Gembel

 

Sudah pukul 10.10 malam. Mata sudah sayu menunggu angkutan kota lini ke arah rumahku, tapi tak muncul-muncul juga. Aku tahu kalau jam-jam segini, angkotku susah didapat. Tapi tadi aku berlagak santai di meja warung mie aceh Tengku dan asyik ‘kombur’ dengan 2 teman yang gelisah karena tak punya karya tulis apapun yang dapat dibanggakan sewaktu ngumpul-ngumpul seperti ini. Alhasil, karena rindu berdiskusi, akhirnya kami cukup puas memaki-maki karya orang lain yang berhasil diterbitkan secara komersil oleh penerbit nasional. Kurang inilah, kurang itulah, dia beginilah, dia begitulah. Mengkritisi orang untuk mempertahankan eksistensi di tengah kekosongan. Dan kami merasa cukup puas dengan itu, lalu membubarkan diri.

30 menit berlalu, kakiku mulai pegal. Di tempat aku berdiri, lalu lalang orang dan kendaraan masih terbilang ramai. Maklum, ini kawasan kampus terbesar di kota ini. Kesibukan mahasiswa selain belajar, yah berkeliaran dekat kos-kosan sebelum mata benar-benar mengantuk untuk menutup hari.

Ah, andai sepeda motorku tak rusak pastilah aku sudah melaju pulang dengan santai. Sedetik kemudian kuputuskan untuk menyambung angkot saja. Tak praktis memang, tapi aku benar-benar mau pulang. Tiga bulan terakhir aku sudah jarang pulang ke rumah di atas jam 9 malam. Emakku pasti mulai gelisah di sana, walau handphone-ku tak kunjung bunyi sebagai pertanda pencarian emak terhadap anak gadisnya seperti sudah-sudah.

Yah, aku akan nyambung angkot saja. Tapi kuberi kesempatan bagi angkot tercinta untuk unjuk gigi, lima menit lagi. Kalau gak,  tak ada toleransi lagi dariku, aku akan pindah ke lain hati. Dan dia mengecewakanku. Tapi, sesaat hendak menyetop angkot–tentunya angkot menyambung– seorang lelaki tinggi menghampiriku.

“Ito, tolong, ito. Angkot arah ke Percut Sei Tuan, nomer berapa? Aku kelewatan, tak tahu jalan pulang ini, ito,” ujarnya lirih.

Masih dengan suara bergetar dan raut setengah memelas, dia mengulang kata-katanya barusan kembali. Kali ini matanya berkedip-kedip seolah ingin menangis karena panik. Aku yang jengah dengan akting seperti itu dengan enteng menunjuk beberapa nomor angkot yang kebetulan lewat di depan kami. Pria yang kutaksir berusia di ujung 30-an itu pun akhirnya mengeluarkan kalimat saktinya yang tentu saja sudah bisa kutebak. Dia minta uang, ditentukan jumlahnya beberapa ribu rupiah saja, untuk ongkos pulang.

Dalam hati aku melenguh, yang begini nih paling kubenci. Aku memang jarang sekali memberi sumbangan uang pada gelandangan dan pengemis alias gembel atau pengamen jalanan. Aku cuma kasih doa dalam hati supaya pintu rezeki si gembel atau pengamen jalan dibukakan Tuhan Yang Maha Esa. Kalau dibilang pelit, terserahlah. Tapi aku tak suka menyumbang uang di jalan.

Tak terkecuali si ‘ito’ yang satu ini. Orang awampun tahu dia ini cuma lelaki pemalas dan putus asa yang ingin uang cepat tapi terhindar dari tindak kriminalitas. Entah untuk apa uang yang didapatnya itu, tapi yang jelas tampangnya sama sekali tidak gembel. Bajunya, T-Shirt berkerah warna krem, agak tebal kainnya, pasti mahal. Kalaupun dia mungkin beli monza, tapi kondisinya jauh dari rupa kemiskinan. Kulitnya putih bersih, bercambang halus, tubuh tinggi lebih kurang 170 cm. Sendal jepit hitam, pakai jeans belel hitam. Hanya raut dan suara aktingnya itu saja yang membuat dirinya seperti gembel. Dan itulah pandanganku padanya.

Orang ini cukup menjijikkan. Aku membayangkan bahwa dia melakukannya sudah seperti profesi satu atau dua bulan terakhir. Amatir, tapi sudah naik kelas penjiwaannya. Uang-uang yang berhasil diperolehnya pun digunakan untuk hal-hal yang ‘haram’, berjudi, beli narkoba, main ke prostitusi, atau beli mie instan untuk makan siangnya.

Benar-benar manusia yang menyedihkan. Aku tidak akan memberi sepeserpun uangku. Lagian ini tanggal tua, mood-ku lagi jelek, badanku capek, angkot yang kutunggu-tunggu tak kunjung datang. Tak ada alasan untuk berbaik hati pada orang yang menyedihkan ini. Aku tidak mau dibodohi oleh akting amatirannya itu.

Pikiranku berkelabat cepat pada percakapan kami yang mungkin hanya berdurasi kurang dari 10 menit. Meskipun tanpa memutar kepala, aku tahu sejumlah pasang mata dari pengunjung warung di pinggir jalan tak jauh dari tempatku berdiri pasti sedang memandangi kami. Menebak apa yang menjadi percakapan kami atau apa reaksiku pada lelaki dengan wajah memelas tak malu ini. Ada rasa risih jadi bahan tontonan kayak gini. Dasar nih orang…

“Ito, tolonglah, ito…” Si gembel mengumbar keprihatinan. Kutatap matanya dalam. Sikapku masih seperti tadi, bahwa dia cuma gembel pemalas yang menyedihkan. Tapi aku juga jengah berada dekat pengemis lama-lama. Aku juga ber-Tuhan, yang selalu diingatkan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dan pikiran yang singkat itu cukup berpengaruh rupanya. Lagipula aku tidak berniat mendoakan orang ini. Kurogoh kantong depanku, ada duit Rp2.000, langsung kuserahkan padanya tanpa bicara.

“Makasih ya, ito. Makasih…”  Dia pun berlalu ceria sambil menyetop angkot yang kutunjuk tadi, menuju Percut Sei Tuan.

Betapa naifnya aku. Aku memang paling tidak bisa memutuskan secara rasional soal arti kebaikan. Setelah mendamaikan otak dan hati, aku pun segera melupakan insiden seharga Rp2.000 itu. Tapi malam memang semakin larut. Angkot pun semakin jarang melintas.

Menunggu sambil menggerutu, akhirnya aku dapat angkot transit. Perasaan sedikit lega karena kaki sudah bisa agak ditekuk. Dua cowok muda berwajah lumayan menghapus laraku. Sekilas melirik ke arah mereka bagiku sudah cukup. Selebihnya aku biarkan pikiranku melayang selama perjalanan jauh ke rumah. Apalagi si sopir angkot lagi memutar lagu Barat era 70-an. Cocok sekali suasananya, terapi mengembalikan mood yang sempat runyam. Aliran darahku pun sudah mulai lancar.

Sepuluh menit berjalan, angkotku dihentikan lampu merah. Tak lama seorang penumpang naik dan duduk pas di belakang sopir. Pikiranku memang sudah melayang pada hayalan, tapi mataku tetap membuka. Itu si gembel tadi. Dia duduk tanpa raut gembel seperti yang tadi dipasangnya. Sebatang rokok dihisapnya santai tanpa melihat ke arah penumpang yang lain. Cuek. Dia benar-benar sudah membodohiku. Dia tidak tersesat dan dia bukan gembel. Dia penipu dengan modus menjijikkan.

Sepanjang perjalanan ini ketenangan yang baru kudapat diguncang kembali. Rasanya ingin melabrak si gembel itu dan mempermalukan dirinya karena akting murahannya tadi. Uangku pun dirampasnya. Aku berharap dia menoleh ke arah belakang dan menemukan mataku yang siap menerkam. Tapi hal itu tidak juga dilakukannya. Matanya terlalu sibuk melihat ke arah pinggir jalan untuk bisa menemukan gadis yang sedang menunggu angkot untuk menjadi mesin ATM selanjutnya. Dasar manusia tidak berguna, apa yang ada di benaknya saat ini. Dia benar-benar mencari mangsa baru. Bukan hanya gadis berwajah penuh kasih, tapi juga yang lagi sendirian.

Ketika angkot ini melintas di sebuah pusat perbelanjaan, banyak gadis SPG pulang kerja yang berjejer menunggu angkutan pulang. Si gembel tidak tertarik, dia mencari yang sendirian, seperti aku tadi. Hiks… Aku tidak terima bisa menjadi korban si gembel ini. Kuperhatikan saja gelagatnya mencari mangsa, tanpa beban dan malu.

Melewati pusat perbelanjaan berikutnya, suasana agak sepi ternyata, tidak seperti pusat perbelanjaan yang pertama. Si gembel minta berhenti. Seorang cewek, sendiri, dengan jaket menutup seragam kerjanya, nampak sedang menunggu angkutan pulang. Si gembel turun tanpa membayar. Cukup pasang tampang idiot dan mengatupkan dua tangannya di depan wajah, sopir tak berkomentar kemudian berlalu.

Dasar manusia tak berguna, umpatku dalam hati. Sebenarnya umpatan itu lebih mengena kepadaku. Karena membiarkan tindak kejahatan tetap berlangsung di depan hidungku. Huh, kenapa ujung hariku bisa tergores kejadian tak mengenakkan ini. Aku pasti tidak bisa tidur malam ini.

**

Pulang malam kali ini cukup sepadan dengan yang aku lakukan. Menonton teater mahasiswa dengan lakon humor yang sangat menghibur. Kota ini memang butuh tontonan yang lucu-lucu. Teater tidak harus dengan lakon serius yang mengumbar kesengsaraan rakyat dan kritik terhadap penguasa yang lalim. Penderitaan tidak perlu ditularkan dan ditancapkan lebih dalam lewat lorong hiburan. Tapi itu menurutku, entah kalau yang lain.

Aku rela beli tiket kok untuk sesuatu yang menghibur, bukan untuk yang membuatku gelisah dan tidak bisa tidur malam ini. Soalnya hari ini cukup lelah bekerja. Tontonan berkualitas dengan biaya terjangkau seperti ini memang sangat cocok bagi kami yang pekerja penuh waktu tapi digaji tak memenuhi kesejahteraan. Negara ini tidak mentolerir biaya kelakuan yang lebih layak sebagai gizi mental para warganya.

Berpisah dari kawan-kawan, aku pulang sendiri naik motor. Ini hari Jumat pukul 11 malam. Jalanan kota bisa sangat sepi ternyata. Berbeda tatkala matahari menguasai hari, jalan aspal tertutup kendaraan yang merayap sanking padatnya. Tapi saat ini jalanan milik para pengendara malam. Aku melaju dengan kecepatan normal sambil terus menikmati sensasi tawa yang masih tersisa di kepala.

Tak lama, sekilas mataku menangkap sebuah aktivitas yang bergerak cepat di depan sana. Tepatnya di atas trotoar sebelah kiriku. Namanya anak muda, rasa ingin tahu pun memegang kendali. Semakin mendekat situasinya semakin jelas. Dua orang lelaki bertubuh gempal mengejar seorang lelaki bertubuh agak kurus. Malam itu benar-benar sepi jika saja ketiga orang yang berlarian itu tidak mengeluarkan teriakan.

Satu dari dua lelaki gempal tadi membawa sebatang kayu broti sepanjang 1 meter sambil tersengal-sengal berlari kelelahan. Hatiku tersentak ngeri membayangkan seting adegan mereka. Kalau lelaki yang dikejar itu dapat, pasti akan ada penganiayaan berat. Bodohnya aku malah terpana melihat ulah mereka. Tak sadar sepeda motorku melaju dengan kecepatan yang mudah dikejar. Seolah aku adalah tim kameramen yang sedang mengambil gambar adegan kejar-kejaran ala film action itu. Aku baru tersadar ketika lelaki yang dikejar tahu-tahu sudah berlari di sampingku.

“Ito, tolong, ito, larikan aku cepat. Aku mau dibunuh orang itu. Tolonglah, ito!”  katanya memelas di tengah nafasnya yang memburu.

Aku hampir oleng kaget melihat lelaki malang itu berteriak di samping belakangku. Rasa kaget itu juga keluar ketika melihat pria itu berlari ke tengah jalan, dan aku mengenalnya. Baju yang sama dengan raut yang lebih mengiba. Itu si gembel yang sebulan lalu memperdayaku. Tak ada pikir panjang, aku langsung tancap gas meninggalkannya. Jangan-jangan ini cuma modus baru untuk merebut sepeda motorku. Akhir-akhir ini perampokan sepeda motor sedang marak dengan berbagai cara.

Modus mengumbar belas kasihan tidak lagi bisa menyentuhku. Agak jauh menghindar, aku balik melihat ke belakang sekilas, mungkin untuk mengucap selamat tinggal ‘modus’. Si gembel tampak sudah tersungkur di tengah jalan. Dua pria gempal itu berhasil mendapatkannya. Sebelum menarik pandanganku ke depan masih sempat terlihat olehku pukulan broti mendarat di tubuh si gembel. Aku tak lagi mendengar suara mereka karena sudah melaju jauh.

Adrenalinku benar-benar terpacu dalam waktu yang begitu singkat. Aku sampai tak bisa mengganti penglihatan yang mengerikan itu dengan adegan-adegan lucu di teater yang sempat mengocok perutku tadi. Pemukulan si gembel terus membayang. Dengus nafas dan air mukanya sewaktu mengiba padaku terus berkelebat. Dia bisa saja mati tadi. Satu dua kendaraan yang lewat tidak terusik sama sekali, melaju kencang tanpa koma.

Ah, tapi itu bukan urusanku. Aku bahkan kemudian memutuskan untuk tidak mau menebak apa kira-kira yang terjadi di antara mereka. Sekali lagi itu bukan urusanku. Paling besok aku akan beli koran berita kriminal untuk memastikan si gembel mati atau tidak. Hanya sebatas itu kepedulianku. Dan ketika besoknya kucek ternyata tidak ada beritanya di koran, aku cukup lega dan menutup ingatan padanya, si gembel yang malang. Aku memang tipe orang yang mudah melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan. (dj)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s