memori beritaku (1)

*27 Juni 2008

Melihat Pameran Tunggal Patung Perunggu Tetty Mirwa MSn
Terinspirasi Spirit Pohon dan Perempuan

Tidak banyak perupa khususnya seni patung di Medan yang berani unjuk gigi dalam memamerkan karya seninya. Tema yang diambil juga sangat spesifik, perempuan. Ia menggambarkan kemerdekaan dan upaya perempuan keluar dari masalah klasiknya dengan semangat dan upaya. Apa saja yang ditampilkannya?

Saat ditemui Kamis sore (19/6) kemarin, Tetty Mirwa sang perupa patung perunggu, ditemani oleh pemilik Galeri Tondi juga seorang perupa, Grace Siregar. Dalam obrolan singkat kemarin, Tetty dan Grace bercerita tentang pameran yang digelar Galeri Tondi kali ini. Grace mengungkapkan bahwa ketika pembukaan pada Sabtu (14/6) kemarin, apreasiasi masyarakat yang datang cukup antusias.
Semangat yang diusung oleh perupa Tety Mirwa, ketika menggelar pameran tunggalnya bertema “Woman Spirit” bisa dilihat dari delapan buah karya patung perunggu yang digelar di Galeri Tondi. Pameran tersebut dibuka mulai Sabtu (14/6) kemarin hingga 14 Juli mendatang di Galeri Tondi, Jalan Keladi Buntu No 6 Medan. Tety, perupa lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, itu memamerkan buah karya seni pahatnya, yang kesemuanya ia tuangkan lewat media logam (perunggu), dan dua buah media kemarik dan kaca. Namun seluruh tema yang diambil seputar perempuan dan pohon.
“Flora saya simbolkan dengan pohon; bagaimana ia tumbuh, pohon yang bertahan, pohon yang bangkit (ketika dahannya tumbuh). Ketika dahanya tumbang, saya menganggapnya sebagai simbol kebangkitan seorang perempuan. Semangat inilah yang lalu saya tuangkan lewat media perunggu; perunggu adalah simbol kekuatan itu,” ujar Tety, ketika bertemu koran ini.
Tema feminisme memang kental dalam karya-karya Tety yang dipamerkan. Karena menurutnya hal tersebut masih menjadi persoalan penting ketika berbicara soal kesenian; dalam hal ini seni rupa. Namun, dalam kedelapan karyanya itu, Tety mengaku sebenarnya tak melulu mengetengahkan bagaimana perlakuan keterasingan dan identitas yang selama ini menjerat kaum perempuan. Ia menggambarkan tentang sebuah upaya terbebasnya seorang insan perempuan dalam keterkungkungan dalam patungnya berjudul kebebasan. Selain itu pula ada patung berjudul ‘bertahan’ yang menunjukkan bahwa perempuan di tengah imej lemahnya ternyata memiliki kekuatan sendiri untuk melawan dan bertahan terhadap seluruh serangan luar terhadap dirinya.
Dalam semua karya yang dikerjakan sejak 2002 itu, tak lain, Tety hanya ingin menyoroti tentang sosok perempuan yang dalam kehidupannya selalu berusaha tegar dalam menjalani kehidupannya. Dan bagaimana ia menghadapi takdirnya sebagai perempuan.
“Saya tak menggambarkan ada keterasingan terhadap kaum perempuan pada karya saya kali ini. Saya hanya menggambarkan bagaimana semangat perempuan di tengah kehidupan yang seperti itu; kebertahanan dan kebangkitannya itu,” jelas Tety, yang juga adalah dosen seni rupa di Universitas Negeri Medan itu.
Ini diharapkan akan menjadi pembangkit semangat bagi kaum perempuan; bagaimana agar menjadi lebih baik, lebih kuat. Bukannya hanya menyoroti bagaimana perempuan itu dilecehkan atau ketidakberdayaan perempuan, tetapi lebih kepada menyampaikan spirit bahwa perempuan mampu dan kuat.
Sempat Ditentang
Pilihan hidup Tety menjadi perupa bukanlah tanpa liku. Awal menentukan untuk kuliah di Institur Seni Indonesia di Yogjakarta pada 1977, orangtuanya menentang. Ia diminta untuk mengambil jurusan hukum, tapi Tetty tetap bertahan dengan pilihannya. “Saya sangat menyukai dunia seni rupa terutama menggambar. Menjadi perupa awalnya bukan sebagai obsesi tetapi lebih kepada hobi dan minat yang diseriusi, dan hal itu tetap bisa membuat saya bahagia hingga sekarang. Itu yang terpenting,” ujar ibu tiga anak ini.
Prestasinya di dunia seni rupa tidak bisa diremehkan. Ia pernah menjuarai lomba patung perunggu yang diadakan oleh Citra Land Jakarta pada 2004 lalu. Dan sebelumnya, distudio dan sejumlah pameran seni rupa yang diadakan baik di Medan maupun di luar kota, Tetty selalu mendapat konsumen yang hendak mengkoleksi hasil karyanya.
“Tapi di Medan apresiasi terhadap seni patung sendiri masih tahap menikmati, melihat, membahas, belum seperti masyarakat di Jawa yang sudah masuk tahap koleksi. Tapi cukup positiflah responnya, baik masyarakat awam maupun memang pecinta seni,” pungkasnya. (*)

*27 Juni 2010

Derita Fahmi, Anak Berusia 10 Tahun dengan Penyakit Thalasemia
Ribuan Kantung Darah Tidak Pernah Cukup

Tidak pernah terpikirkan oleh keluarga Rosnani dan suami, bahwa orang susah seperti mereka akan menerima ketidaklaziman pada kesehatan anak mereka, Mohammad Fahmi. Bocah pada 16 Maret lalu genap berusia 10 tahun itu mengidap penyakit kelainan darah, yakni thalasemia. Thalasemia, menurut pakar hematologi dari Rumah Sakit Leukas Stauros, Yunani, dr Vasili Berdoukas, merupakan penyakit yang diakibatkan oleh kerusakan DNA dan penyakit turunan. Penyakit ini muncul karena darah kekurangan salah satu zat pembentuk hemoglobin sehingga tubuh tidak mampu memproduksi sel darah merah secara normal.
Hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah, jelas Berdoukas, mengandung zat besi (Fe). Nah, kerusakan sel darah merah pada penderita thalasemia mengakibatkan zat besi akan tertinggal di dalam tubuh. Pada manusia normal, zat besi yang tertinggal dalam tubuh digunakan untuk membentuk sel darah merah baru. Pada penderita thalasemia, zat besi yang ditinggalkan sel darah merah yang rusak itu menumpuk dalam organ tubuh seperti jantung dan hati (lever). Jumlah zat besi yang menumpuk dalam tubuh atau iron overload ini akan mengganggu fungsi organ tubuh.
“Pertama kali kami tahu Fahmi mengidap penyakit ini sejak ia berusia 2 tahun. Kami kaget bukan maen waktu itu, karena ini bukan penyakit ringan bahkan kata dokternya merupakan penyakit mematikan,” ujar Rosnani (35), saat ditemui di rumahnya di Jalan Sei Rokan Medan, Rabu (21/5).
Fahmi adalah bungsu mereka. Dua putra mereka yang lain sama sekali tidak memiliki kelainan darah apapun. Makanya Rosnani dan suami sempat heran ketika dokter spesialis di RSU H Adam Malik Medan tempat biasa mereka melakukan kontrol, mengatakan bahwa thalasemia merupakan penyakit keturunan, dan sang ibu merupakan gen pembawa penyakit. Padahal di riwayat keluarga Rosnani tidak pernah ada terkena penyakit seperti itu.
Soal perobatan, orangtua Fahmi sudah sangat kelelahan. Di tengah-tengah kondisi keuangan yang sangat minim, Fahmi yang sehari-hari terlihat sehat seperti anak normal lainnya, sudah dibawa kemana-mana berobat. Mulai dari dokter spesialis hingga perobatan alternatif, namun hasilnya sama saj. Bahwa satu-satunya obat agar Fahmi tetap bisa beraktifitas adalah dengan melakukan transfusi darah. Biaya perobatan tidak usah ditanya lagi, sekali transfusi harus tersedia dana ratusan ribu, tergantung seberapa besar tingkat hemoglobin Fahmi saat transfusi. Semakin sedikit kadar hemoglobin Fahmi, maka semakin banyak pula kantung darah yang harus dimasukkan ke dalam tubuhnya. Waktu transfusi bisa mencapai 3-7 hari per satu bulan. Alhasil, Fahmi sering tidak masuk sekolah. Tapi karena guru-guru di SDN tempat Fahmi sekolah sudah tahu kondisi penyakitnya, maka Fahmi mendapat dispensasi.
“Walaupun sudah sering melakukan transfusi darah sejak ia berusia 2 tahun, namun Fahmi tetap mengeluhkan betapa menyakitkan proses itu. Uratnya yang masih kecil, kerap bengkak karena bolak-balik disuntik,” ungkap Rosnani.
Pernah suatu kali Fahmi bertanya kepada ayah ibunya, kenapa ia diberi penyakit yang tidak bisa disembuhkan seperti ini dan kerap menyiksanya, Rosnani hanya bisa menjawab bahwa itu cuma cobaan dari Tuhan untuk menguji seberapa besar ketakwaan umatNya. “Pertanyaan itu justru menjadi pertanyaan saya juga sama Tuhan sebenarnya, kenapa kami sudah susah masih dikasih penyakit berat seperti ini. Tapi itulah, saya cuma pasrah dan yakin bahwa dalam perkembangan ilmu kedokteran penyakit anak kami bisa disembuhkan,” kata Rosnani.
Sehari-hari ayah Fahmi menarik becak mesin, sedangkan ibunya mencuci pakaian di rumah orang. Sebelum menarik becak mesin, ayah Fahmi menarik becak dayung. Beruntunglah seorang kerabat memberi bantuan uang untuk beli becak mesin, supaya ayah Fahmi tidak terlalu keletihan mencari uang karena setiap hari kadang ayahnya baru pulang narik sekira pukul 2 pagi. Betapa tidak, dua putranya lagi kini di tingkat SMA, yang membutuhkan banyak biaya. Bahkan untuk menyewa rumah saja mereka tidak sanggup. Selama ini mereka sekeluarga tinggal di rumah nenek Fahmi.
“Dulunya suami saya jualan kelontong milik ibunya, tapi biaya berobat Fahmi membuat modal kami tak pulang. Saya sempat membawa Fahmi berobat hingga ke Binjai hingga malam-malam baru pulang. Capek memang,” katanya.
Beban biaya berobat Fahmi mulai berkurang ketika orangtuanya mengurus surat keluarga miskin untuk mendapat pelayanan kesehatan keluarga miskin di RSUP H Adam Malik. Tapi untuk asupan gizi Fahmi, terutama susu dan buah-buahan tidak bisa dipenuhi dengan baik. Sejak setahun lalu seorang dokter ahli darah di salah satu rumah sakit di Medan yang tinggal tidak jauh dari kediaman mereka memberi bantuan dana kepada Fahmi. Namanya keluarga Pak Prof Dr Iman Soekiman. Jumlahnya cukuplah untuk membantu keluarga Fahmi. “Lebaran lalu kami diundang ke rumahnya. Mereka cukup perhatian sama Fahmi, karena Fahmi orangnya ceria,” ingat Rosnani.
Bantuan juga datang dari sebuah yayasan sosial kepada Fahmi Juni 2007 lalu. Yakni dari Yayasan Maria Monique (YMM) Lastwish yang didirikan oleh Natali Monique di Jakarta. Berkat informasi dari seorang teman, Fahmi ikut diundang untuk menerima bantuan di sebuah acara amal bertajuk ‘Charity Dinner’ yang digelar di Gedung Selecta Jalan Listrik Medan.
“Fahmi diberi komputer sebagai benda yang paling diinginkan Fahmi waktu itu. Saya juga heran kenapa dia mintanya komputer, padahal dia masih SD dan tidak tahu cara menggunakannya, tapi dia maunya itu kemarin,” terang Rosnani.
Sehari-hari Fahmi belajar komputer bersama abang-abangnya, tapi kebanyakan Fahmi bermain game di komputer itu sampai sekarang kondisinya sedang rusak. (*)

Fahmi Mau Sembuh, Tak Suka Makan Ikan

Saat koran ini menemui Fahmi di sekolahnya, anak itu sedang belajar Matematika. Parasnya yang manis khas suku Aceh, penuh senyum saat diajak ngobrol. Sekilas tidak ada yang berbeda dari kondisi fisik Fahmi selain tubuhnya yang kurus dan matanya yang agak sayu. Namun, seperti yang diterangkan ibunya Rosnani, kulit Fahmi kini semakin menghitam karena kadar zat besi yang banyak dari setiap kali transfusi darah yang selama bertahun-tahun ini dijalaninya. Tapi secara garis besar, Fahmi memang orangnya energik dan murah senyum. Sepanjang percakapan dengan koran ini di ruang guru, Fahmi selalu sumringah dan berkeringat. Berikut petikan obrolan dengan Fahmi kemarin.

Apa kabarnya Fahmi, Sehat?
Jawab: (Sambil senyum) Sehat, Kak.

Tadi kakak dah ketemu ama Ibu di rumah, dan ngobrol banyak tentang Fahmi. Katanya lagi sakit yah, sejak kapan?
Jawab: Iya, ada kelainan darah kata Ibu. Sejak berumur dua tahun.

Gimana rasanya?
Jawab: Kadang sakit, di punggung. Kalau lagi transfusi darah, tangan jadi bengkak-bengkak.

Katanya sering bolos sekolah yah. Ketinggalan dong pelajarannya?
Jawab: (sambil senyum) Iya. Tapi gurunya dah biasa, jadi gak dimarahin lagi.

Dah besar mau jadi apa, kata Ibu mau jadi tukang becak kayak ayah?
Jawab: (tertawa cekikikan) Iya, biar sering jalan-jalan naik becak dan punya uang banyak.

Fahmi katanya suka dilarang guru yah, ikut pelajaran olahraga dan bermain sama teman waktu istirahat di sekolah. Gimana perasaaannya?
Jawab: Iya. Guru suka ngelarang Fahmi, katanya takut kecapekan. Perasaannya yah gak suka, orang pengen main-main tapi gak dibolehin. Fahmi main aja, gak perduli, kadang ngumpet-ngumpet keluar rumah.

Kata Ibu, Fahmi gak suka makan ikan, sukanya telur atau daging ayam. Kenapa?
Jawab: Takut. Takut ikannya hidup waktu mau dimakan. Lagian ikan bauk…

Apa harapan Fahmi ke depan?
Jawab: Fahmi mau sembuh. Ibu bilang obatnya cuma doa, tapi Fahmi jarang sholat. (*)

Thalasemia Belum Bisa Disembuhkan

Tanpa perawatan yang baik, penderita thalasemia hanya dapat bertahan hidup sampai usia delapan tahun saja. Thalasemia memang kurang populer. Namun, bukan berarti tak ada penderita penyakit ini di sekitar kita. Dengan perawatan yang baik, penderita thalasemia bisa melakukan aktivitas layaknya orang normal. Tapi jika tidak, thalasemia bisa merenggut nyawa.

Karena kurang populer, orang pada umumnya tidak paham gejala thalasemia. Mereka juga tidak tahu cara mendeteksi penyakit ini secara dini. Deteksi dini merupakan hal yang sangat penting. Sebab, jika terdeteksi secara dini, penanganan penyakit pun bisa dilakukan sedini mungkin. Hasilnya tentu lebih baik dibanding jika penanganan dilakukan ketika perjalanan penyakit sudah lanjut.

Penyakit thalasemia dapat dideteksi sejak bayi masih di dalam kandungan. Seperti dijelaskan Dr Suthat Fucharoen dari Pusat Studi Thalasemia Universitas Mahidol, Thailand, dalam simposium thalasemia di Jakarta, belum lama ini, jika suami atau istri merupakan pembawa sifat (carrier) thalasemia, maka anak mereka memiliki kemungkinan sebesar 25 persen untuk menderita thalasemia. Karena itu, ketika sang istri mengandung, disarankan untuk melakukan tes darah di laboratorium untuk memastikan apakah janinnya mengidap thalasemia atau tidak.

Selain dalam kandungan, thalasemia juga bisa dideteksi ketika si anak telah lahir dan mulai tumbuh. Pada mereka, gejala dini thalasemia dapat dilihat dari kulit dan wajah yang tampak pucat, pertumbuhan lebih lambat dibanding anak-anak pada umumnya, dan terjadi pembengkakan pada perut akibat pembengkakan limpa.

Hanya saja, gejala ini amat umum dan dapat terjadi pada banyak penyakit. ”Karena itu, untuk memastikan apakah seseorang menderita thalasemia atau tidak, maka harus dilakukan pemeriksaan darah,” tutur Suthat. Gejala thalasemia, kata Suthat, dapat dilihat pada anak usia tiga sampai 18 bulan. Bila tidak mendapat perawatan serius, anak-anak dengan kelainan darah bawaan yang disebut thalasemia ini hanya dapat hidup hingga delapan tahun saja. ”Satu-satunya perawatan yang bisa dilakukan untuk penderita thalasemia mayor adalah dengan transfusi darah secara teratur seumur hidup,” katanya.

Dengan perawatan rutin ini, penderita thalasemia bisa hidup normal bahkan dapat berkarier seperti halnya orang yang tidak menderita thalasemia. Tak heran, ada penderita thalasemia yang berhasil menjadi dokter, insinyur, atau profesi lainnya. ”Mereka memiliki kemampuan intelektual yang tidak berbeda dengan manusia normal,” demikian Suthat.

Pada penderita thalasemia, zat besi yang ditinggalkan sel darah merah yang rusak itu menumpuk dalam organ tubuh seperti jantung dan hati (lever). Jumlah zat besi yang menumpuk dalam tubuh atau iron overload ini akan mengganggu fungsi organ tubuh. Menurut Berdoukas, penumpukan zat besi terjadi karena penderita thalasemia memperoleh suplai darah merah dari transfusi darah. Penumpukan zat besi ini, bila tidak dikeluarkan, akan sangat membahayakan karena dapat merusak jantung, hati, dan organ tubuh lainnya, yang pada akhirnya bisa berujung pada kematian. ”Penderita thalasemia tidak bisa memproduksi rantai globin sehingga tidak bisa memproduksi hemoglobin dan sel darah merahnya mudah rusak,” kata dia dalam simposium yang sama.

Dikatakan Berdoukas, tidak sedikit penderita thalasemia yang meninggal dunia akibat penimbunan zat besi pada organ jantung. Walau penimbunan zat besi akibat transfusi darah terjadi di berbagai organ — paling banyak di hati — namun karena jantung mempunyai daya kompensasi yang kurang di banding organ lain, maka banyak penderita thalasemia meninggal karena komplikasi jantung.

Pencegahan
Pengidap thalasemia yang mendapat pengobatan secara baik dapat menjalankan hidup layaknya orang normal di tengah masyarakat. Sementara zat besi yang menumpuk di dalam tubuh bisa dikeluarkan dengan bantuan obat. Selama ini, kata Suthat, zat besi yang menumpuk di tubuh penderita thalasemia hanya bisa dikeluarkan dengan penyuntikan obat Desferal. Obat yang disuntikkan di bawah kulit ini akan mengikat zat besi dan dikeluarkan melalui urine.

Dia mengatakan, saat ini telah ditemukan tablet yang dapat menggantikan proses pembuangan zat besi berlebih dalam tubuh sehingga penderita tidak perlu mendapat suntikan Desferal. ”Tablet ini dapat mengurangi risiko gagal jantung karena penumpukan zat besi,” kata Suthat. Walau begitu, pencegahan tetap lebih penting ketimbang pengobatan. Untuk mencegah penyebaran thalasemia, menurut Berdoukas, hal paling baik adalah melakukan tes darah pada setiap calon pengantin. ”Karena apabila salah satunya memiliki kerusakan DNA yang dapat menyebabkan thalasemia, maka ada kemungkinan penyakit itu menurun pada anak mereka.”

Saran tersebut tentu perlu dipertimbangkan oleh para calon pengantin. Sebab, harus diakui, thalasemia sudah ada di tengah masyarakat Indonesia. Data menunjukkan, terdapat 3.000 penderita thalasemia yang terdaftar dan tersebar di Pulau Jawa. Dari jumlah itu, 1.300 di antaranya tinggal di Jakarta. Untuk Indonesia, diperkirakan terdapat 3.000 penderita baru setiap tahun. Sementara di Thailand, terjadi penambahan penderita thalasemia sebanyak 12 ribu orang setiap tahunnya. (dj)

*27 Juni 2010

Lebih Dekat dengan TK Dian Bersinar
Didik Anak Pinggir Rel, Cuma Bayar Rp2 Ribu Per Bulan

Pendidikan anak usia dini bukan saja milik anak-anak dari keluarga berpunya. Anak-anak yang hidup di pemukiman kumuh juga punya hak mendapatkan pendidikan yang layak. Hal inilah yang dialami oleh murid-murid TK Dian Bersinar. Berawal dari keprihatinan, kini TK Dian Bersinar siap menerima murid baru. Seperti apa aktifitas mereka?

Deru suara roda kereta api yang melaju kencang tidak serta merta membuat bocah-bocah itu kaget atau meronta ketakutan. Bahkan mereka terlihat asyik berkutat pada buku yang ada di depan mereka, seolah tidak terusik dengan kebisingan yang terjadi. Padahal jaraknya cuma kira 2 meter dari tempat duduk mereka.
Mereka adalah murid-murid Taman Kanak-kanak Dian Bersinar. Sebuah ruang kelas seluas 4×4 meter yang terbuat dari dinding papan dan beratap seng, adalah satu-satunya ruang kelas di TK tersebut. Jangan berharap ada tampak sejumlah alat permainan seperti ayunan, taman bola, ataupun pelosotan. Sejak beroperasi setahun lalu, para murid harus puas dengan petak ruang kelas dan sebuah halaman seluas 2×3 meter untuk berbagai kegiatan.
“Yah, namanya sekolah alternatif. Kita bergerak dengan modal kepedulian dan semangat saja dulu,” kata Dosri, pendiri TK Dian Harapan saat ditemui koran ini, Selasa (4/6) kemarin.
Kemarin, murid-murid TK Dian diperkenankan memakai baju bebas. Namun untuk hari-hari lain, mereka memakai baju seragam seperti anak TK pada umumnya. Sebanyak 20 murid dididik oleh tiga pengajar. Bahan ajarpun disesuaikan dengan konsep pendidikan anak usia dini (PAUD) milik Dinas Pendidikan. Namun, harus diakui Dosri bahwa praktek lebih sulit dari teori yang ada. Anak-anak yang lahir dan di pemukiman kumuh pinggir rel Keluarahan Sei Rengas Kecamatan Medan Kota memiliki karakter yang keras dan cenderung tidak mendapat perhatian yang cukup dari orang dewasa. Makanya, Dosri dan temannya tidak boleh hanya bermodal keprihatinan dan niat baik saja. Tetapi harus memiliki tekad yang kuat untuk memberi perubahan bagi anak-anak itu.
“Supaya kita tetap bertahan mendidik mereka, jadi bukan hanya tindakan sesaat dan Cuma coba-coba,” ujar alumnus Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU ini.
Awal tindakannya membangun TK Dian Bersinar ini adalah dari rasa simpatiknya terhadap kehidupan warga di sepanjang pinggir rel kereta api di kawasan Jalan Asia, Jalan Thamrin, dan Jalan Sutomo. Ironi kehidupan masyarakat yang hidup dalam bilik-bilik berdinding seadanya di balik bangunan-bangunan beton, membuatnya bertanya, akankah generasi mereka juga harus hidup dalam ironi itu?
“Saya gak mau berdiam diri saja. Dengan uang yang saya punya, saya sewa lahan di pinggir rel ini dan membangun sebuah ruangan dan meletak batako di pekarangan untuk dijadikan sekolah,” ujarnya.
Yang paling sulit dalam membangun TK Dian tersebut adalah untuk meyakinkan orangtua murid di sekitar rel untuk mau menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah tersebut, dan meyakinkan anak-anak pinggir rel itu juga agar mau dididik. Sempat para pemuda setempat yang terkenal rawan dengan tindak kejahatan seperti narkoba dan perampokan, bersitegang dengan Dosri. Bahwa tindakannya hanya buang waktu dan merepotkan warga sekitar karena akan mengajar yang tidak-tidak kepada anak-anak mereka. Namun Dosri yang keras kepala melawan dan malah merasa tertantang untuk membuktikan kepada mereka bahwa anak-anak mereka tidak harus berakhir seperti mereka juga, buta huruf dan tidak memiliki banyak pilihan masa depan.
“Syukurlah, sekarang kami justru bisa membaur dan komunikatif. Bahkan kalau ada pagar atau atap rusak, para pemuda itu yang memperbaikinya,” kata Dosri.
Soal materi belajar, alat permainan, dan buku-buku, TK Dian Bersinar bisa dibilang tidak ketinggalan. Hanya saja, kualitas permainan dan buku sangat jauh dari standar. Untuk buku bacaan dan gambar misalnya, para murid harus puas dengan buku fotocopian. Sementara alat permainan, hanya ada bola dan permainan kecil-kecil lainnya. Dalam ruang kelas terlihat poster-poster bergambar hewan dan tumbuhan seadanya. Rumbai-rumbai bola kertas digantung di langit-langit membuat suasana menjadi terlihat meriah. Bangku-bangku kecil terbuat dari plastik dipadu dengan meja kayu memanjang berbentuk U membuat suasana kelas dimaksimalkan untuk dapat memuat 20 murid yang ada.
“Untuk ukuran anak-anak yang hidup di pinggir rel dengan kondisi rumah tidak layak dan asupan gizi yang kurang, mereka termasuk anak-anak yang bertubuh kuat jarang sakit. Hanya saja untuk daya tangkap ilmu mereka masih butuh tambahan nutrisi. Jadi tiap pagi kami beri mereka segelas susu,” kata Dosri lagi.
Nah, untuk seluruh biaya pendidikan di TK Dian, setiap bulan para orangtua siswa yang kebanyakan bekerja sebagai pemulung, hanya membayar Rp2 ribu per anak. Itupun dikutip agar ada ikatan resmi antara orangtua murid dengan pihak TK untuk tetap menyekolahkan anak-anak mereka serta memberi pengawasan.
Lantas, apa yang didapat Dosri dan teman-teman pengajar lainnya dari aktifitas mereka itu? Menjawabnya, Dosri tersenyum. Ia dan rekan-rekannya tidak memiliki funding atau donatur tetap yang membantu biaya operasional TK Dian Bersinar. Tetapi, Dosri mengajak teman-temannya di gereja atau teman-teman kampusnya dulu untuk mau memberi sumbangan. “Minimal ada sejumlah teman kami yang mau menjadi kakak asuh bagi murid-murid kami,” ungkapnya.
Sedangkan bagi dirinya sendiri, ia mendapat kepuasan batin ketika berkutat setiap harinya, 3 jam lima hari seminggu. Setiap pertemuan dan interaksi dengan murid-muridnya ia selalu mendapat hikmah yang bisa diambilnya untuk memperkaya khazanah hidupnya.
“Kami bukan malaikat, sekali waktu pasti bosan. Tapi dukungan teman dan keluarga bisa membuat kita bertahan bahwa apa yang dilakukan hari ini selalu bisa membawa harapan dan perubahan yang lebih baik,” pungkasnya. (*)

*27 Juni 2008

Perjuangan dan Derita Bobby Ananda, Siswa STM Pancabudi Melawan Leukimia Akut
Tidak Pernah Mengeluh, Optimis Bisa Sembuh hingga Akhir Hayat

Tak banyak yang tahu perjuangan dan penderitaan Bobby Ananda, seorang siswa STM di Medan melawan leukimia atau kanker darah yang menggerogoti tubuhnya. Walaupun Yang Maha Kuasa akhirnya memanggil Bobby bulan lalu, namun perjuangannya mampu membuat orang lain mengeluarkan airmata saat ibunya menceritakan kisah Bobby. Bahkan, Gubernur terpilih Sumatera Utara dan Wakilnya, Syamsul Arifin dan Gatot Pujonugroho tak kuasa menahan haru. Ironisnya, saat Bobby kritis, sang ayah dikabarkan punya wanita idaman lain dan sudah jarang pulang ke rumah. Sampai kini, ayahnya betul-betul meninggalkan mereka. Seperti apa kisahnya?

Akhir pekan lalu, Yayasan Maria Monique (YMM) Last Wish membuat sebuah acara amal di Medan. Yayasan itu memberikan bantuan kursi roda kepada puluhan anak lumpuh layu di Medan dan sekitarnya. Yayasan yang didirikan oleh Natalia Tjahja tersebut khusus bergerak untuk membantu anak-anak dengan penyakit yang susah disembuhkan, memberikan apa saja permintaan mereka, termasuk kepada Bobby yang meminta laptop di akhir hayatnya.
Dalam acara yang dihadiri Gubernur terpilih Sumatera Utara dan Wakilnya, Syamsul Arifin dan Gatot Pujonugroho serta kalangan pengusaha seperti Vincent Wijaya dan Brilian Moktar itu, seorang ibu yang sempat menjadi penerima bantuan dari YMM bernama Linawaty memberi testimoni tentang almarhum putranya, Bobby Ananda. Ia menderita kanker darah akut (leukimia) sejak berusia 12 tahun, namun selalu optimis bisa sembuh hingga akhirnya ajal menjemput.
Kisah Bobby juga menyentak koran ini. Minggu (17/5) kemarin, wartawan koran ini menemui keluarga almarhum di rumahnya Jalan Tapian Nauli Komplek Griya Ganda Asri No 6, Kecamatan Medan Sunggal untuk mengetahui lebih jauh perjalanan hidup Bobby, yang ternyata di tengah kesakitannya ia tumbuh sebagai atlet sepak bola yang sering menjuarai kompetisi.
Dengan penuh kehangatan ibu Bobby, Linawaty, neneknya dan kakak sulungnya, Dani, menerima wartawan koran ini di rumah mereka yang sederhana. Mereka tinggal di sepetak rumah tipe 36. Ruang tamu mereka menyatu dengan ruang makan tanpa sekat. Di rumah itu tidak terdapat sesuatu yang istimewa kecuali satu set kursi tamu dan televisi 20 inchi. Di meja yang ada samping kursi tamu tempat kami duduk, terpajang foto Bobby saat usia tiga tahun.
“Saya sengaja meletak fotonya waktu kecil karena saya nggak sanggup melihat wajahnya yang dewasa. Serasa dia masih ada, membuat saya selalu teringat-ingat,” ungkap Linawaty dengan wajah murung.
Linawaty kemudian membuka kisahnya. Menurut perempuan berambut ikal ini, Bobby diketahui menderita penyakit mematikan itu saat usianya 12 tahun. Saat itu Bobby duduk di kelas 1 SMP. Memang, aku Lina, sejak kecil Bobby sering terlihat pucat, sakit demam dan lemas. Sudah beberapa klinik dan rumah sakit didatangi, namun kondisi Bobby tetap tak berubah.
“Seorang tetangga kemudian menyarankan saya ke seorang dokter praktek untuk memeriksa darah Bobby. Dan setelah tahu hasil tes darah Bobby, saya kaget bukan main karena penyakitnya sangat serius, kanker darah,” ungkap Linawaty mengenang.
Hemoglobin Bobby hanya lima sementara normalnya di atas 10. Dokternya langsung menyarankan transfusi darah untuk mengembalikan stamina Bobby. Pihak keluarga pun tidak berkompromi dengan penyakit itu. Makanya ketika dokter meminta Lina agar Bobby diobati intens selama 2,5 tahun di RS Herna, pihak keluarga langsung menyetujui walaupun saat itu persoalan dana masih menjadi pertimbangan.
Pengobatan leukemia mulai dari kemoterapi dengan obat anti kanker, terapi radiasi, tranfusi darah dan plasma hingga transplantasi sumsum tulang pun dilakukan. Kontrol dan cek kesehatan wajib dilaksanakan seminggu sekali selama 2 tahun. Sayangnya, ketika dokter mulai mengatakan bahwa Bobby sudah mulai sembuh karena sel kankernya turun, pengobatan Bobby mengendur. Yang tadinya seminggu sekali menjadi sebulan bahkan dua bulan sekali. Obat juga jarang dikonsumsi lagi. Alhasil, tak lama kemudian Bobby jatuh sakit lagi.
Staminanya menurun dan akhirnya dibawa kembali ke RS Herna untuk dirawat intensif. Setelah diperiksa darahnya, hemoglobin Bobby turun hingga 3,5. Saat itu Bobby baru masuk kelas 1 STM, dan semakin aktif dalam hobinya bermain sepak bola.
“Kata dokter penyakit Bobby kambuh lagi. Kami kaget, soalnya tidak menyangka hal itu bisa terjadi mengingat Bobby yang sudah terlihat sehat dan aktif seperti tidak pernah sakit,” ujar Dani, kakak Bobby.
Ketika awal mengetahui Bobby jatuh sakit, dengan wajah pucat dan lemas, pihak keluarga menyangka Bobby “kesambet setan”. Karena dia sakit setelah pulang dari study tour bersama siswa STM Pancabudi lainnya ke Tongging, sebuah daerah wisata di dekat Danau Toba. Ibu Bobby panik dan membawa Bobby untuk diobati “orang pintar”. Tentu saja kondisi Bobby tidak kunjung membaik, hingga akhirnya ia dibawa ke RS Herna. Dokter spesialis darah yang selama ini mengobati Bobby kembali menyarankan agar Bobby diobati seperti dulu. Intens.
Pengobatan Bobby pun dimulai lagi. Biaya yang dihabiskan tidak main-main. Untuk obatnya saja, Linawaty harus merogoh kocek Rp2 juta sepekan, belum lagi biaya inap dan perawatan lainnya selama beberapa tahun kemudian. Tapi ia tidak perduli, kesembuhan Bobby adalah segalanya kala itu. Hingga pada Februari 2008 lalu, dokter Bobby memvonis bahwa usia putranya itu tidak lama lagi, hanya dalam hitungan minggu. Harapan sembuh di benak Linawaty turun drastis. Sebagai seorang ibu, hatinya sangat teriris mendengar hal itu, apalagi mengingat segala upaya dan kesakitan yang dialami Bobby selama perobatan.
“Yang paling membuat saya tidak bisa melupakan Bobby, adalah karena ia anak yang tidak pernah mengeluh dan nurut sama orangtua. Bahkan ketika proses kemoterapi yang terkenal sangat menyakitkan, dia tidak mengeluhkan rasa sakit itu, setidaknya tidak di depan saya,” ujar Linawaty.
Dani, kakak sulung Bobby juga mengatakan bahwa dia tidak pernah melihat Bobby menangis karena penyakitnya. Sebaliknya, Bobby selalu optimis bisa sembuh dan tidak rewel kepada keluarganya.
Sanking optimisnya sembuh, beberapa jam sebelum meninggal dunia, Bobby bahkan sempat meminta agar ia ditemani ke tukang pangkas. Ia ingin terlihat rapi saat mengikuti ujian nasional (UN) STM yang akan digelar pada Selasa (22/4) lalu, dua hari sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Tentu saja ketika itu Linawaty menolak, karena kondisi Bobby sangat lemah sehingga hanya bisa terbaring di tempat tidur saja. Linawaty sama sekali tidak menyangka bahwa itu adalah permintaan terakhir putra tercintanya itu, sebab Bobby tidak menunjukkan tanda-tanda kritis. Ia masih bisa berjalan walau tertatih karena pembengkakan terjadi di kedua kaki dan tangannya.
Minggu sore (19/4) itu permintaan Bobby supaya ditemani pangkas ditolak Linawaty, dan ia pun pergi ke Pancurbatu untuk mengambil obat Bobby. Saat itu setelah Bobby divonis tak tertolong lagi oleh dokter, Linawaty beralih ke perobatan alternatif. Tapi ketika pulang, Linawaty sudah menemukan Bobby terkapar dan segera dibawa ke UGD RS Herna. Tak lama dirawat, Bobby akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada hari itu juga.
Ketika disemayamkan di rumah duka, para guru dan teman-temannya di sekolah mengenang bahwa Bobby orangnya tidak banyak bicara, baik, sensitif, dan peka terhadap kawan-kawannya. “Sewaktu Bobby meninggal dunia, pelayat dari Kelurahan Babura tempat tinggal kami dulu berbondong-bondong datang. Tua-muda, semua ingin melihat Bobby untuk yang terakhir kalinya,” tukas Linawaty, dengan wajah sendu.

Puisi Perpisahan Tanpa Judul di Laptop

Jika nanti aku pergi
Bukan karena inginku
Memang itulah jalanku

Kumau tak ada orang
Yang menangis atasku
Kumau orang tersenyum
Padaku

Bunyi puisi di atas adalah karya yang ditulis Bobby Ananda, siswa STM Panca Budi Medan, korban leukemia akut yang meninggal 20 April 2008 lalu. Bobby bukanlah seseorang yang gemar menulis ataupun akrab dengan puisi. Di sekolah ia bahkan sangat tidak menyenangi mata pelajaran Bahasa Indonesia terutama pelajaran mengarang. Namun, di saat-saat terakhir hidupnya ia masih sempat menuliskan satu buah puisi tak berjudul di atas, yang tentu saja ditujukan kepada setiap orang yang mengenalnya terutama untuk keluarga tercinta.
“Saya juga pernah melihat di laptopnya sebuah puisi yang dia tujukan untuk seseorang bernama Wini,” tutur Dani, kakak sulungnya. Namun, ketika Dani memeriksa laptop Bobby tak lama setelah adik laki-laki satu-satunya itu meninggal, puisi itu tak lagi ada di sana. Sebelum kondisinya kritis, Bobby telah lebih dulu menghapusnya.
Tak hanya dua puisi yang sempat ditinggalkan Mbob–panggilan akrab Bobby–pada laptop pemberian Yayasan Maria Monique (YMM) Last Wish. Ia juga sempat menulis sebuah cerita pendek (cerpen) berjudul Medali Terakhir. Cerpen itu ditulis Mbob karena ditugaskan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolahnya.
Meski ditulis bukan tanpa disengaja, cerpen itu seperti menjadi penumpahan harapan Mbob untuk berbuat dan memberi yang terbaik baik keluarga terutama kepada ayah dan ibunya. Medali Terakhir menyuguhkan kilas balik kehidupannya yang pernah bergairah dengan kegemarannya bermain sepakbola.
Laki-laki yang lahir pada 19 Juni 1988 itu adalah seorang pencinta sepakbola. Sejak SD ia sudah aktif dengan olahraga terfavorit dunia itu. Dan saat di bangku kelas 1 SMP Mbob telah bergabung dengan sebuah sekolah sepakbola. Di kalangan teman-temannya ia dikenal sebagai penjaga gawang yang tangguh.
Tak jarang ia dimainkan oleh klub sepakbola lain di luar klubnya. “Sampai-sampai Mbob diledekin teman-temannya sebagai kiper bayaran,” ucap Linawaty, ibunya.
Dengan senyum tipis Linawaty mengenang betapa Mbob sering berbohong demi bermain sepakbola. Kegiatan belajar kelompok selalu dijadikan alasan oleh Mbob untuk mengamankan diri dari larangan keluarganya. Upaya dengan cara berbohong yang dilakukan Mbob, diakui Linawaty, karena Mbob sadar kalau keluarga tak akan mengizinkannya bermain sepakbola mengingat penyakit yang dideritanya.
Mbob bukannya tak perduli dengan kekhawatiran mereka. Dia hanya tak ingin penyakitnya menaklukkan kegemarannya. Berbekal semangat hidup yang tinggi, Mbob tak hanya memuaskan kegemaran bermain sepakbolanya di sekolah atau sekitar rumah.
Dengan kemampuannya, ia bermain sampai ke luar kota seperti Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, dan Sidamanik. Bahkan ia bermain sampai ke Aceh. Dalam perjalanannya itu ia lebih banyak dipakai oleh klub-klub lain. “Saya malu diejekin kiper bayaran,” ucap Linawaty dengan mata berkaca-kaca menirukan Mbob.
Seperti yang ia tuang dalam Medali Terakhir, sangat jarang tim sepakbola Mbob pulang dengan kekalahan. Meskipun bukan kemenangan yang ia suguhkan kepada ibunya, tetapi maaf karena sudah berbohong demi bermain sepak bola, namun disadari bahwa tak selamanya Mbob bisa menggairahkan hidup dengan sepakbola. Kondisi penyakitnya yang semakin kronis memaksanya menghentikan kegiatan bermain sepakbola. Waktunya pun tiba bagi Mbob. Usai menyelesaikan SMP dan memasuki SMA, Mbob praktis berhenti bermain sepakbola dengan kenangan kemenangan atas medali terakhir yang ia raih.
Sayang, cerpen bertajuk Medali Terakhir itu stak ikut dikumpul oleh guru Bahasa Indonesianya. Cerpen itu terlambat diserahkan oleh Mbob, dan tidak diterima lagi oleh gurunya. “Sewaktu melayat Mbob, guru Bahasa Indonesianya itu menceritakan tentang cerpen itu. Akhirnya banyak teman-teman Mbob yang meminta cerpen itu untuk difotokopi,” kenang Dani, kakak Bobby.
Hingga kini dan seterusnya, ungkap Dani, puisi tak berjudul dan cerpen Medali Terakhir itu akan tetap disimpan di laptop Mbob. Ketiga benda berharga itu bagi keluarga Linawaty merupakan peninggalan yang menyimpan semangat hidup Mbob dalam perjuangannya melawan leukemia.
“Laptopnya juga nanti akan di-airbrush untuk menutupi beberapa bagian yang sudah lecet,” kata Dani, yang hingga kini tetap menjaga laptop itu di rumahnya. Arti penting lain laptop itu bagi keluarga Mbob adalah bahwa laptop itu merupakan permintaan terakhir Mbob.
Laptop itu diberikan Natalia Tjahja, pendiri Yayasan Maria Monique (YMM), beberapa minggu sebelum Mbob meninggal. Satu waktu Natali memberi kesempatan kepada Mbob untuk meminta barang apa saja yang akan dipenuhi yayasannya. Awalnya Mbob, meminta sepeda motor merek Kawasaki Ninja. Tapi karena penyakitnya tidak memungkinkan Mbob mengendarai sepeda motor, Natali tidak mengabulkan permintaanya. Mbob pun akhirnya memilih laptop. “Kami nggak tahu kenapa dia minta laptop. Padahal di rumah ada komputer,” ucap Dani.
Dani sempat menanyakan kepada Mbob kenapa ia tidak memilih yang lain selain laptop. Namun, Bobby Ananda tidak memberitahu alasannya. Tapi Dani sangat tahu kalau laptop itu adalah benda kesayangan Bobby. Ia menggunakan laptop itu dan merawatnya, karena memang Bobby jurusan elektronik di sekolahnya.
Selain bergelut dengan penyakit yang belum ada obatnya itu. Bobby juga didera tekanan batin karena konflik di keluarganya. Sang ayah sudah berpaling ke pasangan lain, meninggalkan ibunya dan tidak memperdulikan Bobby lagi. Bahkan, di saat-saat Bobby terbaring kritis di rumah sakit.
Setelah Bobby meninggal dunia, sang ayah tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah mereka dan tidak mau berhubungan lagi anak-anaknya yang lain.
“Pernah, sewaktu Bobby masih dirawat, ayahnya datang mengatakan akan menceraikan saya kalau Bobby sembuh. Tentu saja hal ini menambah beban batin kami,” kenang Linawaty.
Bobby pun marah besar dan membenci ayahnya. Linawaty yang sempat syok mendengar pernyataan suaminya, akhirnya sempat ikut dirawat di rumah sakit. Beban mental yang begitu besar sangat mempengaruhi kesehatan jantungnya dan diminta dokter agar diopname. Tapi karena mengingat biaya opname besar, dan tidak ingin Bobby terbebani dengan kondisi ibunya, Linawaty pun akhirnya menolak dirawat dan kembali ke putranya untuk terus menemaninya.
“Jadi selama ini ungkapan batin Bobby hanya tertuang dalam laptop atau handphonenya, kita tidak pernah tahu. Makanya hadiah laptop dari YMM itu sangat berarti bagi Bobby,” ujar Dani.

Sosok Teman Sejati yang Ingin Jadi Polisi

Banyak orang yang kenal dengannya mempunyai kesan positif terhadap dirinya. Prestasi di bidang sepakbola dan semangat persahabatan yang selalu ditawarkannya kepada setiap orang, membuatnya dikenal baik di lingkungan tempat tinggal dan teman-teman sekolahnya. Jefri, salah satu teman dekat bertutur tentang sosok Bobby. Seperti apa kisah mereka?

Jefri, adalah salah satu nama yang dikenal keluarga Bobby sangat dekat dengan anak mereka itu. Saat ditemui di rumahnya di Jalan Sei Musi No 62 Medan, Jefri baru saja bangun tidur dan keluar rumah untuk mencari angin segar. Dengan bantuan seorang penjual burger di depan rumahnya, akhirnya perkenalan dengan Jefri terjadi begitu saja.
Awalnya, Jefri kaget mengapa sosok temannya yang telah tiada dicari-cari sebuah koran, dan mengapa pula mewawancarai dirinya. Tapi setelah dijelaskan bahwa sosok Bobby adalah satu dari sedikit penderita penyakit kronis yang patut diketahui banyak orang karena optimisme hidupnya menghadapi derita akibat penyakit itu, barulah Jefri mengerti dan selanjutnya dengan antusias bercerita tentang sobatnya itu.
“Kenal ama Bobby karena satu lingkungan. Sewaktu SD, kita tidak terlalu dekat karena jarak rumah yang cukup jauh untuk ukuran anak kecil. Sungai dekat rumah yang bikin kita sering ketemu, karena suka berenang dan nyelup sama-sama pas pulang sekolah,” kenang Jefri mengawali.
Kedekatan mereka tidak terjadi begitu saja, melainkan dalam waktu yang cukup panjang. Sejak masuk SMP, intensitas pertemuan mereka semakin sering karena memiliki hobi yang sama yakni bermain bola. Jefri yang lebih tua dua tahun dari Bobby kemudian memanggil Bobby dengan sebutan ‘Bos’, karena dia baik dan jago main bola sebagai penjaga gawang. Prestasi Bobby di bidang ini bahkan sangat bagus. Ia sempat disurati pengurus PSMS Junior untuk masuk tim tapi tidak berlanjut. Bobby malah lebih intens di 3 sekolah sepak bolanya (SSB) dan mengukir banyak prestasi di sana, termasuk piala Rektor USU. Sayangnya lapangan bola tempat biasa anak-anak di sana menghabiskan waktu senggang bermain bola atau main layangan sudah tidak ada lagi. Sebuah rumah mewah kini berdiri di atasnya.
Dan seiring dengan diketahuinya Bobby mengidap penyakit kanker akut, orangtuanya melarang keras Bobby melakoni hobinya itu. Tapi Bobby tidak bisa menahan selera, ia sering sembunyi-sembunyi bermain bola. Terakhir ia terlihat bermain bola pada awal Maret 2008. Saat itu tim Bobby menang kembali dan ia begitu bahagia hingga melompat-lompat kegirangan. Tapi sejak saat itulah, kondisi tubuh Bobby menurun hingga akhir hayatnya.
“Teman saya dulu banyak, Mbak. Tapi Bobby itu orangnya solider, teman suka duka deh pokoknya. Saya susah, dia tetap mau bantu jadi kita tuh gak bisa main-main ama dia,” ujar kelahiran Lampung ini sembari tersenyum.
Oleh sebab itu, ketika Bobby bilang bahwa ia ingin mencoba tes kepolisian setelah tamat sekolah nanti, Jefri dan teman-temannya mendukung sepenuhnya. Supaya mereka bisa ada ‘deking’ aparat nantinya. Bobby pasti mau bantu melindungi teman-temannya kalau ada apa-apa.
Bersama tiga orang teman mereka yang lain, mereka sering bepergian ke luar kota untuk senang-senang, dan berkumpul untuk sekedar berbagi cerita atau bermain playstation bersama, atau buat menggodain para cewek. Mengenai hal yang satu ini, Bobby dikenal suka jaim (jaga imej) kalau sedang naksir cewek. Ia tidak pernah mau terlihat benar-benar serius di depan cewek tersebut, tapi dari gelagat Bobby Jefri tahu sekali kalau ia suka berat dengan cewek itu. Tapi ia selalu sopan dan termasuk cowok yang romantis.
Linawaty, ibunda Bobby, juga mengatakan hal yang sama tentang kisah asmara Bobby. Sempat ia memergoki putranya itu sedang menelpon pacarnya sambil bermain gitar dan ngobrol panjang di telepon. “Pacarnya sempat anak Pematang Siantar. Tapi saya tidak tahu pasti,” kata Jefri.
Ia sempat diajak Bobby untuk menemaninya bertemu cewek yang diketahuinya adalah teman sekolah Bobby dulu, namun Jefri menolak karena terlalu jauh, lagipula saat itu ia juga sedang bekerja.
Sungguh istimewa perkawanan Jefri dengan Bobby. Selama masa kritisnya, Jefri selalu setia berada di dekat Bobby, dan ia mengaku kenyang melihat rintihan Bobby saat menjalani perawatan di rumah sakit terutama saat melakukan kemoterapi yang dikenal sangat menyakitkan. “Saya sering mendengar dia mengerang, tapi justru terlalu sering melihat dia tersenyum seperti tidak ingin dikasihani atau mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya,” ungkap Jefri.
Satu hal yang paling berkesan dari kisahnya dengan Bobby, yakni ketika pada November 2007 lalu, ia dan Bobby kecelakaan sepeda motor di simpang jalan tak jauh dari kediaman Jefri. Ia yang kaget dan sama-sama terjungkal akibat tubrukan hebat dengan sepeda motor yang menabrak mereka, tapi segera bangkit untuk melihat keadaan Bobby, menghiraukan dirinya sendiri.
“Setelah saya pastikan dia gak pa-pa, saya lalu tersadar kok saya lebih mementingkan Bobby ketimbang diri saya. Padahal kondisi kami sama-terjungkal dan luka. Saya semakin sadar, saya sayang sekali ama sobat saya itu,” tambahnya.
Rasa sesal yang seyogianya tidak perlu datang sempat mengganggunya beberapa lama, terjadi ketika ia tidak berada di samping Bobby saat hari terakhirnya. Ia datang ke rumah Bobby sehari sebelum Bobby meninggal untuk memamerkan sebuah mainan helikopter dengan tenaga listrik untuk dimainkan bersama.
“Mainan itu dibeli ibu saya yang kerja di Malaysia. Tapi gak sempat saya bawa karena tinggal di rumah nenek,” ingat Jefri.
Pada Minggu sore, di hari Bobby meninggal dunia, hati Jefri memang sempat tidak enak, tapi dia tidak tahu kenapa. Sebenarnya ia ingin sekali ke rumah Bobby untuk melanjutkan ngobrol mereka sehari sebelumnya. Tapi karena ia harus latihan band dengan teman-temannya, niat itu tergilas begitu saja. Hingga pada malam harinya ia mendengar kabar bahwa sobat sejak kecilnya itu telah tiada.
“Saya sempat kaget dan sedikit ada sesal, kenapa saya tadi sore tidak datang saja. Lagipula sebelumnya saya tidak ada firasat apapun, karena semua orang diyakinkan Bobby kalau dia bakal sembuh, bakal ada mukjizat. Ia bahkan sempat cerita kalau dia akan ikut UN tapi ujian di kantor guru di lantai satu karena kaki dan tangannya bengkak,” tutur Jefri.
Selama bersama Bobby, jarang sekali Bobby mengeluh tentang dirinya. Ia selalu ceria dan sering saling mengejek satu sama lain, tidak ada duka. “Bobby itu patuh sekali ama orangtuanya, terutama bapaknya. Ibunya nyuruh angkat jemuran dikerjakannya. Gak mau bantah orangnya, nurut,” pungkasnya.

Linawaty Nyaris Putus Asa sebelum Bertemu Yayasan Last Wish

Selama 6 tahun melakukan pengobatan terhadap penyakit kanker darah Bobby, keluarganya sudah menghabiskan banyak dana. Hingga akhirnya ibunda Bobby sudah sangat kesulitan, ia memohon kepada dokternya untuk dicarikan donatur bagi perobatan Bobby, supaya ia bisa tetap intens berobat. Yayasan Maria Monique Last Wish menjadi tumpuan. Bagaimana pengaruh yayasan itu terhadap kondisi Bobby?

Seperti yang diungkapkan dalam berita di koran ini sebelumnya, bahwa awal pertemuan dengan keluarga Bobby terjadi di sebuah acara amal di Medan yang diselenggarakan oleh Yayasan Maria Monique (YMM) Lastwish. Yayasan ini mengutamakan pemberian bantuan kepada anak-anak khususnya, yang mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Berharap dengan pengabulan keinginan terakhir sang anak (last wish), maka hidupnya bisa lebih berarti di akhir hayatnya.
Ibunda Bobby, Linawaty, yang pada tahun 2007 lalu sudah kehilangan akal karena menipisnya keuangan mereka untuk biaya perobatan Bobby. Kemoterapi dan transfusi darah membutuhkan banyak biaya, belum lagi pemberian obat-obatan dan vitamin. Saat itu, ayah Bobby sudah jarang kembali ke rumah, sementara sumber keuangan keluarga adalah dari ayahnya itu.
“Saya bingung mau cari uang kemana. Anak saya yang sulung memang bekerja, tapi dia sudah menikah pasti perlu uang untuk biaya keluarganya. Jadi saya habis akal,” tutut Lina mengenang.
Selama berobat ke dokter yang menangani Bobby sejak awal, Dr Gino Tanaka, Linawaty melihat bahwa pasien penyakit kelainan darah lainnya sebagian biaya medis dibantu oleh donatur. Jadi, tanpa pikir panjang lagi Linawatypun kemudian meminta kepada dr Sri, juga dokter darah Bobby di RS Herna, agar dicarikan donatur.
Tak lama, secercah harapan pun muncul. Dua orang perempuan muda yang peduli kepada masalah sosial kemudian menemui Linawaty untuk membahas persoalan Bobby dan melihat sejauh mana Bobby bisa dibantu. Salah satu dari perempuan muda yang perduli itu bernama Sanni. Ia adalah seorang pegawai perusahaan swasta di Medan, namun sering terlibat dengan acara amal dengan beberapa temannya yang memiliki empati yang sama terhadap mereka yang kurang beruntung.
“Mbak Sanni menemui kami untuk melihat sejauh mana kondisi Bobby. Setelah melihat Bobby dan datang ke rumah kami, barulah mereka menghubungkan kami dengan Yayasan Maria Monique yang didirikan Natalia S Tjahja,” kata Lina.
Sebuah laptop dan uang senilai Rp6,5 juta diberikan kepada Bobby, sebagai bantuan Last Wish dari YMM. Pemberian secara simbolik dilakukan pada 15 Juni 2007 lalu dalam sebuah acara amal bertajuk ‘Charity Dinner’ di Gedung Selecta Medan. Dari 4 anak yang akan diberi bantuan, ternyata hanya dua anak yang hadir, salah satunya adalah Bobby. Bobby menerima lebih banyak bantuan karena saat itu kondisinya yang paling parah.
Setelah bertanya lebih lanjut soal Sanni kepada Linawaty, koran inipun berhasil berkomunikasi dengannya. Karena dirinya disibukkan oleh pekerjaan, percakapan koran inipun terjadi lewat telepon kemarin. Ketika disinggung soal Bobby, Sanni langsung ingat. “Oh, iya. Bobby Ananda, dia orangnya baik,” ungkap Sanni mengingat sosok Bobby.
Sanni pun lalu menceritakan awal pertemuannya dengan keluarga Bobby, yakni melalui dr Sri. Sanni dan kawan-kawannya yang memiliki niat bersama untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung, pun kemudian bertemu dengan ibu Bobby dan memperjelas seperti apa kondisi Bobby. Saat itu, Bobby mulai parah lagi sakitnya. Blast (sel kanker) yang tadinya divonis dokter sudah menurun tapi ternyata kambuh lagi bahkan semakin pesat pertumbuhannya. Perobatan intens harus terus dilakukan sementara uang keluarganya sudah menipis.
Seperti biasa, Sanni awalnya melakukan survei ke rumah Bobby, untuk memastikan bahwa ia memang benar berasal dari keluarga tidak mampu. Sanni pun mendapat kepastian itu dan setuju mencarikan Bobby donatur. YMM Lastwish kemudian setuju membantu, dengan mengabulkan permintaan yang paling diinginkan Bobby, yakni laptop.
“Kami lalu mendatangi sebuah perusahaan komputer untuk menjadi sponsor, dan XW Computer setuju memberikan sebuah laptop kepada Bobby,” beber Sanni.
Saat ditanya kenapa mau membantu ikut turun membantu Bobby, padahal merupakan orang yang berada di luar struktur YMM Lastwish, Sanni mengaku ada pengalaman keluarga dan memang senang bisa membantu orang yang membutuhkan uluran tangan. Biarpun dari latar belakang yang berbeda.
“Biarpun berbeda agama, ras, ataupun suku, pertolongan itu tidak memandang hal semacam itu. Ketulusan dan penghiburan adalah dua hal yang menjadi warna dalam sikap membantu, siapapun dia,” pungkasnya.
Hal serupa jugalah yang melandasi berdirinya YMM Lastwish. Yayasan Maria Monique didirikan setelah anak semata wayang Natalia, Maria Monique Atmadja meninggal. Saat ditemui di Medan akhir pekan lalu, Natalia bercerita tentang kisah hidupnya.
Pengalaman saat-saat menemani putrinya yang berjuang untuk melawan penyakit ganas yang diderita sangat berharga baginya. Meskipun putri tercintanya yang lahir 5 Juli 1998 telah tenang di sisi Tuhan, dia tidak akan melupakan masa-masa hidup bersama Monique.
Bagi hidup Natalia, saat-saat paling berkesan adalah ketika 40 hari bersama Monique di CCU Mount Elizabeth Singapura.
Setelah melewati banyak saat kritis dan dirawat di beberapa tempat, akhirnya Monique mengembuskan napas terakhir pada 27 Maret 2006. Itu setelah berbagai operasi dan tiga kali keajaiban menyapanya, dimana gadis cilik itu dinyatakan meninggal selama 3 kali, tetapi selalu hidup kembali. Dengan sisa hidupnya yang hanya 40 hari, Monique mampu menarik simpati media-media Singapura, khususnya The Strait Times, serta para narapidana di penjara-penjara Singapura yang turut berdoa atas kesembuhannya. The Strait Times Singapura menyebutnya The Miracle Child.
“Untuk mengenang sifat Monique yang suka menolong sesama teman-temannya, maka yayasan ini didirikan. Semoga niat yang luhur ini dapat mengetuk pintu hati dermawan-dermawan di negeri tercinta ini untuk memberikan bantuan dan donasinya,” ujar Natalia. Saat itu kedatangannya ke Medan adalah dalam rangka memberikan 100 kursi roda bagi 100 anak penderita lumpuh layu di Sumut.
Yayasan Maria Monique untuk anak-anak berusia 5-15 tahun yang berpenyakit kritis atau penyakit kompleks Melalui Yayasan tersebut, Natalia berharap dapat membantu meringankan beban mereka.
“Untuk menjalankan misi kemanusiaan ini, saya dibantu 32 orang. Mereka pengusaha dan beberapa wartawan dari Singapura. Namun untuk yang mengurus administrasi ada tiga orang. Yayasan ini masih baru, karena itu saya perlu donatur,” kata pehobi kerja ini.

Dr Gino Seperti Kalah Perang

Memberitahu kondisi terakhir Bobby Ananda yang tak mungkin disembuhkan kepada keluarganya ibarat seorang jenderal yang kalah perang bagi Doktor Gino Tann. Dokter yang sejak awal menangani remaja itu merasa dipaksa menandatangani pernyataan menyerah oleh musuhnya.

Sebuah pengakuan seorang dokter didapatkan koran ini dari Dr Gino Tann, seorang ahli darah di RS Herna Medan. Dokter inilah yang sejak awal mengobati Bobby, dia pula yang mengatakan bahwa usia Bobby tidak lama lagi.
Dari diagnosa yang dilakukan dokter Gino, Bobby menderita penyakit leukemia golongan Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL). Dalam dunia kedokteran, penderita leukemia jenis ini memiliki kemungkinan sembuh sebesar 70 persen. Asalkan rutin mengikuti protokol pengobatan selama 2,5 tahun.
Bobby pun mematuhi protokol pengobatan yang disarankan dokter Gino. Sejak kelas 3 SMP, awal ia ditangani, selama 2,5 tahun Bobby menjalani tahap pengobatan. Termasuk kemoterapi dan intrathecal (menyuntikkan obat ke cairan sumsum tulang belakang). Waktu 2,5 tahun dilewati dan Bobby tinggal menunggu perkembangan lebih lanjut.
Selama 2,5 tahun itu, tak sekali pun dokter Gino mengenakan biaya pemeriksaan dan konsultasi. Semua dilakukan dokter Gino mengingat keadaan ekonomi keluarga Bobby dengan biaya obat-obatan dan biaya perawatan di rumah sakit yang sangat tinggi. Begitupun saat 3 bulan kemudian penyakit Bobby kembali kambuh. “Penyakitnya kambuh lagi tiga bulan kemudian,” ujar dokter Gino.
Ternyata sel darah Bobby mengalami resistensi. Sel darah putih Bobby semakin berkembang dan menghambat pertumbuhan sel darah merah. Beberapa penderita ALL diakui dokter Gino memang mengalami resistensi sel setelah 2,5 tahun menjalani protokol pengobatan.
Umumnya penderita yang mengalami resistensi sel ini mempunyai harapan hidup hanya sebesar 30 persen. Demikian pula halnya Bobby. Meski telah menjalani kemoterapi sebanyak 16 kali dan intrathecal 5 kali selama 2, 5 tahun ditambah 4 kali kemoterapi pasca protokol pengobatan, ia tetap tak mampu menang atas penyakitnya.
“Setelah Bobby mengalami kemoterapi pasca protokol pengobatan, saya harus menyatakan kepada keluarganya kalau hidup Bobby tidak lama lagi,” ucap dokter Gino.
Dokter Gino merasa ia seperti kalah perang. Apalagi mengingat semangat yang dimiliki oleh Bobby untuk sembuh sangat tinggi. Menjalani pengobatan di bawah penanganan dokter Gino, tak sekalipun Bobby mengeluhkan penderitaannya. “Perasaan saya saat memberitahu hal tersebut kepada keluarganya seperti Jenderal yang kalah perang dan dipaksa menandatangai pernyataan menyerah,” aku dokter yang membuka praktik di Jalan Mongonsidi No 45-U itu.
Selama menjalani praktik, terang dokter Gino, penyakit leukemia jenis ALL yang terutama menyerang anak-anak termasuk Bobby pada waktu itu umumnya dapat disembuhkan. Resistensi sel yang menyebabkan kambuhnya kembali penyakit ini setelah menjalani protokok pengobatan hanya ditemui pada beberapa kasus.
Berbeda dengan leukemia jenis Acute Myeloblastic Leukemia (AML) yang umumnya menyerang orang dewasa. Kemungkinan sembuh penderita leukemia jenis ini hanya sebesar 10 persen. Itupun dengan biaya pengobatan yang sangat tinggi. Untuk kemoterapi tahap pertama biaya yang dibutuhkan bisa mencapai Rp 30 juta.
“Sejak awal selalu saya sampaikan kepada keluarga pasien yang menderita AML tentang kondisi kemungkinan sembuh yang sangat kecil ini,” jelas dokter Gino. Selain karena menyangkut harapan kesembuhan dari keluarga terhadap pederita, juga mengingat pengobatan penyakit leukemia AML ini berbiaya tinggi.
Dari 10 penderita leukemia yang ditangani dokter Gino, 9 di antaranya berasal dari golongan ekonomi lemah. Seperti yang diperbuatnya pada Bobby, terkadang dokter Gino sampai harus membebaskan biaya pemeriksaan dan konsultasi kepada pasien yang lain. “Karena biaya obat-obatan penyakit leukemia memang mahal,” sebutnya.
Di Indonesia, leukemia tergolong penyakit penyebab kematian yang berada pada urutan belasan. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan dapat disembuhkan dengan peralatan modern yang ada saat ini. Walaupun untuk beberapa kasus ada yang tak bisa diselamatkan.
Secara kasat mata, fisik penderita leukemia dapat dikenali dengan ciri-ciri demam berkelanjutan, lemas, dan pucat karena jumlah Hb yang rendah. Untuk kondisi Hb yang sangat rendah tubuh penderita tampak biru-biru karena terjadinya pendarahan di bawah kulit.
Untuk memastikan, penderita yang memiliki ciri-ciri tersebut sebaiknya segera memeriksakan darah. Dengan memeriksa darah, barulah diketahui apakah trombosit dan leukosit turun, pembengkakan pada lever, dan pembengkakan pada kelenjar getah bening sebagai indikator menderita leukemia.
Penderita yang mengidap penyakit ini lahir dengan kondisi gen abnormal yang disebabkan pembelahan sel yang keliru saat masih dalam kandungan. Sampai saat ini belum ditemukan bukti tentang pengaruh toxic (racun), lingkungan, dan makanan dapat menyebabkan leukemia.
“Boleh dibilang leukemia merupakan kecelakaan alam,” ucap dokter Gino. Meski kemungkinan disembuhkan besar, lanjut Gino, biaya pengobatan penyakit ini sangat mahal. Sehingga banyak penderita yang sebenarnya masih bisa sembuh akhirnya meninggal.
Keberadaan para pendonor, menurut dokter Gino, sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan penderita dan memperkecil risiko kematian akibat penyakit ini. Seperti yang diperoleh Bobby Ananda dari Yayasan Maria Monique (YMM) Last Wish. Meskipun akhirnya Bobby dipanggil Tuhan, setidaknya ada kebahagian lain yang sempat dirasakannya karena mendapat hadiah yang diinginkannya. (dj dan bm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s