Diana Mencatat Sejarah

Buku berjudul “Tragedi” ini baru sampai di tanganku empat hari yang
lalu, itupun tak sempat segera kubaca sebab seluruh waktuku tersita
oleh kegiatan menyambut tahun baru 2013. Meski akhirnya rampung juga,
aku tak langsung menemu kalimat untuk meresepsinya. Buku Diana ini
menjadi kado akhir tahun yang menohok dada dan kepalaku, nyeri, dengan
tetap mengucapkan terimakasih atas persembahan berharga ini.
Sesuai dengan judulnya, seluruh isi buku ini adalah
peristiwa-peristiwa tragis yang menimpa umat manusia, yang menurut
hematku merupakan pengalaman nyata yang disaksikan atau malah dijalani
sendiri oleh penulisnya, Diana Saragih. Jenni, aku biasa memanggilnya.
Sebuah kisah, meski berangkat dari tema yang sama seperti tragedi di
dalam buku ini tetap menarik untuk dibaca, baik oleh generasi kini
maupun generasi yang akan datang. Di dalamnya senantiasa dapat
ditemukan amanat, pesan-pesan kemanusiaan serta bahan renungan yang
mendalam akan hakikat kehidupan.

Membaca Sarat Jelaga, Di Ujung Senyap, Margo, Suara Kolong, Pulang,
dan Apel kembali menerbitkan kesadaran di dalam benak, betapa akrabnya
manusia dengan penderitaan, kesakitan, kematian, dan pertanyaan
tentang kebahagiaan yang tak selalu bisa terjawab. Ini mengingatkanku
kepada ucapan seorang filsuf Cina yang kulupa namanya, bahwa begitu
lahir ke dunia manusia harus menerima penderitaan, hidup menderita,
bergelut dengan derita, sedangkan kebahagiaan adalah bonus. Bayangkan,
dari seluruh umat manusia yang hidup di dunia, berapa gelintirkah yang
berhasil mendapatkan bonus itu?

Aku tidak bermaksud menambah jumlah pertanyaan setelah begitu banyak
pertanyaan yang “bisa saja atau bahkan pasti” muncul usai membaca
kisah-kisah Diana ini. Membacanya, kita seakan dipaksa untuk berhenti
berharap pada suatu solusi, kepuasan, atau ending yang bisa ditebak.
Jangan harapkan itu. Ending yang disuguhkan Diana sama dengan ending
perjalanan hidup manusia yang selalu misteri. Maka, jadilah isi buku
ini sebagai catatan pengalaman kalau tak ingin dibilang kisah nyata.

Tetapi akhirnya aku harus tegas pula bahwa tulisan Diana ini dapat
dianggap sebagai kisah nyata yang bernilai sejarah. Kutegaskan itu
meski nyatanya kita tidak bakal menemukan keterangan tahun kejadian
maupun penanda peristiwa besar yang pernah terjadi di tanah Pertiwi
ini. Namun peristiwa yang tercatat di dalam buku ini dapat kita yakini
sebagai peristiwa yang benar terjadi pada suatu waktu oleh orang dan
tempat yang benar ada di sekitar tempat hidup kita. 

Buku ini juga dapat kukatakan sebuah karya sastra, meski peranan
imajinasi tidak terasa kentara dan pembaca akan tahu bahwa
tulisan-tulisan ini bukan fiksi, pun tidak akan ditemukan perwatakan
tokohnya secara detil dan mendalam, dengan pilihan sudut pandang orang
pertama pada satu kisah dan orang ketiga pada kisah lainnya. Yang
pasti, karya ini kubayangkan bakal dipetik ke dalam layar Filem, filem
dokumenter, filem fiksi realis, atau apalah namanya.
Selain itu juga dapat sekaligus disebut sebagai karya jurnalistik
sastra atau jurnalistik bergaya sastra (Literary Journalism) yang
muncul di Amerika tahun 70-an, kemudian banyak mempengaruhi gaya
penulisan berita di berbagai belahan dunia lain, termasuk Indonesia.
Seperti dijelaskan oleh Thomas B Connery, jurnalistik sastra adalah
penyajian fakta-fakta bernilai jurnalistik dengan teknik narasi fiksi
realis. Melihat muatan informasi dan proses penulisan buku ini, hampir
dapat disebut demikian. Artinya, Diana Saragih alias Jenni kuharapkan
sedang menuju ke arah itu, sehingga akan lahir seorang penulis
jurnalistik sastra terkini dari kota Medan tanpa tertutup kemungkinan
andai suatu saat Diana hendak memilih gaya lainnya atau teknik
bersastra dari ranah yang berbeda.
Selamat berproses!

Gambar

Aishah Basar, 3 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s