cerpen

Melihatmu dari Belakang

Dari sejumlah buku, film, cerita orang-orang di sekitarku, aku mengambil garis besar soal cinta begini, dalam cinta pasti ada suka dan duka. Baik, aku akan memulai uraian dari kedukaannya dulu. Semua pasti setuju bahwa hal yang palng menyakitkan dalam bercinta adalah mengetahui kalau cinta yang kita yakini juga dirasakan sama oleh kekasih kita, ternyata salah. Dia tidak (benar-benar) mencintaimu. Orang kebanyakan menyebut situasi ini sebagai cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Tidak ada yang patut dipersalahkan dalam hal ini. Kadang orang hanya belum yakin dengan perasaannya sendiri tapi langsung menerima atau sebaliknya menolak tawaran cinta seseorang padanya. Hasilnya sama saja,  cinta tak mendekam erat untuk mengikat keduanya. Makanya muncullah kasus cinta bertepuk sebelah tangan ataupun perselingkuhan. Kedua hal itu sama-sama berakar dari tidak merekatnya cinta di antara dua hati.

Well, cukuplah soal kedukaan cinta ini. Situasi lainnya adalah suka. Orang-orang pun tidak akan membantah jika kukatakan bahwa hal yang paling menyukakan hati adalah saat cinta kita gayung bersambut dengan orang yang kita taksir. Sifat manusia memang tidak pernah lepas dari persepsi dan pengakuan. Ada kelegaan yang luar biasa tatkala cinta mendapatkan tautannya. Ibarat bibit bunga tumbuh di lahan subur, hal paling logis yang terjadi padanya adalah bersemi. Di sana hanya ada kebahagiaan dan sumringah.

Tapi ada satu kondisi lagi yang menyangkut cinta-cintaan ini. Dia berada tepat di tengah-tengah kondisi suka dan duka itu. Bersifat integral, jika tidak mau disebut situasi gamang. Nah, kondisi ini terjadi ketika ada cinta yang membara tetapi ditutupi kebekuan. Orang awam menyebutnya cinta terpendam.

Penganutnya pun tidak bisa dibilang bersalah jika memilih situasi ini. Ada banyak pertimbangan yang membebani dirinya untuk menguak tabir hatinya. Cukup puas hanya menikmati remah-remah cinta yang ditaburnya sendiri. Memandang punggung kekasih hati, melihat senyumnya dari jauh, ataupun curi-curi pandang dari balik tembok.

Sengaja menghirup nafas dalam tatkala si pujaan hati lewat demi mengambil aroma tubuhnya, atau mencuri dengar percakapannya dengan orang lain demi merekam suaranya di dalam pikiran dan akan diputar ulang menjelang tidur. Agak gila memang, tapi ini nyata.

Pemuja rahasia, dunia sastra menyebutnya demikian. Dan itulah diriku. Tak ada orang di dunia ini yang tahu bahwa aku naksir padanya, seseorang yang istimewa dan menarik hatiku. Diam-diam sering memperhatikannya, lalu menyimpan persepsi hanya dalam hati saja.

Pembenaran pada diri tidaklah serumit kebanyakan orang yang memutuskan untuk mendiamkan hasrat perasaannya pada seseorang. Aku hanya karena tidak mau repot saja berjuang mendapat perhatiannya, apalagi cintanya. Cukup bagiku menikmati dari jauh saja.

Dialah Satria Astronot. Dari namanya saja aku sudah tertarik. Lucu soalnya. Sejak perkenalan siswa baru di sekolahku setahun lalu, dia sudah mencuri perhatianku. Waktu itu kami disuruh satu per satu memperkenalkan diri di depan kelas oleh guru. Pertama kali mendengar namanya aku tertawa keras. Apa yang ada di benak orangtua Si Satria Astronot ini ketika menabalkan nama seperti itu padanya. Tak terbayangkan beban aneh yang dipanggul Sang Astronot dengan nama seberat itu. Tapi Satria cuek saja ditertawakan, bahkan oleh seluruh kelas.

Mungkin dia sudah kebal dengan ratusan opini nyeleneh soal namanya ketika disebut di depan orang baru, dan tahu pasti harus bersikap bagaimana ketika dia menghadapi kondisi seperti ini. Dia hanya cengir kuda dan beberapa kali mengedipkan sebelah matanya ke hadapan kami yang ada di depannya. Sialnya, salah satu kedipan itu tepat mengarah padaku. Sontak tawaku redam. Semenjak itu aku tidak pernah berani menatap matanya lagi.

Namun sikapnya yang terbuka dan blak-blakan kian mencuri hatiku. Orangnya aktif dan mampu menyebar aura ceria ke sekitarnya. Semua orang bisa dibujuknya untuk tertawa dan menikmati setiap leluconnya yang kadang terdengar konyol dan kekanakan. Dan akupun kecipratan juga ketika berada tak jauh darinya.

Sungguh senang mendengar suara tawanya yang menggelegar. Meski aku diam dan tidak melihat ke arahnya tapi hatiku tersenyum, merasakan degub jantung yang terus mengetuk cepat karena dorongan fantasi.

Aku tidak pernah bicara padanya, sekalipun. Hanya anggukan atau gelengan yang kulakukan jika sesekali Astronot berkomunikasi padaku. Bukan aku tak senang dia bicara padaku, tapi aku nggak sanggup menerima berkah segede itu. Biarlah suaranya hanya terdengar jauh saja, itu sudah cukup. Jika terlalu dekat dan mengarah padaku, aku akan menggelegar dan siap meledak jika tidak segera menyingkir dari sumber api.

Aku tidak mau berada dalam kondisi yang merepotkan itu. Aku hanya ingin memandangnya dari belakang tanpa intervensi dalam bentuk apapun juga. Dan kau, Astronot, jangan sekali-kali menoleh ke belakangmu saat aku sedang melakukannya, kau hanya akan mengganggu kesenanganku saja.

**

Hari ini Pak Mendrofa masuk les pertama. Sungguh bukan cara yang asyik untuk memulai hari. Guru sejarah yang penuh cerita itu bertampang tidak lebih baik dari sejumlah fosil Homo Sapiens yang ditemukan di Sungai Trinil.

Suaranya yang sengau-meskipun terdengar bersemangat- sama sekali tidak membantu upayanya untuk membuat kami tertarik dengan cerita-cerita sejarahnya. Awan mendung seperti meraja di atas sana. Akibatnya sisa-sisa kantuk pagi ini menjadi lebih punya ruang untuk disalurkan. Tak terkecuali aku.

Hanya ada satu siswa di kelas ini yang tidak terkena penyakit bosan dan ngantuk saat pelajaran Pak Mendrofa. Si jenius Oriza. Gadis itu memang selalu terlihat serius dalam menimba ilmu. Semua mata pelajaran dia ikuti dengan fokus tanpa banyak bicara. Karena itu dia terlihat kuat dan tegas. Akan tetapi hal itu juga yang membuatnya sulit membaur dengan orang-orang di sekitarnya. Tidak banyak yang mau berurusan dengan Oriza, kecuali untuk mencontek tugas sekolah. Dia memang dikenal susah diajak ngobrol.

Tapi aku berbeda dari mereka-mereka itu. Aku ingin sekali dekat dengan Oriza, bisa ngobrol panjang lebar dan melihat wajahnya dari dekat. Yah, semua orang tahu kalau selain pintar, Oriza itu punya wajah yang sangat manis, apalagi kalau tersenyum. Aku benar-benar suka senyumnya. Dan jika tertawa, matanya berbinar-binar sempurna.

Pernah aku mendapatkan kesempatan emas itu. Dulu, setahun lalu saat perkenalan siswa baru. My sweet Oriza tertawa padaku. Oh, dia cantik sekali. Aku pun tetap menyimpan potret tawa itu dalam benakku, karena hingga kini aku tidak pernah mendapatnya lagi. Oriza bahkan tidak mau bicara padaku.

Apa dia membenciku? Apa aku punya salah padanya? Mungkin saja. Ah, apa dia marah waktu aku tertawakan namanya waktu perkenalan siswa dulu? Oriza Sativa, nama ilmiah padi. Apa dia marah padaku karena itu? Bisa jadi. Tapi aku tidak pernah diberi kesempatan untuk meminta maaf. Dia tidak mau bicara padaku.

Pernah sekali waktu kami berdua, aku dan my Oriza, dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk bertemu pengawas sekolah yang mengetahui bahwa ada  siswa berprestasi gemilang di sekolah ini. Aku, kapten tim futsal yang memenangkan kejuaraan Futsal SMA tingkat kota, sementara Oriza menang karya tulis ilmiah pelajar SMA tingkat propinsi.

Kami berdua berjalan seperti semut menuju kantor kepala sekolah. Dia tidak mau jalan bersama, supaya aku bisa mengajaknya ngobrol kecil. Setidaknya membincangkan tentang prestasinya itu. Oriza memilih diam dan berjalan dengan jarak 3 meter di belakangku. Aku sedih sekali saat itu. Pikirku, dia memang membenciku.

Mendadak lamunanku buyar. Terdengar bunyi riuh di dalam kelas. Ada apa kawan-kawan? Sorakan dan tepuk tangan riuh membangunkan seluruh kelas.  Apa yang diperbuat Pak Mendrofa sehingga kawan-kawan bergembira seperti ini? Apa kami akan dapat nilai 8 untuk sejarah tanpa ujian dan tugas? Ah, itu adalah hil yang mustahal. Kutepuk pundak Rony, teman sebangkuku, untuk memberitahu apa yang sudah kulewatkan.

“Kita mau ada kegiatan karya wisata ke Tomok, Samosir. Mau lihat peninggalan Raja Siallagan,” terang Rony menjelaskan.

Wah, asyik juga nih, jalan-jalan. “Kapan?” kataku memburu, seolah sudah tahu perihal tempat yang akan kami kunjungi.

“Bulan depan.”

Hatiku ikut bersorak juga akhirnya. Kulirik Oriza yang duduk di bangku depan dekat jendela. Dia tampak sedang tersenyum. My Oriza pasti suka perjalanan ini. Ah, dia manis sekali. Tidak akan kusia-siakan kesempatan untuk mengobrol padanya saat karya wisata nanti. Sekaligus memastikan bahwa dia tidak membenciku. Sebab, ya Tuhan, aku tersiksa sekali dengan situasi ini. Tidak bisa dekat dengannya, ngobrol saja tidak pernah.

Hey, dia menoleh ke arah sini. My Oriza menatap aku dengan sisa senyumnya itu. Tapi hanya sekejab. Seperti biasa, dia langsung cepat-cepat menarik wajah begitu kami terantuk mata. Ah, Oriza, tunggu saja strategiku nanti.  (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s