Sosok Maria Ulfah Soebadio Sastrosatomo

Perempuan Pertama di Kabunet Syahrir
Perempuan Pertama di Kabinet Syahrir

Dalam usia 73 tahun, ia masih rajin menghadiri berbagai forum yang membicarakan perkembangan dunia wanita. Datang ke seminar tentang sistem pengangkatan anak, ia dipapah. Kedua tangan kanan dan kirinya dikepit dua orang pengantarnya. Berjalan pelahan, ia memasuki ruang di gedung Badan Pembinaan Hukum Nasional di Jakarta, 1984.

Ketika istirahat, ia tidak turun ke lantai tiga untuk makan siang bersama. ”Panitia tak mengizinkan saya naik turun tangga,” katanya. Di tangga gedung itu, ia pernah jatuh hingga tulang pinggulnya patah. ”Tapi sekarang sudah sembuh,” ujarnya.

Waktu kecil biasa dipanggil Itje. Dilahirkan di Serang, dibesarkan di Kuningan, Jawa Barat. Di sana, ayahnya, Moehamad Achmad, menjadi bupati, yang menginginkan anak sulung dari tiga bersaudara ini menjadi dokter. ”Tapi saya mau memperjuangkan hak-hak wanita,” ujar Itje. ”Banyak wanita diperlakukan tidak adil, dicerai tidak boleh protes atau ke pengadilan. Hal ini amat menyakitkan hati saya.”

Dalam kesempatan sang ayah mendapat tugas mempelajari koperasi di Belanda, Itje menyertainya dan belajar di Fakultas Hukum Universitas Leiden. Di sini, ia menjadi wanita Indonesia pertama yang meraih gelar Meester in de Rechten, 1933. Pulang ke Indonesia, ia sempat bekerja di kantor Kabupaten Cirebon, selama beberapa bulan.

Tatkala di Belanda, Itje berkenalan dengan para nasionalis yang juga sedang belajar di sana. Ia masuk menjadi anggota Socialistische Studentclub. ”Yang menumbuhkan rasa kebangsaan saya, Sutan Sjahrir,” ceritanya. Itje kerap menghadiri rapat yang diselenggarakan Liga Anti-Kolonialis. Di liga ini ia berjumpa dengan Moh. Hatta.

Setelah bekerja di kantor Kabupaten Cirebon, Itje kemudian mengajar di HBS dan AMS ‘liar’ milik Muhammadiyah, juga di Perguruan Rakyat. Di sini ia kenal dengan kaum pergerakan lainnya: Wilopo, Sumanang, M. Yamin, Sahardjo, Amir Sjarifuddin. Ia pernah pula memperdalam bahasa Indonesia pada penyair Amir Hamzah.

Bekas menteri sosial dan anggota Dewan Pertimbangan Agung ini menikah dengan suami pertamanya, Mr. Santoso, 1938. Sepuluh tahun kemudian, sang suami yang menjabat Sekjen Departemen PPK (sekarang Departemen P & K), gugur dalam Agresi Kedua Belanda. Ia lalu menjanda selama 15 tahun. Itje menikah lagi dengan Soebadio Sastrosatomo.

Pernah menjabat Ketua Badan Sensor Film selama 11 tahun, ia juga ikut merintis berdirinya Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Ia penerima Satya Lencana Karya Satya Tingkat II, Satya Lencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan, dan Bintang Mahaputra Utama Kelas III. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s