pengais

Seorang lelaki kurus berjaket lee dengan kancing terbuka sedang asyik makan jeruk tak jauh dari tempatku berdiri. Seperti biasa aku menunggu angkot di simpang Brayan untuk pergi kerja. Lelaki berambut klimis dan berkulit gelap itu terlihat begitu lahap menikmati setiap potongan jeruk di tangannya.

Bukannya  ngiler jeruk manis yang membuat aku meliriknya, tapi karena ada aroma jeruk busuk. Jeruk yang dimakannya diambil dari antara tumpukan sampah di depannya. Tentu hanya orang yang kurang waraslah yang makan jeruk busuk dari tempat sampah. Mungkin ada bagian jeruk yang masih bagus dan layak untuk dimakan. Tapi seingin apapun orang makan jeruk tidak akan mengambil jeruk dari tempat sampah, apalagi dengan aroma busuk seperti itu.

Tak ada halangan bagi lelaki itu  terus mengais tumpukan sampah untuk mencari another lemon. Satu jeruk lagi cukup memuaskan hatinya. Ia cepat mengambilnya lalu mengupas kulitnya. Sayang, tak ada bagian jeruk yang bisa dimakan, semua busuk. Jeruk itupun dibuangnya. Ia lalu berjalan ke sebuah keranjang sampah di depanku. Tak perduli tatapan kerumunan orang di sekitarnya, ia mulai mengais lagi isi keranjang itu.

Ia tak menemukan apapun makanan. Sebuah kertas pembungkus nasi yang diperolehnya dari timbunan sampah dipungut juga, berharap ada sisa nasi di dalamnya. Tapi kosong. Si empunya bungkusan ternyata sama laparnya dengan dia, jadi tak menyisakan nasi barang sebutirpun. Merasa kecewa, ia tetap mengambil kertas pembungkus itu, bukan untuk dimakan tetapi untuk dipakai melap kakinya, sandal swalow warna putih hitamnya. Berulang kali, kanan kiri. Wah, tahu bersih juga anak itu, pikirku.

Lalu dengan kertas yang sama ia melap mulutnya, membersihkan sisa jeruk tadi. Wah, dia memang kurang waras, pikirku lagi. Sedetik kemudian, pria kurang waras itu tinggal kenangan. Fisiknya memang sudah berlalu, tapi pesan yang tersirat dari dialog batinku membuat aku berpikir lebih dari yang seharusnya. Dia menyadarkan aku bahwa manusia butuh makan, itu merupakan kebutuhan pokok. Beruntunglah aku bisa makan dengan enak dan nyaman.

Miris, iba, dan sadar diri. Orang kurang waras itu mengingatkan aku untuk bersyukur. Mengingat prinsip hidup simpel dan supel sepanjang masa yang sudah kuusung sejak aku berumur. Berpikir keras mungkin bukan tipe aku, buktinya tidak pernah terbersit dari kepalaku untuk menjadi seorang ilmuan. Yang muncul malah menjadi penulis. Pikirku, pekerjaan apa yang lebih nikmat ketimbang menjadi seorang penulis? Berlebihan. Baiklah, aku akan lebih giat lagi bekerja. Banyak proyek yang belum selesai dikerjakan. Termasuk memenuhi nazarku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s