The Pattern of Killing (Field)

Ribut-ribut film Act of Killing-nya Joshua Oppenheimer. Apalagi majalah Tempo mengupas habis soal bagaimana pembantaian anggota PKI dan underbow-nya pada tahun 1965 oleh sekelompok ormas yang diawasi TNI. Aku ragu film itu akan diputar di Indonesia.

Ini hanya pemikiran sekelebat saja ya, usai membaca testimoni para jagal 1965 dan membaca sejumlah buku sejarah seputar peristiwa di tahun 1965 waktu ngerjain skripsi dulu. Ada pola yang sama dalam proses pemberangusan PKI di Indonesia dengan pemberantasan teroris oleh Amerika Serikat pasca tragedi WTC 2001. Pemberantasan PKI dilakukan usai terjadi peristiwa yang disebut kup oleh sejumlah perwira TNI bersama-sama dengan PKI menculik dan membunuh para jenderal yang kemudian disebut pahlwan revolusi. Hal ini yang menjadi tiket TNI dan oposisi PKI sebagai partai paling berkuasa saat itu, untuk melakukan pemberangusan PKI dan sejumlah partai dan Ormas yang dinilai dekat dengan PKI. Di antaranya Partindo, Gerwani, BTI, Lekra, belakangan PNI Marhaenisme pimpinan Soekarno juga turut dibredel.

Bagaimana anggota PKI dibantai, silakan tonton film Sang Penari karya Ifa Isfansyah, ada beberapa adegan dimana orang yang dituduh pendukung PKI pun-terbukti ato tidak-akan ditangkap dan dibunuh di bawah komando Soeharto. Ben Anderson, seorang sejarawan Amerika Serikat, menyebut lebih kurang 3 juta orang dibunuh pada masa itu. Sedikit yang disiksa tapi tidak dibunuh, namun selama beberapa generasi keturunannya akan bertabur nista karena dikata anak PKI. Mereka dibunuh secara struktural. Peristiwa ini tidak hanya memberangus partai terkuat pada masa itu, tetapi juga ikut menjatuhkan kekuasaan Presiden seumur hidup, Soekarno. Slogan Amerika disetrika, Inggris dilinggis oleh Soekarno berubah seiring disahkannya UU Penanaman Modal tahun 1968. Inalum, Caltex dan Freeport, tumbuh subur setelahnya.

Nah, pada peristiwa pemboman WTC di New York oleh Al Qaeda tahun 2001 lalu, sedikitnya 3.000 korban terbunuh dalam ledakan dan runtuhnya menara kembar itu termasuk 300 petugas pemadam kebakaran. Namun setelah itu, Amerika Serikat langsung menyatakan perang terhadap teroris Al Qaeda. Ibarat ingin memberangus tikus, AS lalu menetapkan sejumlah titik sarang di beberapa negara lalu membakarnya. Tersebutlah negara Irak, Afganistan, Pakistan, Libya. Tidak terhitung jumlah korban yang jatuh akibat bom dan bredelan senjata tentara Amerika Serikat, termasuk anak-anak. Tidak ada yang menyebut Amerika sebagai penjahat perang, tidak juga George Bush diseret karena Mahkamah Internasional karena menyerang secara terbuka Irak dan membunuh Saddam Husein presidennya. Dunia bungkam karena ikut membenarkan tindakan pemberantasan teroris tadi, oleh sejumlah negara di Timur Tengah yang kaya akan minyak itu.

Sekali lagi kutegaskan kawan-kawan, ini hanya pikiran sekelebat. Hidden agenda, dengan modal tertentu dapat menghasilkan profit tertentu pula. Ini semua ujungnya cuma masalah perut, perut sebelanga. *Ngawur….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s