Suara Sunyi

Bag.  1

Sidikalang, 1994

Gemeretak giginya sudah pada tahap memekakkan telinga dan menimbulkan ngilu di gusinya. Sayang, suara sumbang lelaki yang berbicara di depannya saat ini lebih nyaring mengacak-acak aliran darah di kepalanya. Duma tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang yang selama 10 tahun ini tidur bersamanya bisa berkata securang itu terhadap apa yang terjadi  selama ini. Dalam hati ia bertekad, tak akan pernah kembali pada lelaki itu.

Sidang perceraiannya tidak pernah tuntas. Suaminya yang seorang hakim kota telah merekayasa dan memonopoli rekan-rekannya untuk tidak pernah mengabulkan permohonan cerai yang diajukan Duma. Alhasil, hak asuh anak tetap di tangan ia dan suaminya kendati mereka telah pisah rumah selama 2 tahun terakhir.

Hanya dengusan nafas berat yang terdengar ketika akan meninggalkan gedung pengadilan tempat kasusnya digelar, tempat suaminya bertugas sehari-hari. Tekad cerai sudah dilontarkannya sejak lelaki itu mengutuk pekerjaan Duma, mengintimidasi anak-anaknya agar menjauhi ibunya, dan sejak sebuah tamparan seperti sebuah genderang perang lelaki itu kepada dirinya.

”Aku ini aktivis perempuan, anti kesewenang-wenangan terhadap perempuan. Setiap saat aku berkampanye untuk menentang hal itu, mendidik perempuan-perempuan untuk mencapai kesetaraan dan menolak kekerasan terhadap dirinya, tetapi aku malah dianiaya suamiku dan menjadi korban keculasan mulut laki-laki,” batin Duma meronta-ronta kapal. Ia menyeka keringat yang menggurat aliran-aliran kecil di wajahnya. Entah karena panas di dalam ruangan sidang atau karena hentakan jantung yang terlalu cepat memompa dadanya, sehingga suasana terasa begitu panas.

Erika yang sejak awal tidak banyak bicara hanya memandangi gerak-gerik Duma yang membisu namun terlihat sangat kecewa. Ini kali kedua majelis hakim yang menyidangkan kasus perceraian Duma, menyarankan agar ia dan suaminya rujuk dan tidak punya alasan kuat untuk mengakhiri pernikahan mereka. Sebab menurut sang suami, kondisi mereka baik-baik saja, komunikasi mereka masih lancar. Sebuah tamparan dan intimidasi terhadap anak hanya ilusi dan alasan Duma saja yang memang kerap manangani kasus kekerasan terhadap perempuan karena pekerjaannya sebagai staf advokasi sebuah LSM perempuan di kota Sidikalang.

”Tidak mungkin saya melakukan hal itu, Pak Hakim Yang Terhormat. Saya sangat mencintai keluarga saya. Hanya mereka harta saya di dunia ini,” ujar suami Duma tadi di ruang sidang.

Tidak disangka, ungkapan semacam itu bisa mengaburkan fakta dan bukti otentik tentang kekerasan terhadap istri di persidangan. Erika selaku kuasa hukum sekaligus teman dekat Duma hanya bisa gigit jari menyaksikan palu hakim diketuk untuk menutup persidangan.

Duma tidak akan pernah mendapatkan hak cerainya, kecuali suaminya itu mati.

Waktu terus berjalan. Pikiran untuk menutup masalah ini lambat laun berhasil membawa Duma pada kehidupan yang mono. Meskipun suaminya masih ikut membiayai kedua anak mereka, namun komunikasi hanya sebatas membesarkan anak. Ia sudah lelah angkat senjata. Hanya menghabiskan waktu dan pikirannya saja. Ia justru kini semakin yakin akan langkahnya dengan pekerjaan ini, membela kaum perempuan. Setidaknya ia tidak lagi diintervensi soal kegiatannya yang selalu sibuk keluar rumah untuk menghadiri sidang dan konseling perempuan korban kekerasan. Atau berhari-hari tidak pulang karena ikut dalam konfrensi dan seminar di luar kota maupun luar negeri terkait penguatan perempuan. Ia lebih leluasa kini.

Duma bahkan bisa menyelesaikan magister di bidang gender dan kebijakan publik dari Inggris dengan konsentrasi tinggi. Bergaul dengan sesama aktivis perempuan internasional dan ikut dalam upaya penekanan kepada pemerintah kota untuk membuat kebijakan berbasis gender. Ia ingin mengaktualisasikan diri seutuhnya kepada cita-cita ini, agar tidak ada lagi perempuan yang mengalami seperti yang terjadi padanya dan korban-korban ketidakadilan gender lainnya.

Sejak awal memilih profesi ini  ia memang sudah memikirkan konsekuensi tindaknya. Karena itu ia merasa beruntung, suami yang pengertian dan sangat mendukung keadilan ditegakkan sudah dipilih untuk mendampingi dalam upaya menciptakan kesetaraan dan keharmonisan dunia. Dan memang pada mulanya semua baik-baik saja. Suami mendukungnya, bahkan memberi masukan hukum ketika Duma berupaya untuk menaikkan derajat hidup perempuan suku Batak Pakpak yang sama sekali sangat malang menurutnya. Duma adalah perempuan dari suku Batak Toba yang ikut suami tinggal di daerah Sidikalang, kampung halamannya suku Pakpak berdiam.

Bayangkan, perempuan suku Pakpak di lingkungan rumahnya sama sekali tidak punya hak suara untuk mengeluarkan pendapat apalagi membela diri. Pukulan dan hinaan dari suami adalah representasi keluarga dan masyarakat adat untuk mendidik perempuan ketika melakukan kesalahan atau ada hal yang tidak beres dalam rumah tangga. Bahkan ketika suami mabuk dan tidak memberi nafkah, atau ketika suami menjual harta benda mereka dan menghamburkannya di meja judi atau lokalisasi, perempuan tidak boleh protes. Apapun upaya perempuan untuk menghentikan itu sebaik-baiknya kata, lebih baik diam.

Duma tidak kuat melihat fenomena aneh seperti itu, di tengah iklim emansipasi perempuan yang sudah mengudara sejauh ini. Ia pun terpanggil bak Kartini di zamannya, untuk mendidik perempuan mengenali hak-haknya dan memiliki ketrampilan selain baca tulis dan menghitung. Bertani adalah profesi para perempuan Pakpak itu, menanam dan memanen adalah keahliannya. Namun kemiskinan terus menjadi momok. Kualitas hidup perempuan tidak mengena sama sekali pada ukuran sebenarnya warga negara Indonesia seperti yang diketahui Duma sebagai sarjana Sosiologi. Penghargaan atas kerja keras dan pengorbanan perempuan Pakpak hanya ada pada sebuah pujian sebagai istri yang baik dan berbakti. Hanya itu.

Sebagai awal upaya advokasi, beberapa perempuan tetangganya diajak Duma berkumpul di rumahnya dan membicarakan tentang adat Pakpak sambil makan pisang goreng dan teh manis hangat. Dengan alasan ingin bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat Pakpak, ia membiarkan mereka berbicara panjang lebar soal kehidupan mereka masing-masing, baik itu yang jujur, sedikit jujur, atau cuma bohongan. Ia hanya diam menyimak. Antenanya cukup andal untuk menyaring informasi yang layak dijadikan data, dan mana yang harus dibuang. Selama beberapa waktu berkumpul dan menjadi akrab, ia pun mulai membuat suatu program kecil untuk membicarakan tentang ketrampilan rumah tangga dan pentingnya pengetahuan umum bagi perempuan. Ia memasukkan nilai-nilai keadilan dan harmonisasi masyarakat dalam diskusi tersebut. Mulai dari sini, Duma yang kini lebih banyak bicara. Perkumpulan gereja juga dimasukinya untuk bisa lebih dalam memetakan sejauh mana peran perempuan dikesampingkan dan melihat peluang yang ada untuk perubahan. Tapi ia melakukannya dengan santai dan tanpa beban layaknya detektif swasta.

Keterbukaan itu pun semakin melebar. Seorang tetangganya akhirnya mau mengadukan soal kekerasan yang dialaminya di rumah tangganya. Duma pun seperti sedang mendapat lampu hijau untuk berbuat seperti apa yang diharapkannya sejak menjejak di kota ini. Seorang teman advokat di Medan dipanggilnya untuk menjadi kuasa hukum sang tetangga korban kekerasan untuk mengadu ke polisi dan sidang di pengadilan.

Dinta Solin, nama perempuan korban kekerasan itu. Ia adalah perempuan istri pengganti bagi seorang pria dengan 4 orang anak. Awalnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Karena sudah cukup memiliki anak, sang suami tidak ingin punya anak lagi. Penghasilannya sebagai seorang petani kopi tidak terlalu mencukupi jika harus menambah anak. Lagipula anak-anaknya sudah beranjak remaja dan butuh biaya besar untuk sekolah. Dinta juga tidak keberatan. Usianya yang sudah memasuki usia 35 tahun pun dirasa tidak baik lagi untuk hamil. Ia pun rela menutup rahim dengan tekad membesarkan 4 orang anak suaminya seperti anak sendiri.

Belakangan mulai terdengar suara sumir darin pihak keluarga suami, terutama ipar-ipar perempuannya yang mengira dia perempuan yang gagal karena tidak punya anak. Menurut mereka, niat menutup rahim agar tidak punya anak hanya akal-akalan. Sebenarnya ia memang mandul, karena itu Dinta hingga usia 30-an tahun tidak juga menikah. Suara sumir ini semakin jelas terdengar. Yang membuat ia sakit hati, karena tudingan mandul itu kemudian keluar juga dari mulut sang suami yang memasuki usia 50 tahun. Semakin lama kata-kata yang menyakitkan semakin sering keluar dari mulut suaminya. Apapun yang dilakukan dan dikatakan Dinta, selalu saja salah atau bahkan tidak digubris. Jika membantah, Dinta pasti dipukul. Iapun lalu memilih diam dan menurut saja apa kata keluarganya.

Keadaan bukannya mereda, malah semakin parah. Tidak saja suami dan kelaurganya yang mengolok-olok dan menyudutkan dia, anak-anak yang selama ini dikira sudah menyatu dengannya pun ternyata ikut merendahkannya. Ia seperti terjebak dalam sebuah labirin. Tak punya harga dan tujuan hidup, membuatnya semakin terpuruk. Sempat terpikirkan olehnya untuk mati saja, tapi ia masih takut Tuhan. Namun jiwa dan raganya sudah lelah hidup dalam neraka rumah yang tidak menyisakan kasih pada dirinya.

Cerai mungkin bukan jalan yang tepat. Tapi, upaya kekeluargaan dan mediasi gereja juga tidak menjawab persoalan. Dinta tetap diposisikan sebagai perempuan yang tidak baik. Cengeng, lemah, dan sudah mempermalukan keluarga dengan membawa masalah ini keluar rumah. Langit pun seperti runtuh di atas kepalanya. Dia tidak punya daya untuk keluar dari masalah ini dan bisa bahagia lagi. Tidak ada orang yang mencoba memandang masalah ini dari posisinya, mendengarkannya, membelanya, hingga kemudian bertemu Duma.

Atas dampingan Duma dan teman advokatnya, Dinta akhirnya bebas dari kungkungan suaminya. Gugatan cerai yang sempat mendapat serangan moral dari seluruh keluarganya, ternyata berakhir cepat. Tapi di sisi lain, butuh waktu yang lama untuk mengembalikan dan menyusun puing-puing harapan yang hancur berkeping. Usia memang masih muda, tapi impian memiliki keluarga lagi sepertinya masih jauh dari bayangannya. Atas bantuan seorang kerabat di Medan, Dinta akhirnya hijrah ke ibukota Sumut itu dan bekerja di pabrik.

***

Medan, 1999

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Terlihat lalu lalang orang yang cukup ramai di bandara ini. Duma berusaha untuk tidak terganggu dengan kebisingan itu dan terus konsentrasi pada koran di tangannya. Sebuah berita luar negeri menarik perhatiannya. Konfrensi perempuan se-Asia Pasifik berkumpul di New Delhi, India, untuk mendukung penguatan ekonomi perempuan. Berbagai program dan sejumlah dana dari donatur internasional mengalir untuk memungkinkan adanya peningkatan kualitas ekonomi perempuan di Asia-Pasifik.

Duma teringat kondisi ekonomi perempuan Pakpak para tetangganya. Kemiskinan dan penguasaan harta hanya di tangan laki-ki yang kerjanya mabuk dan judi, tidak memungkinkan perempuan untuk berkreasi dalam menghasilkan dan mengelola pendapatannya sendiri. Duma menghela nafas. Bagaimana caranya agar program dan dana yang dibicarakan di koran ini bisa sampai di Sidikalang?

Ia menoleh ke arah tas tangan di pangkuannya. Berisi paspor dan visa ke London. Bagaimana ia melanjutkan kerja pendampingannya di Sidikalang tatkala ia menyelesaikan studi S2 di Inggris. Pengasuhan anak-anak sudah aman di tangan kakak dan ibunya. Soal biaya, mantan suaminya sudah mengambil alih. Tidak perlu cemas lagi. Tapi soal pendampingan korban kekerasan dan pendidikan perempuan di lembaga kecil yang dibangunnya, apakah bisa sepenuhnya diserahkan kepada orang lain?

Dua tahun bukan waktu yang sebentar meninggalkan pekerjaan yang sudah dimulainya sejak 5 tahun lalu. Ia pun bercerai karena konsentrasi penuhnya pada lembaga perempuan yang diinisiasinya sendiri itu. Bukan salahnya jika ia akhirnya tenggelam dalam hasrat menolong perempuan tidak beruntung di sekitarnya. Bukan salahnya pula jika kemudian jumlah mereka semakin menggunung saja setiap hari. Bukan salahnya pula jika air mata perempuan korban kekerasan membuatnya tidak bisa lelap sepanjang malam, yang akhirnya mengganggu komunikasi Duma dengan sang suami. Ia hanya terpanggil dan berusaha sekuat tenaga membantu. Dia memang perempuan egois, tapi ia memilih lelaki itu jadi suaminya karena merasa sudah bisa cocok dengan karakternya yang keras kepala dan kuat hasrat. Tapi manusia ternyata mudah terprovokasi keadaan.

Ah, Duma jadi ingat lagi dengan mantan suaminya itu. Seperti waktu-waktu lalu, lelaki itu masih terus menghubunginya. Sekedar menanyakan kabar dia dan anak-anak mereka. Satu jam yang lalu mantan suaminya kembali menelpon. Mengucap selamat berjuang di negeri jauh. Semoga sehat dan tercapai cita-citamu. Gombal. Maki Duma dalam hati. Lebih mudah jika tidak ada kata-kata masuk ke telinganya ketimbang kemudian menghapusnya.

Sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunannya. Leliana. Perempuan berjilbab yang menjadi teman sesama aktivis perempuan di Sumut, tersenyum lebar ketika mendapat wajah Duma menoleh ke arahnya.

“Hei, dah lama nunggu?” ujarnya sembari mencium pipi kiri dan kanan Duma.

“Gak lama kok, belum habis koran ini kubaca,” tutur Duma, menyindir sambil nyengir kuda. Keduanya tertawa.

“Eh, liat deh berita ini.”  Duma menunjukkan berita tentang perempuan Asia-Pasifik yang dibacanya tadi. Leliana mencoba membaca berita itu dengan cepat.

”What do you think?” tanya Duma begitu melihat Leliana mengangguk-angguk.

“Paling juga jatuhnya ke Departemen Sosial, atau LSM yang jadi mitra pemerintah,” jawab Leli enteng kemudian menutup koran itu.

”Apa kita tidak bisa mengakses itu? Kalau kita buat konsep programnya dalam sebuah proposal, kita ajukan kemana?”

”Itu pertanyaan yang bagus, tapi sulit kujawab, Dum. Ya sudah, begini saja, gimana kalau kita konsentrasi aja dulu dengan sekolah pascasarjana kita ini. Di sana kita akan punya relasi yang lebih banyak, satu-satu aja dulu dikerjai sampai tuntas,” saran Leli tenang.

Duma nampak tidak puas dengan perkataan Leli. Kata nanti, menjadi kata yang jarang digunakannya sejak bercerai, karena tidak punya nilai kepastian yang melegakan dan sering digunakan menjadi bahasa pembenaran yang menipu. Meskipun ada benarnya juga untuk melakukan satu per satu sampai tuntas, tapi setidaknya dengan dana yang bisa diperolehnya dari konfrensi perempuan Asia-Pasifik itu, selama 2 tahun berada di luar negeri, ia bisa mencari staf yang lebih kapabel dan dipercaya untuk melakukan kerja-kerja lapang seperti yang dilakukannya selama ini.

Staf yang ada hanya mantan korban yang sedikit bisa konseling dasar dan melakukan tugas-tugas adminstrasi. Sifatnya juga relawan. Pengawasan dan pengarahan sepenuhnya diberikan kepaada kakak iparnya yang seorang dosen antropologi. Setiap ada kegiatan pasti memerlukan biaya, minimal untuk transportasi dan suart-surat. Duma memang meninggalkan sejumlah dana untuk lembaga kecilnya di Sidikalang itu bersama kakak iparnya, tapi jumlahnya sangat minim.

Dua bulan sejak persiapan berangkat S2 ke Inggris, pikirannya sudah bercabang dua. Bahkan sempat terpikir Duma, gimana kalau lembaga pemberi beasiswa kuliahnya itu menguangkan dana pendidikannya itu untuk dana operasional lembaganya. Walau itu tidak mungkin dikabulkan, tapi Duma masih berharap itu bisa terwujud. Banyak sekali korban KDRT dan program pendidikan perempuan desa yang ingin ditanganinya.

Hasrat bekerja keras ini memang sudah menjajahnya dengan begitu kuat. Kalau saja Leliana tidak segera menyadarkan dan memotong cabang pikiran Duma, mungkin saja tiket pesawat dan paspor ini dibuang Duma ke tempat sampah dan segera pulang ke Sidikalang.

”Anggap saja kamu sedang isi batere ke Inggris. Selama ini kamu pakai batere kecil untuk mendayakan mesin yang semakin membesar, jadi kamu harus berubah jadi batere besar dulu untuk bisa menggerakkan mesin yang besar juga.”

Perkataan Leli menutup perkembangan cabang pikirannya. Sekolah ke eropa memang sudah menjadi cita-citanya sejak remaja, syukurlah bisa diraih sekarang. Isi batere, kata Leli. Ia memang harus memboboti diri untuk meraih kemenangan dan capaian yang lebih besar lagi. Mungkin ini kesempatan yang bagus untuk mengembangkan sayap. Ini bukan pekerjaan satu dua orang yang ingin jadi pahlawan. Duma pasti mendapat pengetahuan dan relasi yang lebih luas di Inggris. Lagipula ada Leli yang akan menjadi teman bertukar pikiran. Cukuplah itu menjadi alasan untuk tersenyum meninggalkan Indonesia sementara.

***

London, 2000

Salju turun lebih cepat tahun ini. Laporan cuaca di berita pagi memberikan gambaran akan repotnya warga London untuk menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum libur musim dingin tiba. Sungguh suatu tantangan berat untuk bisa tetap aktif dengan cuaca di bawah nol derajat celsius. Morning sick menjadi gejala yang biasa bagi Duma setiap masuk pergantian musim. Terutama musim dingin. Tubuhnya menggigil dan nafasnya sesak. Kepalanya berat, seperti ada paku beton yang memakunya di tempat tidur.

Uap kopi hangat sedikit menarik matanya untuk membuka. Punggung Sophia terlihat berjalan menuju pintu kamar dan menutupnya pelan sebagai pertanda ia peletak kopi di atas meja kamar dekat jendela, tanpa kata. Duma tersenyum tipis. Ia memang butuh sedikit bantuan untuk mengatasi morning sick yang tampaknya laten ini.

Ia berusaha bangun dan melihat ke arah jendela untuk memastikan cuaca di luar. Kepalanya tertunduk lesu. Ia harus ke perpustakaan kampus hari ini untuk meminjam beberapa buku sekalian mengembalikan buku yang dipinjamnya seminggu lalu. Jika keluar dalam kondisi cuaca yang membuatnya seperti daging beku begini, ia ragu sanggup begadang untuk menyelesaikan tesisnya seperti hari sebelumnya nanti.

Matanya beralih ke secangkir kopi panas di atas meja. Hanya ada kopi dan sehelai handuk kering yang dilipat rapi. Sophia pasti sudah membereskan kamar ini sebelum mengantar kopi ke kamar Duma. Perempuan keturunan Arab-Perancis itu memang sudah lama menjadi pekerja rumah tangga di rumah ini. Keluarga Shappes, yang menjadi orangtua asuh Duma di Inggris ini sudah mempekerjakan Sophia selama lebih dari 15 tahun. Tepatnya setelah Ibu Shappes melahirkan anak pertama mereka.

Duma beruntung bisa bertemu dan tinggal dengan mereka selama kuliah di London. Ia tidak menyangka bahwa ada kebijakan yang tanpa pamrih seperti menerima mahasiswa asing di rumah mereka dan memperlakukannya seperti keponakan sendiri. Pemberi beasiswa Duma memang sudah menyelesaikan semua biaya tinggalnya di rumah keluarga Shappes hingga selesai kuliah nanti. Namun biaya untuk keramahan dan perhatian seperti yang didapatnya tentu tidak bisa dinominalkan. Hingga saat ini belum ada terbersit ide yang cocok untuk memberi hadiah perpisahan bagi keluarga yang luar baisa ini.

Kalau berupa barang, ia pasti gagal memberi yang cocok untuk keluarga yang bersahaja ini. Pasti harus sesuai dengan kebutuhan mereka. Suvenir, perhiasan, atau apa? Tak punya uang yang cukup untuk itu. Suami-istri Shappes lumayan berduit. Herman Shappes bekerja di bank besar, sementara Emily Shappes adalah dosen di universitas tempat Duma mengambil master di bidang gender dan kebijakan publik.

Harus yang cocok dan setimpal, minimal mendekati. Memang masih ada waktu hingga Juni nanti. Tapi sudah bisa dipikirkan sejak sekarang. Atau pakaian rajutan sendiri bertuliskan namanya di dada, supaya setiap kali mereka memakainya akan mengingat Duma, yang pernah menjadi bagian dari keluarga ini walau hanya sebentar. Kendalanya, ia tidak punya cukup waktu untuk itu. Ia harus membuat 2 sweater ukuran besar untuk suami-istri Shappes, dan 2 ukuran sedang untuk putra-putri mereka. Lama. Oh, Sophia juga harus dibuatkan. Makin lama.

Duma menyudahi perdebatan pikirnya begitu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Ia sudah bersiap untuk berangkat ke kampus tapi, acara sarapannya menjadi sebuah percakapan bisu yang memakan waktu lama. Sophia muncul dari pintu dapur. Ia baru saja dari halaman belakang mengambil sekop salju dari gudang.

”Makan yang banyak, Bu Duma. Orang Asia seperti kita perlu banyak lemak dan kalori untuk bisa bertahan di negeri bermusim 4 seperti di sini,” kata Sophia dalam bahasa Inggris dengan logat Perancis-nya yang kental.

Duma cuma tersenyum. Kata-kata Sophia justru seperti sindiran ketimbang kepedulian. Duma adalah tipe orang yang gagal menyimpan lemak di badan. Ketika pertama kali tiba di rumah ini dan bertemu dengan Sophia, perempuan berusia 50 tahun itu menatap aneh dirinya. Lirikan mulai dari atas kepala hingga kaki, terus dilakukan Sophia kepadanya. Badan Duma terlalu kurus menurut Sophia. Karena itu, ia selalu memberi makanan lebih banyak kepada Duma saat makan bersama di rumah. Tapi usaha itu justru membuat Duma tak nyaman. Karena jika ia kekenyangan, ia akan muntah. Hal itu terjadi selama seminggu pertama kedatangannya. Ibu Shappes yang menyadari kondisi itu lalu melarang Sophia untuk memaksa Duma dan menyuruh perempuan gemuk itu membiarkan Duma makan sesuai kehendaknya sendiri.

Setelah suapan terakhir, Duma mengangkat piring kotornya ke wastafel dan mencuci tangannya walau ia makan bubur gandum instan dengan sendok. Sophia tampak masih sibuk dengan bahan makanan yang akan dimasukkan ke kulkas. Sebuah deringan telepon genggam mengagetkannya. Duma tersenyum melihat perubahan wajah Sophia yang tidak pernah berubah ketika dikejutkan telepon genggamnya. Ibu Shappes yang memberikannya 3 tahun lalu supaya Sophia bisa tetap dikontak dimanapun ia berada.

Sophia tidak senang dengan hadiah itu. Selain karena sulit beradaptasi, getaran benda itu membuat syaraf-syaraf tubuhnya ikut bereaksi. Dengan gagap, Sophia menjawab sebuah seruan dari seberang sana. Tapi kali ini pasti bukan Ibu Shappes yang menghubunginya. Tidak biasanya, Sophia bicara dalam bahasa Arab. Rasa kagetnya semakin terlihat jelas. Menyadari Duma memperhatikan gerak-geriknya, Sophia minta diri ke kamar untuk menjawab teleponnya.

Kompromi dengan rasa terburu-buru tadi, Duma kembali ke kursi makannya dan menunggu Sophia kembali. Ia ingin tahu lebih jauh perihal perubahan wajah Sophia. Mungkin kerabatnya yang Arab yang mengontaknya tadi. Tapi kenapa Sophia terlihat tidak senang?

Duma sudah menunggu terlalu lama. Mungkin Sophia berbincang panjang lebar di telepon dengan saudaranya itu. Mungkin sepulang dari kampus, ia bisa bicara dengan Sophia. Tas ransel disambarnya, lalu pergi dengan jaket tebal dan sepatu boot hingga tumit. Untunglah di dalam perpustakaan kampus, mesin pemanas ruangan mengeluarkan suhu yang cocok untuk tubuhnya. Ia pun betah berlama-lama dalam kubangan buku tebal di hadapannya. Roti isi ikan tuna dan sayuran yang dibeli dari kantin perpustakaan siang tadi ternyata bisa menjadi penopang energi hingga pukul 7 malam.

Disanggah perut lapar dan rasa ingin tahu terkait telepon untuk Sophia tadi pagi, Duma kembali secepatnya ke rumah. Shappes sekeluarga sedang menghadiri undangan makan malam di rumah adik Herman tak jauh dari sini. Hanya Amanda, si bungsu yang tinggal di rumah karena ada temannya yang berkunjung.

Duma langsung mendatangi dapur untuk mencari makanan dan Sophia. Tampak perempuan tinggi besar itu sedang mencuci piring bekas masak makan malam untuk Amanda dan temannya.

”Hai,” sapa Duma pelan sambil mendekati Sophia.

Tak disangka, Sophia tampak kaget sekali mendengar sapaan pelan itu. Duma memelengkan wajahnya ke arah Sophia lebih dekat. Perempuan itu menangis. Ia menangis tanpa suara dan tetap mencuci piring di depannya seperti biasa.

”Hei, kenapa Sophia? Apa yang membuatmu menangis?”

”Tidak, tidak. Saya tidak apa-apa, Bu Duma. Jangan pikirkan saya. Duduklah, saya akan siapkan makan malam Ibu.”

Sophia meninggalkan wastafel dan beralih ke lemari mengambil makanan dan memanaskannya di oven. Sementara itu Duma terdiam melihat ketertutupan Sophia. Ia tidak mau mengikutkan hasrat ingin tahunya menyadari di negeri ini campur tangan tanpa diminta kerap dianggap tidak sopan. Ia hanya melihat gerak-gerik Sophia yang tetap bekerja mempersiapkan makan malam seperti biasa, namun kini dengan wajah yang sendu dan muram.

”Aku lebih suka wajahmu yang keji memaksaku makan banyak, ketimbang kamu yang cuek melayani,” cetus Duma, sembari duduk di kursi makan.

Sophia berhenti sejenak dan melihat ke arah Duma yang sedang menyendoki salad dan steak ke piringnya.

”Saya tidak cuek, Bu Duma. Saya hanya sedang tidak enak mood,” jawab Sophia sembari kembali ke lemari, entah untuk apa.

”Pekerjaanmu kan sudah selesai, Sophia. Duduklah bersamaku, tolong temani aku makan,” pinta Duma sambil menatap Sophia lekat. Sebuah tatapan yang serius memohon.

Perempuan itu mengalah, meletakkan celemeknya di gantungan lemari lalu duduk di depan Duma.

”Mau makan lagi?” tanya Duma.

”Tidak, Bu Duma, saya sudah kenyang.”

”Bukankah kita sudah berteman cukup lama, sudah lebih dari setahun ya. Tetapi sepertinya persahabatan ini hanya sepihak saja, hanya aku yang menganggap pertemanan ini serius.” Duma bicara santai sambil tetap mengunyah makanannya pelan.

Sophia tertunduk.

”Seorang perempuan berwajah dingin, pelit berkata-kata, kejam jika memaksa, tapi tiba-tiba menangis tanpa sebab, dan bilang hanya sedang tidak mood? Tidak bisa kupercaya.”

”Bu Duma berbicara seolah saya ini orang yang tidak punya perasaan, seorang kriminal.”

”Kamu tahu apa yang  ingin kuketahui, Sophia. Karena telepon dari saudara Arab-mu tadi pagi? Benar, gak?”

”Itu tadi putri saya. Dia…” Sophia kembali menunduk. Butuh beberapa menit baginya untuk melanjutkan kata-katanya.

”Dia… Dia katanya ingin kuliah di London,” lanjut Sophia dengan terbata.

”Apa yang salah dengan itu. Bukankah bagus, putrimu ingin sekolah tinggi-tinggi, apalagi ada ibunya di sini,” ujar Duma enteng, sambil memasukkan sepotong steak ke mulutnya.

”Tentu saja saya mendukungnya, dia anak yang cerdas. Tapi, ayahnya tidak mengijinkan.” Suara parau Sophia kemudian lepas menjadi sebuah isak.

Duma mulai paham soal duduk perkaranya. Pertentangan soal anak memang kerap menyulitkan hati dua orang yang membesarkannya. Sophia sudah bercerai dengan suaminya yang berdarah Arab. Selama 5 tahun menikah, mereka dikaruniai 3 anak perempuan dan tinggal di L’Ile Saint-Denis, Paris Utara. Namun Sophia dipoligami oleh suaminya untuk mendapat anak lelaki dari istri mudanya yang telah melahirkan anak hasil hubungan mereka sebelum dinikahi. Semenjak sering dipukuli, Sophia akhirnya minta cerai. Sayangnya pengadilan menjatuhkan hak asuh anak mereka pada suaminya. Tidak mau sedih berkepanjangan, Sophia menikah lagi dengan seorang lelaki Perancis beragama Kristen. Usia suaminya ini lebih muda 4 tahun darinya, dan lebih baik dalam memperlakukannya sebagai seorang perempuan. Sophia pun ikut agama Kristen walaupun diolok-olok keluarga dan tetangganya. Anak-anaknya disuruh mantan suaminya untuk menjauhi Sophia karena dianggap kafir. Tapi itu tidak menyurutkan kasih seorang ibu untuk dicurahkan kepada anak-anaknya Secara sembunyi-sembunyi Sophia menemui anak-anaknya di sekolah mereka. Dia membelikan mereka baju, aksesoris, sepatu, dan makan es krim bersama di pekarangan sekolah.

Begitu ketahuan, semua jadi fatal. Sang mantan suami membawa ketiga putri mereka dan keluarga barunya hijrah ke Arab Saudi. Suatu jarak yang jauh untuk dicapai.Tanpa alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi, anak-anaknya lenyap begitu saja tanpa permisi. Guru sekolah putrinya yang memberitahu. Kesedihan itu ternyata tidak sampai di situ. Beberapa bulan kemudian, suaminya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan kerja di bengkel truk tempatnya bekerja.

Kesunyian tiada tara melingkupi kehidupan Sophia. Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Keluarga sudah menjauh, anak-anaknya tidak diketahui dimana rimbanya. Saat patah hati seperti itu, ia bertemu dengan Ibu Shappes sewaktu bulan madu bersama suaminya Herman di Paris. Sophia menjadi pelayan di homestay tempat suami-istri Shappes menginap. Mereka berteman baik, bahkan ketika Ibu Shappes meminta Sophia tinggal bersamanya di London setelah kelahiran anak pertamanya, Sophia bersedia. Herman yang mengurus administrasi Sophia hingga akhirnya ia menjadi warga negara Inggris.

Sophia menyeka air matanya dengan sebuah tisu yang ada di atas meja. Seperti membuka kembali luka lama, atau mengeluarkan tangis yang telah lama disimpan, air mata Sophia tidak mau berhenti mengalir.

”Putriku yang nomor dua ini tidak mau seperti kakaknya, menikah dengan cara dijodohkan dan hidup tidak bahagia katanya.”

Ayah dan suaminya kerap berlaku kasar kepada Amirah, anak sulung Sophia yang sudah memiliki 4 anak di usia 25 tahun. Janeeta, nama putri keduanya itu, berontak saat akan dikawinkan ayahnya, dan berkeras akan melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Ia rela bekerja di pabrik selama ini dan mengumpulkan uang untuk biaya mengurus paspor dan surat administrasi lainnya, supaya bisa pergi ke Perancis dan hidup di sana. Begitu mengetahui bahwa ibunya, Sophia, kini tinggal di London, Janeeta berusaha mencari kontak untuk menghubungi Sophia.

”Saya ragu bisa membantunya, saya tidak tahu harus bagaimana. Untuk mengurus paspor saja, Janeeta tidak bisa kalau tanpa ditemani ayahnya. Pihak imigrasi dan negara tidak akan mengijinkan perempuan ke keluar negeri tanpa didampingi ayah atau saudara laki-lakinya. Saya bingung, saya ingin sekali membantunya tapi saya tidak bisa.”

Kali ini Sophia benar-benar menangis. Tenggorokan Duma sampai ikut tercekat melihat kesedihan yang menyelimuti Sophia saat ini. Duma hanya bisa menggenggam tangan Sophia erat dan mengelus-elus punggung perempuan itu.

”Pasti ada yang bisa kita lakukan, Sophia. Kamu tenangkanlah dulu hati dan pikiranmu, kita akan coba lihat apa yang bisa kita lakukan,” ujar Duma menenangkan.

”Apa yang terjadi?”

Suara Emily Shappes yang tiba-tiba muncul mengagetkan Sophia dan Duma. Perempuan cantik itu segera menghambur ke meja makan dan melibatkan diri dengan Sophia.

”Apa yang membuatmu menangis, Sophia? Siapa yang menyakitimu?” Pertanyaan Emily membuat tangis Sophia berhenti. Ia cepat-cepat menghapus air matanya dan menyembunyikan gundahnya dengan senyuman di paksa.

“Eh, bukan masalah besar, Nyonya. Saya tidak apa-apa, kok,” kilah Sophia cepat sambil berdiri menyambut majikannya.

Herman Shappes ikut menghambur ke ruang makan.

”Ada apa ini, kelihatannya serius sekali,” ujarnya, dan kaget melihat Sophia berlinang air mata.

”Sophia menemukan putrinya, eh, tepatnya putrinya yang menemukan dia. Mereka berada di Al-Abha, Arab Saudi, bersama ayah mereka,” terang Duma, menggantikan Sophia.

”Lho, bagus kan? Bukankah itu berita baik?” ujar Emily, senang.

”Putri-putri Sophia tidak bahagia di sana,” tambah Duma.

Emily dan Herman terdiam.

”Baiklah. Mari kita bicara di ruang tamu. Aku akan buatkan teh untuk kita semua.”  Herman meminta Emily dan Duma membawa Sophia ke ruang tamu sementara ia membuatkan teh di dapur.

Sophia lalu menceritakan permasalahannya kepada Emily. Sayangnya belum ada solusi yang bisa diambil pada malam itu. Karena ini menyangkut urusan diplomasi antar negara. Malam sudah larut, Duma menyarankan semua khususnya Sophia untuk istirahat dan akan membicarakan hal ini besok pagi.

Malam itu, tidak seorangpun yang bisa tidur nyenyak. Emily dan Herman masih membicarakan masalah Sophia di kamar mereka, Sophia tidak bisa menghilangkan wajah putri-putrinya dari pelupuk matanya, sementara Duma masih harus melanjutkan penulisan tesisnya sembari mencari teori dan ketentuan hukum internasional untuk mengatasi masalah Janeeta. Tapi sejauh yang ia ketahui, tidak ada cara untuk mengeluarkan Janeeta dengan cara yang legal. Hukum di Arab Saudi memang sudah mengatur soal hak perempuan harus dengan ijin pihak laki-laki di keluarganya, apapun yang menjadi permasalahannya.

Duma akan berkonsultasi dengan Prof Julian Ames, dosen studi gender di kampusnya. Setahu Duma, Prof Julian memiliki sebuah lembaga riset tentang gender di luar kampus. Mungkin masih ada harapan bagi Janeeta mencapai cita-citanya untuk kuliah di London.

”Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk Janeeta keluar dari Arab Saudi dengan legal. Hukum mereka diakui sebagai negara yang berdaulat, kecuali Janeeta keluar dengan cara ilegal dan itu tidak kusarankan, karena jika tertangkap hukuman terhadapnya akan lebih berat karena dia perempuan,” terang Prof Julian, ketika ditemui Duma keesokan harinya.

”Kenapa ada hukum negara yang seperti itu? Ini tidak masuk akal?” sanggah Duma dengan nada kesal.

”Itu pertanyaan jutaan perempuan di dunia, termasuk aku yang sudah melakukan riset gender selama 10 tahun terakhir, terutama di Timur Tengah dan Asia. Karena ketidakadilan itu maka aku, kamu, dan mahasiswa lain mempelajari ini lebih dalam, dengan tujuan memutus rantai busuk ini secepatnya,” tukas Prof Julian, tenang.

Prof Julian berjanji akan menghubungi temannya di Kairo yang aktif di lembaga kajian gender di sana untuk bisa membantu mencarikan solusi untuk kasus Janeeta. Meskipun Prof Julian meminta Duma jangan terlalu banyak berharap, setidaknya kasus ini menjadi inspirasi sebuah gerakan untuk membentuk sebuah lembaga perlindungan dan studi gender di Arab Saudi setahun setelah kasus ini disampaikan kepada Prof Julian. Perempuan yang usianya lebih muda dari Duma itu sendiri yang melancarkan lobi dan pertemuan regional dengan beberapa negara kontaknya di Asia dan Timur Tengah untuk membuat sebuah deklarasi terhadap hak perempuan untuk bebas berpolitik dan berdiplomasi tanpa didampingi laki-laki di negara-negara Arab.

Hingga akhir musim semi, Janeeta belum juga bisa berkumpul dengan Sophia. Mereka malah putus kontak. Janeeta tidak pernah lagi menghubungi Sophia, dan ketika dikontak nomor Janeeta tidak aktif lagi. Kesedihan Sophia semakin menyelimuti batinnya. Meskipun kinerjanya di rumah tidak terpengaruh, namun celoteh dan kepedulian Sophia menurun drastis.

Duma yang semakin sibuk dengan batas akhir penulisan tesisnya juga tidak bisa berbuat banyak untuk menghibur. Ia juga tengah dilanda romantisme yang pelik, kerinduan untuk segera kembali ke tanah air. Tak cukup surat dan foto tentang kabar Sidikalang, keluarga, dan dampingannya untuk memenuhi rasa ingin tahu dan kangennya yang luar biasa. Ia ingin segera membawa ilmu dan segala kebaikan yang ia dapat di sini ke Sidikalang. Beruntung, kekangan adat dan hukum negara di Indonesia tidak separah seperti di negara-negara Timur Tengah. Masih ada celah untuk membuat kesetaraan dan kesadaran gender itu terwujud.

Para pendiri negara Indonesia cukup moderat untuk tidak mengaplikasikan hukum yang mendiskriminasi. Tinggal bagaimana mengkampanyekan dan mendidik tentang kesetaraan gender ini kepada masyarakat seluas-luasnya.

Memasuki musim gugur, Duma sah meraih gelar Master of Art di bidang gender dan kebijakan publik. Karena waktu dan uangnya habis untuk menyelesaikan tugas akhir dan tesisnya, ia jadi memiliki ide yang sederhana untuk memberikan ucapan terima kasih dan perpisahan kepada keluarga Shappes dan juga Sophia. Yakni, manyajikan makanan khas Indonesia kepada mereka. Bumbu dan rempah yang tidak diperoleh di London, ia minta dikirimkan dalam bentuk siap saji, dihaluskan dan awet.

Jadilah Duma masak rendang, pecal, ikan gurami asam manis, dan jus martabe alias markisa terong belanda yang dikirim dalam bentuk sirup oleh ibunya dari Medan. Hari itu, Duma menjadi koki kebanggaan keluarga Shappes. Untunglah, cita rasa yang disajikan Duma sangat disukai keluarga itu. Leliana yang memilih untuk tinggal hingga akhir tahun ini juga memuji masakan Duma.

Sebagai kenang-kenangan, Duma memberikan ulos kepada keluarga Shappes dan Sophia. Meskipun sudah diterangkan bahwa ulos adalah selendang pelengkap pakaian, namun mereka menjadikan ulos-ulos pemberian Duma sebagai pajangan di ruang tamu mereka. Sebaliknya, Duma mendapatkan sebuah T-Shirt bersablon wajah karikatur keluarga Shappes dan sebuah sweater rajutan putri Shappes bertuliskan ’Shappes Love Duma’.

***

Bagian 2

Sidikalang, 2005

Semua sudah tertata rapi di meja. Piring, sendok, makanan dan minuman, sebuket bunga segar, dan lilin warna hijau muda. Duma sengaja masak besar hari ini, tapi tentu saja dibantu oleh Tutut, pekerja rumah tangganya. Tapi pemilihan menu dan sebagainya Duma yang putuskan. Ia memang ada hajatan hari ini. Diba, putri sulungnya akan tiba di Medan hari ini. Ke rumah ini setelah dua tahun kuliah di Jogyakarta tanpa sempat pulang pada saat Natal tahun lalu.

Sudah lama ia merencanakan makan malam yang romantis ini. Ia piker, putrinya yang sudah beranjak menjadi perempuan muda ini pasti menyukai kejutan kecil yang disiapkan oleh ibunya ini. Kebetulan pula hari ini Diba ulang tahun, jadi semua momen menjadi sangat tepat. Duma sudah menyelesaikan pekerjaan yang penting agar hari ini tidak ada halangan yang berarti. Ia akan bersenang-senang dengan Diba, dan bercerita panjang lebar tentang pengalaman Diba di tempatnya kini. Jurusan seni rupa yang dipilih Diba menjadi begitu antusias untuk diceritakan, setidaknya dari telepon dan surat elektronik yang dikirim Diba selama ini.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Diba menolak untuk dijemput di bandara Polonia karena ia bisa pulang ke rumah sendiri. Meskipun Duma tidak sabar ingin ketemu, tapi ia berusaha untuk menyimpan kejutan makan malam ini sampai Diba tiba di rumah, dan menunggu dengan gelisah ingin cepat-cepat bertemu. Pesawatnya akan tiba sebentar lagi. Setidaknya sejam lagi, Diba akan tiba. Duma pun segera bergegas mandi dan berbenah diri. Betapa ia rindu anak itu.

Selama ini ia memang jarang bercengkrama dengan kedua anaknya, Diba dan Dipa si bungsu yang juga sedang di Jakarta menuntut ilmu. Tapi dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Quality times adalah prinsip yang selalu diterapkan Duma untuk keluarganya. Meskipun jarang bertemu namun Duma selalu menyipakan waktu yang berkulitas untuk anak-anaknya supaya mereka tahu bahwa ibunya tetap sayang dan merindukan mereka selalu dan perlu waktu untuk ditumpahkan di saat yang tepat. Seperti saat ini.

Duma baru saja selesai mandi ketika ia menemukan telepon genggamnya yang berbunyi lalu berhenti. Ia lihat siapa yang memanggil, tertera nama AKP Tirta Lestari, 6 kali panggilan tak terjawab. AKP Tirta adalah Kasat Reskrim Polres Sidikalang yang sudah seperti rekan kerjanya terutama untuk kasus-kasus yang menyangkut perempuan. Ketika akan menelpon balik, AKP Tirta sudah keburu menelepon lagi.

“Halo,” sapa Duma segera.

“Bu Dina, ini saya,” kata suara di seberang.

“Ada apa, Bu Tirta?”

“Saya rasa ibu perlu membantu saya. Ibu sedang berada dimana?”

“Saya sedang di Medan, Bu. Perlu bantu apa nih? Kayaknya serius sangat. Hehehe..”

“Wah, lagi di Medan ya. Kebetulan sekali, saya sedang menangani kasus yang pasti menjadi bidangnya Bu Dina.”

“Kasus KDRT?”

“Bukan KDRT biasa, seorang perempuan dibakar hidup-hidup oleh suami dan keluarga suaminya karena dituduh selingkuh. Kejadiannya di Desa Maduma, Sidikalang. Tapi sekarang korban sedang dalam perjalanan untuk dirawat intensif di RSU Pirngadi Medan. Limapuluh persen tubuhnya terbakar tapi karena ada desakan dari tetangga korban yang seorang pendeta, ia dibawa ke Medan untuk dirawat. Apa Bu Dina bisa menjadi pendamping korban?”

“Lembaga saya bisa saja menjadi pendamping korban, tapi apakah harus dibawa ke Medan, kan ada rumah sakit di Sidikalang untuk merawatnya?”

“Dia satu-satunya saksi, dan tidak ada pihak keluarganya yang mau membantu karena takut dibunuh juga oleh pihak keluarga suaminya. Kalau tidak dibawa dari desa itu, korban akan dibunuh.”

“Lho, polisi dong berjaga penuh supaya korban aman kan?”

“Ya, itu pasti. Tapi jika diserang oleh seluruh warga kampung yang berpikiran bahwa perempuan kotor harus dienyahkan dari kampung mereka, susah menebak apa yang bisa terjadi pada korban.Tapi bukan itu yang kami khawatirkan tetapi jika korban tidak berniat untuk tetap bertahan hidup.”

“Bunuh diri maksudnya?”

“Ya, karena merasa tidak berarti lagi. Apalagi wajahnya rusak parah. Oleh sebab itu, kami meminta bantuan Bu Dina untuk mendampingi korban.”

“Baik, kabari jika sudah tiba di RSU Pirngadi ya.”

“Baik, terima kasih, Bu Dina.”

“Oh ya, Bu, berapa umur korban? Apakah sudah punya anak?”

“Anaknya dua, 2 tahun dan 8 bulan. Usia korban 18 tahun.”

Duma terdiam sejenak mendengar keterangan AKP Tirta yang terakhir. Usianya lebih muda setahun dari Diba.

“Baik, saya sedang siap-siap,” jawab Duma akhirnya, dan menutup telepon.

Tak lama, telepon berbunyi lagi yang mengatakan bahwa korban sudah tiba di RSU Pirngadi. Duma hampir saja menyambar tas dan memasukkan semua barang-barang yang diperlukan untuk keperluannya di rumah sakit, jika saja ia tidak teringat akan kejutan makan malamnya dengan Diba hari ini, ia pasti sudah segera menelpon taksi dan pergi. Pikirannya pun menjadi kalut. Ia pun menelpon Diba, tetapi belum aktif. Mungkin masih di pesawat. Sesaat kemudian, teleponnya berdering, sebuah nomor tak dikenal masuk.

“Halo,” sapa Duma, sedikit dengan nada ragu.

“Ah, halo. Saya Pendeta Romauli Sitinjak, saya tahu nomor Ibu dari Kasat Reskrim Polres Sidikalang AKP Tirta Lestari. Apa benar ini Ibu Duma dari Lembaga Perduli Perempuan?”

Suara di seberang sana cukup lembut dan mungkin perempuan yang menyebut identitas lengkapnya sebagai pendeta ini ditebak berusia awal 40 tahunan, hampir sebaya dirinya.

“Ah, ya benar, saya Dina. Ada perlu apa yang Bu?

“Saya, sedang bersama Dewi Manik, korban yang dibakar suaminya di Desa Maduma. Kami sudah tiba di RSU Pirngadi, apakah ibu bisa datang. Saya sedang bersama dua anak korban, tak ada yang menemani mereka di sini, keluarga pihak ibunya menolak terlibat dalam kasus ini.”

“Ibu yang menemani sampai ke Medan?”

“Tidak ada yang mengurus anak-anak, Bu Dina. Saya tidak bisa mengandalkan polisi untuk menjaga anak-anak, paling-paling dirawat ke panti asuhan nanti. Kepahitan mereka sangat besar, mereka menyaksikan ibu mereka dibakar hidup-hidup,” ujar Pendeta Roma hampir tercekat karena menahan tangis.

“Ya Tuhan. Itu buruk sekali. Baik, saya akan datang ke sana sekarang. Sms-kan Dewi dan ibu ada di ruangan mana dan lantai berapa. Ini nomor telepon ibu, supaya saya simpan,” kata Duma.

“Iya, Bu Dina. Tolong datang ya, saya berharap sekali kita bisa membantu keluarga malang ini,” ujarnya.

Duma tidak berpikir lama lagi untuk memutuskan pergi ke rumah sakit. Sebelum dia keluar rumah, ia menyempatkan diri untuk menelepon lagi Diba. Tapi responnya masih sama, tidak aktif. Duma sempat bertanya kenapa anaknya itu lama sekali mendarat. Diba tidak ada mengabarkan pesawatnya ditunda. Tapi tanya itu tidak mengawang lama, karena Duma sudah meninggalkan pesan pada Tutut dan mengirim pesan ke telepon genggam Diba bahwa ia ada kegiatan di luar sebentar dan akan kembali sebelum jam 9 untuk makan malam. Sesaat kemudian, ia pun keluar setelah taksi yang dihubungi telah tiba di depan rumahnya.

Kondisi yang ditemui Duma di RSU Pirngadi memang memprihatinkan seperti yang sudah terbayang. Dewi sedang dirawat di ruang ICU dengan kondisi wajah dan kulit yang mengelupas merah kehitaman. Menurut polisi yang menjaganya, suaminya memang sengaja menyiramkan bensin ke arah wajah istrinya terlebh dahulu. Supaya walaupun tidak sampai mati, tapi setidaknya istrinya akan cacat seumur hidup karena wajahnya rusak.

Anak-anaknya terlihat lemas dan ketakutan. Mereka berdua juga dirawat di kamar anak-anak untuk pemulihan kondisi psikis ditemani Pendeta Romauli yang ternyata adalah tetangga korban selama 2 tahun terakhir. Karena tidak mempunyai anak, Pendeta sudah sangat dekat dengan korban maupun anak-anaknya. Dewi memang sudah sering mendapat perlakukan kekerasan oleh suami dan mertunya. Menikah di usia belia dan tidak banyak ketrampilan sebagai ibu rumah tangga, Dewi sering menjadi bulan-bulanan makian dan pukulan orang-orang di rumahnya. Dan terakhir, ia dituduh berselingkuh dengan seorang pemuda petani di kampung itu juga, entah atas dasar apa.

“Dimana Ibu Pendeta akan menginap?”

“Rumah adik saya di Medan, dan sebentar lagi saya akan dibawakan baju ganti dan perlengkapan mandi oleh adik saya itu. Saya akan menginap di sini bersama anak-anak,” kata Pendeta Romauli yakin.

Duma mengangguk tanda mengerti dan lega. Setidaknya pemeriksaan kondisi awal korban dan keluarganya sudah selesai, dan ia merasa bisa pulang ke rumah untuk saat ini untuk Diba dan memikirkan langkah advokasi selanjutnya untuk Dewi.

Sembari keluar dari rumah sakit, Duma mengecek telepon genggamnya memastikan apakah Diba ada menghubungi dia atau orang lain. Sebab, selama 3 jam terakhir ia sama sekali tidak ada memperhatikan telepon genggamnya. Kosong, tidak ada pesan atau panggilan masuk.

Duma melirik jam tangannya. Pukul 09.23 malam. Ternyata sudah selarut ini. Duma kembali memesan taksi langganannya, dan tiba di rumah ketika sudah mendekati pukul 10 malam. Diba tidak juga bisa dihubungi. Rasa cemas Duma mulai bergelayut halus di benaknya. Mengapa Diba tidak juga ada mengabarinya?

Tutut membuka pintu gerbang untuknya. Di pintu depan terlihat ibunya yang menunggu dengan wajah kaku.

“Diba sudah sampai, Mak?” tanya Duma begitu memunculkan badannya ke hadapan ibunya.

“Sudah. Barusan datang dia, langsung tidur,” katanya sembari berjalan di depan Duma, masuk ke ruang makan.

“Lho, darimana aja dia, udah disuruh makan? Mamak sudah makan?” tanya Duma bertubi.

“Gak perlu khawatirkan kami, kamu sendiri apa sudah makan?”

“Diba ini, hape-nya tidak aktif, apa pesawatnya tunda makanya dia baru datang semalam ini?”

“Tutut, panaskan makanan untuk si Dina ini. Eh, Dina, jangan kamu bangunkan Diba, dia baru capek, dia sudah makan katanya,” ujar Ibunya dengan sedikit berteriak, karena Dina sudah langsung saja bergegas ke kamar Diba yang sudah dibersihkan Tutut pagi tadi.

Pinta kamar tidak dikunci. Begitu dibuka, terlihat tubuh Diba sudah tidur terlentang dengan bebas di atas ranjangnya. Tidak terganggu dengan bunyi pintu yang terbuka lebar tergesa. Duma menyisir kamar dengan matanya tanpa sempat melangkahkan kaki ke dalam. Dua tas kertas besar dan sebuah tas ransel yang juga besar, pasti bawaan Diba, teronggok kaku di dekat tempat tidur.

Duma mengurungkan niat untuk membangunkan Diba, ia kemudian mundur dan menutup pintu, jika saja sebuah suara menghentikannya.

“Ada apa, Ma?”  Suara Diba terdengar lemah.

Duma membuka kembali pintu tapi tidak berniat untuk masuk.

“Selamat dating,”

“Ya,” jawab Diba, masih dengan malas-malasan dan tanpa membuka matanya.

“Kamu sudah makan?”

“Ya, tadi,”

“Kenapa hape-mu tidak aktif?”

“Tuh, lagi di-charge. Habis baterai,” jawab Diba.

Duma melihat ke arah colokan listrik tempat Diba meletakkan telepon genggamnya. Lalu ia kembali melihat ke arah Diba yang masih dengan posisi tidur lemas.

“Mama tadi siapkan makan malam kejutan buat kedatangan kamu, sekalian buat ultahmu. Tapi tiba-tiba ada korban,” jelas Duma, dengan hanya menyebut korban untuk objek urusan yang sudah selama ini dipahami Diba.

Tidak ada komentar dari Diba, hening sejenak.

“Mama gak ada bilang soal makan bersama tadi. Aku masih sempat baca sms mama yang bilang mama baru akan pulang ke rumah jam 9, daripada gak ngapa-ngapain aku jalan-jalan ke Taman Sri Deli dan Mesjid Raya, terus makan di sana,” jawab Diba lemah.

Duma menelan ludah getir. Diba tidak makan malam dengan masakan yang disiapkannya sejak pagi tadi.

“Buat sarapan besok aja ya, Ma. Pasti masih enak tuh,” kata Diba lagi sambil membalikkan tubuh memeluk guling.

“Ya,” tukas Duma akhirnya.

“Good night, Mom. Dah ngantuk neh,” kata Diba, sedikit mengusir.

“Ya, boboklah. Besok kita ngobrol-ngobrol,” sahut Duma basa-basi, karena ia juga tidak yakin apakah punya waktu cukup untuk mengobrol panjang lebar dengan Diba, mengingat kasus yang baru saja diterimanya butuh perhatian besok.

Masuk ke ruang makan, terlihat makanan yang sudah dipanaskan tersedia di atas meja. Ibunya masih duduk sambil menonton teve. Melihat sekilas ke arah Duma yang duduk lunglai dan mulai menyendoki makanan ke piringnya lalu makan dengan sangat pelan. Tidak ada kata yang terucap dari bibir tuanya. Semua terlihat seperti biasa. Keacuhan rumah ini karena kurangnya komunikasi tidak akan pernah meniadakan rasa kasih sayang orang-orang di dalamnya. Hanya saja, terkadang ada yang tidak siap dengan kondisi itu karena berharap terlalu lebih. Ia yakin, besok akan ada keceriaan lagi, karena hari ini masih tertunda.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30. Duma masih terus berkutat dengan laptopnya. Ia sedang membuat surat kuasa untuk Dewi besok. Sedikit kutak-katik data untuk melihat standar operation procedural (SOP) untuk penanganan kasus yang seperti ini. Kasus Dewi adalah kasus paling buruk yang pernah ditanganinya. Hal ini dikarenakan Dewi hanya akan berjuang sendiri, tanpa dukungan keluarganya. Duma yakin  surat kuasa ini belum tentu bisa diteken Dewi besok, mengingat kondisinya yang masih dirawat intensif. Tapi ia hanya mencoba melakukan apa yang bisa dipersiapkan untuk advokasi. Ia telah menelepon Safna, advokat di woman crisis centre (WCC) lembaganya untuk datang ke Medan besok. Sementara staf yang lain di Sidikalang dikordinasi untuk melihat tindakan hukum atas pelaku, suami dan keluarganya. Kabar terakhir, mereka sudah ditahan polisi. Ada 5 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk dua adik suami Dewi yang ikut dalam tindakan sadis itu.

Bagi Duma, selain penyembuhan jiwa dan raga Dewi, hal yang paling penting saat ini adalah memastikan bahwa para pelaku dituntut pasal percobaan pembunuhan dan penyiksaan. Harus dihukum seberat-beratnya. Ini sudah berada di luar batas logika kemanusiaan. Mereka tidak punya hati. Sadis. Dan orang-orang desanya, mengapa mereka malah ikut-ikutan mau main hakim sendiri? Semuanya sudah gila!

***

Dewi menghilang dari rumah sakit. Polisi dan perawat yang ditugasi mengawasi syok dan tidak bisa berbuat banyak. Tidak ada saksi mata yang bisa dimintai keterangan. Tidak ada barang-barang yang dibawa. Semua masih ada seperti semula. Dewi hanya membawa baju yang melekat di badan saja.
Kabar hilangnya Dewi sampai kepada Duma diterima 4 jam setelah diketahui perawat yang hendak mengecek kondisi Dewi. Duma lalu datang secepat yang dia bisa ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi terakhir Dewi sebelum menghilang. Ia tidak mendapat info apapun yang bisa membuatnya berpikir akan mencari kemana Dewi.
Anak Dewi akhirnya dirawat oleh adik sepupu Dewi yang kebetulan tinggal di Medan dan menjenguknya dua hari lalu. Pertanyaan bermunculan di kepalanya. Apakah Dewi stress berat lalu pergi untuk mencari anaknya, atau ia hendak bunuh diri karena terlalu tertekan. Apakah Dewi diculik pihak keluarga laki-laki dan menyingkirkannya agar tidak ada saksi dan korban dalam kasus ini?
Duma terduduk lemas di kursi tunggu lobi rumah sakit. Kondisi yang memprihatinkan Dewi memang sangat menguras simpati dan akal manusia. Sungguh sulit menemukan hal indah yang bisa menjauhkannya dari kekalutan. Ia pernah hampir terjebak dalam kondisi seperti itu. Jauh lebih ringan dari yang dialami Dewi, tapi sungguh menyita harapan dan keceriaan dalam hidupnya.
Sebuah SMS masuk di telepon selulernya. Dari Diba. Ia bilang harus pulang ke Yogyakarta besok karena ada acara diskusi perupa dadakan yang menghadirkan seorang perupa Indonesia yang sudah sering menggelar pameran di beberapa galeri ternama dunia, Heri Dono. Biaya tiket pesawat sudah diperoleh dari bapaknya, dan berangkat dengan pesawat pertama besok pagi.
Duma langsung menjawab SMS itu. Mama segera pulang, kita makan siang bersama ya.
Tak lama jawaban Diba masuk.
Aku lagi ngumpul dengan teman-teman SMA-ku di Café Medan, ntar malam baru pulang. Sori, Ma…
Duma terdiam. Ia pun kemudian menjawab.
Okey sayang, jangan kemalaman ya…
Helaan nafas berat keluar dari hidung mancungnya. Ia kembali melirik telepon selulernya. Sebuah nomor dihubungi, Safna. Pengacara itu ternyata sedang ada di luar Medan. Ada perkara KDRT lain yang sedang ditanganinya. Duma menutup teleponnya segera. Sebuah nomor kembali dihubunginya, Grace, stafnya di Sidikalang.
”Lima tersangka kasus Dewi sedang diperiksa lagi, Kak. Sampai saat ini polisi belum menentukan kapan mereka akan diserahkan ke kejaksaan,” beber Grace.
”Yah, tapi Dewi sekarang menghilang entah kemana, Grace. Kakak jadi pusing nih…” keluh Duma sambil menghela nafas berat.
”Ya, aku juga sudah dengar dari polisi. Dia sudah menghilang selama 6 jam. Kemungkinan tempat yang akan dia datangi di Medan sangat sulit ditebak kak. Dia belum pernah ke Medan,” tambah Grace.
”Apakah ada kemungkinan dia diculik, lalu di…”
Duma tidak berani melanjutkan kata-katanya. Dia sedikit bergidik membayangkan hal itu benar-benar terjadi. Namun suara Grace mengembalikan perhatiannya.
”Aku ragu dengan kemungkinan yang terakhir kak, aku pikir dia cuma lari dari rumah sakit karena tertekan dan tidak tahu jalan kembali ke rumah sakit,” tutur Grace.
Duma setuju dengan teori itu. Terlintas di benaknya untuk segera beranjak dari kursinya dan segera mencari Dewi yang mungkin saja berkeliaran di jalan. Tergeletak di jalan.
”Baiklah, Grace, kamu pantau aja di Sidikalang ya. Aku mau keliling dulu mencari Dewi. Kabari terus ya,” kata Duma.
”Oke, kak,” jawab di sana.
Duma menghubungi satu nomor di teleponnya, Diba.
”Halo sayang, kamu lagi dimana? Mama jemput sekarang ya, tolong temenin mama nyari korban yang kabur dari rumah sakit. Mama butuh temen ngobrol sekarang.”
”Dih, si mama, aku kan udah bilang lagi di Cafe Medan bareng teman-teman. Aku gak bisa nemenin sekarang mamah,” jawab Diba, kesal.
”Temenin mama dong ya, plis…”
”Aduh, mama, sori berat deh…” rengek Diba, namun tidak sempat melanjutkan kata-katanya.
Duma mematikan telepon selulernya. Ia sudah ada di mobil dan bersiap meluncur menjemput Diba di tempatnya berada kini.  Ia sengaja memacu pelan kendaraannya dan menyisir jalan di depannya dengan hati-hati. Pikirnya, pihak kepolisian juga pasti sudah melakukan hal yang sama, tapi mengulangi untuk memastikan tidak ada salahnya.
Diba hanya bisa merengut ketika wajah mamanya muncul di pintu masuk cafe. Perubahan wajahnya disadari teman-temannya yang kemudian ikut melihat ke arah pintu masuk.
“Mama kamu, Dib,” ujar salah satu teman Diba yang duduk satu deretan kursi dengannya.
“Dih, si mama gak pengertian amat. Jarang-jarang loh kami bisa ketemuan kayak gini,” cetus Diba, ngomel.
”Yah, maafin tante ya semua, tapi tante benar-benar butuh Diba sekarang. Dibanya tante pinjam dulu,” ujar Duma tanpa basa-basi.
”Ngapain pake pinjam-pinjam segala sih. Anaknya sendiri juga,” omel Diba, cemberut.
”Dih, mama kan mencoba bersikap sopan di depan teman-teman kamu. Ayolah, kita sedang terburu-buru,” tukas Duma sembari menarik tangan Diba lembut untuk berdiri mengikutinya segera keluar cafe.
Diba dengan wajah cemberut hanya bisa pasrah ditatah seperti lembu kurban menuju pintu. Salam perpisahan kepada teman-temannya juga diumbar sekenanya. Ia memang mengenal ibunya yang terkadang sangat sulit ditebak aksi dan reaksinya. Mood demokrasinya yang tadi sedang tinggi, tiba-tiba turun drastis. Berubah menjadi diktator.
”Mau kemana sih, Ma? Ganggu aja deh..”
”Hmhmm, mama lagi dampingi korban kekerasan dalam rumah tangga dari Sidikalang. Dia disiksa suami dan mertuanya. Dirawat di Medan, tadinya, tapi subuh-subuh dia menghilang, gak ada yang tahu kemana. Dia lari dan mungkin sekarang tersesat gak tahu arah, dia belum pernah ke Medan.”
“Terus kita mau cari dia kemana, Ma, keliling Medan? Mau nyari ampe kapan? Lagian naik mobil, kapan ketemunya?” sergah Diba, masih dengan pikiran menolak menuruti ibunya.
”Sudah, gak usah banyak komentar. Kamu lihat sebelah kiri, Mama sebelah kanan. Pasang mata lebar-lebar, hati berdoa, moga-moga ada ketemu. Kasihan dia, usianya lebih tua setahun dari kamu, tapi anaknya sudah banyak, disiksa lagi.”
”Emang kenapa ampe dia kena gitu? tanya Diba enteng sembari masuk ke dalam mobil sedan biru tua milik ibunya.
“Emang ada  alasan lain kenapa istri atau perempuan dianiaya ama suaminya, selain karena suaminya sudah gila?”
Diba tertawa kecil. Dia pernah mendengar kalimat ini sebelumnya, bertahun-tahun lalu.
“Ketus amat,” kata Diba, masih dengan sisa tawanya.
Duma sedikit tergerak untuk melirik putrinya sejenak. Diba tampak acuh dan mulai menyamankan duduknya untuk melihat ke arah sampingnya.
”Diba gak kenal orangnya, Ma, gimana mau nyari?”
“Lihat aja fotonya di berkas hijau di tas Mama. Kata perawatnya terakhir dia pakai baju terusan batik wana kuning coklat liris.”
Diba meraih tas Duma di jok belakang dan mencari foto Dewi di dalam berkas dimaksud. Tiga lembar foto terjatuh ke pangkuan Diba ketika berkas itu mulai dibukanya. Foto-foto memar dan luka Dewi terlihat jelas di foto-foto itu. Mulut Diba menganga tak percaya. Wajah perempuan di foto itu membengkak karena luka, kulitnya membiru karena memar. Ini sungguh di luar toleransi kemanusiaan. Yang paling menusuk ulu hati Diba adalah tatapan mata Dewi yang kosong dan sembam.

“Ma, kok tega banget ya mereka ngelakuin ini?”

“Susah menjelaskannya. Mungkin perempuan tidak dianggap manusia bagi mereka,” jawab Duma singkat.

Obrolan mereka terhenti sejenak. Dering telepon seluler Duma berbunyi. Dengan hati-hati ia menjawab suara panggilan dari sana, sebuah suara terengah-engah dan panik.

“Duma, kau ada dimana? Barusan ada telepon dari Mak Bicar, katanya inang masuk rumah sakit. Dia jatuh di kamar mandi tadi..!”

Itu suara Ferdinan, satu-satunya anak laki-laki di keluarga, si sulung. Apa yang barusan didengarnya tidak bisa langsung membuatnya bereaksi. Duma meminggirkan mobilnya, diikuti tatapan penuh tanya Diba di sampingnya.

“Darimana kau, tahu bang? Siapa yang bilang?” kata Duma dengan suara mulai parau.

Airmatanya pun tak terbendung lagi. Seolah hantaman air dari dada dan meretas di pelupuk matanya sudah tidak bisa dihalang oleh hal lain.

“Ada apa, Ma?” tanya Diba menyelidik tak sabar.

Duma menggigit bibirnya, getir. Berita kecelakaan ibunya datang dari abangnya yang berada jauh dari kota Medan, Pematang Siantar. Namun tetangganya, Mak Bicar, menghubunginya lebih dulu karena katanya telepon Duma sibuk terus. Ferdinan meminta Duma segera melihat ibu mereka di rumah sakit. Ia segera menyusul ke Medan bersama istrinya.

“Ompung masuk rumah sakit Harapan Kita. Dia jatuh di kamar mandi,” jelas Duma sambil menyeka airmatanya dan berusaha mengatur alur nafasnya yang tidak stabil. Ia butuh ketenangan untuk bisa segera melajukan mobil.

Diba terdiam. Ketika Duma hendak melajukan kembali mobilnya, telepon genggamnya kembali berdering. Tubuhnya sempat terguncang pelan ketika mendengar bunyi dering itu. Ia buru-buru mengangkat telepon dan melihat nama pemanggil. Ferdinan lagi.

“Halo,” katanya pelan, masih dengan dada yang berdebar kencang.

“Duma, Diba sama kamu ya? Kalian ada dimana sekarang?” tanya Ferdinan dengan nada tercekat. Terbata.

“Kami sedang menuju rumah sakit, lima belas menit lagi kami tiba,” jawabnya.

“Cepatlah,” tukas Ferdinan lemah. “Inang udah meninggal, sudah tidak tertolong lagi. Kepalanya terbentur keras. Aku akan kabari sanak saudara kita.”  Ferdinan menghentikan kata-katanya sejenak, tenggorokannya begitu sakit.

“Aku sudah telepon Mak Bicar untuk bantu siapin rumah menerima jenasah inang. Kamu cepatlah ke rumah sakit ya. Hati-hati di jalan,” tutur Ferdinan lemah lalu menutup telepon sebelum Duma sempat menjawab apapun.

Duma tak  sadar menjatuhkan telepon genggamnya. Diba menatap lekat ibunya yang mulai menyucurkan air mata lagi tanpa suara.

“Ma, Mama… Ada apa, Ma?” desak Diba.

Ia mengguncang tubuh ibunya, panik. Duma tertunduk dengan punggung menghempas jok lemas. Seperti ada reruntuhan sedang menindih kepalanya.

“Ompung meninggal, Diba. Ompung meninggal..” katanya, lemah.

Suara tangis Duma akhirnya pecah. Otak dan hatinya mulai membaur menyadari pendengarannya sendiri. Ibunya telah tiada, di usia 82 tahun. Perasaaan ditinggalkan seperti ini seperti sebuah jebakan baginya. Ia masih berharap ini hanya sebuah lelucon saja. Lelucon tak lucu orang-orang jahil.

***

Hiruk pikuk suasana duka. Kontradiksi budaya dan kelaziman rumah persemayaman, ditangisi lalu dinyanyikan dengan hingar bingar suara alat musik. Duma tidak menyukai ini. Suara di rumah ini terlalu ramai. Melelahkan.

Seluruh orang datang. Semua orang bertanya dan menuntut jawaban lalu mengelus punggungnya dengan wajah memelas duka. Hentikanlah. Hati Duma ingin sekali menyuruh semua orang pergi dari rumahnya. Ia ingin hening. Ia ingin berduka dalam sepi. Orang-orang terlalu sesak.

Ia tidak banyak bicara. Apalagi mantan suami dan keluarga besarnya ikut melayat. Duma ingin sekali menutup mata dan enyah dari suasana di rumahnya. Tapi ia ingin berada dekat ibunya. Perempuan tangguh yang sudah menjanda selama 45 tahun dan menghidupi 5 anak-anaknya sendiri.

Perempuan itu memang tua. Bisa dilihat dari rambutnya yang memutih dan kerutan tegas kulitnya. Baru disadari Duma, baru kali ini ia benar-benar menatap wajah ibunya, tanpa bicara. Lama.

Kelebat percakapan terakhir mereka menyesakkan dadanya. Ia pasti akan merindukan perempuan tua tangguh ini. Sepi, tentu saja akan menjadi kawannya di hari-hari ke depan. Semua orang-orang ini pasti akan pulang dan pergi dari sini.

Sebuah tepukan di pundaknya membuyarkan lamunannya. Beberapa pelayat yang hendak  permisi pulang. Ciuman dan pelukan hangat mengiringi kata-kata penguatan padanya. Diba dan Dipa, anak-anaknya duduk mengapitnya dengan setia.Mata sembab karena tangis dan tidak tidur semalaman membuat wajah mereka sangat muram.

“Dib, mama mau tidur dulu di kamar,” kata Duma pelan, lalu beranjak tanpa menunggu jawaban dari Diba.

Diba hanya menatap ibunya pergi ke kamar, lalu menatap Dipa yang juga menatapnya. Muara tatapan mereka terhempas pada wajah kaku di dalam peti terbuka di depan mereka. Bisu.

Bersambung…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s