uban, lemari, dan langkah peri

Ujung tahun 2009. Dekade awal milenium sudah tinggal satu serat lagi putus. Melihat ke belakang, ternyata panjang sekali rangkaian kisahnya. Sayang, ceritanya hampir sama, tidak ada capaian yangistimewa. Kuliah 5 tahun di tempat yang sama, kerja 5 tahun di profesiyang sama. Hanya rambut yang rada berubah, dulu panjang dan lebatsekarang pendek dan menipis. Nyaris tidak kentara perubahan dalam hidupku (atau aku yg kurangmenyadari). Yang benar-benar tinggal dan membekas adalah bahwa akuditinggal dua lelaki yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Bapakku(2004) dan kekasihku (2005). Bapakku meninggal karena sakit jantung, kekasihku pergi karena ternyata dia naksir temanku. Dekade inilah aku merasakan benar-benar patah hati karena lelaki.

Bapakku itu, adalah orang yang sangat berpengaruh pada pertumbuhanmental dan cita-citaku. Dia mengajarkan sportifitas dan enaknya hidup dengan meraih prestasi. Menjadi juara adalah segalanya, tapi ia juga sangat konsisten dengan hidup dalam kejujuran. Pelajaran yang sangat menguatkan. Nah, lelaki satunya lagi, meninggalkan kesan pentingnya toleransi dan keseimbangan antara hati dan pikiran. Jiwa dan raga. Internal dan eksternal. Dia pernah bilang, jika manusia bisa bersetubuh jiwa dan raga, maka tidak ada istilah ‘konflik’ dalam kehidupan mereka. Pelajaran yang sangat indah, di tengah deru jiwa persaingan dan obsesi yang terus tumbuh dalam diri aku.  Tapi mereka telah pergi. Sehari setelah mereka pergi, aku menghapus jejak mereka, tapi tetap ada bekas, ingatan, memori, kenangan. Tak bisa bisa hilang. Cuma itu kesannya.

Beberapa hari lalu aku buat kue nastar bersama adik dan mamakku. Emak gak banyak membantu, cuma mandorin aja. Dia duduk di sebelahku, sambil ngoceh sana sini. Sekilas kulihat ke arah rambutnya, hitam tipis dan bergelombang. Rambutnya masih sama  seperti bertahun-tahun lalu, tidak ada uban sama sekali. Aku tersenyum lega, tanda-tanda tua itu masih menjauh darinya. [God Bless my mom, always. Amin.] Beda sekali sewaktu dulu, aku lupa tahunnya, suatu sore waktu aku pulang ke rumah abis kuliah kujumpai bapakku duduk di teras sambil ngangin sendiri. [Dia tidak merokok seperti kebanyakan bapak-bapak waktu ngangin sore.] Dia menyambut aku yang baru aja turun dari angkot dengan senyuman tipis. “Dah pulang, inang,” katanya. Duh, aku tuh paling demen kalo dipanggil inang, apalagi ama bapak, serasa anak kesayangannya gitu… Aku pun jawab sekenanya aja sambil terus jalan nyelonong ke rumah. Tapi pas aku senyum ke arahnya itu, terlihatku sejumput uban di cambangnya. Duh,, apa-apaan tuh? Hatiku tiba-tiba gusar,, bokap dah tuir rupanya. Aku gak rela dia menua,, aku butuh waktunya lebih lama lagi karena aku belum bisa membalas apapun padanya. Aku tidak ingat apakah memohon pada Tuhan supaya bapak diberi umur panjang atao gak, tapi yang kuingat uban itu membuat aku kesal setengah mati. Seolah-olah aku diingatkan deadline untuk berbakti. Sialnya, aku lagi menikmati eforia orang muda yang suka hal-hal ekstrim dan sesukanya. Dan egoisku menang waktu itu. Bertahun-tahun kemudian bahkan ketika bapak udah gak ada, uban itu terus mengganggu dan menjadi cambuk agar kembali pada haribaan ibu pertiwi, rumah dan keluarga. Makanya aku gak pernah sukses jauh dari orangtua, tak bisa hatiku jauh-jauh dari keluarga. Uban itu membawa trauma yang positif menurutku, sampai sekarang.  Kehilangan memang situasi yang sangat menyebalkan. Itu makanya Madonna muncul dengan lagunya The Power of Good Bye, sangat menyayat liriknya.

Masih di momen membuat kue nastar kemarin, emakku dalam salah satu celotehnya bilang, “Kapan kita punya waktu membersihkan lemari makan ini ya?”   Aku dan adikku diam aja, pura-pura gak dengar. Nanti nambah kerjaan kalo disahuti, pikir kami masing-masing. Emakku terus memberi kata-kata pengantar. Bahwa lemari kayu setinggi 2,5 meter itu, sama tuanya dengan umur kakakku nomor 3. Wow, berarti dibuat 30 tahun lalu. Masih bagus, namun warna kayunya yang sudah memudar. Di sisi kirinya nampak  tempelan gambar-gambar tokoh kartun favoritku dulu, Sailor Moon dan Pangeran Bertopeng, Fido Dido, poster Spice Girl, dan Bobby Brown, rapper nerakanya Whitney Houston. Gambar tempelan itu jelas jelas ulahku, dan aku bangga mereka masih menempel angkuh di sana, meskipun sudah agak tercomot-comot dikit dimakan usia. Emakku bilang, lemari ini buatan tangan Bapak. Dulu, hampir seluruh furnitur di rumah kami adalah buatan Bapak, dan beberapa masih bisa dipakai sampai sekarang.

Dulu lemari dua pintu itu adalah lemari pakaian mereka, sejak aku SD dan kami masuk rumah permanen lemari itu dipindah ke dapur untuk jadi lemari makan. Lemari itu, bilang Emakku, jadi saksi sejarah perkembangan ekonomi kami. Alasannya. Waktu susah dulu, isi lemari itu tentu saja tidak sebaik isi lemari makan kami setelah lumayan mapan. Baik itu perkakas makan, yang dulunya kebanyakan dari plastik sekarang dari kaca dan kristal, maupun lauk pauk yang disimpan di sana. Tapi bertahun-tahun kemudian lemari itu tidak lagi dipakai tempat menyimpanmakanan, tapi jadi gudang piring dan perkakas makan lain yang tidak sering dipakai. Tentu saja, kondisi dalamnya tidak sering disentuh.

Jadinya tebal sekali abu dan kotoran yang menempel di dalamnya. “Kita harus menjaga baik lemari ini, woi,” kata Emakku kampanye. Mmh, taulahaku gen minat sejarah yang berdiam di aku dari mana asalnya. Lemari. Filosofinya lumayan menarik sebenarnya. Seberapa sering kitamemperhatikan lemari? Dia adalah sebuah alat (yg berguna), tidak bisadinafikan. Tapi, jika dihubung-hubungkan dengan buku diari, ada jugapersamaannya. Sama-sama menyimpan keseharian kita. Ya buku, pakaian, uang, perhiasan, surat cinta, dan lainnya. Lemari adalah sosok kaku yang mengetahui banyak rahasia dan dijamin dia tidak akan pernahberkhianat. Seperti apapun dia diperlakukan, dia tidak akan berulahmacam-macam. Lemari pakaianku sudah 9 tahun berdiri kokoh dan jenuh dengan bermacam barang yang berjejal dan menempel di tubuhnya. Dia cuma diam. Ah, lemari, andai tuannya ini sesabar dan sekokoh dia. Ah, tanpa sadar aku sebenarnya sudah mengeluh. Itu tidak baik untuk kesehatan tulang dan gigi, kata dokter. Apalagi sekarang ini, aku dalam tahap komitmen terhadap resolusi baru hehehehe…

Well, cerita-cerita tentang kesehatan gigi, aku melencengkan topik kepada wafatnya Gus Dur pada 30 Desember 2009 kemarin. Jujur, aku sedih banget si dalang demokrasi Indonesia ini meninggalkan dunia. Katanya sih kritisnya dia karena giginya yang bermasalah, di samping memang penyakit komplikasi menahun yang dideritanya itu. Tapi, apapun kata dokter, Gus Dur sudah tiada. Manusia mati meninggalkan nama.  Gus Dur termasuk tokoh nasional yang kontroversial. Sejak zaman aku mengenal kata revolusi dan reformasi, Gus Dur adalah salah satu tokoh yang mewarnai pengetahuanku. Sebuah buku biografinya pernah kubaca, berjudul “Gus Dur, Siapa Sih Sampeyan” karya Al Zastrouw Ng. Buku yang terbit tahun 2006 ini membahas tentang tafsir teoritik atas tindakan dan pernyataan Gus Dur selama menjadi tokoh politik Indonesia. Hobinya yang kontroversial juga, nonton film dan sepak bola, cukup menarik untuk diikuti. Dia adalah satu-satunya presiden yang tetap eksis dalam kancah politik di setiap rezim yang ada di Indonesia. Tindak-tanduknya hampir sama dengan Soekarno, berani dan tidak neko-neko. Sayangnya, keberanian dia harus dibayar mahal dengan pengkhianatan para pelacur politik di senayan. Gus Dur jatuh kena impeachment parlemen sesaat setelah ia mewancanakan adanya dekrit presiden untuk mengawal kesatuan RI yang mulai ditunggangi kepentingan asing. Fraksi PDIP yang kala itu mendominasi parlemen tidak banyak membantu Gus Dur, karena dendam tak naiknya Megawaty sebaga i pimpinan partai pemenang Pemilu 1999 karena didongkel isu agama ‘Perempuan tidak boleh jadi pemimpin’ (?).

Gus Dur, di atas kekurangan dan kelebihannya, buatku seperti seorang Agus Salim, pada masa awal kemerdekaan dulu. Dia tokoh agama yang sangat pluralis dan mencintai demokrasi. Gus Dur, tetap menjadi tokoh favorit pada pro demokrasi di tanah air ini. Dia berani dan tidak neko-neko demi kepentingan bangsa dan negara ini. Selamat jalan Gus Dur…

Menutup tahun 2009, kuputuskan untuk mendengarkan lagu favoritku waktu kuliah, Cherry Bombshell-Langkah Peri. Isn’t she beautiful?– Met taon Baru semua… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s