refleksi

 watch and learn …..

Suatu sore mendung, ketika mata menerawang ke halaman rumah, aku melihat seekor anak anjing menyalak seru sambil berlari berputar kecil. Aku yang berada di lantai dua cuma tersenyum melihat tingkah lucu anak anjing itu. Setelah lamat-lamat kuamati, ternyata ada sesuatu yang menarik perhatian si ‘puppy’ sehingga ia bereaksi energik, seeokor anak kucing. Ilalang yang berwarna kelabu menyamarkan sosok anak kucing yang berbulu hampir dengan warna yang sama. Melihat itu aku langsung tergerak, mau turun dan menyelamatkan “kitty” itu. Sebab, ukuran badan kedua makhluk mungil itu berbeda dua kali lipat. Tapi sekelebat rasa malas turun dan jalan memutar ke halaman tetangga, sempat menyurutkan niatku. Aku masih berdiri di atas dan mengamati dari atas. Pemandangan di bawah akhirnya membuatku kembali mengulas senyum.

Si anak kucing terlihat cuek, meskipun matanya terus  waspada. Tak ada terlihat kepanikan di wajahnya. Ia bahkan mencoba berjalan gontai meninggalkan si anak anjing, meskipun mungkin kalau diraba dadanya detak jantung bisa dengan kecepatan luar biasa. Ia terlihat tenang. Kitty mungkin hanya merasa kebisingan dengan suara si puppy, makanya ia ingin segera pergi.

Mataku lalu bergerak cepat ke arah seekor anjing yang kemungkinan besar adalah induk si puppy, ia berjalan ke arah anaknya dan si kitty. Suara gaduh pun semakin meriah. Anak kucing VS dua anjing dengan ukuran tubuh lebih besar berkali-kali lipat. Aku pun jadi panik, jangan-jangan mati pula anak kucing itu di depan mataku. Tapi, waktu mau turun hatiku kembali urung niat dan memutuskan untuk melihat sejenak tanpa bergerak. Ketenangan si kitty menarik perhatianku. Ia masih terlihat adem ayem, kendati dua raksasa ganas siap menyerangnya. Dalam hati aku terus berteriak, supaya dia jangan bergerak tiba-tiba atau mencoba melindungi diri dengan mengayunkan kaki penuh cakar siap menyambar seperti yang dilakukan banyak kucing kala dalam kondisi terancam. Kitty cuma menggerakkan kepalanya ke arah si induk anjing atau si puppy jika lebih mendekat ke arahnya. Hanya itu yang dilakukannya.

Aku berpikir, Kitty sedang waspada atau sedang merasa heran dengan tingkah laku dua anjing induk beranak itu. Sempat terpikir olehku, jangan-jangan si kitty tuli atau bodoh, tak paham bahwa ia sedang terancam. Sementara kedua anjing terus menyalak dan mencoba meraih kitty dengan muncungnya yang penuh selidik.

Hampir 20 menit adegan itu menyita waktuku. Dan muncul simpulan yang membuat aku merasa sejuk. Jangan panik jika menghadapi masalah. Anak kucing itu memberi inspirasi padaku. Dan tindakannya yang tenang bisa menghamburkan masalah menjadi keping tak berarti yang akan lenyap dengan sendirinya. Terbukti, baik si puppy maupun induknya akhirnya berlalu tanpa basa-basi. Mungkin kecapekan atau bosan karena tak ada dinamika dari hewan yang akan ditindasnya. Semenit kemudian suasana kembali tenang. Kitty mengantar keduanya dengan sorotan mata yang masih sama seperti kala dicekam serangan suara dua anjing tadi. Mmh.., aku tersenyum kecil. Bisa juga si mungil itu. Gaya berjalannya yang coba menghindari ilalang yang menutupi wajahnya semakin melebarkan bibirku. Ini pemandangan yang indah di sore kelabu.

Benakku langsung berefleksi ke persoalan yang kadang membuat diri jengah tak berkutik. Sifat reaksioner yang tak jarang membuat aku dijauhi kawan-kawanku, mulai hilang pamor. Apakah aku salah, membuat keputusan dan bereaksi cepat? kilahku saat itu. Yah, ada kata yang memang sulit sekali kuterima sebagai sebuah kebijaksanaan diri di dunia yang beragam karakter dan warna. Sabar. Ini yang paling sulit. Tapi ketika kuingat tindakan si kitty, aku jadi melunak. Dia bisa keluar dari masalah karena tenang dan sabar, tapi tetap waspada. Watch and learn, pikirku.  Setelah kupikir-pikir, aku memang lamban belajar. Tapi, aku sudah berubah sedikit demi sedikit soal penyakit reaksioner. Tidak tahu kenapa, tapi yang jelas perubahan ini pasti memakan sifatku yang lain, pasti ada yang memudar. Tak mengapalah, karena saat ini aku memutuskan untuk melanjutkan pelajaran sabar ini ke depan. Hahaha.. kayak udah tua aja yah… Tapi aku memang udah tua, udah 27 tahun sekira 12 hari lalu… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s