kawin

greeting 4 my best friend’s wedding

Satu-satu, temanku berkawinan…
Well, selamat deh buat kalian semua. April 2009 kemarin, Bang Alan yang merid. Meskipun tidak diundang dan tak dikabari, tapi selamatlah buat dia yang pernah menjadi cowok favoritku. Terus, di Juli 2009 ini ada dua orang yang antri buat kawinan. Bang Barat dan Nina. Masing-masing menikah dengan pujaan hatinya.
Well, kisah cinta memang penuh misteri. Siapa yang sangka kalau Nina bakal benar-benar merid ama si Sharuk Khan, Dedi. Pasalnya, seluruh dunia sudah tahu, cinta Nina sempat menjadi cinta terlarang dan tak bakal kesampaian. Gimana enggak, dua tahun lalu Dedi adalah tunangannya seorang cewek Aceh yang manis dan berjilbab pula seperti Nina. Berulang kali aku, Adel, meracuni otak Nina untuk menjauhi lelaki itu. Tapi dasar cinta memang bandal, kayak bonbon karet, semakin ditarik semakin panjang.
Nina pun tidak ada harapan untuk mendapat balasan dari Dedi. Aku pernah melihat derita seorang anak manusia yang haus akan cinta tanpa harapan, yah di diri si Nina itu. Bahkan momen sepele dan sekecil apapun dia pasti tulis di diari-nya, khusus di kolom Dedi. Mulai diantar pulang jam 2 malam, dibawakan kue buatan Mamak Dedi, sampai dengan menjadi teman curhat ketika seorang pria bangsat yang dipercayai akan membawa bahagia ternyata menipunya habis-habisan.
Dari kisah Nina pun aku bisa membuktikan bahwa cinta tidak mengenal keculasan. Ketika Dedi batal ke pelaminan dengan tunangannya karena mahar ketinggian dari pihak perempuan, Nina tidak serta merta lega. Ia sebagai manusia biasa, tidak tahu apakah harus bersyukur atau bersedih karena soul mate-nya patah arang ditolak calon mertua. Dia sabar coy. Ruang kosong di hati Dedi diisinya dengan kebersamaan. Tanpa banyak bicara, komitmen, apalagi janji-janji kampanye politisi. Hanya kebersamaan.
Cinta tak berujung itu akhirnya menemukan tepi. Ada senyum Dedi di sana, tangannya pun menjulur menyambut kapal Nina yang sempat karam beberapa lama. Ada angin surga yang membawa mereka bertemu di pelabuhan. Takdir.
Oh, my God. Begitu indah kebersamaan.
Aku teringat Maria Malau. Si Jagiring itu tak juga menikah dengan Trisno, lelaki yang sudah dipacarinya selama 6 tahun terakhir. Busyet, mau kemana sebenarnya orang itu. Jalan-jalan aja-nya? Waktu kutanya dia, kaget juga aku mendengar pernyataan dia. “Aku mau kumpul kebo aja, bisa?”
What?? Are you out of your mind?
Dia bilang malas menikah karena takut bosan dengan lembaga perkawinan. Dia berpikir bahwa menikah itu akan menimbulkan banyak konsekuensi dan tetek benget yang rumit. Seperti adat, keluarga, dan yang paling menakutkan biaya rumah tangga yang membengkak. Alasan minimnya materi dan kota Jakarta yang merupakan tempat rawan untuk membina keluarga, adalah alasan lain yang akhirnya terkuak
Dalam hati aku berpikir, pasti ada rejeki anak kan? Aku percaya bahwa kebersamaan akan tuntaskan segala persoalan yang menghadang. Ditambah lagi restu Tuhan, apalagi yang kurang?
Terus, baru aja kutemukan satu teman baikku waktu SMA dulu setelah lama berpisah, ah.. hampir 10 tahun. Dia menemukanku di facebook, alangkah bahagianya. Dan tahu-tahu, aku dapat kabar dia mau nikah,  saat ini sedang bertunangan. Oh, so sweet…. Dia memang pantas mendapat pasangan yang terbaik, karena dia baik dan cantik sekali. Naomy, my gorgeous sister yang selalu ceria. Selamat buatmu, my pren…

Aku pun mulai berpikir tentang kisah asmaraku. Kenapa tidak juga naik kelas yah? Kata teman-teman aku terlalu lebai dan suka ngelaba. Beh, darimana pula simpulan itu muncul. Padahal aku tidak pernah selingkuh, pacaran aja belum pernah. Bayangkan, setiap lelaki yang kutembak selalu menolak. Dan prinsipku, pria manapun yang pernah menolakku, tidak ada kesempatan kedua. Langsung diputus hubungannya untuk cinta. Cukup berteman saja. Nah, ada juga kasus begini. Aku sebelum kenal baik dengan seorang cowok, naksir bukan main. Pas udah kenal dan enak diajak berkawan, eh malah hilang cintanya dan tak pantas diberi label cinta.
Banyak juga kawan yang ngasih kritik dan saran macam-macam, sebanyak aku meminta komentar mereka juga. Tapi tidak ada yang masuk ke hati untuk diproses lebih lanjut. Karena dasar akunya yang tidak mau berubah, atau memang ada sebuah skenario besar yang perlu kutunggu ending-nya. Takdir.
From now on, soal asmara kuserahkan saja pada TYME dech. Soalnya dengan ‘my way’ gak ada yang jadi. Biarlah semua terjadi dengan ‘His way’. Just let the river flow… Tuhan pasti memberi yang terbaik bagiku, bagi kita semua, dan membuat segala sesuatunya indah pada waktunya.  (dj)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s