whale raider : amazing!!

Whale_Rider_movie_poster  Sekali lagi aku berbahagia dan terkagum-kagum atas sebuah   karya luar biasa, film. Sabtu sepi tanpa agenda penting hari ini aku memutuskan untuk menonton film dari DVD yang bertumpuk karena tidak sempat aku tonton. Beberapa pilihan kuletak di samping komputerku, salah satunya film Whale Rider arahan sutradara cewek Niki Caro.

Film yang merupakan adaptasi dari buku karangan Witi Ihimaera yang juga bertugas sebagai Associated Producer film ini, begitu dalam menyentuh sendi-sendi intelektual, emosi, dan kesadaran sosialku. Thank Gog, Yose memilihkan film ini untuk kutonton walau sudah lebih 3 bulan ada di rak DVD-ku.

Film ini berlatar di sebuah pedesaan di Selandia Baru yang masih memiliki ikatan kuat akan adat dan kepercayaan kepada nenek moyang. Tokoh utama dalam film ini yakni Paikea, seorang cucu ketua adat Maori di desa mereka yang diperankan dengan cantik oleh Keisha Castle-Hughes. Sekilas ceritanya tidak jauh berbeda dengan film drama keluarga pada umumnya. Konflik anak-bapak, dan pentingnya pengakuan terhadap sesuatu yang dianggap ‘beda’ atau alternatif, menjadi konflik yang sangat menguras emosi selama menonton.

Film ini sangat kental pendidikan gendernya, bahwa dalam adat-posisi perempuan adalah nomor dua, kendati kau memiliki bakat dan menjadi ‘yang terpilih’. Namun dengan perspektif manusia konvensional yang memegang teguh aturan-aturan adat yang kaku, ketika perempuan tidak punya kesempatan untuk menjadi pemimpin, apapun usaha pembuktian perempuan untuk mendapat pengakuan sosial, adalah hal sia-sia. Penatua menutup mata karena tidak mau disebut melanggar adat dan aturan yang sudah berlaku selama ini, walaupun harus menjadi orang yang tidak disukai oleh keluarganya sendiri.

Alam adalah tempat manusia hidup, belajar, dan mengabdi, namun di atas semua itu, ada yang namanya nurani manusia yang bisa menggerakkan alam, mengubah ketentuan alam dan mengubah pengabdian manusia atas alam. Itulah kesan yang kutangkap dalam film ini. Di dalam semesta nan luas ini, pusat dari segala sesuatunya adalah nurani manusia itu sendiri. Bahwa akal secerdas Einstein pun bisa tercengang dan tidak bisa menjawab segala sesuatu yang terjadi di alam raya. Nurani menggerakkan kita melakukan sesuatu ‘yang seharusnya’ kita lakukan, tinggal mengikuti saja dengan ikhlas.

Aku berpikir, berapa lama aku mengabaikan nurani ku dalam menjalani kehidupan? Sejauh mana aku menyadari betapa terseret-seretnya langkahku menjalani setiap desahan nafas? Kita tidak sadar.

Inspiring. Film ini membuka mataku, betapa kisah bertema adat dengan balutan kehidupan modern masih sangat segar sebagai sebuah tontonan yang berkualitas. Ini ke sekian kalinya aku menonton film yang memasang scene-scene laut dan megahnya pemandangan air hijau dan biru, pun tanpa aktor terkenal. Kon Tiki, Life of Pi, dan sekarang Whale Rider. Film Indonesia sekali waktu sempat membuat film tentang masyarakat pesisir di Wakatobi, The Mirror Never Lies yang ditulis dan disutradarai oleh Camilla Andini. Film itu juga bagus dan memenangkan beberapa penghargaan sebagai film dan sutradara terbaik. Meskipun tidak meledak di pasaran dan menurut beberapa kritikus film Indonesia, masih belum memenuhi harapan, menurutku film itu sangat penting dan bagus. Kedekatan emosional sebagai orang Indonesia, dalam film ini sangat terasa. Bangga. Ceritanya memang tidak sekuat di Whale Rider ini, namun setiap film itu beda. Camila berhasil menambah daftar film bagus Indonesia dengan baik.

Sekali lagi, applaus untuk sineas yang bersusah payah menyuguhkan film bagus ke hadapanku. Salut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s