perkebunan

Menelisik Sejarah Perkebunan PTPN 3

Dimulai dari Berbagai Komoditi Ujicoba Pengusaha Eropa

Sejarah perkebunan di Sumatra Utara tidak terlepas dari pengaruh pendudukan Belanda. Termasuk lahan perkebunan yang selama ini dikelola Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) III. Lahannya yang meliputi daerah Deliserdang, Labuhan Batu, dan Asahan, bahkan Tapanuli Selatan, adalah perusahaan perkebunan milik pengusaha Belanda sebelum dinasionalisasi pemerintahan Soekarno pada 1950.

Berbagai komoditi yang dikembangkan para pengusaha Belanda pada abad 19 di daerah Sumatra Timur, hingga kini masih merupakan tanaman ekspor primadona. Sebut saja kelapa sawit, karet, tembakau, dan teh. “PTPN III saat ini khusus memproduksi tanaman karet dan kelapa sawit,” kata Irwady, Juru Bicara PTPN III, kemarin.
Menurut dia, kedua komoditi andalan Sumut itu tidak terlepas dari pandangan cerdas seorang pengusaha Belanda pada abad 19 silam. Adalah Jacobus Nienhuys, seorang pengusaha kulit putih berkebangsaan Belanda yang menginjakkan kaki pertama di Tanah Deli. Bersama sejumlah perwakilan perusahaan dagang JF van Leeuwen en maizs & Co, Nienhuys datang pada 6 Juli 1863 untuk melihat potensi Tanah Deli. Ia pun tertarik untuk menanam tembakau.
Panen pertama kemudian di kirim ke Rotterdam pada 1864, dan dinilai sebagai tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu. Jadilah keyakinan akan potensi tanah Deli sebagai lahan perkebunan. dari hasil penelitian diteukan bahwa kondisi tanah dan iklim di Deli sangat cocok untuk menanam tembakau. Komposisi tanah Deli, Langkat, dan Serdang, sangat kaya dengan zat nitrogen, asam fosfat dan kapur. Terutama di sepanjang kelokan antara Sungai Ular dan Sungai Wampu.
Setelah panen berikutnya, maka semakin banyaklah berdatangan pengusaha Belanda untuk membuka perkebunan di Tanah Deli. Dengan modal yang mereka miliki, sejumlah tanah milik sultan-sultan di Sumatra Timur dipinjam pakai selama 99 tahun. Berbagai perusahaan perkebunan bermunculan. Pada kurun 1862 – 1891 di Sumatra Timur telah beroperasi 170 perkebunan yang tersebar di sepanjang Asahan hingga Langkat. Salah satunya yang terbesar adalah De Deli Matschappij, yang masih merupakan campur tangan Nienhuys pada 1869. Perusahaan ini pun kemudian juga mengembangkan tanaman kopi di perkebunan mereka. Bahkan sejumlah perusahaan yang gagal menanam tembakau mencoba tanaman karet, kelapa sawit, serat, dan teh.
Khusus untuk tanaman teh, Tanah Deli baru mengenal tanaman teh ketika dibudidayakan oleh A Ris, seorang pengusaha perkebunan. Teh pertama kali coba ditanam di daerah Deli Hulu pada 1898. Pada tahun 1910-1920 telah beroperasi dua perusahaan perkebunan teh di Simalungun.
Di samping itu mulai dilakukan uji coba penanaman kelapa sawit yang dipelopori oleh seorang warga Jerman K Schadt. Begitu pula dengan seorang warga Belgia, Andrien Hallet di Asahan. Ia mencoba menanam kelapa sawit yang ketika itu hanya dijadikan sebagai pohon hias di sepanjang jalan. Sebelum 1911 belum ada perusahaan perkebunan yang menanam kelapa sawit untuk tujuan komersial. Setelah terlihat panen yang cukup baik, pengusaha perkebunan kemudian mulai menanam kelapa sawit.
“Satu hal yang positif dari kehadiran para pengusaha perkebunan Eropa ini di tanah Deli adalah, membawa kehidupan modern barat kepada masyarakat Sumatra Timur. Apalagi, kehadiran industri ini telah menyumbangkan perluasan infrastruktur Sumatra Timur. Seperti pembangunan jalur kereta api, jaringan jalan, jembatan, kantor pos, dan telepon,” pungkas Irwady. (dj)

Satu pemikiran pada “perkebunan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s