sosialita

Perpustkaan Keliling Seorang Pengamen

Nanang Hamzah atau biasa dipanggil Rian Hamzah, sehari-harinya adalah pengamen. Dari hasil ngamen itu pula, Rian menghidupi istri dan dua anaknya. Jika beruntung sehari bisa meraup Rp.50.000. tetapi jika apes dia cuma bisa membawa pulang Rp.30.000

Hidup Rian boleh pas-pasan namun semangat untuk membantu orang lain tetap tinggi. Di sela-sela mengamen, Rian masih menyempatkan diri membagi ilmu kepada anak-anak jalanan dan anak-anak kampung yang kurang mampu. Ilmu yang dibagi Rian adalah meningkatkan pengetahuan anak-anak jalanan dengan memberi bacaan gratis. Setiap hari Rian menyediakan puluhan buku yang diperolehnya dari membeli dan sumbangan kawan-kawan dan donatur. Buku-buku itu dia bawa dengan sepeda ontelnya ke lokasi-lokasi yang menurut perhitungannya banyak kumpulan anak-anak.

Menurut Rian, karena faktor ekonomi menyebabkan anak-anak di jalanan. karena berada di jalanan mereka kurang bisa membaca. oleh karena itu, dia berusaha menolong anak-anak jalanan itu dengan menyediakan PERPUSTAKAAN KELILING. Menggunakan sepeda ontel, setiap hari Rian berkeliling ke tempat-tempat dimana anak-anak kumpul, atau menembus ke kampung-kampung untuk menemui anak-anak kurang mampu yang hobi membaca.

Kemampuan membuat dan membaca puisi juga menguatkan niatnya untuk mendirikan sanggar bernama “SANGGAR ALAM KITA” yang menyediakan wadah pendidikan seni, alam, dan lingkungan. semua kawan-kawan yang terlibat adalah pengamen. sanggar tersebut GRATIS. Di sanggar itu pula, anak-anak dilatih agar lebih peka terhadap kesenian, seperti bisa bermain gitar dan membaca puisi. kalau menyanyi harus bisa menyanyi yang sebenarnya.

Hasil Jerih payah Rian cukup berhasil. anak-anak jalanan yang semula tidak bisa membaca, sekarang sudah hobi membaca. sama dengan halnya dengan anak-anak kampung yang kurang mampu, berkat ketekunan Rian, anak-anak yang dia sambangi di perkampungan pinggiran Jakarta menjadi melek membaca.

Lalu apa yang mendorong Rian, terjun menekuni perpustakaan keliling ? Ya itu tadi, kata ayah 2 anak ini, karena dia ingin membantu anak-anak kurang mampu. Hidup di jalanan tidak normal. selain keras juga banyak godaan. Jadi kalau tidak ada yang memperhatikan mereka, kasihan. “Saya mengamen untuk nafkah sedangkan PERPUSTAKAAN KELILING untuk membantu anak jalanan yang kurang mampu, ” ujarnya.

Dasarnya karena keprihatinan melihat situasi di jalanan dimana anak-anak lebih banyak hanya berkumpul, mengamen dan hanya bisa menghitung uang. Membaca pun sepertinya mereka kurang bisa. “supaya anak-anak itu bisa membaca, saya berpikir untuk membawa buku agar bisa dibaca oleh anak-anak. Akhirnya, waktu itu Saya dan teman-teman membuat sanggar bernama Sanggar Alam Kita. Kalau sekarang disebutnya, wadah pendidikan seni, alam dan lingkungan. Semua kawan-kawan yang terlibat adalah pengamen,” katanya.

Asli Sumedang yang hijrah ke Jakarta untuk mewujudkan cita-cita menjadi bintang film itu tetap bersyukur bisa membagi ilmu kepada anak-anak jalanan. “Meski cita-cita jadi bintang film ga kesampaian , tapi saya tetap bersyukur karena bisa memberi kepada orang lain, “katanya.

Setelah berjalan bertahun-tahun, Rian mulai melihat hasilnya. Namun dia akan tetap mengayuh sepeda membawa puluhan buku untuk menemui anak-anak jalanan dan anak-anak tidak mampu di kampung-kampung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s