cerpen

LIPATAN ASA

Minibus yang kutumpangi mulai melaju dengan kecepatan sedang. Jalan yang dilalui memang masih termasuk jalan padat kendaraan, jadi aku dan penumpang lain harus bersabar untuk bisa segera sampai ke tujuan. Tapi kata segera ini harus diartikan luas, karena perjalanan untuk tiba di tujuanku berkisar 9 jam perjalanan normal.

Aku ingin pulang kampung. Selain karena rindu orangtua, ada dorongan kuat dari hati untuk datang. Sudah 3 tahun ini aku tidak pulang. Alasan kota tempat aku kini bekerja yang jauh menjadi senjata ampuh untuk menjawab semua pinta keluarga dan teman untuk pulang ke kampung minimal saat hari raya tiba.

Sudah 10 tahun juga aku merantau jauh dari keluarga. Lima tahun pertama itu karena aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Medan, lima tahun berikutnya aku bekerja di Palangkaraya sebagai seorang quality controller di sebuah perusahaan tekstil. Secara garis besar hidupku terbilang mapan dari segi ekonomi dan sosialita. Kesupelanku dan tampang yang lumayan menarik, membuat aku selalu mendapat tempat di lingkungan tempatku berada. Tapi sebagai perempuan, aku masih perlu dilengkapi. Cinta, pasangan. Ada ruang kosong di hatiku ini, dan terkadang menimbulkan rasa nyeri yang menyakitkan.

Aku tidak pernah bisa benar-benar menjalin hubungan asmara dengan laki-laki yang mengejarku. Sangat sulit menjelaskannya kenapa. Ada bagian dari diriku ini yang masih menunggu, merindu, sesuatu yang kuharapkan menjadi milikku. Suatu cinta yang kudamba sejak masa remajaku. Seseorang yang berhasil mencuri hatiku hingga saat ini.

Cinta bodoh ini tak bisa kutuntaskan dengan intelektualitas. Hati bekunya tidak pernah bisa diluluhkan dengan keceriaan dan pesonaku. Rasa penasaran yang tumbuh menjadi sebuah hasrat terpendam kemudian menjadi racun bagi setiap upayaku untuk mencari cinta lain.

Lelaki itu kutemui di kampungku. Namanya Sahala. Berkulit kuning langsat, sepasang mata dengan bulu yang hitam dan lentik, berdada bidang, dan bibir yang selalu terkatub rapat. Sesekali dengus nafas dari hidungnya yang mancung, mampu mengalahkan perhatianku bahkan dari sebuah pohon mahoni yang tumbang menghempas tanah. Kami sama-sama belia ketika pertama bertemu. Bapakku yang seorang kepala desa mengajakku mengunjungi sebuah keluarga yang menjadi korban banjir bandang yang terjadi di kampung kecil kami.

Bapak Sahala tewas terbawa arus banjir bandang bersama seorang abangnya ketika ikut dalam rombongan penebang kayu hutan untuk sebuah perusahaan bubur kertas di ibukota kabupaten. Sebagai anak kedua, Sahala menjadi pengganti bapaknya untuk menjaga ibu dan 4 orang adiknya. Tamat SMP, Sahala berhenti sekolah dan ikut ibunya berladang.

Sesekali aku berpapasan dengannya di waktu pekan. Ia ikut berjualan dan membantu ibunya mengangkat barang-barang hasil ladang mereka. Aku sering memperhatikannya dari toko kami yang terletak tak jauh dari meja dagang ibu Sahala. Ketekunannya dan totalitas dirinya untuk keluarga membuat simpatiku berubah menjadi cinta. Cinta seorang gadis belia. Aku ingin memiliki lelaki seperti dia di rumahku nanti. Bertanggung jawab penuh pada keluarga.

Sesekali aku menyapanya dan mengajaknya bercakap, tapi dia sangat dingin padaku seperti juga kepada orang yang lain. Tapi aku tidak menyerah, karena aku sangat menyukainya. Beberapa kali ia terpancing candaku untuk tertawa, menjadi dorongan tersendiri bagiku untuk terus berusaha memenangkan hatinya. Hingga saat aku memutuskan untuk kuliah ke Medan pun, aku tetap terikat pada senyumnya itu.

Pulang ke kampung setiap kali ada kesempatan, aku pasti menemuinya. Kadang ke rumahnya sekedar lewat atau singgah ke meja dagang ibunya  ketika pekan tiba. Tapi keluarga dan temanku tidak ada yang tahu kalau aku tertarik kepada lelaki yang terkenal pendiam itu. Bagiku dia semakin tampak dewasa dan memesona, walaupun dia tetap tumbuh menjadi pria yang dingin.

Ketika lulus kuliah aku pun mengabarinya waktu pulang ke kampung liburan. Aku ingin menyatakan perasaanku, apalagi kudengar dia tidak pernah punya pacar. Usiaku cukup dewasa untuk bisa memutuskan bahwa aku ingin menyerahkan hatiku pada pria idamanku.  Tapi Sahala tidak bereaksi apapun. Dia cuma bilang, dia senang kalau aku sudah menjadi teman baiknya dan perhatian kepadanya selama ini namun tidak bisa lebih dari itu. Darah seperti muncrat dari ubun-ubunku, pupus semua harapan. Aku pun memutuskan tidak bisa lebih berani lagi dari ini, dan patah hati.

Aku pergi menjauh, sejauh-jauhnya dari kampung halamanku. Aku membawa patahan hatiku ke seberang laut, berharap bisa sembuh dengan sendirinya dan melupakan Sahala. Tapi tidak semudah itu ternyata. Secara fisik yang berjarak memang mampu membuat aku tidak memikirkan cintaku yang tidak kesampaian itu. Namun, sesekali ada rasa nyeri di dadaku ketika aku sendiri dan teringat Sahala. Apa kabarnya sekarang, tak ada yang bisa ditanyai.

Tiga tahun lalu aku pulang karena dipaksa ibu. Bapakku sakit dan berniat mengawinkan aku dengan paribanku dari kampung tetangga. Mereka khawatir aku bakal jadi perawan tua, karena belum juga punya pasangan hidup. Karena aku anak perempuan satu-satunya, dan anak bungsu pula, keluarga sangat berharap aku segera menikah dan tidak berada jauh dari sanak saudara. Sebagai anak yang patuh, aku mau dikawinkan tapi tidak dengan paribanku tetapi dengan Sahala.

”Apa bagusnya dia, sehingga kamu yang sekolahan dan punya penghasilan bagus  mau kawin sama dia?” ujar abangku yang sulung.

”Aku sudah suka dia sejak lama. Aku cuma mau kawin dengannya.”

Pernyataanku itu tidak mendapat bantahan berarti lagi dari keluargaku. Mereka hanya kemudian menyuruhku membicarakannya pada Sahala, apa dia bersedia menjadi pasangan hidupku. Dan itu kulakukan secepatnya. Aku pun mengajukan proposal cintaku pada Sahala. Dan ia menolaknya kembali.

“Aku masih harus membantu ibu dan adik-adikku. Mereka bergantung secara ekonomi padaku, aku belum mau menikah sekarang. Sebaiknya kau terima saja paribanmu itu.”

Sahala hanya bicara singkat, dan aku pun tidak banyak bertanya lagi. Cukuplah.

Aku bilang pada keluargaku, Sahala menolakku dan harus segera kembali ke Palangkaraya karena jatah cutiku sudah habis. Aku kemudian meninggalkan kampung secepatnya, masih dengan hati yang terpecah belah yang lebih berkeping lagi. Saat itu aku berpikir, entah bagaimana nantinya hatiku ini, aku tidak tahu. Yang penting menjauh sajalah dulu dari sumber api. Dan seterusnya, aku selalu menyimpan duri di dadaku ini. Sesekali bertanya pada diri sendiri, mengapa sulit sekali membuang duri ini?

Tiga tahun kemudian, tepatnya hari ini, aku baru tahu jawabnya mau diapakan hatiku ini sekarang. Jarak menuju kampung halamanku semakin pendek tapi jantungku semakin berdegub kencang. Ada kabar yang begitu menyita hati dan pikiranku. Bayang wajah ibu dan bapakku, juga Sahala, berkelebat silih berganti di pikiran. Aku seperti kehilangan otoritas terhadap diriku. Kenapa jiwa dan ragaku mereka yang atur? Kenapa aku tidak bisa membebaskan diri dari belenggu cinta dan ikatan? Mengapa aku selemah  ini?

Sahala akan menikah dengan gadis sekampung kami.  Ia akan hidup dengan gadis yang dipilihkan ibunya untuk mendampinginya. Aku, tidak pernah masuk dalam daftar gadis yang akan dipilihnya. Dia tidak pernah memikirkanku.

Kepedihan dan beban tanggung jawab besar pada keluarga sejak usia belia telah membutakan hatinya terhadap cinta besar yang kusimpan hanya untuknya selama ini. Pragmatisme cinta keluarga telah membuatnya tidak punya pilihan selain menyetujui segala pinta ibunya. Dan aku, aku hanya bisa gigit jari.

Sesampainya di rumah, bapak-ibu menyambutku bahagia. Tapi mereka heran kenapa aku tidak membawa koper, hanya sebuah tas tangan berisi salinan baju untuk dua hari dan satu tas plastik besar oleh-oleh buat mereka.

”Aku cuma sebentar di kampung, Pak. Cuti ku tidak lama, kerjaanku banyak,” alihku pada Bapak dan Ibuku.

”Kau tidak usah kerja lagi-lah. Kawin dan tinggallah di kota dekat-dekat sini kalau gak mau tinggal di kampung ini,” tukas Bapak, seperti yang sudah dikatakannya setiap kali aku pulang.

Tapi perdebatan itu tidak pernah tuntas, karena aku langsung bicara tegas bahwa hidupku aku yang menentukan. Ibu lalu membawa nama Sahala, yang akan menikah minggu depan dengan boru tulangnya. Aku tidak banyak berkomentar, bahkan ketika undangannya diperlihatkan padaku. Komentarku sudah menguap.

Aku jumpa Sahala waktu turun di stasiun ketika tiba di kampung halamanku tadi. Wajahnya semakin memesona sebagai lelaki dewasa. Kali ini dia yang menyapa aku duluan, tapi aku tidak menyahutinya. Aku cuma memandangnya lekat lalu melengos berjalan ke arah rumahku tanpa perduli anggapannya kemudian atas keacuhanku. Dalam hati aku berkata, ”Aku tidak akan menikahi lelaki yang tidak bisa memutuskan sendiri hidupnya.”

Sedetik kemudian  aku seperti tersadar dari mimpi tidurku.  Sejak lama kami sebenarnya sudah terpisah. Baik jarak fisik maupun pemikiran. Hanya saja, aku selalu membiarkan diriku terbuai akan kenangan masa remaja yang jatuh cinta. Sahala biarlah lepas tanpa basa-basi lagi. Aku sudah patah hati berkali-kali padamu. Kulipat saja asaku ini, sudah tidak berarti lagi. Mungkin aku akan bertemu cinta baru nanti. Dan biar aku yang memilihnya sendiri.  (dj)

Padang Bulan, 9 April 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s