cuap-cuap si butet klasik

Protes !!

Hai, namaku Butet. Aku tinggal di Medan. Seperti kebanyakan orang Medan, terjebak macet adalah suatu hal yang tidak biasa meskipun pernah mengalaminya saat berwara-wiri di jalanan kota Medan. Nah, suatu hari, di saat ujian semester di kampusku, aku terjebak macet di Jalan Gatot Subroto Simpang Yuki. Mulanya aku gak khawatir lantaran aku sengaja berangkat dari rumah satu jam sebelum masuk ujian. Sementara jarak rumah-kampus hanya setengah jam. Setengah jam lagi bisa kugunakan untuk hal-hal lain menjelang ujian. (Tahukan maksudku, caposman alias cari posisi aman, gitu loch!).

Lima menit sepuluh menit, angkotku gak juga bergerak dari posisinya meskipun sudah lampu hijau, hatiku mulai mengumpat. Mulanya sedikit kasar (kenapa motornya ini? Lama kali?), lalu kasar (ah, lontonglah. Apa pula di depan itu, kok lama kali? Macam betul aja orang ini), terus seiring waktu yang tak kunjung disertai pergerakan yang berarti dari si angkot, keluarlah kata-kata yang sangat kasar (kambinglah, entok, kucing kurap, dasar ulat bulu, pokoknya nama binatang, Balilah, Lombok, Paris, terus lari ke nama-nama tempat wisata). Pitam makin naik ke ubun-ubun, karena bukannya bisa mencari caposman di kelas aku malah terancam telat! Mana dosennya killer lagi. Yang terlambat tidak boleh masuk. Aku terancam gagal ujian. Ampun dah..

Usut punya usut, ternyata di simpang sana sedang ada aksi demonstrasi. Suara toa dan teriakan yel-yel tanda orang berdemo lamat-lamat mulai terdengar jelas. Apalagi, seseorang (mungkin bagian dari massa aksi) menaruh lembaran kertas pernyataan sikap mereka kepada penumpang angkot. Malas aku ngambilnya. Gondok sudah melumatkan hobi membacaku. Aku buang muka sombong saat lelaki pemberi kertas selebaran itu menatapku.

“Apa sih yang kalian tuntut? Sekarang aku nuntut kalian balik karena membuat aku terancam gagal ujian gara-gara ulah demonstrasi kalian,” seruku dalam hati, panas.

Aduh Tuhan, tolonglah hambaMu ini, doaku terus bertubi-tubi. Bayangan dosen killer itu mengusirku dari pintu ruangan ujian membayang di pelupuk mataku. Seorang ibu yang mau membaca selebaran menyiarkan bahwa aksi di depan adalah aksi buruh. Mereka minta kenaikan gaji dan pemenuhan hak-hak normatif lainnya. Massanya bejibun. (Ya iyalah, buruh gitu loch! Satu pabrik aja dibawa udah nggak muat mungkin lapangan merdeka, apalagi sekawasan, atau sekampung, atau sekotamadya, atau seadanya. (Ahh…apa sih?)

Aduh… batinku sudah penuh air mata. Sia-sialah aku belajar mati-matian tadi malam, tokh aku gagal bukan karena salah menjawab, tapi karena diusir dari kelas lantaran terlambat. Kepalaku pusing tujuh keliling. Nyanyian penuh maki terus menggema dari hatiku. Gondok kali aku. Orang itu nyusahin orang aja kerjanya. Macet nih woi, minggir dulu kelen sikit! Untunglah sopir kami ini penyambung lidah penumpang yang berani. Akhirnya, massa yang tadinya hendak memblokade jalan jadi urung niat. Mungkin mereka akhirnya sadar bahwa kepentingan orang berbeda-beda, jadi jangan saling melangkahi.

Akhirnya angkot kami jalan juga meskipun masih pelan-pelan. Polantas dan DLLAJ sibuk mengatur arus. Enaknya angin berhembus yang menjadi barang langka di angkot tadi. Namun kesejukannya tidak bisa mengobati gundah dalam hati. Aku sudah pasti terlambat tiba di kampus. Dan benarlah dunia. Benar apa yang kukira, aku diusir dari kelas dan disuruh ngulang tahun depan, karena memang aku dipastikan gagal mata kuliah ini. Waduh, mate aku, mana 4 SKS lagi. Nilai 0 bakal menyusutkan IP-ku. Aku bisa kena Nasakom alias nilai IP satu koma. Tidaaaakk……

Usai ujian aku susul bapak dosenku itu. Aku jelaskan dengan sejujur-jujurnya perkara keterlambatanku.

“Bapak baca koranlah besok, pasti memang macet kali semalam di Gatot Subroto,” kataku meyakinkan.

“Eh, anak muda, pastilah di koran dibilang ada demo besar di Gatot Subroto semalam. Tapi pertanyaanku adalah apa benar kau termasuk orang yang terjebak di dalamnya? Apa buktinya?” kata bapak dosen itu acuh namun sabar menunggu jawabanku.

Melihat aku tak berkutik, ia pun pergi saja melengos. Ancur dunia! Beasiswaku terancam jika nilaiku anjlok. Aku bertekad bahwa aku harus mendapat kesempatan untuk ujian susulan. Ini demi masa depan. Dunia bisa ancur kalau aku gagal ujian. Aku akan marah besar dan kuobrak-abrik seisi bumi. Mhehm…!!

“Udahlah, Tet. Ngulang aja kau tahun depan. Gak ada gunanya kau berdiplomasi sama bapak itu. Kata senior kita, gak heranlah kalau gak lulus dua kali sama mata kuliah bapak itu,” kata teman satu angkatanku, Arnold.

“Bah, janganlah ngulang. Kau pikir tak habis energiku ngikuti kuliah bapak itu enam bulan ini. Dan kau suruh aku mengulang masa-masa terberat selama kuliah ini? No way, man!”

“Yah, udah, terserah. Tapi percumalah, gak bakal bisa kau rayu bapak itu. Payah. Aku aja ngulang tahun depan,” sambung Arnold lagi.

“Lho? Memangnya kenapa?” tanyaku heran, karena setahuku Arnold juga rajin masuk kuliah dan negerjain tugas.

“Aku juga terlambat tadi,” akunya pasrah.

“Beh, jadi kau diam aja?”

“Apa boleh baut? Si Bobon, Bambis, Tempos, Gatras dan Anitas, pun ikut ngulang aja tahun depan. Sama, terlambat karena macet di Gatot Subroto. Kecuali Anekas dan Forumsi, orang itu terlambat bangun, karena kecapean bikin kopekologi semalam.”

“Beh, mana orang itu sekarang? Ayo kumpul, kita selesaikan ini secara buruh, protes!”

Akupun dengan susah payah meyakinkan teman-temanku itu untuk ikut bersamaku melakukan negoisasi kepada pihak-pihak terkait. Pertama sama sekretaris jurusan, ketua jurusan, dosen wali, ketua pemerintahan mahasiswa fakultas, ketua himpunan mahasiswa jurusan, dan bahkan ibu kantin yang kami pinjami mejanya tanpa memesan seporsipun menu, cuma minta air putih aja. Enak juga punya kawan banyak dan bersuara agak keras. Lebih meyakinkan.

Teman-teman kusuruh jadi backing vokal aja, biar sisanya aku yang ngomong sama pihak-pihak terkait itu. Jumlah massa memang menentukan kebijakan, biarun yang benarbenar paham persoalan hanya seurit orang. Karena bapak dosen tercinta itu termasuk dosen senior di kamus, tingkat jurusan un tidak bisa berkutik, dan menyuruh kami menemui bapak itu langsung untuk berdialog. Wah, benar-benar usaha yang butuh pengorbanan.

Lacak sana lacak sini, akhirnya kami bisa menemukan bapak itu di fakultas lain sedang memberi ujian juga. Kami tunggu sampai selesai. Setelah yakin punya amunisi untuk diledakkan, kamipun mengajak bapak itu berdialog tentang permintaan kami, ujian susulan…ujian susulan…ujian susulan…

“Ah… kalian ini, tidak bisa dibilangin. Mau saya buat kalian tidak lulus-lulus sampai tua?” ancam bapak itu karena kesal melihat wajah kami yang tidak tahu malu terus mengekorinya sampai ke mobilnya di parkiran.

“Tolonglah Pak,” kata sakti itu muncul dari mulutku dengan memelas.

Tapi dasar dosen killer, ia tega mendengar kata-kata yang mungkin sudah dipakai mahasiswa lain sejak bertahun-tahun lalu agar diluluskan mata kuliahnya.

“Tidak tetap tidak,” katanya menutup perjumpaan.

Kawan-kawanku langsung patah arang. Mereka pasrah. But not for me. Beasiswa jadi taruhannya. Untuk ukuran mahasiswa bokek kayak aku, beasiswa menyangkut gengsi dan nafas studiku di kampus ini. Aku harus berjuang. Langkah selanjutnya, aku yakinkan kawan-kawan lagi untuk menemui pembantu dekan satu, yang membidangi masalah akademik.

“Kalau gak berhasil juga, gimana?” tanya Forumsi ragu.

“Kita ke dekan,”

“Hah? Kalau gak berhasil juga terus kau mau ke rektor juga?” sela Tempos Siringo-ringo gak percaya. “Iya, kalo bisa sampai ke Komnas Ham,” cetusku tegas (agak sok-sokan juga sih).

Pokoknya dalam hatiku, bapak itu sudah bikin aku tidak bisa tidur dua malam. Dia pun harus merasakan hal yang sama juga. Beasiswa dan ancaman bakal ketemu dia lagu tahun depan? Tidak, lha yaw. Syukurnya, pembantu dekan satu cukup aspiratif sama keluhan mahasiswanya. Kami berbanyak kemudian dipertemukan dengan bapak dosen tersayang untuk membicarakan sengketa yang terjadi. (andai pemimpin negara ini aspiratif kayak pembantu dekan kami ini, duh, gak ada lagi yang namanya bentrokan warga dengan aparat kalau lagi unjuk rasa seperti yang terlihat di televisi).

Awalnya, sebagai juru bicara rombongan mahasiswa, aku sedikit keki dan segan bicara dalam kondisi resmi seperti ini. Di ruang rapat dekanat pula lagi. Aduh, bisa malu aku kalo salah cakap. Apalagi mata bapak dosen tercinta menghujam tajam ke arah kami satu persatu.

“Kita ditandai, woi,” bisik Arnold keder.

Akupun keder, kini bebanku nggak cuma satu nyawa, beasiswaku, tapi juga nyawa Tempos dkk. Ujung pena dosen kadang lebih mematikan ketimbang parang untuk ngeksekusi ayam potong. Nasib kami sedang dipertaruhkan di sini. Tidak ada kata-kata mutiara dan ala diplomat yang sudah kusiapkan untuk dialog ini, keluar saat pembantu dekan menyilahkan aku, sebagai jubir untuk menyampaikan maksud dan tujuan kami. Aku pun dengan pasrah dan kekuatan yang mulai kendor selain kata beasiswa, beasiswa, yang terus terngiang di otakku. Lalu keluarlah motivasi awal protes ini. Tentang kronologis kenapa bisa terlambat, beasiswa yang sangat ditentukan kelulusanku di mata kuliah ini, tentang persentasi kehadiran, tugas-tugas yang selalu dikerjakan.

“Kami minta hal-hal itu juga menjadi bahan pertimbangan bapak untuk memberi kami ujian susulan. Sia-sia kami belajar enam bulan ini sama bapak, tapi toh gagal hanya karena tidak sempat ikut ujian akibat terlambat. Itupun bukan karena disengaja, tapi karena ada faktor insidental demo buruh di jalan,” Habis sudah kata-kataku. Aku pun sudah habis akal. Dengan tampang serius namun penuh harap, kutatap bapak dosen tercinta itu. Namun, diapun tidak juga bereaksi.

Kawan-kawan gelisah. Pembantu dekan hanya duduk memperhatikan kami.

“Baiklah, kalian ujian susulan,” katanya akhirnya. Betapa lega hati kami mendengar itu.

“Tapi ujiannya lisan. Saya cuma punya waktu besok siang jam tiga di gedung C. Lusa sampai seminggu ke depan saya ke Singapur, ada penelitian. Siap-siaplah kalian besok.”

Palu pertemuan diketuk tiga kali. Tidak ada tempat bagi si protes lagi. Kamipun dengan berat hati akhirnya setuju. Itupun hanya dengan anggukan. Ujian lisan? Mate aku. Tidak ada ngobrol-ngobrol lagi usai pertemuan itu. Kami langsung pulang untuk mempersiapkan diri buat perang ilmu besok. Forumsi yang paling brengsek saat ujian pun akhirnya belajar mati-matian demi ujian ini. Soalnya sayang kalau toh gagal. Pengorbanan untuk bisa mendapatkan kesempatan ujian ini sudah susah payah diraih, sayang kalo sampai kandas.
Esoknya, kami semua sudah berdiam sejak jam dua di ruang yang telah ditentukan di gedung C. Bapak itu akhirnya datang lima menit sebelum jam tiga. Benar-benar konsisten dan disiplin, tidak salah kalau dia marah ada mahasiswa yang terlambat. Orang setua dan sesibuk bapak ini saja memang tidak pernah terlambat. Kalaupun ada perbahan jam tayang (eh jam kuliah maksudnya, ) dia pasti udah memberitahu komisaris tingkat alias komting dua jam sebelumnya.

“Isi dulu absennya,” kata bapak itu membuka salam.

Ketegangan dan keheningan terus meraja. Setelah itu, dia bagikan lembar jawaban kosong kepada kami. Jelas, kening kami berkerut. Cobaan apa lagi ini? Apakah setelah kami ujian lisan terus kami juga disuruh ujian tulisan? Yang benar aja. Tapi kami tetap bungkam dan memilih untuk menurut.

“Ini soalnya, jawab bagus-bagus. Aku nggak mau liat muka kalian lagi tahun depan. Kalau gagal, kalian akan sangat kuperhatikan,” katanya lagi.

Waduh, beratnya hidup ini. Si bapak dosen lalu konfrensi pers setelah melihat keheranan kami mengapa ujian tulisan yang didaulat kepada kami, bukan lisan. “Capek kali aku kalian buat untuk nanya-nanyain kalian dari bab I satu sampai habis diktatku satu per satu? Kalian bayar berapa aku buat wawancara kalian semua? Udah cepat kalian kerjakan. Waktu satu setengah jam!”

Uhhff… Tuhan memang baik. Aku sih pribadi gak begitu perduli lagi, apakah lulus atau tidak nantinya. Yang penting kukerjakan sebaik-baiknya. Kupikir, kerja keras memang tidak ada ruginya. Pasti ada hasil. Tuntutan kami pertama memang agar dibolehkan untuk dapat ujian susulan. Bukan persoalan harus lulus atau nggak. Dan dengan kerja keras bersama, akhirnya tercapai.

Perkara lulus atau gagal, yah usaha keras masing-masing. Pak dosen memperhatikan dengan sangat di depan kami. Jadi bisikan hati dan telepati sangat diminati saat itu. Biar tidak ketahuan.

Protes buruh di Gatot Subroto apa kabar yah? Apakah mereka berhasil?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s