memori beritaku (2)

*18 November 2008

Melihat Nikah Jompo di UPTD Panti Wredha Darma Asih Binjai

Sama-sama Ditinggal, Ingin Tetap Punya Pasangan di Hari Tua

Tidak bisa dimungkiri bahwa bertambahnya usia membuat kondisi fisik manusia semakin menurun. Fungsi organ tubuh secara alami akan semakin melemah. Demikian pula dengan kondisi psikis yang terkadang sulit dimengerti. Namun hal ini tidak menjadi penghalang untuk melangsungkan pernikahan. Seperti yang dialami oleh sepasang manula di Panti Jompo Darma Asih Binjai. Seperti apa?

Rabu pagi menjelang siang (12/11) kemarin, aula UPTD Panti Wredha Darma Asih dipenuhi oleh para manula. Mereka dikumpulkan di sana untuk menyaksikan peristiwa bersejarah teman mereka, sepasang manula yang hendak melangsungkan pernikahan. Yakni Wagimin (75) dan Ponimah (67). Kedua mempelai ini menjalin kisah kasih selama 6 bulan terakhir dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Bisa dibilang cinta keduanya terpaut karena cinta lokasi. Keduanya adalah penghuni Panti Wredha Darma Asih Binjai yang dibangun pada awal 1980-an lalu. Kisah sepasang sejoli yang sudah bercicit ini dikarenakan mereka senasip sependeritaan.

“Hidup jauh dari keluarga, sama-sama ditinggal pasangan. Mereka menjadi punya alasan untuk menikah lagi dan hidup bersama sampai maut memisahkan,” kata Renti Simanullang, salah seorang staf di UPTD itu.

Layaknya pengantin baru, keduanya terlihat malu-malu di atas mahligai berwarna keemasan yang sudah tertata apik di panggung,  tempat mereka juga mengucap ikrar nikah. Keyboard lengkap dengan pemainnya pun sudah bersiap di tempat duduknya menunggu aba-aba dari sang MC yang tak lain adalah pegawai UPTD sendiri. Begitu MC bilang ‘musik..’ alunan tembang menghentakpun dimulai. Sejumlah manula yang hadir diundang untuk berjoged dan bernyanyi bersama.

Pesta pernikahan tersebut merupakan acara tambahan kegiatan sosial anggota Ikatan Wanita Bank (IWABA) Sumut yang memberikan bantuan di panti tersebut. Sejumlah bantuan berupa handuk, seprai, kaos kaki, handuk, dan puluhan karung beras, diberikan kepada penghuni panti. Hadir ibu Ny Gus Irawan selaku ketua, dan ibu Ny Romeo Rissal selaku penasihat, dan anggota IWABA lainnya.

“Kedatangan kita tak lain adalah untuk menghibur para bapak-ibu, kakek-nenek yang tinggal di panti ini. Kegiatan sosial semacam ini memang kita lakukan setiap tahun,” kata Ny Gus Irawan.

Hiburan ini terlihat konkrit, karena sepanjang musik berbunyi para manula itu tidak lelah berjoged bahkan bernyanyi dengan antusias, mengingat keriangan masa lalu akibat tembang-tembang lawas yang kembali dinyanyikan saat itu. Walaupun dengan gerakan yang sangat hati-hati namun keriangan mereka tidak bisa disembunyikan. Tepat pukul 12 siang, merekapun disuguhi makan siang dan bersantap bersama-sama.

Potret Alami

Sebelum meninggalkan acara tersebut, koran ini sempat berkeliling lokasi panti yang tertata cukup baik dan rapi. Fasilitas wisma berkapasitas 30 orang di halamannya terlihat bersih dengan bermacam tanaman bunga dan obat yang bahkan menjadi sumber pemasukan para manula tersebut. Seperti tanaman kacang hijau dan tanaman obat sambiloto.

“Dua kali seminggu mereka bergotong royong membersihkan pekarangan dan rumah. Para manula yang bercocok tanam setiap hari turun he halaman untuk mengurusi tanaman mereka,” tambah Renti Simanullang, salah satu pegawai di panti itu.

Diakuinya, bahwa sebagian besar penghuni panti tidak mendapat perhatian yang baik dari pihak keluarganya. Bahkan ada manula yang sama sekali tidak punya keluarga lagi. Ketika berusia di atas 60-an tahun dan mendapat surat keterangan dari lurah bisa tinggal di panti. Mereka mendapat fasilitas makan dan tempat tinggal serta cek kesehatan rutin.

“Kalau sabun dan keperluan sehari-hari lain, yah beli pake uang sendiri. Makanya bagi mereka yang tidak punya uang saku terpaksa menjual bantuan yang diberi donatur atau menjual hasil kerajinan tangan yang mereka buat,” ujar Tuminam (88), warga panti.

Namun mereka tetap harus bertahan hidup, kata perempuan yang dulu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Medan ini, kendati sebagian penghuni hidup bersama suami atau istri mereka. Kadang kondisi psikis merasa tidak berguna dan sudah tidak lagi sekuat masa-masa muda yang jaya dengan kekuatan fisik, kesepian dan perasaan terasing kerap melanda lansia. Hal-hal sepele menjadi persoalan besar yang dibuat rumit untuk diselesaikan. Inilah potret alami yang tidak bisa dihindari manusia dalam menghadapi usia lanjutnya.

“Hanya karena persoalan sepele, misalnya salah pakai sandal saja bisa ribut,” ungkap Renti.

Melemahnya daya ingat akan barang miliknya sendiri bisa menjadi pemicu pertengkaran sesama lansia.

Pertengkaran juga sering terjadi akibat cemburu. Meskipun usia sudah sama-sama lanjut, ketertarikan satu sama lain lawan jenis tidak bisa dihindari. Ini sangat manusiawi.

“Setiap tahun ada nikah jompo di panti, namun kebanyakan nikah siri jadi cepat juga cerainya,” kata Renti,

Kisah-kisah sedih dari para lansia terlantar yang dipelihara dan dirawat di panti ini, pun kerap menimbulkan rasa haru. Di usia yang lanjut, para jompo ini ada yang sering mengalami perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri dan cenderung tidak mendapatkan perawatan yang memadai. Alasan ekonomi yang tidak memungkinkan untuk merawat para jompo ini dengan layak di rumahnya atau keluarganya, menjadi alasan paling banyak dikemukakan.

“Tapi saya senang di sini banyak teman. Kalau di rumah anak atau kerabat, kita merasa jadi kayak beban jadi gak betah,” pungkas Tuminam, yang akrab dipanggil Nenek Rambat. (dj)

’Ruang Ratapan’ Galeri Tondi

Pamer Karya Seniman Muda, Suguhi Kritik Sosial

Kanvas, tanah liat atau kayu tidak selalu menjadi media utama sebuah karya seni rupa. Logam, gypsum, kawat, dan lilin bisa juga menjadi bahan senirupa, dan tak sekadar memiliki nilai fungsional. Ketiga bahan itu juga dapat dibentuk untuk memiliki nilai artistik. Dibentuk oleh tangan-tangan kreatif milik mahasiswa dengan menghantarkan pesan kritik sosial, decak kagum pun mengalir ke hadapan mereka.

Sebuah patung logam berbentuk mumi berwarna merah terlihat bergetar dan mengeluarkan bunyi dentuman keras. Suara keras itu lamat-lamat menjadi pelan lalu hening, tapi sedetik kemudian menghentak lagi. Tidak ada sound system khusus pada patung besi yang dibentuk oleh lempengan logam itu. Tetapi seorang perempuan terlihat memukul-mukul meja penyangga patung tersebut yang berbentuk kotak persegi dari kayu triplek. Ia sedang menampilkan musik kontemporer berdurasi lebih kurang 8 menit dengan tangan kosong dan meja putih penyangga tadi.
Dialah Grace Siregar, pemilik Galeri Tondi, salah satu galeri seni rupa yang intens memamerkan karya seni rupa seniman kota Medan. Aksi pertunjukan tadi adalah pembuka untuk pameran seni rupa bertajuk ‘Ruang Ratapan’ yang dilaksanakan Sabtu (5/7) kemarin. Sebelum pengunjung berkeliaran melihat karya-karya yang dipamer, terlebih dahulu dua buah puisi yang dibacakan budayawan Sumut, Thompson HS, menggugah suasana.
Ada sekira 13 karya seni patung dan lukisan milik 3 seniman muda yang akan di dipamer di Galeri Tondi hingga sebulan ke depan. Mereka adalah Deppi Tarigan, Gerry Tobing, dan Yanal Desmond Zendrato, ketiganya merupakan mahasiswa Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Medan (Unimed). Mereka menampilkan karya-karya unggulan mereka yang dibuat dari tahun 2005-2008.
Karya pertama yang ditemui begitu memasuki ruang galeri sederhana itu adalah patung dari bahan gypsum milik Deppi Tarigan. Diberi judul ‘Sesak Nafas’, Deppi mengambil latar belakang pengalaman para pelukis graffiti yang sering bekerja dengan pilogs dan cat berbahan kimia tinggi tanpa menggunakan masker.
“Mereka sering ngeluh sesak nafas, jadi saya spontan aja bikin sketsa di kepala mau buat patung seperti apa. Maka jadilah patung orang berperut buncit dan makai masker gini,” ujar Deppi, yang memang mengambil spessialis patung untuk semester akhirnya di kampus.
Selain mengambil media gypsum, Deppi juga menampilkan patung besi berbentuk dinosaurus dan manusia. Ia mengaku membutuhkan waktu setidaknya 2-7 hari dalam membuat karya-karya patungnya. “Yang paling lama yah pas buat patung ‘Sesak Nafas’ itu, sebulan. Karena waktu itu saya tidak intens mengerjakan, sesuka hati saja,” ungkap kelahiran Tanah Karo ini.
Karya unggulan seniman lain tidak kalah unik. Desmon misalnya, ia menampilkan dua buah karya lukis multimedia di sebuah papan putih. Karya lukis hitam putih tersebut salah satunya bertajuk ‘Dunia Anjing’ menggambarkan hewan yang terkenal setia itu dengan tampilan abstrak dari asap lampu teplok yang diplot sesuai tema yang ingin dibuat. Pengunjung sempat terkecoh dengan cara pembuatan lukisan ini.
Tapi di situlah letak kreatifitas Desmon. Meskipun kesepuluh jari tangannya tidak sempurna, ia tidak mesti melukis dengan kanvas untuk bisa menghasilkan karya lukis yang indah dan sarat pesan sosial. Sebuah lukisan kertas yang menunjukkan bahwa otak manusia kini sudah diplot komputer dengan menampilkan sebuah mouse komputer yang kabelnya ditempelkan ke kepala lukisan kertas abstrak berwana dasar putih. Ia juga mengungkap upaya pembongkaran kasus-kasus hukum dan social yang marak mengisi banyak media massa belakangan ini melalui karyanya ‘Karena I’ dan ‘Karena II’. Sebuah gambar mulut yang ditarik oleh kawat sehingga membuka, melambangkan bahwa banyak kasus rakyat sudah mulai terbuka satu per satu.
Tema sosial memang kental dalam karya-karya tiga seniman muda ini. Gerry sendiri menyuguhkan sebuah karya yang menggambarkan kekeliruan masyarakat saat ini menanggapi arti sebuah agama. Dalam patung bertajuk ‘Religion’ yang terbuat dari media lilin, Gerry menggambarkan bahwa agama cuma sebatas ritual-ritual tanpa makna kasih sesungguhnya yang menjadi nafas keberadaan agama itu. Terbukti dengan lunturnya tenggang rasa dan saling membantu dalam hidup sosial saat ini.
“Makanya, agama aku simbolkan dengan lambang toilet dan tubuh tanpa kepala dan tangan,” kata Gerry.
Lukisan multimedia lain yang disuguhinya adalah bertajuk ‘Barikade suci’ dengan menggunakan kawat duri dan lukisan putih di kanvas hitam sebuah tangan yang membentang. Menurut Gerry, duri adalah lambang perlindungan. Bahwa dalam benteng kerap diletak jejeran kawat duri untuk melindungi orang di dalamnya dari serangan musuh. Seharusnya, katanya, polisi bisa menjadi kawat duri suci itu. Kekerasan bukan digunakan untuk membinasakan tapi membina dan melindungi.
Berangkat dari Hobi
Darah seni rupa yang kini mengalir dalam tubuh Deppi, Gerry, dan Desmon, bukanlah tanpa proses sebab yang panjang. Deppi sendiri mengaku sudah menyukai seni rupa sejak duduk di bangku SMP dengan mengkoleksi akar-akaran pohon yang unik dan membuat patung dari Lumpur, yang ditemuinya di kawasan perladangan di kampung halamannya.
“Masuk ke Sekolah Menengah Ilmu Kerajinan Karo, saya lalu melanjutkan studi seni ke Unimed. Dan saya sudah menemukan pilihan hidup di bidang ini,” ungkapnya.
Awalnya sempat ditentang oleh ibunya mendalami dunia seni, karena pesimis akan masa depannya. Namun setelah melihat kegigihan Deppi dan ibunya juga melihat banyak karya seni yang dipajang di beberapa tempat makanya pandangan tentang seni berubah, dan kini bahkan berbalik mendukung. Dukungan ini pun membawa Deppi meraih juara 3 lomba graffiti yang diadakan oleh salah satu merek otomotif ternama di Indonesia di Medan beberapa waktu lalu.
Nah, tidak berbeda dengan Deppi, Desmon juga mengaku sudah interes di dunia seni rupa sejak kecil. Seni lukis multimedia adalah spesialisasinya. Awal perkuliahan di Unimed, ia sempat kesulitan karena media seni yang ditawarkan kampus begitu tidak peka terhadap jari-jarinya yang tidak sempurna. Tapi memang dasar minat dan bakatnya sudah di situ, karya seni Desmon tidak bisa dianggap sebelah mata. Sangat dalam meskipun dengan tampilan yang sederhana. Ia menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitarnya, namun kekuatan karyanya ada di pesan yang divisualisasikannya lewat lukisan multimedia.
“Satu karya ku pernah dipamerkan di Galeri Nasional tahun lalu. Yakni menggambarkan dominasi etnis Tionghoa di Medan,” kata warga Belawan ini.
Kebebasan berekspresi juga menjadi prinsip utama bagi karya seni milik Gerry. Berawal dari lingkungan seni yang kuat, karena ayahnya juga seorang pelukis, Gerry kemudian mengasah minat dan bakatnya di Unimed dengan memasuki seni rupa.
“Saya memang suka melukis sejak kecil. Tapi lebih mengenal teknik dan media lukis lebih beraneka dari kampus,” tukasnya. (dj)

*14 Desember 2007

Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Lingkungan, Pembangkit Listrik dan Sumber Air Minum Swakelola

Setiap komunitas memiliki potensi untuk memecahkan masalahnya sendiri melalui apa yang tersedia di komunitas itu sendiri. Warga Desa Bukum Kecamatan Sibolangit Deli Serdang mengalaminya. Listrik dan air minum bukan berasal dari bantuan pemerintah, tapi dikelola sendiri.

Menggali dan memanfaatkan potensi desa untuk kepentingan kemandirian desa, sangat tepat dengan menggunakan asas gotong royong. Setidaknya nilai lokal yang hampir punah ini ampuh untuk membangun infrastruktur vital di desa Bukum Kecamatan Sibolangit, Deli Serdang. Yakni sebuah pembangkit listrik tenaga mikro hidro yang oleh warga setempat disebut Pembangkit Listrik Tenaga Lau (air) dan aliran Sumber Air Minum (SAM). Meskipun dengan teknologi sederhana, namun manfaatnya sangat besar sejak tahun 1980-an hingga saat ini. PLTL Bukum sendiri dibangun sejak tahun 1992, saat itu listrik adalah barang mahal bagi sebuah desa di daerah perbukitan. Wartawan koran ini akhir pekan kemarin berhasil mengunjungi desa Bukum dan melihat langsung PLTL Bukum. Daerah perbukitan dengan lembah yang curam, sangat sulit dialiri listrik jika dengan mengandalkan interkoneksi dari aliran pembangkit Siguragura. Padahal sangat diyakini bahwa perkembangan zaman sangat membutuhkan listrik sebagai sumber energi penerangan, termasuk di daerah pedesaan.

“Pada awal-awal pembangunan, listrik digerakkan oleh kincir air. Setelah diperoleh mesin turbin dan generator, maka kincir tersebut diganti,” terang Kordinator unit Infrastruktur Parpem, Leader Tarigan, bersama staf Ebenezer Ginting.

Sejumlah warga yang bekerja sama dengan sebuah organisasi gereja, Partisipasi Pemberdayaan Masyarakat (Parpem) GBKP yang kini berkantor di Sukamakmur, Sibolangit, berinisitaif untuk membangun pembangkit listrik. Memanfaatkan aliran hulu sungai Seruai yang mengaliri sejumlah desa, termasuk desa Bukum, dibangunlah sebuah bendungan.

“Pada awal-awal pembangunan, listrik digerakkan oleh kincir air. Setelah diperoleh mesin turbin dan generator, maka kincir tersebut diganti,” terang Kordinator unit Infrastruktur Parpem, Leader Tarigan, bersama staf Ebenezer Ginting.

Air dari bendungan tadi, tambahnya, kemudian mengalir sepanjang 2 km melalui parit khusus ke arah terjunan sedalam 70 meter. Kemudian air tersebut masuk ke dalam pipa sepanjang 90 meter ke arah turbin. Turbin inilah yang lalu menggerakkan generator yang menghasilkan tenaga listrik. Setidaknya 25 KW listrik dihasilkan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi 200 kepala keluarga di 3 desa sekitar. Untuk mengoperasikan PLTL ini, ditunjuklah seorang operator dari warga setempat, Arpel Pandia (37). Sejak tiga tahun belakangan ini dirinya mengoperasikan PLTL tanpa digaji.

Karena menggunakan MPH (micro hidro power), maka daya listrik kecil. Oleh sebab itu, listrik hanya dihidupkan dari pukul 5 sore hingga pukul 9 esok paginya. “Siang hari kan warga desa tidak di rumah, mereka bekerja di sawah, jadi listrik dimatikan saja. Namun pada hari Minggu, barulah listrik dihidupkan sepanjang hari untuk kebutuhan kebaktian di gereja,” tambah Arpel.

Salah seorang warga Desa Bukum, Marni Barus (45) mengaku sangat terbantu dengan adanya PLTL ini. Ia tidak ingat sejak kapan keluarganya menikmati listrik dari PLTL Bukum itu, namun dengan iuran Rp10 ribu per bulan, ia dan keluarga bisa menonton televisi dan mendapat penerangan listrik. Hanya saja, saat ini warga Bukum mengaku butuh pasokan listrik lebih tinggi lagi. Sebab dengan pertumbuhan penduduk, kebutuhan listrik juga meningkat. Dari sekira 300 kk di tiga desa, hanya 200 kk yang berhasil menggunakan listrik. Sementara dalam waktu-waktu tertentu ada acara pesta warga yang membutuhkan tenaga listrik untuk menghidupkan soundsystem. “Kami berharap, peralatan PLTL bisa dibenahi sehingga tenaga listrik bisa lebih besar lagi, dan hambatan seperti angin kencang atau hujan lebat tidak akan mengganggu aliran listrik lagi,” tambah Marni.

PLTL Bukum bukanlah satu-satunya PLTL yang dibangun Parpem GBKP bersama-sama dengan warga setempat. Setidaknya ada 20 PLTL di desa-desa dampingan mereka. Selain desa Bukum, di antaranya desa Laja, Rumah Kinangkung, Buluhawar, Permandin, Sikeben, dan Martelu. Sebagian besar PLTL yang ada telah dimandirikan sepenuhnya kepada pengurus di tingkat desa. Pembiayaan dan perawatan menjadi tanggung jawab desa.

Demikian pula dengan program SAM di sejumlah desa. Berawal dari keprihatinan Parpem melihat nande-nande (ibu) yang harus bersusah payah naik turun lembah untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi kebutuhan air sehari-hari, maka dibangunlah SAM. Dengan memasang pipa-pipa dari sumber air ke rumah-rumah warga, aliran air bersih bisa dikonsumsi kapan saja. Iuran pun sangat terjangkau, karena tidak perlu pengolahan rumit hanya perlu biaya perawatan pipa.

Tentu saja dalam merealisasikan pembangunan insfrastruktur tersebut warga tidak saja dibantu oleh Parpem GBKP. Untuk konsultan teknis, pembangunan infrastruktur dibantu oleh dua orang berkebangsaan Jerman, kolega GBKP. Yakni untuk MPH dibantu oleh R Petersen, sedangkan untuk SAM dibantu oleh Holger Bogatsky, seorang pendeta yang bergabung dengan GBKP.

PT PLN Wilayah I Sumatera juga ikut membantu. Sebanyak 40 batang tiang listrik eks PLN diberi dengan cara pinjam pakai untuk waktu yang terbatas. Sementara bantuan pengadaan alat pengatur putaran turbin MPH diberikan oleh PT PLN Jawa Tengah pada tahun 1988. Sedangkan untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan ketenagaairan bagi para staf infrastruktur Parpem diberikan oleh Lembaga Masalah Kelistrikan PLN. (dj)

*26 Januari 2008

Perahu Parpol Terlalu Mahal, Koalisi Misi Dijajaki

Perhelatan Pemilihan Gubsu 2008 sudah di depan hidung. Sejumlah bakal calon sibuk melakukan lobi-lobi ke partai politik sebagai kendaraan politik. Sayangnya dari sejumlah nama yang terpampang, tak satupun kaum hawa di dalamnya. Ada apa?

Tidak mudahnya menyatukan visi dan misi dalam pergerakan politik, ternyata tidak separah kesulitan dalam ‘melamar’ masuk partai politik untuk maju sebagai bakal calon gubernur atau wakil. Perhelatan Pilgubsu 2008 adalah sebuah momen indah bagi sesiapa yang hendak berkibar dalam kancah perpolitikan Sumut. Posisi gubernur dan wakil gubernur Sumut untuk periode 5 tahun ke depan dalam sebuah momen perdana pemilihan kepala daerah, begitu seksi untuk dicapai. Sejumlah nama tokoh bermunculan. Mulai dari kepala daerah aktif di kabupaten, praktisi politik, pejabat pusat hingga pengusaha turut andil.

Bayang-bayang kekuasaan dan melakukan sejumlah cita-cita terhadap Sumut menjadi motivasi awalnya. Namun dari sejumlah nama yang muncul di tengah-tengah masyarakat, tak satupun yang berasal dari kaum hawa. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah tak ada tokoh perempuan yang bisa naik ke permukaan sebagai wujud eksistensi emansipasi perempuan ataukah ada hal lain.

Setelah bertemu dengan sejumlah aktivis dalam sebuah acara temu aktivis perempuan Sumut di Hotel Danau Toba Internasional kemarin, barulah diketahui bahwa cita-cita politik untuk menjadi ujung tombak pemerintahan di Sumut juga ada dalam benak kaum hawa terutama para aktivis perempuan yang sejak 30 tahun terakhir melakukan upaya-upaya pencerdasan politik bagi perempuan.

Ketua Kaukus Perempuan Sumut, Darmayanti Lubis, saat ditemui koran ini kemarin mengatakan bahwa secara prinsipil tidak ada yang menghalangi laju gerak mereka ke kancah Pilgubsu 2008. Regulasi calon independen yang tidak siap-siap menjadi hambatan awal mereka untuk maju. Akhirnya koalisi gerakan perempuan Sumut memutuskan untuk mencoba satu-satunya cara untuk bisa menerobos syarat administratif menjadi calon, yakni melalui kendaraan partai politik (parpol). Nah di sini pun pihaknya harus terbentur dengan arogansi partai.

“Di sini kita mandeg, perahu parpol kemahalan. Tidak usah saya sebut nama parpolnya, tapi belum lagi bahas visi dan misi kita udah ditanya harga ‘sewa’nya. Buyar deh,” ujarnya.

Melihat waktu yang sudah mendekati batas waktu pendaftaran, koalisi gerakan perempuan yang sejak setahun lalu sudah menyatukan misi untuk Pilgubsu ini akhirnya menurunkan target mereka. Tidak usah mengajukan calon, akan tetapi mulai mencari calon yang bisa diajak tawar-menawar program jika ia terpilih nanti.

“Potensi suara yang kita himpun mencapai 53 persen dari seluruh calon suara yang akan memilih nanti. Kita akan buat kontrak sosial dengan calon yang setuju dengan kita,” katanya.

Tetap Optimis,  Masih Ada Pemilu 2009!

Penggalangan kekuatan tetap dilakukan meskipun belum memiliki kendaraan politik untuk Pilgubsu 2008. Bersatu adalah kata kuncinya, perubahan sosial adalah tujuannya. Seperti apa upaya mereka?

Merebut kursi kekuasaan adalah langkah lanjutan untuk menuju cita-cita gerakan yang holistik. Yakni menciptakan kepedulian, keadilan (untuk semua), kesetaraan dan persaudaraan menuju masyarakat yang sejahtera dan demokratis. Setidaknya hal inilah yang menjadi kesimpulan dalam temu aktivis perempuan dan pendukung gerakan perempuan, kelompok diskusi perempuan Sumut di Hotel Danau Toba Internasional Kamis (17/1) lalu.

Puluhan aktivis perempuan hadir untuk membicarakan revitalisasi gerakan perempuan Sumut. Bicara revitalisasi berarti bicara perubahan. Tidak sedikit tokoh pro demokrasi dari sejumlah LSM maupun individu hadir dalam kesempatan tersebut. Di antaranya Dina Lumban Tobing dari LSM Pesada, Muthia Fachruddin dari Unimed, Darmayanti Lubis dari Kaukus Perempuan Sumut, Zahrin Piliang dari KPAID Sumut, Zulfa Suzzah dari Hapsari Sumut, Nelly Armayanti dari KPUD Medan, dan lainnya.

Terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera tanpa ada penindasan antara perempuan dan laki-laki dengan memberikan penghargaan yang sama terhadap hak-hak yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki menjadi tujuan bersama untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Namun topik masih tingginya dominasi laki-laki dalam dunia politik tetap menjadi pembahasan yang panjang. Tidak adanya sejumlah kebijakan pemerintah yang mampu mengakomodir hal ini menyebabkan aktivis perempuan dan pendukung gerakan perempuan sepakat untuk terlibat secara aktif dalam pesta demokrasi yang akan diselenggarakan ke depan. Yakni Pilgubsu 2008 dan Pemilu 2009.

“Meskipun tidak mengajukan calon dalam Pilgubsu 2008, kita masih bisa memanfaatkan momen Pemilu 2009 nanti sebaik-baiknya,” ungkap ketua Kaukus Perempuan Sumut, Darmayanti Lubis.

Persiapan awal untuk perhelatan akbar ini coba digalang sejak dini. Mulanya adalah menghimpun kekuatan atau pengaruh untuk membangkitkan kesadaran politik perempuan. Upaya menundukkan, melemahkan atau mempersempit ruang gerak perempuan dalam aktifitas publik (di masyarakat dan pemerintahan) adalah hal penting yang harus dituntaskan.

“Sering diciptakan konsep ‘keterwakilan atau mewakili perempuan’ oleh para praktisi politik sehingga menyingkirkan partisipasi dan representasi politik perempuan, tapi kita akan tekankan bahwa perempuan harus berdaya dalam politik sebagai pelaku bukan diwakili,” tambah Zulfi Suzzah dari Hapsari Sumut.

Pihaknya yang saat ini memiliki kira-kira seribuan massa dampingan di Sumut berusaha meningkatkan kesadaran politik perempuan dengan melakukan sejumlah pelatihan dan pendidikan internal.

“Perempuan harus paham bahwa politik adalah menyangkut kehidupan mereka secara langsung,” tukasnya.

Masuki Sistem Untuk Perubahan dari Dalam

Dominasi laki-laki dalam kancah politik membuat keterwakilan perempuan dalam pemerintahan tidak tercapai. Dihapusnya kuota 30 persen dalam revisi UU Politik menjadi ancaman baru bagi percepatan cita-cita gerakan perempuan ke depan. Lantas langkah ekstrim apa yang bisa dilakukan?

Tidak terharapnya partai-partai politik besar untuk melaksanakan sejumlah misi gerakan perempuan, maka membuat kendaraan politik sendiri adalah suatu keharusan. Sudah diprediksi bahwa dalam Pemilu 2009 nanti akan bermunculan partai-partai baru dengan kekuatan massa. Salah satunya adalah datang dari sejumlah organisasi massa (ormas), terutama oleh gerakan rakyat pro demokrasi. Termasuk organisasi gerakan perempuan.

“Perempuan harus menjadi pelaku dan memberi kontribusi positif dalam agenda perubahan sosial politik, dan harus pula jadi penikmat dari terwujudnya perubahan sosial politik menuju masyarakat yang adil dan sejahtera tadi,” tukas Zulfa Suzzah dari perhimpunan Hapsari, yang kini sudah mendampingi di 8 kota besar di Indonesia dengan ribuan massa dampingan.

Padangan lain terhadap gerakan politik perempuan hadir dari pemerhati lingkungan dan kordinator Tranparency International Indonesia (TII) Sumut, Jaya Arjuna. Dosen di Universitas Sumatera Utara (USU) ini mengatakan bahwa bukan saatnya menghabiskan waktu berlama-lama memperdebatkan wacana ketidakadilan terhadap perempuan untuk melanjutkan “perseteruan patriarkhi” itu, melainkan mengakhirinya. Yakni ketika perempuan dan laki-laki dalam ranah domestik dan publik duduk setara sebagai manusia dan warga negara.

“Tunjukkan eksistensi dan kemampuan dengan prestasi. Berapa banyak kepala dinas instansi adalah perempuan, atau berapa banyak pemimpin redaksi pada sebuah media adalah perempuan?” katanya.

Menurutnya politik adalah pembuatan keputusan, mengatur dan merencanakan penggunaan sumberdaya. Dan sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan politik adalah gagasan (ide-ide/pemikiran), kemampuan (pengetahuan dan keterampilan), tekhnologi, uang dan orang. Politik berlangsung pada semua tingkatan (level) lembaga (institusi), termasuk dalam level keluarga, masyarakat, pemerintahan dan dewan perwakilan rakyat, organisasi (serikat/perkumpulan) atau partai politik.

“Gerakan perubahan sosial itu harus aktif dan kontinu. Makanya seluruh elemen yang berpedoman dalam situasi seperti ini tidak boleh ragu-ragu apalagi setengah-setengah,” pungkasnya.   (dj)

*6 Februari 2008

Keprihatinan Terhadap Suku Tertinggal Membuatnya Sabar Disangka Dukun

Berawal dari hobi akan alam dan rimba pedalaman Jambi yang kaya raya, sisi kemanusiaan seorang Butet Manurung terusik dengan keberadaan satu suku tertinggal di dalamnya. Yakni suku Anak Dalam Jambi. Ia melihat ada masalah dengan kehidupan mereka yang mengalami isolasi dan ketertinggalan. Melalui pendidikan, Butet mencoba membantu menyelesaikan masalah itu. Seperti apa tantangan dan hasil yang bisa dirasakannya?

Butet Manurung adalah seorang perempuan biasa yang memiliki kepekaan luar biasa akan lingkungan sekitarnya. Alumnus Jurusan Antropologi Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini mampu membangun sebuah sekolah alternatif bagi anak-anak Suku Dalam Jambi. Tantangan yang dihadapainya sangat besar. Kecurigaan dan penolakan akan pendatang ke dalam desa dan komunitas mereka, menjadi penghalang baginya untuk mewujudkan keinginannya terhadap anak-anak itu.

“Niat baik saja tidak cukup. Perlu kegigihan dan kesabaran untuk menunjukkan kesungguhan kita,” katanya, saat ditemui di Medan di sela-sela acara bedah buku karangannya yang bertajuk, Sokola Rimba, Selasa (5/2).

Pada masa-masa awal pendekatannya dengan masyarakat Anak Dalam, ia bahkan sempat dituduh sebagai seorang dukun penyebar penyakit. Sebab, tak lama Butet datang ke tengah-tengah mereka, ada warga Suku Anak Dalam yang sakit. Dengan tuduhan dukun penyebar penyakit, Butet mencoba bertahan dan terus berupaya meyakinkan masyarakat Anak Dalam bahwa dirinya tidak mempunyai niat buruk kepada mereka, sebaliknya ingin membantu mereka.

Awalnya, Butet Manurung datang ke pedalaman Indonesia sebagai perempuan yang mencintai alam Indonesia yang memiliki kekayaan alamnya. Namun, ketika dia berinteraksi dengan masyarakat adat yang hidup di pedalaman itu muncul masalah bahasa sebagai alat komunikasi dasar. Sebagai perempuan sarjana bahasa Indonesia di Unpad, dia melihat motivasi lain yang tidak hanya sekedar camping atau menjelajah hutan. Tapi bagaimana membuat hidup bermanfaat bagi orang lain.

Melalui hobi menjelajah alam itulah Butet Manurung menerapkan sistem pendidikan dasar dengan metode Silabel. Metode ini adalah sebuah cara yang diolah oleh Butet untuk mengajarkan anak-anak rimba mengenal bahasa Indonesia selama dia berada di pedalaman Bukit Tujuh Belas, Jambi, Sumatera Timur. Metode ajar ini merupakan ramuan Butet dari pengetahuan antropologi dan bahasa yang pernah diperolehnya di universitas. Metode Silabel adalah pengajaran bahasa Indonesia yang terbagi dalam 16 ejaan, yaitu pembagian konsonan-vokal berdasarkan bunyi. Hal itu dicapai oleh Butet selama empat tahun berproses bersama masyarakat adat.

Butet juga mengatakan bahwa anak-anak dan masyarakat adat di pedalaman merasa tertekan oleh orang luar. Tekanan itu berupa justifikasi bahwa mereka itu primitif, bodoh, padahal mereka merasa nyaman hidup seperti itu. Banyak orang luar yang melakukan penipuan kepada mereka, juga pencurian kekayaan alam atas nama organisasi yang tidak mereka mengerti.

Setelah mendapat pendidikan dasar dari Butet, masyarakat adat yang menjadi komunitas didiknya mulai memahami dan mengetahui bagaimana berkomunikasi dengan orang luar yang datang ke tempat mereka. Mereka juga sudah bisa menghitung dan membaca, termasuk tahu kepada pihak mana untuk mengadukan perilaku individu atau organisasi yang melakukan pembalakan liar, pencurian kayu, dan tindakan kriminal lainnya. Dengan demikian, pendidikan yang dilakukan Butet di komunitas adat telah membuka akses pada pengetahuan dan peradaban, meskipun kesenjangan antara komunitas adat dan masyarakat luar masih ada.

Menengok sejenak ke masa lalunya, Butet Manurung kecil adalah salah satu anak pingit, karena kemana pun dia pergi selalu diantar oleh supir. Masa kecil Butet pernah hidup di Belanda selama empat setengah tahun di sana. Masa kecil Butet hanya mengenal Jakarta dan Belanda. Selain itu tidak ada. Butet kecil sangat menyenangi binatang kecil seperti semut, ulat berbulu, dan lain-lain.

Setelah masuk usia muda, Butet kuliah di Unpad dan mengambil dua bidang studi dengan tahun ajaran yang berbeda, yaitu antropologi dan bahasa. Selam kuliah, Butet bekerja sambilan dengan mengajar Matematika dan Organ. Hasilnya ditabung, agar setiap bulan bisa pergi ke gunung, misalnya untuk camping bersama kelompok pecinta alam di kampusnya. Penjelajahan alam memang selalu diidam-idamkannya sejak Butet masih remaja, karena sejak kecil Butet menjadi anak pingit oleh ayahnya. Maka pada usia muda dia mampu mewujudkan hobinya itu untuk menjadi pecinta alam.

Ketika ditanya, sebagai seorang individu apa yang didapat dari kegiatan mengajar Suku Anak Dalam baca tulis dengan segala kosekuensi yang dihadapainya, Butet hanya menjawab dengan sederhana.

“Hidup bagi saya, bagaimana hidup saya bisa bermanfaat bagi orang lain dengan hobi kita. Jadikan hobi kita menjadi hal yang bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya. (dj)

*12 Maret 2008

Pulau Sijambu, Mutiara Yang Tersembunyi

Begitu menginjakkan kaki di Pulau Dijambu akhir pekan lalu, sejauh mata memandang hanya hamparan padi yang terlihat. Di balik hamparan padi menguning itu terdapat sebuah warung kopi kecil. Meskipun kecil, namun sejumlah pria berkulit gelap memadati warung itu. Mereka minum kopi sambil mengobrol satu sama lain, sebagian lagi bermain kartu premi.

“Kami bermaksud membawa gabah hasil panen kami ke kilang untuk digiling. Tapi hujan sejak pagi hingga siang ini membuat becek jalan, jadi tak bisa diangkut,” kata Bakara, 39, salah satu warga dusun Sijambu yang ada dalam warung tersebut.

Warga petani lain juga mengalami hal seperti dirinya, tidak bisa mengangkut hasil panennya karena satu-satunya jalan keluar dusun penuh lumpur. Jalan kecil yang disebut jalan protokol di dusun itu lebarnya hanya sekira 1,5 meter. Ratusan ton padi dan sawit diangkut keluar dusun melalui jalan itu dengan kendaraan roda dua, baik sepeda kayuh maupun sepeda motor.

Tidak tepat jika dikatakan warga dusun Sijambu pasrah akan kondisi daerah mereka yang terisolasi Sungai Barumun dan minimnya infrastruktur. Sebab pulau yang masuk desa Selat Beting Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu tersebut sudah beberapa kali mengajukan permintaan pembangunan jalan yang layak kepada pemerintah setempat. Begitu juga layanan listrik, sarana pendidikan, penyuluhan pertanian, dan sarana kesehetan. Namun janji tinggal janji, warga dusun harus berjibaku terus dengan kondisi jalan sempit dan berlumpur jika datang hujan untuk mengangkut hasil panen mereka.

Hasil pertanian dari Sijambu patut diperhitungkan. Jika iklim tanam baik, maka sekali panen warga bisa menghasilkan hingga ratusan ton padi jenis Ramos dan Kukubalam. Pada tahun 2007 lalu, harga gabah mereka mencapai Rp2.500 per kg. Namun harga ini kemudian dipotong pembayaran giling di kilang sebesar 10 persen per kilogramnya ditambah membayar pestisida untuk hama yang dipinjam dari renternir setempat sebelum musim tanam berlangsung.

Malau, 42, memaksa untuk mengangkut 85 kg gabah keringnya untuk digiling di sebuah kilang di dusun tetangga sejauh 5 km dengan sebuah sepeda kayuh. Menurutnya jika padi terlalu lama teronggok apalagi musim hujan seperti ini, maka gabah mereka cepat busuk dan harganya akan jatuh. Saat ini, warga sama sekali tidak memiliki lumbung padi untuk menyimpan hasil panen. Kebanyakan warga memilih untuk menumpuk gabah hasil panen mereka di sawah masing-masing. Sehari dua hari kemudian baru dibawa ke kilang atau agen untuk dijual.

“Kalau sudah gabah menghitam, maka harga dedak (pakan ternak dari gabah) bakal lebih tinggi dari gabah kami ini. Jadi harus segera digiling,” kata Malau.

Harga gabah saat ini turun. Nilainya hanya Rp1.900-Rp2.200 per kg.

Cuaca yang tidak menentu seperti ini menambah panjang daftar kesulitan para petani untuk bangkit dari kemiskinan mereka. Sebab, meskipun produksi pertanian mereka tinggi namun tingkat kesejahteraan warga di sana masih rendah. Hal ini bisa diakibatkan tingkat pendidikan yang rendah, jadi pemahaman soal menanam dan memasarkan hasil tani tidak bisa maksimal.

“Sangat ironi sekali jika ratusan ton padi petani kita membusuk karena minimnya sarana transportasi, sementara pemerintah pusat sibuk impor beras karena stok bulog kurang,” tukas Jonathan Tarigan, salah satu staf LSM Lentera yang konsern terhadap kehidupan petani dan buruh di Labuhan Batu.

Menurutnya seharusnya pemerintah daerah bisa jeli melihat potensi alam Sijambu. Dengan kekayaan dan kesuburan lahan di sana, kesejahteraan sudah bisa dirasakan. Pendidikan dan sarana transportasi adalah kebutuhan pokok warga desa untuk meningkatkan mutu kehidupan mereka.

Dengan jumlah penduduk 515 kk, anak-anak warga hanya ditampung di satu sekolah dasar negeri. Sementara untuk SMP dan SMA, warga harus ke desa tetangga yang jaraknya mencapai belasan kilometer supaya bisa melanjutkan sekolahnya. Tahun 2006 lalu, sebuah gedung SMP dibangun oleh Pemkab Labuhan Batu. Nilai proyeknya mencapai Rp800 juta. Namun begitu selesai pertengahan 2007 lalu, sekolah itu hingga kini belum juga dioperasikan. Menurut Kepala Desa Selat Beting, M Dakam ,57, sekolah tersebut belum mau diserahterimakan kepada pemerintah dari kontraktornya. Sebab bentuk bangunan tidak sesuai dengan rencana seharusnya.

“Gedung sekolah itu seharusnya bertingkat dan lantainya dikeramik, tapi itu belum dilakukan kok sudah dibilang selesai?” ujar M Dakam.

Dari hasil pantaun koran ini, tampak bangunan sekolah dengan 3 ruang kelas, 1 buah kamar mandi dan sebuah kantor, terlihat berdiri di tengah hamparan sawah dan rimbunan ilalang di sekitarnya. Akses jalan menuju gedung juga sudah tertutup ilalang dan genangan air sisa hujan. Menurut salah satu warga, Simbolon, banyak anak-anak mereka yang terpaksa berhenti bersekolah karena jarak yang terlalu jauh. Alhasil, anak-anak putus sekolah itu terpaksa ikut bekerja di sawah membantu orangtua mereka.

Disinggung soal sarana transportasi ini, M Dakam mengaku sudah mengantongi janji bupati Labuhan Batu untuk membangun jalan protokol yang lebih memadai bagi warga desanya. Setidaknya 2009 depan, jalan di beberapa dusun di desa Selat Beting, termasuk dusun Sijambu, akan diperlebar hingga mencapai 6 meter. Jalan itu juga secara bertahap akan diperkeras dan dilapis semen dan batu.

“Mengingat minimnya anggaran, maka kita harus puas dululah dengan jalan dilapir semen dan batu. Setidaknya masyarakat petani bisa mengangkut hasil petaniannya dengan lancar,” kata Dakam.

Pulau Sijambu yang terletak di Desa Selat Beting Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan Batu merupakan salah satu kampung lama di kawasan Labuhan Batu. Menurut salah satu keturunan raja pembuka dusun ini, yakni Raja Saibon (68), dusun Sijambu pertama kali ditempati oleh lima keluarga raja yang datang dari Mandailing. Yakni Raja Abu, Raja Kolong, Raja Nuteh, Raja Jaaman, Raja Mandak, dan Raja Bongsu.

Dusun ini dipimpin oleh Raja Nuteh sejak abad ke 19 hingga mangkat pada tahun 1931. Raja Nuteh sendiri dimakamkan di Dusun Tangkahan, salah satu dusun di Desa Selat Beting. Dari nisannya, diketahui Raja Nute meninggal pada tahun 1931. Dan menjadi salah satu kuburan tertua di daerah tersebut. Tempat pemakaman Raja Nuteh juga menjadi makam keluarga. Salah satunya adalah makam Raja Kolong ayah kandung Raja Saibon yang hingga saat ini tinggal di Dusun Tangkahan.

“Sejak pemerintahan raja Nuteh masyarakat daerah ini adalah petani dan pedagang, dengan membuka hutan untuk daerah pertanian. Di samping bertani, mereka juga mencari ikan yang pada saat itu cukup melimpah di Sungai Barumun maupun di hutan sekitarnya. Di hulu Sungai Berumun sendiri yakni Tapanuli Selatan dikenal sebagai penghasil ikan tawar terbesar di Tapsel,” kata Raja Saibon yang akrab dipanggil Pak Haji ini berkisah.

Diperkirakan dulunya Pulau Sijambu merupakan daerah yang cukup maju dan menjadi pusat perdagangan dan kegiatan pemerintahan. Penduduknya mayoritas suku Melayu, yang diperkirakan datang dari Tanjung Balai Asahan dan Labuhan Bilik. Hal ini ditandai dengan ditemukannya bangkai kapal yang terbuat dari besi baja yang diperkirakan merupakan kapal Belanda yang tenggelam di Suangai Barumun. Kemudian pecahan-pecahan pinggan kramik, guci, teko dan keramik-keramik lainnya di daerah tersebut.

Informasi yang didapatkan dari penduduk, dulunya sudah ada perdagangan antar daerah yang melibatkan kerajaan-kerajaan yang terdapat di sepanjang aliaran sungai Barumun seprti Kerjaan Sirao. Kemudian Kerajaan Labuhan Bilik yang berlokasi di muara sungai Barumun dan sungai Bilah sekitar 25 Km dari Dusun Sijambu yang dulunya ditempuh dengan perahu. Yang diperdagangnkan adalah padi dan ikan dari sungai Barumun. Dan mereka membeli hasil-hasil gerabah dan kain dari para pedagang pendatang yang singgah di dusun mereka.

“Warga di sini tidak tahu banyak soal nilai sejarah peninggalan pedagang masa lalu di kampung ini. Tidak jarang sisa pecahan piring atau guci ditemukan petani saat membajak sawahnya, dikumpulkan kemudian dibuang begitu saja,” kata Saibun.

Tidak jelas mengapa sejarah kejayaan daerah itu berhenti hingga bisa dilihat bahwa daerah Sijambu masuk kategori daerah tertinggal. Namun diduga kuat karena pecahnya revolusi sosial pada 1946-1948 lalu. Kampung Sijambu pernah mengalami kekosongan penduduk, dimana raja-raja dan bangsawan banyak menjadi korban revolusi. Raja Sirao yang bertetangga dengan Raja Kolong di Sijambu melarikan diri bersama para kerabat raja. Sehingga daerah ini pernah mengalami kekosongan. Yang berakibat menghutannya kembali daerah-daerah pertanian dan perkampungan mereka.

Perkembangan penduduk di Selat Beting saat ini, berasal dari suku batak dari Tapanuli Selatan yang masuk melalui Sungai Barumun. Kmudian suku Tapanuli lainnya yang baru datang tahun 1980-yang awalnya berprofesi sebagai penebang hutan dan kemudian menetap di wilayah tersebut. Disusul oleh suku Jawa, yang kemudian menyebar di 13 dusun di Desa Beting.

Pertanian tetap menjadi bidang andalan Pulau Sijambu. Kelapa sawit dan padi menjadi komoditi terbaik mereka saat ini. Namun minimnya sarana transportasi dan sejumlah infrastruktur lainnya membuat pulau ini tidak bisa mengembalikan kejayaan masa lalu daerah itu.

“Pola pikirnya masih minim, tapi memang dasar pemerintahnya juga yang tidak perhatian kepada warga,” ujar kakek pemilik salah satu kilang padi di dusun Tangkahan.

Sepuluh tahun lalu ia bersama beberapa rekan petaninya sempat mendatangi Pemkab Labuhan Batu untuk meminta ijin pembentukan kelompok tani di Pulau Sijambu. Ia memohon bantuan pupuk dan penyuluhan pertanian beserta cara pemasaran produksi kepada warga di sana. Tapi boro-boro diberi bantuan, kelompok tani yang hendak dibangunnya saja ditolak Pemkab karena tidak mau memberi sejumlah uang sebagai syarat diberi SIUP.

“Kalau kami punya uang tidak mungkin kami minta bantuan pupuk dan penyuluhan. Ah, saya lebih baik mundur saja waktu itu,” kata Saibon, pesimis dengan karakter pemerintahan yang tidak jujur dan pro rakyat seperti itu.

Disinggung soal pemilihan Gubsu yang akan diadakan pada 16 April 2008 depan, Raja Saibon tidak begitu perduli. Baginya siapapun yang menjadi gubernur haruslah memperhatikan nasib warganya, dan tahu bagaimana meningkatkan taraf hidup mereka.

“Saya tidak kenal siapa-siapa saja calon Gubsu yang ada saat ini. Kalau nanti disuruh memilih, yah kucing dalam karung saja,” ujarnya sembari tersenyum.

Hal senada juga dilontarkan sejumlah warga dusun Sijambu yang berhasil ditemui koran ini saat berkunjung di pulau tersebut akhir pekan lalu. Seperti Raja Saibon, Simbolon dan Bakara mengaku tidak mengenal calon Gubsu yang akan bertarung dalam Pilgubsu 2008 ini. Meskipun sempat didata oleh pegawai Kepala Desa untuk ikut Pilgubsu, namun warga tidak pernah mendapat sosialisasi soal tahapan Pilgubsu dan siapa-siapa saja calon mereka.

“Kalau saya memilih calon yang berani bayar mahal saja,” celutuk salah satu warga. Sisanya mengaku memilih yang paling tampan saja.

Meskipun demikian, warga tidak yakin seluruh penduduk dewasa ikut memilih pada Pilgubsu 2008 nanti. Sebab, bagi mereka tidak ada paksaan ataupun kegunaan memilih Gubsu nanti.

“Bosan dari dulu cuma dijanji-janjikan saja dari para tim sukses yang datang kemari. Sejak saya kecil, pemerintah janji akan memperbaiki jalan dan membangun sekolah di sini, tapi nihil,” tukas Bakara. (dj)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s