Srintil, Sang Penari

Pertama-tama aku haturkan terima kasih kepada Ifa Isfansyah dan Salman Aristo yang berkenan meluaskan cerita Ronggeng Dukuh Paruk yang cantik itu kepada khalayak ramai. Sudah lama saya menantikan orang baik yang mau memfilmkan buku trilogi karya Ahmad Tohari ini. Namun, sebagaimana banyak film yang diangkat dari novel, pasti tidak bisa utuh ditampilkan seperti yang dibayangkan pengagum novelnya. Karya Ifa, sang sutradara muda, ini juga demikian. Ceritanya dipenggal-penggal dan tidak sesuai alur dalam novel. Endingnya juga sedikit berbeda sehingga mengurangi hasrat ‘tersentuh’ dalam tangis seperti ketika membaca novelnya. Terutama di bagian kisah cintanya, tentu saja.

Overall, karya ini begitu apik. Pertimbangan durasi mungkin menjadi batasan bagi Ifa dkk untuk memotong banyak cerita dan mengubah sedikit-sedikit alur meskipun secara substansi tetap memenuhi keseluruhan roman. Belum lagi pemilihan para pemainnya. Kedua pemeran utama, Prisia dan Oka, tidak perlu dibahas panjang-panjang lagi, mantab tenan. Kebetulan mereka favorit aku dalam film-film yang lain. Pemain pendukung, seperti Landung Simatupang, Teuku Rifnu dan Tio Pakusadewo, bonus yang membuat film ini semakin lezat dicipi. Semua pemain sangat watak dalam memerankan tokohnya masing-masing. Sudah pasti Lukman Sardi, Dewi Irawan, dan Slamat Raharjo, pemain senior yang berhasil menunjukkan keseniorannya.

Dalam cerita ini juga Salman dan Ifa cukup ‘fair’ menyebut adanya Gerakan 30 September (G 30 S) 1965, bukan G30S/PKI seperti yang dulu beredar dalam buku dan wacana tentang peristiwa berdarah yang menewaskan 7 pahlawan revolusi di Lubang Buaya. Ini artinya, kedua motor film Sang Penari ini sudah ‘sadar sejarah’. Sebab, hingga saat ini keterlibatan PKI dalam peristiwa tersebut masih ‘kabur’ alias dalam kajian-penelitian (yang sengaja ditutup-tutupi). Indonesia belum ‘mau’ membuka aibnya sendiri dalam peristiwa tersebut. Sebab, akan terkuaklah angka 3 juta orang yang mati dalam pemberangusan PKI dan underbow-nya yang dilakukan oleh negara di bawah rezim Soeharto (Ben Anderson, sejarawan AS). Dan proses pemberangusan itu ditampilkan dalam film ini, leher digorok dan dibuang ke sungai. Begitulah. Ifa memahami sejarah.

Kembali kepada Sang Penari. Film ini tetap recommended bagi semuanya. Kualitas editing mungkin perlu ditingkatkan lagi, karena selama pemutaran kemarin di 21Metropol, rada kresek gambarnya. Mungkin ini hanya insiden domestik bioskopnya saja, i hope… Selamat menikmati sejarah…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s