elegi Lombok-Bali

Aku meletakkan semua beban, pikiran, hasrat, dan harapan di sini, di Jakarta selagi aku berlibur ke Lombok dan Bali.

Perasaan dan otakku kosong. Hanya ada diam dan hela nafas menikmati semua yg bergerak di sekelilingku. Angin, air, tawa, canda, senyuman, sapaan, semua aku nikmati dengan diam. Membisu. Berusaha menikmati semua tanpa reaksi. Menyedot semua energi yang ada untukku. Aku krisis energi, temans. Selamatkan aku semesta, pintaku dengan sangat.

Sebenarnya aku pun tak tahu apa sebenarnya yang kucari. Hiburan telah banyak kurasa, tapi semua tidak bisa memenuhi hausku.  Belahan jiwaku, dimanakah? Hanya kau yang dapat melengkapi dahagaku. Lengkapi jiwa ragaku, setubuhi aku dengan hasratmu.

Di sini di tempat ini, aku menghaturkan doa kepada semesta, berikan belahan jiwaku yang telah lama tersesat. Bawa dia pulang padaku. Aku merindu sangat. Biar kupeluk dia erat, menyesah aroma tubuhnya, merasakan detak kehidupannya yang melegakan. Dia ada, di dadaku. Kupeluk. Terasa nyata.

Mungkin benar kata para pecinta, pencarian usai ketika kau telah menemukan belahan jiwamu. Kau akan tinggal landas dan terbang. Persetan dengan cita-cita dan ambisi, aku hanya butuh kamu untuk berlayar ke seberang samudera. Hanya ingin kamu menemaniku mengitari matahari.

Kamu, siapa?

 Aku hanya mengelak kali ini. Menolak untuk memikirkan keinginan yang masih menggantung. Tiba-tiba ibarat motor yang kehabisan bensin di tengah perjalanan, aku terhenti tanpa bisa berbuat banyak. Energiku habis, emosi membuat niat dan ambisi mengendur.

Fotografi, menulis novel, dua-duanya sedang hilang pamor. Film yang sudah kutulis scriptnya beberapa harus ikut terbengkalai. Aku terlalu terburu nafsu, euforia kata seorang teman, dan kini semua terasa membosankan, bahkan memuakkan. Aku muak motret, aku kehabisan minat mengetik lanjutan novel yang sudah puluhan lembar kutulis. Aku membatalkan mendatangi acara workshop dan sharing pegiat film di beberapa tempat. Aku membeli sejumlah DVD, tapi tidak juga kutonton selama berminggu-minggu.

Aku melakukan banyak hal dengan kesadaran euforia, sekedar menjalankan-merealisasikan rencana yang kubuat ketika sedang bersemangat. Oh God, aku bahkan kadang tidak mengenal siapa diriku, apa mauku.

Aku, siapa?

Bergumul. Terus bergumul. Entah sampai kapan. Sampai mati kali ya. Sudahlah. Bingung sendiri akan membunuh minat makan dan seks ku. It’s bad, so bad.

Hei, kenapa aku tidak berhenti saja mencari. Kenapa aku tidak hidup dengan setengah jiwa saja, biarkan belahan jiwaku lenyap ditelan kepasrahan? Kenapa aku harus gelisah? Kenapa aku tidak cuek saja? Lalu ragaku menjawab, siklus terjadi begitu cepat, sebulan sekali. Kau butuh seseorang untuk menjalani siklus itu. Ah, repotnya…

110913//

Kata orang bijak, jodoh di tangan Tuhan. Lalu, ide gila itu muncul begitu saja. Aku tidak mau lagi menunggu Tuhan menyerahkan belahan jiwaku, aku akan mengambilnya dari tangannya. Kau, yang awalnya bukan orang yang kuperhitungkan kemudian menjadi sangat menarik di pertemuan terakhir kita waktu di Medan, 30 Agustus, ulang tahunku. Kita tertawa bersama, minum, dan nyanyi bersama. Tapi, saat itu kau hanya selembar senyum yang menarik, tidak lebih. Saat itu, masih ada sesosok yang masih bergelayut di relung hati nan sepi ini. Tidak berani aku bermacam-macam. Aku pikir, tawa renyahmu sangat menyenangkan, cukuplah menoreh kesan pada bahagiaku.

Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, kita tidak bicara, kita tidak saling memanggil nama. Hanya membaur dalam kerumunan dan keriuhan kawan-kawan kita. Lalu, saat menyadari bahwa senyum mu itu ternyata membawa kesan lebih dari ingatan, tetapi sebuah percakapan yang absurd tapi menyenangkan, aku bahagia lagi. Kau, membuat aku bahagia.

Lalu tanpa keraguan dan keyakinan sedikitpun-karena aku sudah kehilangan itu entah sejak kapan-aku pun semakin sering menyapa mu, memperhatikanmu lebih intens. Aku pun menjadi manusia kebanyakan-thanks God-bahwa cinta bisa tumbuh dari mata ke hati. Mataku yang lebih dulu menyantapmu, secara fisik kau sangat menarik. Lalu terjadilah percakapan bernanah kita yang membuat pikiranmu pusing tujuh keliling dan kacau balau, katamu. Yap, honey, aku membazokamu tanpa ampun. Kupuji dirimu, kupuja hatiku yang menginginkanmu tanpa sadar. Yah, aku melakukan semuanya tanpa kontrol otak. Hati mengambil alih misi untuk menguasaimu.

Bahkan saat tahu kau sudah punya pacar, aku tetap tidak bisa berhenti memikirkanmu. Dan, di tengah kegalauan ku pada sebuah penantian jawaban atas lamaran seorang teman lama, dia memintaku jadi istrinya, aku lalu memasukkanmu dalam pertimbanganku. Aku menanyakan opinimu, apa yang harus kujawab atas lamaran serius itu…kau pun tambah bingung. Kasian.

Aku lalu mempertegas posisimu dalam pembahasan ini, “Jika kau tidak ada, aku akan menerima lamaran itu,” kataku. Malam itu, Senin dinihari 230913, kau pun lalu mengerti dan mengalah, mengangkat bendera putih mengikuti aturan mainku. Jadilah kau pacarku sekarang. Aku telah menghamili hatimu, dan aku bertanggung jawab.

Aku lega kita senang dan bertahan di jalur ini meskipun berangkat dari ketidaktahuan. Usia kebersamaan kita masih singkat, tapi ini adalah perjalanan yang kunantikan selama ini melebihi destinasi wisata manapun di dunia ini. Denganmu aku bisa kemana-mana. Hatiku penuh tapi perasaanku ringan. You are the answer of my pray. Honey my baby, we’ll be alright…

I want you, I respect you. I miss you, I call you. I need you, I call you. I love you, you love me. So sweet…. simple….

Tidak butuh apapun lagi saat ini. Cuma mau kamu dan masa depan kita, I hope you feel the same honey. God bless us… D&G

021013//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s