. Sophia lalu memutuskan untuk tinggal dengan Nyak. Tentu saja tindakannya ini memicu protes dari sang mertua. Tapi Sophia berkeras. Ia butuh Nyak saat ini. Ia akan tinggal di sana sampai Irul kembali.

Bagian 8
Tinggal bersama keluarganya kembali membuat suasana hati Sophia mulai stabil. Keramaian sedikit bisa mengusir ketakutannya. Sehari-hari ia disibukkan dengan menjagai keponakan-keponakannya yang masih kecil. Adit, anak Nyai adiknya adalah keponakan yang paling disukainya. Anaknya cerdas, cakap, dan sehat. Selagi Nyai bekerja di salah satu swalayan di kota itu, Adit menjadi asuhannya. Namun terkadang Sophia terpaksa mendekam di rumah Nyak karena Adit dijagai bapaknya di rumah.
Suami Nyai itu pengangguran. Sehari-hari dia hanya sibuk dengan ternak ayam yang tidak banyak jumlahnya, atau menunggui rumah dan mengawasi Adit, putra semata wayang mereka. Sophia kebagian mengasuh kalau suami Nyai menitipkan Adit kepada Nyak. Sementara Nyak memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, Sophia bermain dengan keponakannya di ruang tamu. Suara canda tawa Adit dan Sophia terdengar riuh sampai ke dapur.
Baba dan Nyak sedang bersantap siang. “Sophia kagak makan?” tanya Baba sambil mengunyah jengkol mentah. Ia mendengar suara Sophia dan Adit yang tidak henti bermain di ruang tamu.
“Udah makan katanya tadi,” jawab Nyak sekenanya.
“Kapan? Tadi pagi? Nasinya juga baru mateng,”
“Yah, makannya tadi di warung Padang,” Baba sedikit heran mendengar keterangan istrinya. Apakah Sophia terlalu merasa kelaparan tadi sehingga tidak bisa menunggu sampai Nyak selesai masak baru makan bersama, pikirnya.
“Ncop lagi punya duit. Jadi yah pengen makan enak tinggal beli,” ujar Nyak enteng, sedikit menyindir mungkin. Ia tahu bahwa Sophia mulai terbiasa makan enak di rumah mertuanya. Jadi ketika melihat menu ala kadarnya seperti itu, ia tidak berselera.
Beberapa hari tinggal di rumah ini lagi, Nyak sudah bisa tahu perubahan di diri Sophia. Anak itu tidak mau makan atau minum dari dapurnya yang pengap, gelap, dan penuh barang-barang yang ditempatkan dengan sembarangan. Sophia bahkan tidak mau tidur di kamarnya yang dulu. Karena terlalu pengap. Berdebu lantaran sudah lama tidak ditempati. Ia malah memilih tidur di kasur yang diletak Nyak di ruang tamu lebarnya. Di sana memang lebih nyaman dan terang.
Seluruh pakaian dan barang-barangnya semasih gadis dulu yang ditinggal di rumah itu sudah disimpan rapi dalam kardus-kardus besar dan diikat rapat. Kardus-kardus yang mulai dihinggapi debu tebal tersebut dibiarkan teronggok di atas lemari baju. Sementara di dalam lemari dimasukkan barang-barangnya yang dibawa dari rumah mertuanya. Satu hal yang begitu menyita perhatian Nyak atas perubahan di diri Sophia adalah kebiasaan baru dimana ia mampu bertahan di kamar mandi hingga berjam-jam. Meski begitu, Nyak membiarkan hal itu berlangsung.
Dua kali seminggu Sophia datang mengunjungi ibu mertuanya. Ia datang untuk menanyakan kabar Irul. Sudah hampir 2 bulan ini Sophia sama sekali tidak bertemu dengan Irul. Sekali waktu Sophia menelpon Irul dari wartel ke telepon genggam milik Ozy. Namun saat itu suaminya hanya berkata-kata dengan singkat. Seolah tidak banyak cerita yang mesti diungkap. Sophia pun tidak terlalu ambil pusing terhdap sikap Irul yang dingin. Mungkin Irul sedang tidak enak hati karena usahanya terancam gagal, atau Irul masih kesal atas pertegkaran mereka terakhir.
Dalam hatinya ia berjanji, begitu Irul pulang ia akan merubah sikapnya. Selama berhari-hari ditinggal sepi oleh suaminya, Sophia mulai merasakan arti kehadiran Irul dalam hidupnya. Janji itu kemudian diuji ketika akhirnya Irul pulang dari Serang. Wajah Irul menghitam terbakar matahari pesisir. Tubuhnya juga agak kurusan.
Sophia menyambutnya dengan penuh perhatian layaknya seorang istri yang merindukan suaminya sehabis bepergian jauh dalam waktu yang lama. Sayangnya Irul seperti tidak berasa dengan perhatian yang diberikan Sophia. Sikap penurut yang ditunjukkan Sophia kepadanya malah disikapi sinis. Hingga dari mulut Irul keluar sebuah pernyataan yang menyakitkan hati Sophia. Bahwa sikap manisnya menyambut Irul hanya akting belaka.
“Sebenarnya lu seneng kan usaha gue berada di ujung tanduk. Doa lu terkabul supaya usaha gue gagal. Udah deh kagak usah belagak manis lu depan gue,” Irul menghempas tangan Sophia dari pundaknya. Sophia yang tadinya ingin memijat suaminya menjadi seperti ditampar. Kata-kata Irul picik sekali, pikirnya.
Sophia terdiam. Apa yang membuat Irul berpikir demikian, bahwa dirinya bahagia di atas kesusahan suaminya?
“Besok gue balik ke Serang. Kagak tahu kapan baliknya kemari. Paling juga sebulan lagi,” Irul membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dirinya seakan tidak perduli dampak yang ditimbulkannya karena berkata dengan tuduhan terhadap istrinya.
Suara dengakurannya mulai terdengar. Sophia juga mencoba untuk tidak terlalu mengambil pusing kata-kata Irul tadi. Dalam hatinya, Irul pasti sangat tertekan saat ini. Jadi omongannya sering keluar tanpa berpikir terlebih dahulu. Sophia lalu bangkit dari tempat tidur. Ia melangkah menuju lemari pakaian yang ada di sisi kiri ranjang. Sebuah tas besar dikeluarkannya dari rak yang paling bawah.
Ia kemasi pakaian Irul untuk berangkat besok. Sophia harus menyiapkannya tanpa disuruh. Sebab Irul akan punya alasan untuk memarahinya besok jika tidak menemukan tas berisi persiapannya untuk pergi ke Serang. Persediaan pakaian untuk sebulan sudah teronggok di balik kamar ketika Irul bangun keesokan harinya. Ia baru saja hendak membangunkan istrinya untuk berbenah. Setelah mengecek terlebih dahulu isinya barulah Irul pergi. Saat itu masih pukul lima pagi. Sejumlah uang ditinggalkannya untuk Sophia di bufet kamar. Kemarin Irul tidak memberi tahu akan berangkat pukul berapa. Mungkin ia sengaja tidak memberitahu istrinya kapan berangkat. Mungkin untuk mencegah pertengkaran yang bisa terjadi.
Sepeninggal Irul, Sophia pergi ke rumah Nyak. Namun ia tak lama tinggal di sana. Penyebabnya, Irul pulang lebih awal dari yang dijanjikannya. Tidak sampai seminggu ia sudah kembali. Kali ini Irul berkata bahwa ia tidak akan kembali lagi ke Serang. Tambak sudah dijualnya lagi. Uang yang kembali bukannya untung, malah menyusut hingga enam puluh lima persen. Rupanya kepulangan Irul ke rumah beberapa hari lalu adalah untuk memberitahu bapaknya tentang niat menjual tambak itu. Uang yang tinggal beberapa juta itu dikembalikan kepada bapak. Berikut permohonan maaf.
Terang bapak kecewa dan marah. Namun karena biaya operasional dan perbaikan tambak karena air pasang pada musim penghujan seperti ini begitu besar, tidak ada pilihan lain selain menjual tambak itu sebelum harganya semakin menyusut. Untuk membuat kondisi menjadi stabil seperti semula butuh modal baru lagi. Bapak tentu tidak bisa menambah modal, karena uang yang dibawa Irul tempo hari sudah terlalu besar. Apalagi Irul kemudian pulang dalam kondisi bangkrut. Sophia juga terpukul dengan berita itu. Kini mereka sama seklai tidak punya uang. Habis sudah. Dan hal terbodoh yang pernah didengar Sophia dari Irul adalah ketika dikatakannya bahwa tambak udang yang ‘setengah rusak’ itu ternyata dibeli oleh si cukong kembali. Sophia merasa suaminya ditipu, tapi Irul merasa tidak ditipu malah diselamatkan oleh si cukong. Sophia marah besar. Menyadari kepapaannya membuat Sophia panik.
“Gimana sekarang? Kita dah kagak punya apa-apa lagi sekarang. Lu udah ambil seluruh uang simpanan kita,” Suara Sophia terdengar berapi-api. Kekesalannya membuncah. Bayangan kemiskinan terpampang di depannya.
“Mau lu gimana? Gue bunuh tuh cukong terus uangnya gue ambil lagi. Gitu?” Irul malah ikut panas.
“Dasar lu laki-laki kagak punya tanggung jawab. Kerjanya nyusahin istri, orangtua,”
“Diam lu! Gue dampar lu,” tukas Irul geram sambil menahan telapak tangannya yang hendak menampar wajah Sophia.
“Hah? Lu mau pukul gue. Nah, pukul!” Sophia menyodorkan pipinya ke tangan Irul. Tapi laki-laki itu tidak bergeming. Ia menarik kembali tangannya. Amarah dialihkan ke dinding ruangan. Tangannya berdarah.
“Udah lu yang salah, malah elu yang marah-marah. Laki-laki apaan sih lu?” Sophia meninggalkan Irul di ruang tamu. Ruangan yang hanya diisi sepetak tikar itu menjadi hening. Kepala Irul benar-benar mau pecah. Kegagalannya ini memberi efek ganda terhadapnya. Untung tidak dapat diraih, malah dicecar oleh istri dan keluarganya.
Sophia terlihat buru-buru berjalan menuju pintu depan. Mengacuhkan Irul yang berdiri termangu melihatnya pergi menuju pintu depan.
“Mau kemana lu?” tanyanya sambil buru-buru bangkit menyusul Sophia yang hendak keluar dari rumah. Sebuah tas besar dibawanya serta.
“Apa-apaan sih, lu? Mau kemana?” bentak Irul kalap. “Mau pulang ke rumah Nyak,” jawab Sophia ketus. Tangan Irul mencoba menahan langkah Sophia dengan memalangkan tangannya di pintu.
“Jangan halangi gue. Gue kagak tahan hidup sama lu,” Sophia menghempas tangan Irul dari pintu. Ia buru-buru melangkah menapaki jalan depan rumahnya yang terlihat sepi. Irul menjambak rambutnya geram.
“Sophia…! Sophia…..!” Irul memanggil-manggil nama istrinya, tidak perduli para tetangga menonton pertengkaran mereka. Namun Sophia keburu menjauh.
Kepergian Sophia ke rumah orangtuanya jelas mendapat reaksi dari kedua keluarga mereka. Orangtua Irul mewanti-wanti putranya itu untuk segera menjemput Sophia di rumah orangtuanya. Namun Irul tidak bergeming. Ia benci saat Sophia meninggalkannya sore itu. Sementara itu keluarga Sophia juga mendorong hal yang sama. Yakni agar Sophia kembali kepada suaminya dan bicara baik-baik. Seperti juga Irul, Sophia ogah. Kalaupun mereka mau rukun kembali, Sophia ingin agar Irul yang harus menjemputnya dan meminta maaf.
Hingga berselang satu bulan kemudian situasi ketegangan tidak juga mencair. Irul dan Sophia masih tetap berpegang kepada keegoisan mereka masing-masing. Dua bulan berlalu, tiga bulan, setengah tahun kemudian, tidak ada perubahan. Upaya rekonsiliasi oleh pihak keluarga juga tidak kunjung tejadi meskipun sudah berulang kali dibicarakan. Status perkawinan mereka berada di awang-awang. Hal ini pun sudah menjadi pergunjingan para tetangga. Namun toh kondisi ketegangan tidak juga berubah.
“Ayo kita ke rumah Irul dan minta cerai saja, Ncop. Ketimbang kamu status kagak jelas gini?” Nyak akhirnya berpikir untuk menyudahi saja perkawinan anaknya, daripada berlarut-larut tanpa juntrung begini.
Mendengar itu Sophia seperti ditampar oleh Nyak. Ia disadarkan. Kata cerai sama sekali bukan hal yang diinginkannya. Ia pun tidak menjawab pertanyaan itu. Sophia hanya diam. Sama diamnya ketika Nyak kembali mengajaknya untuk bertemu keluarga Irul agar membicarakan kembali masa depan perkawinan mereka. Sophia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Seluruh hidupnya seperti sudah tidak punya cerita lagi. Pikiran dan hatinya tidak bisa menyatu. Akhirnya ia hidup dalam ambigu.
Sophia tidak mau hidup dengan Irul dengan kondisi yang sama seperti saat ia meninggalkan lelaki itu. Penuh ketegangan dan prasangka. Irul begitu kasar dan mau menang sendiri. Namun ia juga tidak mau tinggal berlama-lama di rumah Nyak. Ia menjadi bangkrut. Hidup dalam kekurangan membuatnya bertambah menderita Baik ide maupun uang. Sophia lalu mulai hidup dalam imagi. Pikirannya kerap menerawang pada seputar kata ‘andaikan’. Andaikan Irul menjadi suami yang manis dan berpikiran dewasa, andaikan Nyak dulu tidak memaksanya menikah, andaikan usaha tambak udang Irul berhasil, andaikan ia diijinkan membuka warung, andaikan ia bisa mengubah nasibnya, andaikan waktu bisa diputar ulang, andaikan ia bukan Sophia, andaikan ia adalah… andaikan….
Jiwanya kian terperosok dalam pikirannya. Sophia lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur setiap harinya. Ia jarang makan dan minum karena masih enggan dengan sajian dari dapur Nyak. Namun ia tidak punya uang lagi untuk membeli makanan dari warung nasi Padang. Dirinya juga terlalu malu untuk makan di rumah saudara sekandungnya. Mereka sering mengolok dan menceritakan dirinya di belakang.
Selain tidur Sophia masih suka melakukan kebiasaan barunya, mandi berlama-lama di sumur. Kebiasaannya membersihkan badan dalam durasi di atas normal itu menjadi hiburan tersendiri baginya. Ia sangat mengagumi air, yang bening dan menyejukkan. Meski Zannah, Firman, Nyai, Dalih, Tante Betty bahkan Nyak dan Baba begitu terganggu karena Sophia memonopoli satu-satunya sumber air dalam kawasan rumah Nyak, ia tidak bergeming.
Satu-satunya sumber air di situ adalah sebuah sumur berkedalaman 30 meter berumur lebih dari dua dekade. Air diperoleh dengan mesin pompa air yang sering dijagai oleh Sophia. Tidak ada yang bisa mengusirnya dari kamar mandi. Tidak juga Nyak dan Baba. Sebab, dia tidak akan pernah mendengarkan siapapun. Nyak sering membelanya.
Di tengah kondisi hidupnya yang rapuh, Sophia menjadi sangat sensitif. Ia tidak saja mudah menangis dan tersinggung, namun Sophia enggan bertemu dengan orang-orang di luar keluarganya. Tidak ada orang di sekitarnya yang bisa membantu. Nyak sendiri hanya bisa memandang dari jauh, sekedar mengawasi kalau-kalau putrinya ‘terjatuh’.
Tubuh Sophia semakin kurus. Meski kulitnya masih seindah dulu, namun wajahnya layu. Matanya tidak lagi memancarkan sinar jiwa yang dulu membuat orang-orang terpesona. Kondisi jiwa yang mengambang mempengaruhi fisiknya. Berat badannya semakin anjlok saat bulan Ramadhan tiba. Kebiasaan tidur tanpa makan mendapat alibi kepada orang-orang yang mencecarnya. Mpok Zannah, Baba, keponakan-keponakan yang sering makan sahur dan berbuka di rumah Nyak, tidak lagi bicara ketus jika menyangkut kebiasaan buruknya itu. Upaya rekonsiliasi pun kembali terangkat.
“Siapa tahu bulan suci bisa melunakkan hati manusia,” kata Nyak kepada Sophia. Dengan tanpa perasaan apapun selain menuruti Nyak, Sophia datang ke rumah mertuanya. Namun apa yang dilihatnya sama sekali tidak baik. Irul kini bersama seorang perempuan jablai alias perek. Tidak ada ikatan di antara mereka berdua, tapi irul sudah bersama wanita lain. Itu kenyataan yang tidak baik bagi Sophia. Ia pun kembali masuk ke dalam jurang kehampaan.
Keluarganya mencoba untuk menghibur namun terdengar seperti lelucon yang tidak lucu baginya . Meskipun komunikasi yang terbangun pun mulai akrab kembali di bulan suci itu. Anak, menantu, serta cucu-cucu Nyak berkumpul di rumahnya. Bukannya merasa hangat, Sophia justru jadi merasa terganggu. Dia jadi benci keramaian. Dia benci kemunafikan saudara-saudaranya yang ramah dan bersahaja di bulan penuh rahmat. Ia masih ingat perlakuan mereka pada dirinya dan Nyak di luar bulan puasa. Munafik. Ia benci Irul.
Anak-anak kecil hilir mudik di rumah ibarat nyamuk-nyamuk yang terbang dan berdenging di kupingnya. Sophia memilih mencari tempat lain yang sunyi. Dia sering terlihat duduk di bale-bale yang ada di depan rumah Zannah. Sendiri. Kadang Baba menyapanya kalau kebetulan lewat di depannya. Hanya senyum dan pandangan sekejap. Tidak ada yang bisa diajaknya bicara selain dirinya sendiri. Sophia di masa lalu atau Sophia di masa depan.
Ia menyukai kondisi tubuhnya saat ini. Kurus kering. Kalau berjalan ia serasa melayang-layang. Anehnya, ia malah semakin jarang merasa lapar. Kalaupun makan, ia tidak bisa menelan banyak. Mual dan perutnya terasa perih. Akhirnya ia menikmati saja kondisinya saat ini. Tanpa tujuan, tanpa harapan, tanpa makan, tanpa perhatian, tanpa beban. Karena sudah terlalu banyak rencana yang dipikirkannya. Terlalu banyak air mata yang berjatuhan, terlalu banyak impian yang dibangunnya, namun berujung kebuntuan. Yang ada hanya ketiadaberdayaan.Telah banyak hal yang menggerogoti hati dan otaknya. Kebencian, cinta, harapan. Jadi Sophia memutuskan untuk melepas semuanya.
Irul. Ia terlalu sering memikirkannya. Dan dalam benaknya ia pun bersimpul, tidak pernah ada cinta untuk suaminya itu. Maka Irul pun harus dilepas. Sophia pasrah dicerai. Ia sudah tidak perduli lagi. Saat ini ia hidup hanya untuk bernafas. (#)
Cilangkap, 22/11-2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s