perlahan dengan kepenuhan hati

Aku pernah membaca sebuah artikel tentang mencapai ketenangan hidup. Dikatakan di sana, lakukan sesuatu yang sederhana tapi kita sukai dengan perlahan-lahan. Lupakan agenda atau jadwal kerja, lupakan pacar yang menyebalkan, atau bos yang otoriter. Lupakan  problem globalisasi, terorisme,,, lupakan masalah-masalah terakhir yang jauh dari pikiran kita. Kegiatan simpel itu misalnya makan salad buah, minum teh hangat, atau membaca majalah, bisa juga menyiram bunga di halaman. Apapun itu, lakukan dengan perlahan dan menikmati dengan kepenuhan hati

Sounds good, dan aku pernah membuktikannya. Tapi ketika kita tinggal di kota Jakarta dengan segala hiruk pikuknya yang sering di luar dugaan, hal-hal semacam ini menjadi barang langka. Kucoba untuk membagi waktu antara hari kerja (Senin-Jumat) dengan hari bersenang-senang (Sabtu-Minggu/libur) dengan sangat konsisten, tapi apakah kita bisa prediksi apa yang akan terjadi? Butuh stratak yang panjang, lebih lama memikirkan stratak ketimbang waktu menjalani senang-senangnya. Nah, itu sebabnya aku sering terjebak pada kuantitas kegiatan ketimbang kualitas.

Twitter dan facebook menyuguhi beragam agenda yang menggiurkan, aku pilih beberapa dengan antusias menyiapkan waktu. Bersama prinsip, realisasi program di atas segalanya, aku pun berusaha keras untuk memenuhi target realisasi jadwal-jadwal yang kubuat sendiri. Aku lebih puas mencentang agenda yang sudah kususun pertanda sudah dilaksanakan ketimbang mengukur manfaat agenda itu kuikuti. Rasanya  kok gak punya banyak waktu menimbang-nimbang, mengukur-ukur manfaat ini itu, menjalani apa yang ada secara lebih praktis, lebih pragmatis. Kadang kita memang senaif itu menjalankan roda kehidupan. Hadehh….

Coba, dalam setahun ada berapa kali kita berefleksi, memikirkan apa yang sudah dijalani, dicapai, membuat resolusi dan revisi yang kita kerjakan ke depan, berapa kali? Paling cuma sekali, itu pun menjelang akhir tahun. Kita tulis ini itu sebagai catatan akhir dan awal tahun. Bulan pertama, resolusi itu masih sangat fresh dan semangat untuk merealisasikannya masih tinggi. Tapi di bulan berikutnya, dan bulan berikutnya… semakin kendor itu semangat. Masuk pertengahan tahun ada revisi lagi karena faktir eksternal. Di akhir tahun ketika kita overview lagi, ternyata resolusi jauh meleset. Fiuhh…

Tapi selalu ada pembenaran untuk itu. Bahwa manusia tidak bisa hidup dengan keputusan berdasarkan pertimbangan sendiri sebagai individu, ada faktor eksternal yang memengaruhi. Ahh… kenapa di blog saja pun aku harus melakukan pembenaran. Masalah sebenarnya adalah kita tidak aware, tidak konsisten, tidak perduli, tidak melihat secara lebih jernih apa yang terjadi pada kita. Semua berlalu begitu saja tanpa ada yang melekat kecuali sebaris keterangan : tanggal sekian aku di sini, melakukan ini. Hanya itu. Dan parahnya, kadang kita lupa bahwa hidup adalah sebuah gerak berkelanjutan, bukan titik tapi koma.  Contohnya minggu ini, tanggal 3-9 Juni 2013. Banyak hal yang kujalani. Mulai dari peninjauan ke Rusunawa Merunda, hanging out bareng anak hilang Asta, ngunjungin kapal Greenpeace Rainbow Warior di Tanjung Priok, ketemu ama temen2 Lena dan Martini, terus nyambung ketemuan ama Yose liat pameran ICRA dan Thailand Trade Show di JCC. Guess what, I enjoy the whole things, but now I forget the feeling, Just like that. 

Oh God, kenapa aku mengeluh??? Bukannya aku harusnya cukup senang karena bisa merasakan itu semua? Kalau berlalu begitu saja emangnya kenapa? Mushala buat lo? Aku gak tau syukur ya…. Maap.

Well, setidaknya ada beberapa hal yang harus aku selebrasi di minggu ini : kelahiran anak Erli (yang telat dan ditunggu semua umat), dan perjalanan yang menyenangkan bersama teman-temanku di sini, di Jakarta ini. Aku nambah teman lagi : Lena, Martini, Asta, dan yang paling berkerak Markenyut. Di FB dia kupancing dengan sanksang dan akhirnya dia nagih2 kutraktir sanksang. Kemarin aku akhirnya merealisasikan hal itu, PGC-Kebon Sirih PP demi mengantar makanan sakral lambang pergaulan itu kepadanya. Mission was accomplished. Semua senang. Aku ke acara tardidi keponakan di Gereja Cililitan, ketemu sodara-sodara Saragih Garingging sahuta, ngobrol dikit, senyum sana sini, dan aku mengakhiri akhir pekan itu dengan menuntaskan film Inglorious Basterds dengan sedikit maksa. Ya, aku harus menonton film itu sampai habis. Meskipun aku tidak begitu suka, tapi aturan hrs menonton sampai tuntas menjadi cambuk. kecuali filmnya buruk sekali!!!

itulah hari. Berlalu tanpa melihat ke belakang lagi. Apakah aku hrs menentang hukum alam itu, menarik-narik hari yang berlalu, memohon ditunggu karena aku terlalu lamban melangkah, meraba-raba apa yang sudah terjadi demi memastikan semua sudah pada tempatnya? Sudah sesuai manfaat yang kubutuhkan? Tentu saja TIDAK. Aku akan konyol jika berlaku begitu. Waktu terus berjalan, with or without me. Bisa menikmati hari seperti menikmati teh hangat di balkon penuh bunga segar sambil menikmati sunrise or sunset, adalah sebuah bonus hidup. Butuh upaya untuk mencapai itu, bisa tapi itu pilihan. Dan aku memilih jd diriku saat ini. Ada saatnya nanti aku akan bosan dengan prinsip dan aturan-aturan hidup yang kubuat. Aku akan mengubahnya, dan hidupku pun pasti akan berubah. Berubah sesuai dengan inginku. Sebab, manusia hidup, manusia berkeinginan, manusia merealisasikan keinginan, manusia menikmati keinginan. Seberapa sadar seseorang dalam menjalani hidupnya, ya tidak ada ukuran pasti. Semua relatif. Ukurannya cuma bahagia. Apakah dia bahagia dalam menjalani hidupnya, itu hal yang sangat privat dan tidak ada orang yang bisa mengaturnya. Bahkan bagi sebagian orang sesuatu hal terlihat buruk, bisa jadi orang lain melihat itu tidak buruk, dan sebaliknya. 

Contohnya masokis, baik dalam hal seksual fisik, maupun psikologis. Aku salah satu contoh masokis psikologis. Hidup di Jakarta dengan segala tetek bengeknya, sangat menyiksa, tapi aku bertahan di sini 2 tahun. Luar biasa. Bernafas dengan sisa-sisa tuntutan keluarga dan materi, sedikit ditambah obsesi samar-samar di film, traveling, dan menulis. Ehm, ditambah juga sedikit bumbu asmara mungkin. Hehehehe…. Duh, akhirnya aku menulis ini, I miss you a lot. 

Well, nomore talking about you honey. we’re enough. kau adalah penyumbang  hiruk pikuk terbesar dalam hidupku, sekaligus pemberi warna terindah. But, I (must) hate you, perlahan dengan kepenuhan hati. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s