Tiga Istri

 

Henny tidak bisa menahan emosi di hatinya. Otaknya pun tidak sanggup menoleransi apa yang telah terjadi kepadanya. Sebuah gelas kaca bertangkai di depannya dia angkat dan dibanting ke lantai dengan seluruh kegelisahan hatinya. Bunyi keras yang keluar dari pecahan kaca seakan menjadi nada pengiring derai air mata yang tak kuasa ia sembunyikan di katub bibirnya.

Ini sudah keterlaluan. Ia tidak pernah sama sekali minta dinikahi tujuh tahun lalu oleh Bang Sahrani. Pria kekar itu yang terus mengejarnya, meyakinkannya bahwa dia adalah pria yang pantas untuk mendampinginya. Membuatnya bahagia sebagai seorang perempuan. Dengan kumis tebal, perawakan yang lemah lembut di balik baju seragam lorengnya. Sahrani berhasil memperdaya dia dan seluruh keluarganya untuk menerima pinangan lelaki itu.

Simpati Henny muncul karena Sahrani hadir sebagai lelaki tidak beruntung yang ditinggal tunangannya karena jatuh ke pelukan lak-laki lain. Kini situasi itu berbalik. Pria yang sudah memberinya tiga anak justru menjadi pasangan yang ingkar dan lari ke pelukan perempuan lain. Sialnya, sikap bejat suaminya dipergoki kakak tertua Henny, Yuli.

Di simpang jalan tak jauh dari kediaman ibu Henny, Sahrani sedang duduk mesra dengan seorang perempuan muda berkulit putih mulus. Yuli yang kebetulan berpapasan dengan mereka sama sekali tidak mendapat tegur sapa apapun dari sang adik ipar. Sahrani bahkan buang muka dan pura-pura tidak melihat Yuli.

“Kakak cuma ketawa aja, Dek, ngeliatnya. Mau gimana lagi, terserahmulah di situ,” kata Kak Yuli, saat memberitahu Henny, sore tadi.

Henny sulit untuk mempercayainya. Suaminya tidak ada tanda-tanda menjalin cinta dengan perempuan lain. Kadar sayang dan romantisme suaminya itu memang sudah tidak setebal ketika pacaran dulu setelah anak ketiga mereka lahir. Tapi itu tidak jadi masalah, toh dia sangat disibukkan dengan urusan anak dan rumah tangganya. Ia pun sudah jarang bermanja dengan suaminya.

Kata Ibu, itu hal yang biasa. Asal jangan suami lari. Aduh, kepala Henny berdenyut tak henti. Mau apa yang dibuatnya kali ini. Anak-anak memang sudah dititipkannya kepada Ibu. Kak Yuli pun bersedia ikut menjaga ketiga anaknya. Henny ingin membuat perhitungan dengan suaminya. Ia akan marah besar setelah mengetahui fakta sebenarnya tentang kisah cinta lain suaminya. Sudah banyak kata-kata yang yang berkelebat kepalanya. Ia ingin segera membuncah dan mencampakkannya ke muka laki-laki itu, Sahrani, sang suami tersayang.

“Tega sekali dia,” pekik Henny, tertahan.

Jam 9 malam, Sahrani tidak juga muncul. Biasanya lelaki itu sudah nongol di depan pintu rumahnya sambil mengucap salam dengan suara nyaring. Biasanya anak-anak akan langsung menghambur dan mencari kantongan plastik yang dibawanya. Mie goring atau roti, adalah menu yang dbawanya pulang pada sore hari. Tidak mengapa kalau tak membawa apa-apa. Toh anak-anak akan dapat ciuman dan pelukan hangat dari sang ayah.

Sari, anak keduanya yang berumur 4 tahun pasti akan kegelian lalu tergelak riang saat kumis ayahnya menyerobot ke leher dan telinganya. Henny akan dapat giliran paling akhir. Meski begitu, hangatnya tidak akan pernah luntur. Sentuhan yang paling dirindukannya jika sang suami mendapat tugas luar kota. Rasanya tidak lengkap jika ritual anak-bapak itu tidak didengarnya setiap hari. Saat inipun ia rindu suara mereka semua, suami dan anak-anaknya.

Air mata kembali mengarus di pelupuk matanya. Tentu saja sebagai perempuan, hal yang paling menyakitkan adalah ketika ia harus kehilangan cinta suami karena kehadiran perempuan lain. Momok tidak cantik lagi, telah menjadi gendut dan tidak harum menjadi satu sisi faktor yang menyudutkan posisinya. Ia sempat menyalahkan diri karena situasi itu.

“Perempuan itu pasti lebih muda dan cantik dariku,” bisik Henny. “Atau lebih perhatian dan sayang ama Bang Sahrani.”

Matanya beralih ke serakan gelas kaca yang menjadi tumbal amuknya beberapa jam lalu. Itulah hatinya saat ini, berkeping-keping. Sejujurnya ia bingung, apa yang akan dilakukannya saat ini dan ke depan. Jika ia meminta bercerai maka Bang Sahrani akan kena sanksi pecat dari kesatuannya. Habislah karir yang sudah dirintis selama 10 tahun mengabdi sebagai prajurit pertahanan Negara. Ia tidak saja akan terjungkal sebagai seorang lelaki, nafkah yang selama ini menjadi gantungan hidup Henny dan anak-anaknya pun akhir berakhir.

Huh.. Rasionalitasnya mulai mengalir. Merembes begitu saja menghapus pelan-pelan gejolak emosinya. Soal harga diri memang sudah sangat terkoyak, jika memang suaminya benar-benar sudah menjalin cinta dengan perempuan lain. Tapi saat ini hal yang paling meraja adalah apa yang harus dilakukannya. Apa yang akan dikatakannya kepada anak-anaknya?

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dimana Bang Sahrani? Mata Henny tidak juga terpejam. Bekas air mata yang terasa lengket di kulit wajahnya memaksa dirinya untuk beranjak ke kamar mandi. Tidak puas hanya membasuh wajah, Henny pun mengguyur tubuhnya semua. Walau menggigil ia tetap tidak perduli. Air mata terakhir mengalir begitu saja ketika wajah Bang Sahrani berkelibat di pelupuk matanya. Ia rindu lelaki itu. Dimana kau Bang Sahrani?

***

Bang Sahrani tidak pulang dua hari. Henny harus berbohong kepada anak-anak dan tetangganya tentang keberadaan sang suami. Tak puas berdiam diri, ia terpaksa mencari tahu rekan satu kerja Bang Sahrani, tak lain adalah tetangganya sendiri. Ia mengambil resiko akan mengumbar masalah dalam keluarganya kepada rekan satu asrama karena bertanya tentang keberadaan suaminya sendiri. Tapi alangkah terkejutnya dia karena ternyata suaminya tetap apel setiap pagi di lapangan. Ia datang ke komplek asrama yang menjadi tempat tinggal mereka selama 7 tahun ini, tetapi tidak sedetikpun ia mampir dalam dua hari terakhir. Telepon genggamnya pun tidak bisa dikontak.

Amarah Henny kembali memuncak. Ia tinggalkan saja tetangganya  yang masih penuh tanda tanya itu. Langkahnya menghentak dengan pasti ke arah rumahnya. Koper langsung dikeluarkan dari atas lemari. Baju anak-anaknya, pakaiannya, alat kosmetik dan perhiasannya ikut dimasukkan ke dalam koper. Air mata lagi-lagi menetes. Baginya, yang penting kembali ke rumahnya dan bertemu anak-anaknya segera.

Namun belum lagi ia selesai berkemas, bel rumahnya berbunyi. Perhatiannya tersita sejenak. Bel yang tidak henti berbunyi membuatnya menghambur ke pintu depan. Ia ingin segera mendapatkan siapa orang yang mengganggu dengan bel di pintu itu. Saat dibuka, ternyata itu Anis, tetangga sebelah rumah. Suami Anis yang ditanyai Henny tadi ternyata mengirim istrinya untuk mencari tahu ada apa sebenarnya antara Henny dan Sahrani. Dasar, laki-laki dan perempuan di komplek ini memang sama saja, tukang gossip. Mau tahu aja urusan orang lain.

Melihat wajah Henny muncul dari balik pintu, Anis langsung menatap tajam. Ia terlihat sekali ingin mencari tahu sesuatu dari raut dan tatapan mata Henny. Seolah dia itu seorang cenayang. Namun hanya wajah kecut Henny yang terlihatnya. “Ada apa, Mbak?” tanya Anis langsung, tanpa basa-basi.

Henny yang diinterogasi tanpa tedeng aleng-aleng begitu, malah semakin menekuk wajahnya heran. “Eh, gak usah bohong deh Mbak. Mas Sahrani gak pulang dua hari kan?” selidik Anis.

Henny melenguh, kesal. Ia tidak mau berkata apa-apa. Ia hanya mau segera pergi dari asrama ke tempat Ibunya. Ia  butuh tempat mengadu saat ini. Dan itu bukanlah Anis orangnya. Perempuan beranak satu ini memang terkenal tukang gossip.  Terlihat dari hobinya itu ia mendapat bahagia yang luar biasa mungkin. Lihat saja wajahnya, seperti tidak ada masalah. Selalu ceria dan bersemangat.

“Gak ada apa-apa, Nis. Bukan urusanmu,” sergah Henny ketus, menyudahi percakapan yang tidak penting ini.

Anis tidak hilang akal. Ia memang sempat kaget dengan ucapan datar tetangga yang dikenalnya ramah ini. Namun ia tidak mau begitu saja melepas kisah yang mungkin agak seru. Ditariknya tangan Henny untuk duduk di sofa dekat mereka berdiri. Henny dengan setengah hati menuruti ajakan Anis.

“Dengar, Mbak Henny. Mau percaya atau tidak, tapi aku tahu lho apa yang terjadi terhadap Mbak dan Mas Sahrani. Ada kisah cinta segitiga kan?”

Dahi Henny berkerut. Sampai sebegitunyakah daya tangkap Anis terhadap masalah orang. Ekspresi itu justru membuat Anis semakin bersemangat. Sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Henny, ia berbisik seolah ada orang lain di antara mereka yang tidak boleh ikut mendengar percakakapan itu.

“Mas Sahrani udah lama punya istri simpanan,” ujarnya. Henny segera menarik wajahnya karena kaget sekaligus tidak percaya. Tapi sebelum ia sempat berkata, Anis segera melanjutkan ucapannya.

“Eh, Mas Hasan juga punya istri simpanan. Aku udah tahu lama kok,” tukas Anis tanpa ekspresi. Henny semakin mengekerutkan dahinya. Kali ini ia benar-benar tidak habis piker. Mas Hasan yang dimaksud Anis adalah suaminya sendiri. Kok dia anteng-anteng saja? Ini sudah di luar batas toleransinya. Tapi ia tidak tahu mau mengucap apa. Berita yang didengarnya sulit sekali untuk diterima.

“Banyak kok istri-istri di asrama ini yang dimadu. Tapi, mereka lebih memilih tutup mata. Takut,” lanjut Anis.

Kalimat terakhir dikeluarkannya dengan nada pelan. Ada segaris awan kelabu yang melintas di matanya. “Ada yang diancam suaminya. Saya aja dulu diancam Mas Hasan supaya tidak mengadu ke komandannya. Dia bisa kena pecat, saya dan Habil juga yang susah nanti gak dapat nafkah,” beber Anis.

Henny masih tetap membisu. Ia ingat wajah mungil Habil, putra semata wayang Hasan dan Anis. Usianya sama dengan Sari. Anis juga pasti tidak mau nekat kembali ke Sumedang, kampung halamannya sebagai janda cerai tentara. Hatinya jadi bimbang. Soal nafkah ini memang cukup mengganggu, tapi tak dapat dipungkiri bahwa hal utama yang mengganggu benaknya adalah ia sudah disakiti sebagai seorang istri dan perempuan.

Ancaman? Ia ingin tahu seperti apa ancaman yang diberi Bang Sahrani jika ia minta cerai. Ia juga mencerna ucapan Anis soal istri simpanan para suami di komplek ini. Benarkah? Kenapa ia tidak menyadari hal itu selama ini. Apakah tindak tanduk Anis selama ini mengorek-ngorek masalah rumah tangga orang di komplek ini semata ingin mencari teman senasib? Dan benar, kali ini ia sudah punya teman. Bisa jadi sebenarnya ia sudah tahu lama soal perselingkuhan Bang Sahrani, tapi mungkin diancam supaya tidak mengadu pada Henny. Ia seperti kembali terjerembab dalam lubang hitam emosi dua hari lalu.

“Dan Mbak mau tahu, istri komandan juga lebih parah dari kita. Dulu, ia bahkan pernah terpaksa tidur dengan komandan suami nya supaya lancar dapat promosi. Gila kan?”

Henny terperanjat bukan main. Istri komandan yang dikenal sebagai panutan istri-istri prajurit di asrama ini justru pernah punya pengalaman pahit seperti itu. Henny tidak mau mencerna hal itu lebih lama lagi. Henny pun bergegas ke kamarnya untuk menyelesaikan kemas-kemasnya. Ia tidak mau berkomentar apapun. Kepalanya terasa sangat sakit, pun dadanya.

Begitu keluar dari kamar dilihatnya Anis sudah tidak di ruang tamu. Mungkin dia sudah pulang. Yang ia dapati justru wajah sang suami, Bang Sahrani. Lelaki yang sudah ditunggunya dua hari ini akhirnya muncul. Wajah hitam legamnya tidak seindah dulu lagi di matanya. Entah kenapa, rasa hambar menyelimuti hatinya terhadap lelaki yang mendampinginya selama beberapa tahun terakhir. Ia seperti melihat orang asing.

Mendadak hatinya membatu. Terlebih karena ingat ancaman bagi istri yang memergoki suaminya berselingkuh yang dilontarkan Anis tadi. Dalam hati Henny bergumam ia tidak akan luruh. Ia akan melawan. Tanpa kata Henny berjalan melewati suaminya begitu saja. Koper besar itu terasa ringan sehingga membuatnya tidak sedetikpun berhenti. Sahrani pun tak bergerak. Ia hanya tertunduk mencium sisa aroma istrinya yang berkelebat pergi.

Henny tidak bisa berbohong bahwa hatinya benar-benar perih. Beginikah akhir kisah cintanya dengan Sahrani? Meskipun tidak berharap, Sahrani sama sekali tidak menyusulnya, mencegahnya pergi. Tidak ada kata yang keluar dari bibir mereka. Keduanya bungkam.

Di persimpangan jalan saat menunggu angkutan umum, sebuah mobil sedan biru melintas hendak masuk asrama. Itu adalah mobil istri komandan. Betul saja, perempuan itu muncul dari balik kaca mobil setelah menghentikan mobilnya di samping Henny.

“Mau kemana, Dek Henny?” tanya istri komandan, ramah seperti biasa.

“Pulang ke rumah Ibu, mau tinggal lama di sana,” terang Henny, mencoba memasang senyum tipis di bibirnya yang bergetar.

“Yah, jangan lupa pulang. Nanti suaminya diambil orang. Ha..ha..” Istri komandan berlalu masih dengan tawa di bibirnya seraya menutup kaca mobil.

Perempuan yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu memang selalu akrab dengan istri-istri bawahan suaminya. Henny menghela nafas berat. Siapa yang paling tidak beruntung? Siapa yang beruntung? (#)

Delitua, 20 Mei 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s