cerita busway 1

hari ini aku terlambat lagi ke kantor. tentu saja kegelisahan langsung menyergap. namun pikirku, ketimbang mood aku rusak dan tetap terlambat, lebih baik aku santai dan tetap terlambat. aku putuskan tidak naik ojek tapi naik busway, toh waktu tidak terkejar lagi dan aku bisa saving 10rb pagi ini. seperti biasa, di jam kerja seperti ini busway PGC- Harmoni pasti lama dan padat. tapi aku sudah putuskan bahwa mood hari ini lebih penting dari semua kekhawatiran yang tidak bermanfaat. jadi, aku tetap pada sikapku tadi, santai dan mencoba menikmati pemandangan di depanku.

pemandangan yang biasa, menghadap Jalan Kramat Raya. aku melihat tukang combro yang biasa, tukang las ketok yang biasa, joki 3 in one, dan tukang ojek biasa yang mangkal berdekatan. pagi ini aku lihat ada dua perempuan pembuat combro yang membantu si bapak kumis, tidak biasanya. simpulku, pasti sedang laris dia makanya butuh

tenaga tambahan. tapi memang kulihat pembeli combronya segala kalangan. dari pejalan kaki sampai yang bawa mobil. kebanyakan sih para pekerja kantor yang ada dekat-dekat situ. aku tidak tahu berapa harganya apalagi bagaimana rasanya. combro bukan panganan yang biasa bagiku, maklum aku perantauan Medan. mungkin nanti aku akan coba cicipi, beli combro si bapak.

pandanganku terpotong sejumlah mobil yang masuk ke jalur busway. hatiku gemes karena  kebanyakan mobil yang laju di situ pakai gantungan tanda polisi di spion dalamnya. apakah mereka merasa aman dan berani menerobos separator busway karena lambang itu? walah, kalau pun bukan polisi mungkin keluarga atau kolega polisi. pengen sekali melempar bungkus bekas minuman ke kaca depan mobil-mobil ini dan menantang mereka kalau mereka marah. “Maaf Pak, gak sengaja. Lagian ngapain lewat jalur sini sih.” ujarku cuek. maunya sih begitu dialognya hehehe…

nah, lagi enak-enak mbayangi bentrok ama pengendara penerobos jalur busway tiba-tiba ada kegaduhan di dekat penjual combro. sebuah gerobak yang digerakkan sepeda jatuh terbalik dan membuat puluhan bungkus roti siap jual berserakan di aspal. sebuah mobil menyenggol keras gerobaknya. si penjual yang mengenakan baju kaos kuning

lengan panjang sempat tak terlihat karena ketiban gerobaknya. sontak arus jalan yang padat merayap bertambah macat. si penjual akhirnya dibantu tukang ojek dan beberapa pejalan kaki untuk bangun dan memberesi roti-rotinya ke dalam gerobak yang sudah dipinggirkan. lantas, mobil APV warna silver yang menyenggolnya tidak ada yang berani

mengusik. orang-orang hanya datang kepada si penjual roti untuk membantu. aku sempat melihat mobil itu menepi tapi pengendaranya tidak turun. dari balik kaca mobil hitamnya dari belakang sepertinya ada beberapa orang di dalam mobil, dan anak-anak. aku sempat berpikir, mungkin ada juga hati si pemilik mobil ini untuk bertanggung jawab karena membelok tanpa melihat keberadaan si tukang roti di depannya. eh, waktu si tukang roti mau mendatanginya mobil itu malah melaju dan pergi begitu saja. di bagian itu, tidak seorangpun yang berusaha menghentikan kaburnya mobil itu. hanya si tukang roti yang yang berusaha berlari mengejar mobil itu dan berteriak-teriak. aku tidak tahu pasti apa yang dikatakannya karena jauh, namun sampai jarak tak terlihat sekira 500 meter, dia masih tampak terus mengejar.

berapa sih kekuatan lelaki ringkih usia 40-an itu mengejar mobil APV. dan bodohnyaaku tidak ada pikiran untuk melihat plat mobil itu. waduh,, aku sama saja seperti yang lain, penonton budiman. lima menit kemudian, si tukang roti terlihat kembali. dengan langkah setengah berlari, ia menghampiri gerobaknya yang ditinggal sendiri. orang-orang

menyambutnya dengan tatapan bisu. aku sempat melihat si tukang roti menyeka wajahnya dengan handuk kecil putih yang tergantung di lehernya. aku berdesir, apakah dia menangis? atau hanya menyeka keringat di wajah…

pandangan dan pikiranku terhenti ketika menyadari transjakarta PGC- Harmoni sudah melaju ke hadapanku. aku segera bersiap naik, karena bus masih padat dan peminatnya juga banyak. berjibaku, itu adalah rutinitas yang harus kulakoni selama tinggal di Jakarta ini. memang sepertinya aku termasuk manusia masokis. gimana tidak, udah tahu kalo di atas jam 6 transjakarta PGC-Harmoni pasti padat, tapi aku masih saja demen berangkat ngantor jam 7, naik bus pula. dan ah, selalu ada cerita dalam setiap kerjap mata. di bus yang padat menghimpit ini, di tengah serapah dan kesah yang tertahan, aku melihat adegan yang mengundang senyum. ini bukan kali pertama, tapi tetap rasanya sangat

menyenangkan. si PAM Transjakarta (biarlah kusingkat menjadi PTJ), pasrah ketika dirinya diapit oleh dua cewek di depan pintu masuk. bayangkan, jarak pipi mereka hanya 1 cm. Waduh, rona wajah ketiga orang itu mengundang tawa di hati. apalagi melihat guman dan senyum simpul itu, duh mereka menikmati kondisi yang tidak bersahabat itu rupanya. si PTJ lumayan cakep sih, agak cubby dan suaranya ramah. terang aja dua cewek itu gak terlalu protes. coba yang di hadap mereka bapak tua atau cowok berwajah pas-pasan, pasti deh pengen cepat2 berpaling. hehehehe…what a good view. well, aku harus segera bergeser ke dalam bus, karena gak tahan dihimpit kanan kiri muka belakang. mungkin karena sekelilingku bukan cowok cakep kali ya hahahahaha…  ketika keluar dari bus tiba di halte pecenongan, aku masih menyempatkan diri melihat ke arah si PTJ, tapi dua cewek di hadapannya sudah tidak di sana lagi. mungkin mereka turun di dua halte sebelumnya. ah, ada ada saja hari ini. hmmm, aku terlambat nyampe kantor.  fiuhhh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s