New Year’s Eve : For A new Hope….

Again, film bagus menyelamatkanku. Setelah Arthur Christmas beberapa
waktu lalu mengembalikan makna Natal dalam benakku, film New Year’s
Eve menyambung makna seremoni pergantian tahun yang telah lama terasa
hambar karena banyak alasan, seperti harapan dan mimpi tergerus waktu tanpa
kesan berarti (?)

Film ini membawa pesan, bahwa bisa menikmati malam pergantian tahun
adalah sebuah anugerah. Satu tahun ke depan kita masih bisa
berharap atas kesempatan kedua, for solving old mistakes, for new
experience, for another chance for better life. Itu sebabnya, ketika hitungan
mundur menuju tahun baru masuk pada pukul 00.00, sebuah ciuman harus
diberikan kepada orang lain sebagai wujud selebrasi. Ya itu menjadi kultur
di barat sono, kalo di timur sini biasanya mah salam-salaman aja
hehehehehehe…

Very insipiring and touching. Seperti juga film sejenis : New York I Love You,
para bintang bertabur dalam film bersetting di New York ini, di antaranya Robert de Niro,
Halle Berry, Michelle Pfeiffer, Jessica Parker, Ashton Kuther, Jessica Biel, Hillary Swank, dll.
Setiap orang punya kisah untuk diceritakan, dan balutan cinta tetap menjadi yang terfavorit.
Sebab dalam cinta ada gairah, pengorbanan, kesabaran, memaafkan, perhatian, pantang
menyerah, pelukan dan ciuman,,,, duhh, saya menikmati scene ‘it’s a
beautiful life’ yang datang kadang-kadang itu di sini. Andai nonton dengan
orang terkasih, saya akan cium dia saat itu juga. wakakakakakakakak…

Kisah yang paling berkesan selalu cerita ttg keharuan keluarga, Hillary
Swank dan Robert de Niro. Kisah bapak dan anak yang mampu membuat
mataku berair. Ungkapan ‘darah lebih kental dari air’ itu terbukti di
sini. Aku,,, teringat bapakku di surga. Oh, I miss him so much.. kalo dia
masih hidup, ubannya pasti sebanyak Robert dalam film itu. Hatiku jadi bertanya-tanya;
Berapa kali kita sering mengabaikan kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dan waktu
dengan orang-orang yang kita kasihi, keluarga, dengan alasan kesibukan.
Siapa yang bisa menduga kapan waktu akan berhenti bagi kita atau orang yang kita sayangi.
Berapa banyak kesempatan untuk mengungkapkan kata dan perasaan kepada
orang lain terbuang sia-sia karena keraguan kena virus ‘what if’ yang sering
menggerogoti mental optimistis kita? Kenaifan yang dipuja.

Cerita kedua terfavorit, kisah Michelle Pfeiffer dan Zac Efron. Si dinamis muda dan si kaku ‘lunatic akhirnya’. Kisah mereka menggambarkan bahwa perbedaan, termasuk karakter dan usia bukan menjadi penghalang untuk have fun together. Kita tidak tahu akan bertemu siapa hari ini. Siapa menyangka, si dinamis dan si kaku bisa saling jatuh cinta dari sebuah kesempatan bersama yang tidak biasa. Melihat Michelle di sini, aku teringat diriku. Aduhhh…😛

Tidak ada salahnya mencoba kan. Aku percaya takdir, bahwa semesta memiliki caranya sendiri untuk mengatur alam. Tapi kita diberi pikiran, insting, kata hati, untuk berencana dan melaksanakan rencana itu. Seperti bayi yang baru lahir, siapa yang bisa prediksi jam berapa dia akan keluar dari rahim ibu. Nobody. Tapi kita bisa mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kehadirannya di bumi. Kesempatan. Itu kata kunci dalam hal ini. Mari kita manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, dan berharap semua akan baik-baik saja. Happy New Year everyone.
God Bless Us….. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s