padam

Suatu kali aku teringat sebuah ungkapan ‘Berubahlah seiring dengan pembaharuan budimu’. Sebenarnya ungkapan ini ingin kusampaikan tertulis kepada seseorang yang kunilai gagal ‘bertobat’. Namun belakangan, aku justru yang tergilas dengan ungkapan itu. Aku, yang belum berubah.

Pertanyaan-pertanyaan egois masih mendebat kelembutan pengetahuan si budi yang ingin memaafkan orang karena sebagai manusia kita dituntut harus saling mengasihi.

It’s hard to do, but it’s better than to argue it. Forgiving. It’s a must.

Ini masih soal cinta. Cinta yang digerus dengan sengaja. Pengkhianatan menjadi kambing hitam. PHC menjadi konsekuensi.

Setelah lama-lama kuberpikir soal ini, kemarahanku ternyata bukan karena alasan martabat, etika, atau sikap berengseknya¬† yang tidak menghargai hubungan yang kami jalin karena mengumbar penis di FB kepada perempuan lain. Namun karena aku merasa sungguh tidak adil. Sebab, dia menikmati perempuan lain sementara aku tidak mampu menikmati laki-laki lain kecuali dia. It’s really unfair!!

Tanya-tanya ku selama ini soal kenapa rasa bisa tumbuh dengan nyata di ruang maya, tidak pernah terjawab. Tanya itu menguap akibat regulasi diri yang menghentikan penelitian karena alasan klasik, tidak berguna!

Benarkah? Ato, ini hanya pelarian saja.

Selama masa pertimbangan pembuatan regulasi henti itu, aku seperti menjadi Dr Jekyll dan Mr Hyde di waktu yang bersamaan. Ketika jadi Mr Hyde, aku selalu membawa nilai-nilai untuk menghakimi dia, bahwa semua ketidaknyamanan ini harus dihentikan secepatnya. Namun ketika Dr Jekyll yang datang, aku hanya berharap supaya luka menganga yang membuat hatiku mengambang ini bisa segera sembuh. Aku ingin kembali kepada KETIKA aku dan dia sedang mesra-mesranya. Ingin semua keganjilan di benak ini bisa segera enyah. Tidak enak membawa luka di hati kemana-mana. Seperti ada lubang di dadaku setiap kali berjalan.

Ah, kau. Kita bicara setiap hari. Mengucap cinta setiap bicara. Kenapa mencinta bisa berubah menjadi tidak menyenangkan seperti ini, bebz?

Kenapa kau harus menikmati orang lain lagi? Kenapa setia bagimu tidak bisa semudah bicara cinta?

Kenapa kita jadi begini??

ENTAHLAH. Only God knows why.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s