hidroponik

Apotek Hidup Ala Mak Intan

Slogan sembuh dari kanker tanpa operasi menjadi upaya kampanye Mak Intan akan semua produk olahannya kepada masyarakat. Penyakit kanker memang menjadi fokusnya untuk meracik ramuan yang berkhasiat untuk penyembuhan, minimal mengurangi dampak penyakit ini bagi tubuh. Bermacam jenis herbal yang berkhasiat untuk mengobati kanker pun diramunya dan menyediakannya dalam kemasan praktis siap minum. Baik bentuk sirup maupun bubuk.
Sejak 20 tahun lalu, perempuan bernama lengkap Sarinten ini sudah berkutat dengan tanaman obat. Setidaknya ada 1.000 jenis tanaman obat sempat ditanamnya, dan 500 di antaranya sudah menjadi tanaman untuk produksi obat alami yang dikemasnya. Beragam jenis penyakit bisa ditangani hanya dengan mengkonsumsi hasil ramuan alaminya tersebut. Di antaranya kanker rahim, kanker payudara, kista, benjolan dalam tubuh, gondok, prostat, batu karang, batu ginjal, batu empedu. Bisa juga usus turun (hernia), wasir, dan polip (sinusitis). Tersedia juga ramuan obat herbal untuk menambah stamina dan menghilangkan capek-capek. Ramuan yang sudah dikemas itu ada yang bernama Sapu Jagat, Sari Jahe Anggrek, Instan Lidah Buaya, dan lainnya. Ada juga produk terbarunya, sirup bunga rosella yang diberi tambahan bahan jamu untuk obat penghangat badan.
Saat ditemui akhir pekan lalu, Mak Intan, sedang sibuk dengan kegiatan rutinnya menyiapkan ramuan. Diracik secara manual dan sangat memperhatikan kebersihan, ia juga dibantu oleh anak dan menantunya. Salah satu produknya yang sangat diminati pelanggannya adalah ramuan dari tanaman stevia yang berguna bagi mereka yang menderita penyakit gula (diabetes) dan obesitas.(kegemukan).
“Penderita diabetes dan obesitas jangan terlalu risau mengkonsumsi gula. Sebab, gula yang terbuat dari tebu sudah pasti jadi ancaman serius bagi penderitanya, tapi stevia mampu menjadi bahan pemanis yang bisa menghasilkan hingga 400 kali lipat dibandingkan dengan manis yang dihasilkan gula tebu tapi tidak mengancam gula darah penderita diabetes dan obesitas,” terang Mak Intan.
Ia sudah memastikan kepada Dinas Kesehatan yang memberikan ijin kepadanya untuk memproduksi ramuan-ramuannya, bahwa  hasil penelitian ilmiah pun mengindikasikan bahwa stevia efektif meregulasi gula darah dan ke depannya membuatnya normal.Sebuah studi juga mengindikasikan bahwa stevia memberi efek berbeda pada orang tekanan darah rendah dan tekanan darah normal. Selain itu juga menghambat pertumbuhan bakteri dan organisme yang menyebabkan infeksi, termasuk bakteri yang menyebabkan gangguan gigi dan penyakit gusi. Gambaran ini diperkuat dengan laporan pengguna stevia yang lebih tahan terhadap serangan flu.
Selain itu, tanaman rosella juga menjadi primadona produknya saat ini. Selama ini, hasil olahan rosela yang lebih dikenal masyarakat adalah teh rosela. Namun hasil olahan lain seperti sirup rosela juga patut dilirik. Sebagai minuman, potensi pasar sirup sangat besar lantaran sirup bisa dikonsumsi untuk segala usia. Selain itu penggunaan sirup juga lebih luas. Sirup dapat digunakan untuk membuat minuman segar, toping pada aneka kue dan puding, serta sebagai bahan pemanis pada beberapa jenis makanan. Kelopak bunga rosela yang berwarna merah menyala dan berasa asam membuatnya cocok untuk dibuat sirup.
Atas dasar pemikiran itu pula, Mak Inten, pembudidaya dan peramu tanaman herbal, mencoba suatu inovasi baru minuman segar berkhasiat yang diberinya label Sirup Rosela Mak Inten. Produk olahannya ini, baru diproduksi pas menjelang lebaran 2009 lalu.
Pengembangan tanaman herbal (obat-obatan) memang kurang mendapat perhatian masyarakat. Jenis tanaman obat-obatan kurang dikenal dibandingkan tanaman hias dan bunga-bungaan seperti aglonema, anthurium atau sansiveira. Namun sebenarnya manfaat tanaman obat-obatan lebih menguntungkan dari sisi ekonomi, karena sejumlah tanaman herbal tidak kalah berharga dibandingkan tanaman hias.
Saat ini Mak Intan sibuk mensosialisasikan kepada sejumlah petani di Medan dan kota-kota lainnya di Sumut yang mengundangnya untuk berbagi ilmu tentang manfaat tanaman rumput di sekitar rumah yang ternyata memiliki khasiat untuk menyembuhkan banyak penyakit.
Seperti daun meniran, daun surukan, bunga pacar air, cocor bebek, lidah buaya, keciblim, yang banyak tumbuh di pekarangan rumah ternyata ampuh untuk mengobati demam anak-anak. Ada juga daun urang-aring yang selain berguna untuk menghitamkan rambut juga baik untuk mengobati penyakit bronchitis. Tanaman obat itu sangat mudah penggunaannya, cukup direbus dan airnya diminum. Kini ia juga sedang giat membudidayakan tanaman purwaceng yang sangat baik untuk menambah stamina pria lanjut umur. (phia)

Dimulai dari Jamu Gendong

Mak Intan bercerita, awalnya ia hanya seorang penjual jamu gendong keliling mulai tahun 1981 hingga tahun 1989. Keahlian Sarinten dalam meramu jamu berawal dari orangtuanya dulu yang rajin meramu obat tradisional.  Apalagi, Sarinten mendapat petuah orangtuanya dulu untuk menggunakan obat-obatan tradisional. “Saya sudah merasakan khasiat obat tradisional buatan orangtua saya dulu. Makanya saya meramu obat dan jamu untuk menolong masyarakat yang ingin sembuh dari penyakit dengan obat tradisional,” ujar wanita yang akrab disapa Mak Intan ini.
Selama perjalanannya menjadi penjual jamu gendong, Sarinten mendapatkan sebuah inspirasi untuk membantu kesehatan masyarakat serta membuka lapangan pekerjaan. Walaupun pada saat itu ia tidak pernah bermimpi membuka usaha industri rumahan mengelola jamu. Saat itu ia hanya menjalankan jamu gendongnya sesuai dengan kemampuannya, tenaga dan keuangannya.
“Saya melihat peluang menyembuhkan orang sakit dengan bantuan obat tradisional dan jamu. Saya pun menanam tanaman obat sendiri dengan tanamanan awal hanya 10 jenis tananam obat,” ingatnya.
Sarinten menyadari ilmu pengetahuan meracik tanaman obat saat itu masih dangkal. Namun ia menggali ilmunya dengan rajin membaca buku hingga akhirnya bisa meramu berbagai obat dengan sendiri. Ia terus belajar dan belajar sambil berusaha mengembangkan tanaman obatnya sendiri. Selain itu ia juga sempat mengikuti Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) padi di Tanjung Morawa pada 1994. Sejumlah relasi pun menjadi teman berbagi dan bertanya baginya. Barulah setelah bekal ilmu cukup, ia mulai mengembangkan usaha dan berhenti sebagai jamu gendong.  (dj)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s