The Notebook, What the….

“Kisah yang sangat menyentuh relung sanubari manusia yang mendamba cinta sejati.”

Sabtu kemarin aku memutuskan untuk menonton kembali film itu. Berharap aku akan menyudahi rasa meledak-ledak yang kusimpan rapi karena sangat menyukainya. Aku mau film itu hilang pamor dari list ‘terbaik’ dalam hidupku. Sebenarnya aku ingin menguji, apakah dia masih yang terbaik setelah sebelumnya memantabkan diri bahwa film itu akan abadi dalam kenangan dan tidak ingin menontonnya lagi.

Tapi apa mau dikata. Setelah lebih dari 5 tahun, perasaan meledak-ledak itu masih ada. Bahkan lebih dahsyat karena ditambah emosi diri yang kini benar-benar mendamba kisah indah seperti yang dialami oleh Noah dan Allie. Sehidup semati.

Tidak mudah mendapatkannya, mempertahankannya, menikmatinya seperti saat-saat pertama saling jatuh cinta. Waktu tidak berkutik dalam menggerus kisah yang diperjuangkan atas nama cinta. Sebab hati dan cinta tak kan terkalahkan ego dan hasrat. “She is my home,” kata Noah. Waduh, so sweet!

Berurai air mataku. Film ini menguras seluruh emosi yang ada. Hatiku yang mendamba, kesepianku. Aku sama sekali tidak mencintai para pemainnya. Walaupun bisa dibilang Ryan Goshling (Noah) punya wajah yang lumayan. Aku hanya mencintai kisah yang diangkat dari novel bestseller karya Nicholas Sparks itu.

Dari sekian banyak film drama romantis yang pernah kutonton, The Notebook ternyata masih tetap yang terbaik. Ever. Tak kusangka, pikirku setelah berulang (menontonnya) pemujaanku akan berkurang, bosan. Namun aku terlalu menghormati kisah seindah ini untuk mencampakkannya bersama barang dan hal favoritku lainnya yang telah turun kasta karena ulahku. It’s a good thing. Di tengah kedataran emosi yang kualami beberapa bulan terakhir, akhirnya aku beriak. The Notebook sangat menginspirasi, bahwa cinta sejati itu ada. Aku percaya, mendamba, dan yakin akan datang pada setiap orang yang percaya serta bertahan. Sehancur apapun hati, pasti akan dipulihkan. Just open your heart.

Terberkatilah semua pihak yang membuat film ini sampai ke hadapanku. Termasuk Ijah yang telah berani meminjamkan DVD-nya untukku, walau sempat kutolak demi mempertahankan tradisi.

Aku bertanya-tanya…
Apa yang sedang kau pikirkan, sayang?
Adakah kau pernah memikirkanku?
God, aku rindu dia setiap waktu
Salahkah bila aku mencoba bersetubuh dengan jiwamu diam-diam?
Mampukan aku bertahan dengan cinta sepihak saja?
Aku ingin bersama asmara dan mesra
Tiada yang seindah kau!
Picisan, mungkin
Tapi (saat) ini nyata dan aku sadar sepenuhnya
Lagu-lagu cengeng itu benar
Dan mereka membuai jiwa-jiwa yang lagi kasmaran, pecinta
Merajalela, mengancam logika
Terserah…!
Yang penting aku suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s