hari bumi

Pesan dari Bonian di Hari Bumi

Hari Bumi boleh saja sudah lewat sepekan lalu. Namun semangat untuk merayakannya sebagai peringatan untuk menyelamatkan bumi bisa dilakukan kapan saja, juga di mana saja. Termasuk di salah satu desa terpencil di Kabupaten Dairi, desa Bonian.

Desa Bonian terletak di Kecamatan Silima Punggapungga, Kabupaten Dairi. Jaraknya sekira 1 jam perjalanan dengan mobil dari kota Sidikalang. Secara umum, desa ini tidak berbeda dengan desa-desa lain di kecamatan itu. Mayoritas penduduknya adalah petani. Kamis (30/4) kemarin, koran ini berkesempatan untuk mengunjungi peringatan Hari Bumi yang digelar oleh warga Bonian serta Forum Komunikasi antar Gereja untuk Keadilan dan Lingkungan. Acara tersebut juga didukung oleh sejumlah LSM di sana di antaranya KSPPM, Pesada, Bakumsu, dan gereja Katholik Parongil. Dinas Kehutanan Dairi yang diundang tidak hadir pada hari itu.
Sepanjang perjalanan menuju desa tersebut kita bisa melihat berbagai pepohonan di bukit-bukit dan lembah yang masih hijau. Sawah tidak banyak terlihat, sebab memang mayoritas petani di sana menanam kopi dan jagung. Nah, lantas mengapa kehijauan di desa itu menjadi alasan menjadi lokasi tempat peringatan Hari Bumi di Dairi?
Alasannya ternyata ada pada upaya pencegahan rusaknya kawasan itu akibat aktifitas eksplorasi tambang oleh PT Dairi Prima Mineral. Kebetulan lokasi desa tersebut cukup dekat dengan lokasi eksplorasi.
“Peringatan Hari Bumi ini diadakan agar masyarakat petani menjadi satu-satunya tonggak utama bagi perusakan hutan dan lahan oleh aktifitas tambang dan penebangan kayu yang masif,” kata Rohani, salah satu panitia acara dari KSPPM.
Oleh sebab itu acara tersebut diisi oleh fragmen tentang bencana akibat ulah manusia yang merusak bumi baik sadar maupun tak sadar, orasi budaya oleh Prof Dr Bungaran Antonius Simanjuntak, serta kotbah oleh Pastor Demian dari Gereja Khatolik St Petrus-St Paulus Parongil.
Dalam fragmen bertajuk ‘Wariskanlah mata air kehidupan, bukan air mata kehidupan’, sejumlah ina-ina (ibu-ibu) yang hadir di sana terlihat meneteskan air mata. Terutama tatkala tergambarkan lewat drama betapa susahnya hidup sebagai pengungsi karena banjir dan longsor ketika tanah sudah gundul dan dicekoki zat kimia beracun lewat pemupukan kimia tanpa kontrol. Terbayang ratusan nyawa hilang, harta benda lenyap, sanak saudara meninggal sia-sia hanya karena kerakusan manusia. Padahal mereka bisa mencegah bencana itu bersama-sama dengan menjaga desa mereka sendiri dari banyak ulah tangan-tangan serakah yang ingin mengekploitasi desa mereka.
“Caranya adalah dengan menerapkan pemanfaatan pengetahuan budaya tradisional, singkatnya kearifan lokal,” ujar Prof Dr Bungaran A Simanjuntak, yang akrab disapa Pak Bas.
Dalam orasi budayanya, ia sangat menekankan pentingnya penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kearifan budaya tradisional tersebut. Yakni budaya Batak Terutama yang berkaitan erat dengan pandangan masyarakat tentang tanah. Guru Besar dari Universitas Negeri Medan ini mengatakan tanah itu diciptakan Tuhan untuk kemaslahatan seluruh umat manusia. Jadi tanah tidak boleh dikasari, dirusak, dan dicemarkan.
Antropolog Sumut ini pun memaparkan sejumlah filosofi orang Batak terhadap alam, pemukiman, hutan, dan air. Pertama, soal pemukiman (huta). Ia bilang, huta tidak boleh didirikan di antara dua apitan gunung, karena akan sering diterpa angin kencang yang membahayakan kesehatan dan keselamatan rumah-rumah beserta isinya. Huta juga tidak boleh didirikan di kelokan sungai, karena akan ditelan nafas (dibondut hosa ni binanga). Tidak boleh juga di lembah, karena menurut kepercayaan lembah adalah tempat pelangi minum air (parsoburan ni halibutongan). Tempat baik untuk mendirikan huta ialah di kaki gunung. Di sisi kiri atau kanan gunung. Artinya di tempat tinggi. Huta tepatnya menghadap gunung. Di sana penghuni akan sehat-sehat dan banyak anak.
Yang kedua adalah tentang hutan. Orang Batak menyebut hutan dengan harangan, yang artinya wilayah pelestarian. Setiap huta memiliki hutan sendiri sebagai tempat sumber energi, seperti kayu bakar, tempat berburu, dan sumber makanan serta obat-obatan.
“Hutan adalah milik komunitas huta, dan setiap pemanfaatannya oleh siapa saja harus diketahui warga huta pun pemimpin huta,” ujar Pak Bas.
Keyakinan orang Batak tentang daya magis hutan cukup kuat, tambah dia. Setiap hutan mempunyai penguasa atau penghuni ‘halus’. Karena itu tidak boleh sembarangan mengambil atau merambah hasil hutan. Setiap pengambilan kayu untuk rumah dan sebagainya, selalu memakai upacara religi sebagai jalur permohonan ijin. Bahkan sistem penebangan dan penentuan jatuhnya pohon ada aturannya.
Sementara itu soal air, filosofi Batak menyatakan bahwa sumber air memiliki penguasa. Jadi juga tidak boleh sembarangan pemanfaatannya. Sumber air dari hutan sekeliling huta harus dilestarikan, dan hal ini menjadi pemersatu orang se-kampung.
“Hutan dan air tidak boleh dirusak atau dijual kepada orang lain, selain pemilik huta, dan warga kampung,” simpul Pak Bas.
Pemaparan tersebut kemudian dikuatkan lagi dengan diputarnya film dokumenter oleh panitia tentang dampak tambang PT Newmont di Kalimantan. Dimana dituturkan oleh para narasumber yakni warga di sana, bahwa tambang tersebut tidak memberi kontribusi apapun kecuali bencana. Lahan rusak, sementara keuntungan sama sekali tidak dirasakan oleh masyarakat di sana.
“Kita berharap dengan adanya acara peringatan Hari Bumi di desa ini bisa menjadi bola es untuk penolakan terhadap berbagai macam tindak pengrusakan lahan. Sekali lagi, oleh warga desa itu sendiri,” pungkas Rohani. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s